Bila Kita Percaya…

Bila kita percaya bahwa lingkungan merupakan faktor sangat penting dalam pembentukan pribadi anak, sehingga kita ‘tega’ mengirim mereka ke pesantren, ke sekolah-sekolah khusus, bahkah ke luar negeri, mengapa kita “tidak percaya” (?) bahwa hal itu justru sudah, sedang, dan akan terus terjadi pada kita?

Bukankah kita adalah manusia-manusia “bentukan lingkungan”.

Bukankah penerimaan kita, adaptasi kita, pemakluman kita, penikmatan kita, sikap give and take kita terhadap lingkungan adalah faktor-faktor yang telah menjelmakan diri (kepribadian) kita yang sekarang (dan akan datang)? Dan bila itu juga terjadi secara bersamaan terhadap orang-orang yang selingkungan dengan kita, bukankah kita secara bersama-sama telah membentuk sebuah kebudayaan?

Kemudian, ketika kita mengaku dan atau merasa diri sebagai Muslim, pernahkah sesekali kita bertanya pada diri sendiri dan atau mengobrol dengan pasangan hidup kita tentang pentingnya pengaruh lingkungan?

Tidak adakah anjuran dan atau perintah dalam Al-Qurãn dan Hadis untuk memikirkan hal itu?

Ketika teori pendidikan mengatakan bahwa semua anak dilahirkan dalam keadaan bagai meja lilin yang mudah digores-gores, atau seperti kertas kosong yang bisa ditulisi apa saja, pernahkah kita curiga kalau-kalau si anak itu adalah kita?

Ketika Rasulullah mengatakan bahwa semua anak dilahirkan fitrah, lalu diyahudikan, dinasranikan, atau dimajusikan oleh kedua orangtuanya, pernahkah kita bertanya kalau-kalau anak itu adalah kita, dan kedua orangtuanya adalah lingkungan pergaulan kita?

Ketika Ali bin Abu Thalib mengatakan, “Perlihatkan teman-temanmu, maka aku akan tahu siapa dirimu!”, pernahkah kita coba-coba mendata siapa teman-teman kerja kita, teman makan-minum kita, teman-teman bersosialisasi kita, teman tidur kita, teman nonton kita, teman grup dan atau klub kita?

Ketika Al-Qurãn mengingatkan, “Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim,” janganlah kalian hamburkan tenaga dan waktu, jangan kalian habiskan umur, kecuali dalam posisi sebagai para penegak Islam, pernahkah kita merenungkan di mana posisi kita, dan apa peran serta sumbangsih kita bagi tegaknya Islam?

Ketika umat Islam terpecah-belah, karena selalu bertengkar dan saling cakar, selalu ribut untuk hal-hal tidak penting, selalu saling piting dan saling banting, pernahkah tubir hati sedikit merinding?

Di mana sumber kedegilan, kebodohan, kedunguan kita terhadap keterpurukan kita? Ke mana larinya sense of crises kita terhadap kedaruratan dan kemelaratan lahir-batin kita sebagai umat yang konon ya’lû wa lã yu’la ‘alaihi (tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya)?

Di mana kita berdiri sekarang?

Di mana kita eksis sekarang?

Kepada siapa dan atau apa kita memihak?

Apa yang kita perjuangkan?

Apa inti dari inti pergulatan kita, perjuangan hidup kita?

Untuk apa kita korbankan waktu dan tenaga kita?

Bagi apa dan atau siapa totalitas kita?

Untuk apa kita hidup?

What the very meaning of our life is brother and sister?

Apa hakikat kehidupan kita, Saudaraku?

Ketika ngebut dengan mobil mewah anda, sesekali anda melirik kaca spion.

Ketika kita hanyut dalam laut kehidupan yang seperti tiada tepi, padahal kita tahu pasti bahwa ujungnya adalah mati, kenapa tidak kita sempatkan menengok kompas kehidupan?

Sekarang kita sedang bareng-bareng berlayar, berputar bersama bumi mengitari matahari di lautan jagat raya padat misteri, …

Tidakkah ada baiknya kita coba berusaha meraih dayung ilahi, membaca pedoman navigasiNya secara lebih hati-hati, lebih menggunakan hati, lebih teliti melihat di mana titik koordinat diri?∆

Bekasi, 13.06/16-07-2013.

Comments
One Response to “Bila Kita Percaya…”
  1. Javan Nese says:

    JADI BAHAN RENUNGAN YANG BAGUS, TERIMAKASIH 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: