Hubungan Doa, Shalat Dan Iman

Doa yang dibaca berulang-ulang dalam waktu lama membentuk (mengkristalkan) harapan, cita-cita dan sebagainya dalam kesadaran.

Melalui shalat ritual, doa-doa (bacaan shalat; Al-Qurãn) yang sebelumnya dipelajari dan masuk ke wilayah kesadaran kognitif (intelektual), diharapkan bisa masuk ke wilayah kesadaran afektif (emosional; perasaan).

Selanjutnya, apa yang bisa diharapkan?

Bacaan utama dalam shalat adalah Al-Qurãn (= ilmu) yang dipelajari dengan otak (daya intelektual). Sementara itu, di lain pihak, manusia adalah makhluk emosional (dikendalikan perasaan), yang bahkan sering berperilaku irasional.

Ada kajian kedokteran yang mengatakan bahwa manusia manusia adalah makhluk kimiawi, yang secara fisik digerakkan oleh biolistrik, dan secara psikologis digerakkan oleh emosi (perasaan). Dalam ilmu kedokteran pula, dikatakan bahwa emosion adalah perasaan-perasaan yang berkaitan dengan peran-peran organ indrawi (panca indra), yang pada dasarnya merupakan organ-organ pembentuk dorongan-dorongan sesaat, selera, hobi (= hubb?), dan kehendak atau kemauan.

Shalat adalah sebuah ‘trik’ yang diajarkan Allah agar para pelakunya mengkristalkan bacaan-bacaannya (Al-Qurãn) menjadi harapan, cita-cita, obsesi, dan sebagainya. Melalui pembacaan Al-Qurãn yang berulang-ulang, bila disertai pemahaman dan penghayatan, diharapkan apa yang dibaca tersebut meresap dari wilayah kognitif-intelektual ke wilayah afektif-emosional, sehingga mampu menumbuhkan kecintaan (hubb) terhadap nilai-nilai dalam bacaan, yang selanjutnya membentuk kehendak atau kemauan untuk menjelmakan nilai-nilai itu menjadi tindakan dan melahirkan berbagai karya (kreasi) yang sesuai nilai-nilai tersebut, seraya menolak dan menghindari hal-hal yang bersifat merusak nilai. Dengan kata lain, shalat diharapkan membentuk chemistry (jalinan kimiawi) antara pengetahuan dan kemauan.

Rasulullah menegaskan bahwa ilmu adalah imam (pemandu) amal (tindakan; perilaku). Abu Bakar, dengan pemahaman mendalam atas ajaran panutannya, mengatakan, “Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin dan nafsunya sebagai tawanan. Sebaliknya, celakalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai pemimpin sedangkan akalnya sebagai tawanan.”

Abu Bakar memahami akal sebagai lawan dari nafsu.

Akal adalah wadah ilmu, dan nafsu adalah wadah segala selera indrawi, yang oleh Nabi Yusuf dikatakan sebagai sesuatu yang berdaya dorong kuat untuk melakukan keburukan.

Dengan belajar Al-Qurãn, insyaAllah kita dibimbing untuk melakukan furqãn, yaitu proses pemilahan nilai-nilai benar dan salah menurut Allah, yang berlangsung di dalam otak. Melalui shalat, mudah-mudahan hasil dari proses itu merembes dan mengkristal di dalam wilayah rasa, yang selanjutnya membentuk kemauan untuk melahirkan Al-Qurãn menjadi perilaku (akhlãq).

Ringkas kata, iman terbentuk melalui kerja kognitif (intelektual) untuk melahirkan “tahu”, dan kerja afektif (emosional) untuk melahirkan “mau”.

Kerja kognitif mencakup proses pembentukan pengetahuan dan pemahaman.

Kerja afekftif adalah proses penghayatan (dari kata hayat = hidup). Dalam proses afektif terjadi kemistri antara ilmu dengan kehendak, kemauan, hobi, selera dan sebagainya. ∆

UPY, 29 Juli 2013.

Comments
4 Responses to “Hubungan Doa, Shalat Dan Iman”
  1. Wahai saudaraku se-Iman.
    Jika selama ini umat Islam selalu berselisih itu dikarenakan berbeda tentang gambaran wujud Islam itu sendiri. Mengapa ada Sunny, ada Syi’ah, ada Khowaridz, ada Muktazilah, ada Wahabi, ada Salafi dan terus berkembang menjadi ratusan kelompok lain, itu dikarenakan tidak adanya satu kitab tarikh, atau buku sejarah yng menggambarkan secara lengkap peristiwa tegaknya Islam pada masa Nabi pada th 622 s/d 632M.
    Kita boleh heran mengapa kita tidak pernah menemukan buku atau kitab yang menggambarkan bentuk PEMERINTAHAN NABI MUHAMMAD saw. Sebagai WUJUD DARI QUR’AN & SUNNAH itu sendiri??? Akibatnya umat berebut benar didalam belantara ketidak pastian selama 14 abad lamanya. Padahal umat Islam itu sekarang berjumlah lebih dari 1,5 milyar orang. Seandainya dengan jumlah tsb bersatu dan masing2 orang membela Islam dg shodaqoh sebesar Rp1000,- per hari saja, akan terkumpul kekuatan finansial sebesar 45 triliyun rupiah/bulan. Itu jika hanya 1000 rupiah. Bagaimana dg para dermawan dan para aghniya muslim yang jumlahnya jutaan orang? Apakah tidak mungkin umat Islam bisa menjadi penentu dimuka bimi Allah ini?
    Jadi saudaraku…..mari kita berusaha sekuat tenaga dalam hidup ini untuk mentaati perintah Allah yang satu ini; BERSATU dan JANGAN BERCERAI BERAI! Berikut ini saya akan mengajukan gambaran indikator wujud Islam pada masa Nabi atau Islam yang benar. Sekedar sebagai analog jika yang namanya Jakarta itu indikatornya ada Monasnya, ada Istana negaranya, ada Istiqlal, ada gedung DPR-MPR, ada ancol nya dlsb. Maka Wujud Islam yg benar dimasa Nabi (th 1-10 H atau th 622-632M) yakni terwujud masyarakat/ civil society yg bernama Madinatul munawarah! Yang diakui oleh sejarah dunia mempunya indikator/ciri2 antara lain ;
    1)Berdasar alQur’an, terwujudlah penataan masyarakat adil makmur aman damai walau masyarakatnya MAJEMUK. (baca penanda tangan Piagam Madinah, selain tokoh2 Anshar dan Tokoh Muhajirin, juga tokoh2 yahudi, maupun nasrani, majusi serta tokoh munafiqun dan kafirun).
    2) Pemerintahan/kekuasaan berada ditangan Umara’ yang Ulama, Ulama yang Umara. Tidak dipisah seperti yang diajarkan oleh guru kita.
    3) Kantor2 birokrasi pemerintahan bukan di gedung, juga bukan di istana, tetapi di (zona) Masjid. dari masjid tingkat pusat sampai masjid di tingkat RT/RW. Dan urusannya bukan hanya perkara ibadah mahdhoh saja, tetapi mencakup seluruh kepentingan masyarakat. Apakah urusan politik, ekonomi, buruh, pajak, pupuk dll.
    4) Bentuk Pemerintahan Madinah adalah “Laa syarqiyyah walaa gharbiyyah” (tidak mengadopsi sistim sosialisme Persia baru, dan bukan pula sistim liberal Romawi timur, bukan pula sistem kekhalifahan monarkhi(kesultanan)saat itu.
    5) Mukmin itu bersatu, kaljasadil wahid, rukhama’u bainahum, serta faaslikhu baina akhwaikum.
    Subkhanallah…. Mudah2han wujud Islam yang dicontohkan Rasulullah tsb. Menjadi STANDAR KEBENARAN ISLAM DUNIA!!!. Dan menjadi FORMULA PEMERSATU UMAT ISLAM DUNIA.
    Mudah2han Romadhon ini Allah membuka mata hati kita semua. Amin! ( hamid 081231262206 ).

  2. KH Moch Oemar Yusman Roy says:

    sayang, bahasanya bertele-tele alias mbulet, ….

  3. Ahmad Haes says:

    Terimakasih atas kritiknya. Silakan tulis yang lebih baik.

  4. Javan Nese says:

    hmm.. tulisan cak hamid poin 1-5 mirip dengan yang ada di pikiran saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: