Maut Adalah Tanda Cinta Sejati

Kalimat pada judul itu saya baca dalam salah satu buku Hamka, entah Tasauf Modern, entah Tasauf Dari Abad Ke Abad. Itu beberapa puluh tahun lalu. Ketika saya masih remaja.

Aslinya, al-mautu ãyatu hubbish-shadiq,  kata Hamka, merupakan ungkapan yang berlaku di kalangan para sufi.

Lantas, mengapa mereka menganggap maut (kematian) sebagai tanda cinta sejati? Kata mereka, hanya dengan maut itulah sang pecinta Allah (sufi) bertemu dengan yang dicintainya (Allah).

Tentang pertemuan (fisik) sang sufi dengan Allah itu, anda boleh percaya dan boleh juga tidak. Namun, percaya atau tidak, cinta tanpa pertemuan memang menjadi tiada arti.

Tapi, percintaan hamba (manusia) dengan Tuhannya yang ”tak terjangkau”, yang kata para filsuf transcendent itu, apakah harus pakai acara pertemuan dalam arti yang harfiah?

Bila bertanya pada hadis, kita menemukan dua jawaban yang tampak bertentangan. Jawaban yang satu mengatakan agar kita jangan berpikir tentang substansi (zat) Tuhan (Allah). Tapi jawaban yang lain mengatakan bahwa nikmat tertinggi di alam sana adalah justru ketika ‘melihat wajah Allah’, yang caranya digambarkan seperti (!) melihat bulan.

Bisa atau tidak melihat Allah, adalah soal nanti. Tapi keinginan melihat wujud Allah adalah keinginan yang wajar dan logis. Otomatis, pengakuan sebaliknya adalah kebohongan.

Tapi Allah juga mengajarkan agar manusia bersikap logis. Dan sikap logis itu, antara lain, adalah menerima kenyataan tentang keterbatasan diri, setidaknya untuk saat ini, di dunia ini, bahwa kita memang tidak bisa melihat dan atau bertemu dengan Allah.

Bagaimana dengan nanti? Ya itu tadi. Nanti adalah urusan nanti. Hanya waktu yang mungkin atau mudah-mudahan, bisa menjawab.

Allah, melalui Al-Qurãn, mengajarkan agar manusia berpikir pragmatis, yaitu sesuai kebutuhan situasi dan kondisinya sebagai ciptaan Allah. Dan ditegaskan pula bahwa kebutuhan pragmatis manusia adalah “beriman” (= hidup) dengan ajaranNya, bukan dengan yang lain.

Berpikir, dan kemudian bersikap pragmatis itu, dibutuhkan karena Allah menempatkan manusia untuk hidup di dunia yang fana. Yaitu di dalam dimensi ruang dan waktu yang terbatas.

Manusia boleh jadi bisa menciptakan apa saja, kecuali ruang dan waktu. Bahkan menciptakan tumbuhan dan hewan (makanan) dan air (minuman) pun manusia tak mampu.

Kasarnya, manusia hidup dalam ‘penjara’ ruang dan waktu, dan hanya bisa hidup karena diberi ransum oleh Allah…

Berita gembiranya, karena keadaannya itu, boleh jadi manusia akan melihat Allah dalam keadaan tersenyum.

Berita buruknya, boleh jadi yang ditemukannya nanti adalah ‘wajah’ Allah yang sebaliknya, yang menyatakan kemurkaan dengan cara-cara yang mengerikan.

Tulisan pendek ini hanya sebuah renungan.

Terserah anda hendak bereaksi apa.

Bagaimana pun, saya harus berterimakasih karena anda telah membaca! ∆

Comments
One Response to “Maut Adalah Tanda Cinta Sejati”
  1. Javan Nese says:

    TERIMAKASIH JUGA TELAH MEMPOSTINGNYA, SYUKRON🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: