Cemerlang Kehilangan Ibu

Gadis berusia empat tahuan itu tak mengerti mengapa ayahnya selalu menyebutnya Cemerlang, padahal namanya Langit Biru.

“Sebenarnya, nama kamu siapa sih? Cemerlang atau Langit Biru?” tanya tetangganya yang berusia enam tahun.

Cemerlang meneruskan pertanyaan itu kepada ayahnya.

“Nama kamu Langit Biru,” jawab ayahnya. “Tapi ayah suka memanggilmu Cemerlang, karena kamu anak yang cemerlang!”

“Cemerlang itu artinya apa, Yah?”

“Bercahaya!”

“Memangnya aku bercahaya?”

“Kamu cahaya hati ayah. Cahaya kehidupan ayah!” kata ayahnya sambil merangkul dan kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Cemerlang tertawa riang. Ia senang sekali setiap ayahnya mengangkat tubuhnya dan kemudian memperlakukannya seperti pesawat terbang mainan.

***

Setiap pagi Cemerlang mengantar ayahnya sampai ke mobilnya, melambaikan tangan sampai mobil ayahnya hilang di sebuah belokan.  Tengah hari, ayahnya pasti pulang untuk makan siang. Bila Cemerlang masih asyik bermain, ayahnya akan berteriak-teriak memanggilnya pulang dengan suara khasnya, “Cemerlang…! Cemerlang…! Ayo pulang! Makan, terus bobo siang!”

Biasanya Cemerlang selalu sulit pulang walau tempat bermainnya hanya beberapa meter di depan rumahnya. Maklum, gadis kecil ini adalah seorang ‘diktator’. Dia suka sekali mendikte teman-teman mainnya, tak ubahnya sutradara film. Setiap hari, dialah yang mengarang cerita apa yang harus dimainkan. Dialah yang menentukan peran dirinya dan teman-temannya. Sering kali, dia pun mengancam temanya yang dipanggil pulang dengan kata-kata, “Ssst! Jangan mau pulang! Kita kan lagi main. Ceritanya belum selesai. Awas ya, kalau kamu pulang, besok aku ga mau main lagi sama kamu!” Alhasil, temannya baru bisa pulang bila cerita karangan Cemerlang sudah selesai dimainkan, atau sang teman digeret pulang ibunya, atau Cemerlang sendiri ‘disergap’ ayahnya, dan ’diterbangkan’ pulang!

Kadang ia terbang di atas kepala ayahnya sambil tertawa. Kadang ia meronta dan menangis sambil mengatakan, “Ayaaah, kan aku belum selesai mainnyaaa…!”

***

Cemerlang merasa heran terhadap ibunya, karena belakangan sering pergi meninggalkannya beberap saat setelah ayahnya selesai makan siang dan kembali ke tempat kerja.

“Mama mau ke mana sih?” tanyanya suatu hari.

“Cari kerja!” jawab ibunya.

“Cari uang ya?”

“Iya.”

“Kenapa Mama cari uang lagi? Kan Ayah udah cari uang?”

“Biar uang kita banyak!”

“Buat beli apa uang banyak-banyak?”

“Beli apa aja! Kebutuhan kita kan juga banyak!”

“Tapi aku sendirian di rumah…”

“Engga!  Kamu sama Bi Nopi. Lagian nanti Kakak juga pulang dari sekolah.”

Cemerlang tidak berdaya. Ia hanya bisa menatap kepergian ibunya dengan hati sedih.

Suatu malam, Cemerlang terbangun karena mendengar suara yang agak berisik. Ternyata ayah dan ibunya bertengkar. Karena tak mengerti apa yang mereka ributkan, Cemeralang akhirnya tertidur lagi.

Tapi hari-hari berikutnya ia melihat ayahnya jadi sering tidak pergi kerja. Ibunya pun jadi pendiam. Ayah dan ibunya jadi diam-diaman. Dan anehnya, ibunya bahkan jadi jarang sekali keluar rumah. Berbelanja pada tukang sayur yang biasa datang pun tidak pernah lagi…

Lebih aneh lagi, ayahnya tiba-tiba menjual mobilnya!

“Kenapa mobil kita dijual, Yah?” tanya Cemerlang.

“Ayah butuh modal…”, jawab ayahnya, lesu.

“Modal apa?”

“Ayah berhenti kerja. Ayah mau bikin perusahaan sendiri.”

“Berarti sekarang kita ga punya mobil dong? Nanti kalau pergi-pergi, naik apa?”

“Naik apa aja, Nak. Kan di jalanan mobil banyak. Kita bisa naik bis, angkot, taksi…”

“Tapi kata Ayah dulu enakan naik mobil sendiri…”

“Iya, iya… Nanti kita beli lagi mobil, kalau usaha Ayah berhasil.”

Setelah mobilnya dijual dan ayahnya membuka usaha baru yang tidak dimengertinya, Cemerlang  melihat ayahnya keluar rumah sesekali saja. Tapi kini ayanya lebih sering menggunakan handphone, yang kadang membuat Cemerlang merasa terganggu. Sementara itu, hubungan sang ayah dengan ibunya tampaknya semakin buruk. Mereka tak saling bicara. Suatu hari, Cemerlang malah mendengar kakaknya yang kelas 1 SMA itu bertengkar dengan ibunya. Dan ia heran ketika mendengar kakanya berteriak, “Aku malu punya ibu seperti Mama!” Ia pun lebih heran lagi ketika mendengar ayahnya memaki ibunya dengan kasar.

Apa yang sedang terjadi dalam keluarganya? Cemerlang tidak tahu. Gadis kecil itu selalu kebingunan setiap memasuki rumah. Tapi ia tak pernah kehilangan kelincahan dan keriangannya di luar rumah. Tak pernah berhenti jadi diktator bagi teman-teman bermainnya.

Suatu hari, tiba-tiba ibunya memeluk dan mengangkatnya.

“Ibu mau pergi jauh dan lama,” kata sang ibu.

Cemerlang kaget. Apalagi setelah ia melihat di sisi ibunya ada sebuah tas besar yang tampak gendut karena penuh muatan.

“Mama mau ke mana?” tanyanya dengan suara yang tersendat karena ada rasa sedih yang tiba-tiba menerjang.

“Mama harus pergi jauh…” kata ibunya pula.

“Ke mana? Aku boleh ikut?”

“Cemerlang sama Ayah aja!” kata ayahnya yang tiba-tiba muncul dan merenggutnya dari pelukan ibunya. Tiba-tiba, entah karena desakan apa, Cemerlang menangis keras. Ibunya mengangkat tas, dan kemudian pergi.

Sejak saat itu, Cemerlang tak pernah melihat ibunya pulang. Teman-temannya pun bertanya ke mana ibunya pergi, tapi Cemerlang hanya bisa menjawab “tidak tahu”, karena ayahnya pun tak pernah menjawab dengan jelas, sampai suatu ketika ia mendengar sebuah kata baru dari Bi Nopi, pembantu rumah dan pengasuhnya. Kata baru itu kemudian ditanyakan Cemerlang kepada ayahnya.

“Yah, kata Bi Nopi, Mama selingkuh. Selingkuh itu apa sih?”

Ayahnya tampak kaget, lalu memanggil Bi Nopi.

“Saya tidak suka Bibi bicara seperti itu kepada anak saya yang masih kecil,” kata ayahnya kepada Bi Nopi setelah bicara panjang-lebar.

“Maafin saya, Pak!” kata Bi Nopi memelas.

“Ya, sudah saya maafkan. Tapi mulai besok Bibi saya berhentikan!”

“Aduh, Pak, saya dipecat karena itu?” Bi Nopi tambah memelas.

“Bukan, bukan karena itu, tapi karena saya akan pindah dari sini.”

Cemerlang kaget.

Beberapa hari berikutnya, Cemerlang melihat ayahnya sibuk dalam urusan menjual rumah. Cemerlang jadi sering ditinggal sendiri. Ia masih bergembira bermain dengan teman-temannya. Tapi begitu selesai main dan pulang, rumahnya sepi. Tak ada Mama yang biasa memeluk dan menciumnya. Kakak belum pulang sekolah. Ayah entah sedang di mana.

Beberapa hari kemudian, ia bertanya lagi pada ayahnya, “Yah, kenapa Mama selingkuh? Dan selingkuh itu apa?”

Ayahnya memeluknya. “Cemerlang, sayangku, Mama selingkuh itu artinya dia tidak mau lagi hidup bersama Ayah.”

“Kenapa?”

“Kalau sudah besar nanti, kalau kamu sudah sekolah seperti kakak, kamu pasti tahu.”

“Loh, tapi kan Ayah pernah sekolah seperti Kakak. Berarti Ayah tahu dong! Kenapa Ayah ga kasih tau aku?”

Ayahnya tertawa. Tapi kemudian tampak matanya berkaca-kaca. “Alangkah sakit dan hinanya lelaki yang dikhianati istri…” kata sang ayah, pelan. Cemerlang hanya mendengar secara tak jelas.

“Ayah, kok nangis? Ayah juga sedih ya ditinggal Ibu?” kata Cemerlang kemudian.

“Sudahlah, Nak. Kamu sabar ya?” kata sang ayah sambil mendekap Cemerlang erat sekali.

Seminggu kemudian ayahnya membawa Cemerlang pindah ke tempat baru.

Cemerlang bukan hanya kehilangan ibu, tapi juga teman-teman bermainnya yang biasa didiktenya. Ia menemplok di bahu ayanya sambil menatap rumah lamanya yang sudah dijual. Entah di tempat barunya ia akan bertemu siapa. Entah ia masih bisa mendikte atau malah didikte terus oleh kekuasaan yang tak bisa dilawannya seperti sekarang ini. ∆

Bekasi, 15:13; 15-8-2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: