Dunia Esok (Sarah Joseph)

Sarah Joseph

Saya baru saja mengikuti konferensi tentang teknologi dan inovasi di Jeddah, Saudi Arabia. Saya baru saja mendengarkan sebarisan pembicara hebat dari MIT, Pop Tech, dan Pixar. Semua bentuk ide terapung di sekitar dengan gairah tanpa batas, dan perasaan tanpa batas kemungkinan.

Dalam suasana batin seperti itulah saya duduk untuk bersarapan bersama dua pesera. Kami membahas masa depan. Dunia macam apakah yang akan dihuni anak dan cucu kita? Apakah perjalanan jauh akan menjadi bagian kegiatan mereka sehari-hari? Apakah bagi mereka penerbangan ke luar angkasa akan menjadi hal biasa, sebagaimana kita melakukan penerbangan antarbenua? Apakah aliran listri melalui kabel akan menjadi kuno? Kami membahas tentang lompatan teknologi di zaman kita sendiri. Saya teringat sebuah dunia tanpa handphone, scanner, printer, dan berbagai alat lain. Kami membahas apakah printer 3D akan menjadi sebiasa inkjet dalam 30 tahun ini, karena 30 tahun lalau saya ingat bagaimana saya pergi ke toko-toko tertentu yang menyediakan mesin-mesin raksasa untuk memoto-kopi sesuatu. Pencetakan dokumen seperti yang kita lakukan sekarang tidak ada di masa itu, karena komputer seperti yang kita kenal sekarang juga belum ada.

Obrolan di waktu sarapan itu kemudian melompat ke generasi nenek-kakek kita. Kita merasakan keterkaitan dengan nenek-kakek, yang memberi kita landasan yang kuat, juga rasa memiliki, serta jati diri. Kami membahas tentang perubahan yang terjadi di masa hidup mereka. Nenek saya, misalnya, terlahir di dunia tanpa listrik, mobil, dan telepon.

Nenek-kakek kita pernah muda, dan mereka telah membagi pengalaman yang sama terhadap kita. Mereka pernah mencintai, tertawa, dan kehilangan. Mereka merindukan, berharap, dan menangis, sama seperti kita. Mereka bercita-cita, dan kecewa, dan mencoba lagi, sama seperti kita. Kita mengakui hal itu, kendati teknologi berkembang, dan kendati kemajuan teknologi akan terus terjadi, keadaan manusia akan terus sama.

Telah terbukti bahwa teknologi meningkat kemampuannya dua kali lipat dan turun harganya setiap 18 bulan, dan hal itu terus menerus mempengaruhi hidup kita. Tapi kita terus mengalami naik dan turun, sedih dan duka, senang dan gembira seperti orang-orang dulu.

Bagi saya, itulah yang menyebabkan iman menjadi terus sangat penting. Teknologi telah mengubah dunia kit, tapi tak pernah mengubah hakikat manusia. Kita masih berteriak ketika menghadapi kesulitan, kita masih merasa sedih ketika tidak dicintai. Dengan atau tanpa komputer, telepon, dan segala peralatan lain, kita masih merasakan hal-hal yang manusiawi. Cinta, cemburu, harapan, kemarahan, kesenangan, kebencian, kebanggaan, ketidak-amanan, kebaikan, kehinaan, kesombongan. Kita mumpuni untuk itu semua, dan yang lain-lain lagi.

Dan iman menjamin sesuatu yang tidak dilakukan teknologi. Iman menjamin pengesahan, dan pengakuan keadaan manusia pada sisinya yang paling rawan, pada sisinya yang paling nyata.

Bagi banyak orang, teknologi mewakili kemajuan, pemikiran yang rasional, dan penampilan yang futuristic (maju; melampaui zaman). Tapi menjadi manusia secara asasi, tetap tak berubah. Pikiran sesekali rasional dan emosional, memahami dan menilai, objektif dan subjektif, setiap saat membuat jalan pintas pemahaman untuk memberi kita kenyataan yang bisa diterima. Masa lalu dan masa depan bekerja bersamaan. Ketika kita hidup di masa sekarang, kita mempunyai masa lalu dan masa depan secara serempak. Kita membutuhkan semua karena alasan-alasan dan keadaan-keadaan yang berbeda.

Iman menjamin kita dengan rasa penerimaan terhadap ‘keaslian’ masa lalu kita. Iman memberi kita tujuan dan alasan untuk berkait dengan  masa kini, dan memberi kita janji tentang masa depan yang abadi; sesuatu yang bahkan melampaui batasan-batasan dunia ini, bagaimana pun majunya kita secara teknologi.

Saya menyukai teknologi. Saya suka semangat pembaruan untuk menaklukkan tantangan-tantangan. Sungguh manusiawi mempunyai keinginan mendai gunung, mencapai dunia di balik cakrawala, memetakan angkasa, mengembara sejauh-jauhnya. Itulah semangat bertualang, mencari dan menjelajah, tak kenal henti, yang merupakan ciri paling menyolok dari sifat-sifat manusia.

Sebaliknya, iman memberi kita ketenangan, sebuah jeda, sekeping waktu untuk merenung. Iman memberi kita sebuah peluang untuk mengakui sesuatu yang lebih besar dari kita. Iman menjaga kerendahan diri kita supaya bisa mengagumi.

Jadi, kita kita boleh menjangkau ilmu; mengkaji dunia sekeliling; menantang diri sendiri. Pelajari dan temukan. Perbarui dan segarkan lagi. (Tapi) kita harus menggunakan teknologi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling mendesak. Kita butuh solusi-solusi dalam kedokteran, permesinan, ekonomi.

Kita bisa mengembara ke angkasa, dan pada saat yang sama menemukan cara-cara untuk mengatasi berkurangnya air tanah. Kita harus mengingat berakhirnya matahari, kelangsungan rangkaian bintang-bintang (galaksi), Penjamin kehidupan dan Penjemput maut. Hal itu merupakan realisasi dari hakikat asasi keadaan manusia, yang dengannya kita akan memberikan jaminan terbaik bagi diri kita sendiri untuk menuai manfaat-manfaat teknologi, dan menghindari perangkap-perangkapnya.

Islam mendorong kita belajar dan berpikir, membaca dan menemukan. Selama berabad-abad, bahasa Arab telah menjadi bahasa ilmu, karena para Muslim sangat dituntut untuk menghargai alam dan nilai-nilai fisiknya. Tapi kita tidak boleh melupakan bahwa kita bukanlah semata-mata benda. Kita harus bekerja dengan pikiran, badan, dan ruh, bila kita benar-benar ingin memunculkan bakat manusiawi kita di bumi ini, dan di alam berikutnya.

*Majalah Emel, terbitan 99 December 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: