Sesaat Tanpa Jilbab (Curhat Seorang Wanita Mesir)

Saya punya rahasia. Bukan rahasia kecil yang kotor. Saya tak akan mengatakan hal itu kepada anda. Rahasia saya adalah sesuatu yang normal dan bersifat sementara, seperti yang akan anda lihat. Dan saya akan mengatakan hal ini – sesuatu yang sebenarnya pribadi – karena saya tak suka dengan perasaan seolah saya munafik. Saya tak mau melakukan sesuatu di hadapan orang pada satu sisi dan di belakang orang pada sisi yang lain. Saya sudah cukup menaggung beban karena itu. Maka saya akan mengatakan hal ini kepada anda untuk meringankan beban perasaan.

Minggu lalu, saya mencopot hijab saya – kerudung yang dikenakan banyak muslimah untuk menutup rambut mereka.

Saya telah mengenakan kerudung sejak meninggalkan rumah, selama 25 tahun, sejak berusia 17 tahun. Itu waktu yang lama untuk ukuran umur manusia.

Saya melepas kerudung ketika melakukan perjalanan ke Eropa baru-baru ini. Saya ingin tahu bagaimana rasanya melepas kerudung. Saya ingin tahu bagaimana perubahan pandangan orang terhadap saya, dan bagaimana pandangan saya terhadap diri sendiri dan dunia ini.

Saya telah memikirkan masalah hijab selama bertahun-tahun. Mengapa dalam Islam hijab- diwajibkan bagi wanita? Benarkah hukumnya wajib, atau hanya karena sekelompok lelaki ingin melindungi wanita? Apakah sesuatu yang diterapkan kepada wanita 1400 tahun lalu masih cocok diterapkan sekarang? Jika ya, kenapa? Apakah wanita benar-benar harus menutup dirinya dari kepala sampai kaki supaya tidak dilecehkan dan diperlakukan sebagai objek seks?

Saya telah melakukan perjalanan keliling dunia selama sepuluh tahun sambil mengamati wanita, bagaimana mereka berpakaian, dan bagaimana lelaki bereaksi. Kesimpulannya, wanita di seluruh dunia mengenakan pakaian yang mereka suka, dan kebanyakan mereka diperlakukan tidak semestinya bukan karena pakaian mereka tapi karena orang-orang tertentu bereaksi terhadap pakaian mereka berdasar cara berpikir mereka. Catatan saya adalah: apa pun yang dikenakan wanita, selalu saja ada orang yang memperlakukan mereka secara tak pantas.

Ada lelaki yang akan mengganggu wanita yang berpakaian seksi, dan ada lelaki yang akan mengganggu wanita yang menutup tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahkan ada lelaki dan wanita yang memperlakukan wanita secara menyebalkan, tak peduli ia berpakaian seksi atau menutup tubuhnya dari kepala sampai kaki.

Saya berusaja membuka pikiran dan hati. Saya berusaha mengungkapkan apa yang saya rasa benar atau salah, tidak berdasar apa yang saya pikir saya percayai tapi berdasar apa yang benar-benar saya percayai. Untuk itu, saya harus mulai melihat dari titik di mana saya akan berakhir. Ini benar-benar tidak mudah. Ada banyak lapisan di atas lapisan-lapisan keadaan dan ingatan dan ajaran sejak kecil yang harus digali untuk sampai pada lapisan kebersihan kita dari dosa, yang merupakan titik tolak. Saya belum menemukan titik itu. Tapi saya terus berusaha menggali. Saya mungkin berakhir tepat pada titik sebelum saya bertanya beberapa tahun yang lalu. Saya ingin berakhir di satu titik atau di mana pun dalam keadaan saya benar-benar merasakan kehendak bebas, bukan karena merasakan adanya tekanan.

Saya membuka diri untuk masalah hijab ini sejak pertanyan-pertanyaan mulai bermunculan di kepala dalam waktu yang begitu lama.

Pada suatu pagi, ketika saya di Barcelona, saya memutuskan untuk keluar dari kamar hotel dengan mengenakan kemeja tangan pendek, celana jeans, dan tanpa kerudung.

Saya pergi ke ruang sarapan dan segera merasakan bahwa saya tidak diperhatikan. Saya telah terbiasa merasa diperhatikan orang – walau sekilas – sebagai wanita berhijab di Eropa. Hal itu jelas lebih terasa di ruang sarapan di hotel-hotel: seorang wanita berhijab, memasuki restoran seroang diri. Ini tidak sebiasa yang anda bayangkan. Untuk pertama kali dalam tahun-tahun perjalanan, saya tidak diperhatikan. Dan saya tiba-tiba merasa rindu untuk diperhatikan.  Harus diakui, saya merasa agak sakit.

Saya kemudian mencoba berkeliling di jalan-jalan Barcelona sambil berbelanja. Hampa. Saya hanya seseorang di tengah ribuan orang di jalan-jalan dan di tempat-tempat belanja. Pernahkan saya merasa hanya satu orang di tengah ribuan orang? Pernahkah saya selalu begitu tidak tampak?

Karena itu hanya sebuah percobaan, saya memutuskan untuk pergi ke pertemuan-pertemuan bisnis dengan pakaian normal saya, yaitu berjilbab. Itulah yang ingin dilihat teman-teman saya. Karena saya tidak memutuskan untuk melepas jilbab selamanya, maka tak ada alasan untuk membuat mereka heran.

Itu berlangsung selama berhari-hari. Saya pergi ke pertemuan-pertemuan bisnis dengan berjilbab. Saya berjalan sendirian tanpa jilbab. Saya yakin resepsionis hotel berpikir: “Mantapkan hatimu, non!”

Itu sama sekali bukan pengalaman menarik. Ketika saya membandingkan bagaimana saya pikir penilaian orang ketika saya tanpa jilbab, dan bagaimana ketika saya memakainya, saya benar-benar tidak menemukan perbedaan yang berarti. Ini benar-benar membuat saya kaget. Terlepas dari perasaan tidak diacukan dan kurang mendapat perhatian ketika sarapan di hotel, saya lebih tidak diperhatikan lagi dengan apa pun yang saya pakai ketika saya di luar. Saya bahkan berusaha memakai busana-busana pendek dan bersepatu hak tinggi. Tak ada apa-apa.

Tak peduli apa pun yang saya pakai, tetap masih ada orang-orang kasar, orang-orang manais, dan orang-orang yang tak begitu peduli kepada orang lain.

Saya mencoba mengalaman yang sama di London, dan mendapatkan reaksi yang sama, yaitu tidak dipedulikan.

Saya tidak tahu mengapa orang tidak mempedulikan apa yang saya pakai.

Saya mencoba melakukan pertemuan dengan tiga teman baik – seorang muslimah dan dua orang bukan – tanpa memakai jilbab. Mereka ini orang-orang yang sangat terbuka, sangat peduli. Tapi  ternyata saya hampir tidak mendapat perhatian dari mereka.

Dua hal memang terjadi ketika saya berkeliling dua kota Eropa tersebut tanpa penutup kepala. Tapi keduanya bersifat batin.

Saya merasa bahwa Nadia yang saya kenal bertahun-tahun lalu, kini muncul lagi. Itu adalah Nadia teman SMA. Nadia sebelum berjilbab. Bukan berarti saya merasa muda lagi. Saya lebih merasa dikupas secara kiasan, beberapa lapis, untuk memunculkan kembali seseorang yang pernah ada bertahun-tahun lampau. Ini sebuah penyegaran.

Saya juga merasa lebih feminin dari yang saya yakini pernah saya rasakan selama hidup. Saya merasa lebih wanita. Bukan karena reaksi orang lain seperti dirasakan seorang wanita. Tapi saya seccara batin merasa lebih  feminin. Itu menarik.

Saya kembali ke Kaira, memakai jilbab. Saya tidak menyesali pengalaman saya. Dan sekarang saya tidak merasa bahwa saya ingin melepaskan jilbab selamanya. Ada beberapa pertimbangan untuk itu. Saya tidak mengharapkan reaksi orang terhadap saya ketika saya melepas jilbab di Mesir – orang yang bersikap positif atau mendukung, atau kurang peduli. Akan banyak drama yang terjadi dan saya tidak tahu apakah saya siap menghadapinya. Saya juga masih merasakan bagian dari diri saya yang mengatakan bahwa jilbab mungkin sebuah kewajiban. Mungkin Tuhan memang benar-benar ingin agar saya tertutup dari kepala sampai kaki. Saya masih butuh untuk tampil seperti itu.

Untuk sementara, saya senang berpikir bahwa saya punya pilihan. Sungguh menarik berpikir bahwa saya bisa melanjutkan untuk mengalami ketika saya merasa suka secara pribadi pengalaman saya di Eropa dan mungkin di tengah teman-teman yang dapat saya percayai. Dan sungguh sangat menghibur berpikir bahwa saya bisa melanjutkan untuk memakai jilbab ketika saya merasa hal itu cocok, baik untuk diri saya sendiri maupun bagi orang-orang di sekeliling saya.

Itulah rahasia saya. Sesuatu yang tidak terlalu rahasia, telah saya ungkapkan. Saya katakan ini bukan untuk mendapat tepukan di bahu dari anda yang tidak mendukung saya memakai jilbab. Dan saya juga tidak mengharapkan ucapan ‘sungguh berani kamu’ dari anda yang mendukung saya berjilbab. Saya berharap untuk mendapatkan kedua reaksi itu. Dan saya akan mengabaikan semua.

Saya menuliskan ini semata karena ingin menulis. Saya merasakan karena itu saya menulis.

* Dari: Inner Workings Of My Mind (A WordPress Blog)- Nadia El-Awady,  Islamcity, 6/7/2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: