Taubat Nasional: Belajar Pada Yahudi (?)

Sujud bareng

KEMISKINAN2Ide tentang taubat nasional, kalau tak salah, pertama kali dikemukakan Amien Rais sejak saat sebelum Reformasi. Berhubung permasalahan bangsa masih menumpuk, dan korupsi juga semakin merajalela, ide itu agaknya masih layak dikemukakan, dan tulisan di bawah ini diharapkan dapat membantu untuk memahami betapa ide tersebut masih penting untuk direnungkan bersama.

Definisi taubat

Kita terbiasa memahami istilah taubat dengan dua pengertian, yaitu (1) minta ampun, dan (2) kembali kepada agama Allah.

Kedua pengertian itu tidak salah. Tapi dalam konteks “taubat nasional”, misalnya, kita perlu mendefinisikan istilah ini secara agak berbeda, agar bisa mewakili gagasan tentang taubat nasional itu sendiri.

Taubat pada dasarnya memang mempunya dua dimensi (baca: sisi atau tahapan) seperti yang tersirat di atas. Dimensi pertama, minta ampun, mengisyaratkan adanya penyesalan terhadap sesuatu yang sudah terlanjur dilakukan, yang baru belakangan diketahui sebagai kesalahan, setelah merasakan dampak-dampak buruknya. Dari penyesalan tersebut, meningkat menjadi perasaan jera atau kapok, untuk mengulang atau melanjutkan keterlanjuran tersebut.

Namun taubat belum dikatakan selesai atau sempurna bila hanya sampai pada dimensi pertama itu. Bahkan sering dikatakan bahwa taubat sebatas “kapok” bukanlah taubat; karena pengertian harfiah dari taubat adalah kembali.  Kembali dari mana ke mana? Tentu kembali dari ‘keterlanjuran’ kepada sesuatu yang ditinggalkan. Dalam hal ini, karena yang ditinggalkan adalah agama Allah, maka otomatis bertaubat adalah “kembali kepada agama Allah”.

Demikian yang biasa kita pahami tentang taubat.

Lantas, bagaimana bila yang kita bicarakan adalah “taubat nasional”?

Sudah barang tentu bahwa taubat nasional harus dimulai dengan menyesali “keterlanjuran nasional”.

Seperti sudah dibahas dalam uraian sebelum ini, sadar atau tidak, diakui atau tidak, kita adalah suatu bangsa yang ‘terlanjur’ menjadi korban penjajahan. Dan penjajahan yang dimaksud tidak hanya terbatas pada penjajahan secara wilayah dan fisik, tapi yang lebih parah dan masih terasa sampai sekarang adalah penjajahan dalam bentuk budaya, atau lebih sederhananya adalah penjajahan dalam bentuk pandangan dan sikap hidup.

Terus-terang, agak sulit untuk mengurai gambaran ‘sederhana’ di atas.

Banyak orang berpikir bahwa karena para penjajah kita secara umum adalah bangsa-bangsa Barat, maka otomatis, setelah masa kolonialisme dan imperilaisme berakhir, yang mereka ‘wariskan’ adalah kebudayaan Barat, dalam arti yang positif. Yaitu satu bentuk kebudayaan yang identik dengan modern dan maju!

Tapi, sayangnya, anggapan itu salah besar!

‘Sepeninggal’ para penjajah Barat, yang kita warisi dari mereka – ternyata – adalah warisan-warisan budaya yang bersifat negatif, yaitu mental kolonialis dan imperialis, yang bahkan lebih parah dari aslinya; terutama karena kedua hal tersebut menjelma ke dalam bentuk yang lain, misalnya menjadi mental gila kuasa dan korup, yang nota bene menempatkan bangsa sendiri, terutama rakyat jelata, sebagai korban.

Di pihak lain, para penjajah dari Timur, yang bagi sebagian orang mungkin cukup sulit untuk menyebut mereka penjajah, juga telah mewariskan bentuk kebudayaan lain, yaitu berupa cara pandang ‘rilijiusitas’ (keagamaan) yang cenderung lebih bersifat mistisisme, yang menyebabkan bangsa kita jadi cenderung lari ke dunia mistis dan tidak bersikap realistis ketika menghadapi masalah.

Diakui atau tidak, mental seperti itulah yang kini sedang membudaya pada bangsa kita, yang bila dibiarkan terus tumbuh dan berkembang pasti akan membawa bangsa ini ke jurang kehancuran.

Memang tidak seluruhnya warisan para penjajah itu buruk. Harus diakui bahwa mereka juga telah membawa serpihan-serpihan kebenaran yang tentu berguna bagi kita. Katakanlah dari Barat, misalnya, mereka membawa teknologi modern dan huruf Latin. Dari Timur, mereka membawa kesadaran untuk mengenal Tuhan, dan antara lain huruf Arab, kepada bangsa yang konon dulu hanya mengenal animisme!

Tapi segala warisan itu, semua belum mampu membuat bangsa kita bangkit dari kekalahan sebagai bangsa mantan jajahan. Terutama secara mental, bangsa kita tetap masih menunjukkan sebagai bangsa yang kalah, bangsa budak, yang belum bisa lepas jauh dari kekuasaan tuannya. Sebagai mantan budak, kita juga masih belum mampu menggali potensi diri secara tuntas. Bahkan kita juga belum mampu melepas belenggu primordialisme (egoism) yang menyebabkan kita tidak bisa saling mengenal dengan saudara sependeritaan. Alih-alih mau saling mengenal, untuk kemudian menjalin rasa persaudaraan, kita malah cenderung saling merasa terancam, sehingga karenanya menjadi selalu saling curiga, yang berujung pada saling baku hantam.

Revolusi pola pikir

Berdasar kenyataan demikian, tidak diragukan lagi, kita harus melakukan “revolusi”. Tepatnya “revolusi pola pikir”.

Bila mengacu pada peristilahan yang digunakan Bung Karno, yang dimaksud revolusi di sini adalah “menjebol dan membangun”; yaitu menjebol (meruntuhkan) pola pikir lama sambil serentak membangun pola pikir baru. Dalam hal ini, Bung Karno jitu sekali,  mengingat bahwa yang hendak direvolusi memang bukan sesuatu yang bersifat fisik, tapi mental, yang penjebolan dan pembangunan ulangnya memang harus dilakukan secara serempak (simultan).

Tapi, bagaimana cara melakukannya?

Hanya Allah yang bisa menjawab pertanyaan ini secara jitu!

Belajar pada Yahudi (?)

Pernyataan di atas bukanlah sebuah gurauan.

Hanya Allah yang bisa menjawab dengan jitu permasalahan bangsa kita. Dan harap dicatat bahwa sebenarnya hanya Alah pula yang selalu mempunyai niat baik terhadap bangsa-bangsa yang tertindas dan sesat!

Sayangnya, bangsa yang tertindas dan atau sesat biasanya mempunyai hambatan besar untuk mengenal jati dirinya sendiri. Karena itulah mereka membutuhkan bantuan dari pihak yang, setidaknya, mempunyai pikiran bebas dan berpengetahuan luas. Pada masa-masa dahulu, pihak yang demikian itu adalah para rasul. Dan, setelah masa para rasul berakhir, Nabi Muhammas sebagai rasul terakhir mengatakan bahwa Allah pasti membangkitkan seorang pembaru (penyegar), yang akan melakukan penyegaran pada agama (penataan hidup) mereka pada setiap sertus tahun.

Di lain pihak, kita mengetahui keberadaan satu bangsa korban penjajahan yang mampu bangkit dan kini malah jadi penguasa dunia. Ya, mereka adalah bangsa Yahudi!

Bangsa Yahudi, pada masa-masa tertentu, adalah juga bangsa yang pernah mengalami menjadi korban penjajahan dan perbudakan. Pada masa-masa itulah mereka mengembangkan sebuah konsep atau lamunan yang belakangan dikenal sebagai “mesianisme”; yaitu konsep tentang “juru selamat” yang akan membebaskan mereka dari penderitaan. Pada masa-masa tertentu mesianisme Yahudi bisa dikaitkan dengan kemunculan sejumlah rasul di kalangan mereka. Tapi, dikatakan Allah dalam Al-Qurãn, Yahudi adalah bangsa pengkhianat para rasul. Dan ‘mesianisme’ mereka pada akhirnya berubah wujud menjadi “Zionisme”!

Itulah kehebatan Yahudi.

Mereka mampu melakukan sebuah revolusi pola pikir.

Mesianisme pada dasar mewakili cara berpikir mistis. Konsep mesianisme adalah penyandaran nasib bangsa pada kemunculan satu tokoh sakti mandraguna yang mampu membereskan segala persoalan dan mengkatrol posisi bangsa dari terpuruk menjadi adi daya.  Tapi, bisa dipastikan berkat kebangkitan kaum cendekiawannya, Yahudi akhirnya membuang konsep mesianisme yang hakikatnya hanya mewakili mental budak tertindas yang hanya bisa melamun.

Lalu, apa yang kemudian dimunculkan oleh kaum cendekiawan mereka untuk menggantikan mesianisme? Jawabannya adalah Zionisme!

Zionisme, kendati disandarkan pada sebuah bukit bernama Zion, adalah sebuah konsep pembebasan Yahudi dari belenggu pemikiran mistis.

Zion sebagai bukit atau gunung, adalah simbol kebangkitan, simbol keunggulan. Dan yang jelas, dengan Zionisme, Yahudi terbebas dari pola pikir mesianisme-mistisisme, dan selanjutnya mengikat diri dalam pola pikir yang mengutamakan kepercayaan terhadap cita-cita kebangkitan berdasar satu konsep yang rarional.

Dan rasanya sudah menjadi rahasia umum bahwa dengan konsep Zionisme bangsa Yahudi telah relative berhasil membangun fanatisme diri (etnis) yang luar biasa. Pada satu sisi, Zionisme relatif berhasil mempersatukan bangsa Yahudi. Di sisi lain, Zionisme, yang membangkitkan fanatisme yang yang cenderung ‘gila-gilaan’ kini kita saksikan telah mampu membawa Yahudi ke puncak keunggulan atas semua bangsa. Kini, boleh dikatakan, Yahudi memang telah mampu bertahta di ‘gunung’ (Zion) kekuasaan dunia.

Lantas, pelajaran apa yang bisa kita petik?

Perbaikan nasib, perbaikan hidup, tidak bisa disandarkan pada angan-angan kosong atau mitos (dongeng). Perbaikan hidup hanya bisa dilakukan bisa kita mempunyai sesuatu yang merupakan simbol pembangkit semangat dan fanatisme, yang mampu menjadi ruh sekaligus darah segar yang mengalir deras di sekujur tubuh bangsa.*

Comments
6 Responses to “Taubat Nasional: Belajar Pada Yahudi (?)”
  1. roni supratman says:

    asalamualaikum pak ahmad
    saya roni dulu waktu di bandung saya pernah mengikuti pengajian dari alm pak danis murid nya pak isa bugis, saya cuma mengikuti beberapa kali pertemuan saja, sampai akhir nya rumah kami di bongkar untuk di jadikan gedung elektonik(cec) sehingga kami pun terpisah, dan saya pun kerja di jakarta, sehingga saya menjadi dilema dalam agama mau balik ke ajaran islam skarang tapi pikiran saya gak bisa, mau ikut pengajian lagi terlalu jauh. Sampai akhir nya saya baca blog nya pak ahmad dan saya tertarik untuk membaca smua postingan pak ahmad, saya pengen belajar aqmsr ini tapi gi mana cara nya, dan saya pengen masuk organisasi ini kalo ada. Sbelum nya yrima kasih maaf kalo ada kata2 yg salah.

  2. Ahmad Haes says:

    Anda tinggal di mana?

  3. roni supratman says:

    Sekarang di jakarta barat, di mangga besar

  4. Ahmad Haes says:

    Saya dkk biasa ngumpul 2 mingguan di Velbak, Jkt Selatan, tiap hari Jum’at (malam Sabtu).

  5. MARDANI says:

    PAK AHMAD SAYA INGIN BELAJAR AQMSR DITEMPAT BAPAK, MOHON DI EMAIL ALAMAT BAPAK DI VELBAK – JAKARTA SELATAN

  6. nurjaman says:

    Pak Ahmad saya pengen ngaji AQMS, bisa bergabung dimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: