Sarah Joseph: Kutemukan Trust Di Pulau Skye

sarah_joseph_450_300_websiteSiapa Sarah Joseph?

Ia lahir tanggal 4 Juni 1971, dari ayah bernama Joe dan ibu Valerie. Masuk Islam pada tahun 1988 (usia 17 tahun).  Kini ia menetap di 1 Canfield Place, NW6 3 BT London, Inggris. Ia  bekerja di emel Media LTD, sebagai editor dan CEO. Ia juga seorang public speeker.

Pernikahannya dengan Mahmud Al-Rashid, menghasilkan anak bernama Sumayyah dan Amirah.

Demikian sedikit informasi tentangnya, yang dapat anda temukan di halaman Facebook miliknya.

Sebuah tulisannya di emel.com berjudul Trust in Skye sangat menggugah saya. Mengapa? Pertama, bahasa Inggrisnya yang bergaya prosa puitis sangat memukau. Kedua, ia melukiskan keadaan di suatu tempat yang asing, jauh dari sentuhan keramaian. Ketiga, renungannya cukup mendalam. Keempat, renungan itu dikaitkannya dengan kedatangan bulan Ramadhan.

Saya berusaha menerjemahkan tulisannya, walau tidak bisa meniru gaya puitisnya.

Anda boleh setuju atau tidak dengan pemikirannya, tapi saya percaya tulisan ini pasti akan bermanfaat bagi anda. Selamat membaca!

Saya menuliskan ini (sebagai renungan) dari pulau Skye, salah satu dari kepulauan Hebridean, Skotlandia. Pulau yang kasar, pemandangan serba pegunungan, danau-danau misterius dan bukit-bukit yang diselimuti semak-belukar, menciptakan suasana yang nyaman untuk merenungkan Sang Pencipta. Bila anda lemparkan pandangan ke sekitar, hanya tampak sedikit bekas kerja manusia. Tak ada bangunan-bangunan tinggi yang buruk, tak ada pabrik-pabrik yang terbengkalai, tak ada sampah berserakan. Sungguh, sejauh mata memandang, yang terlihat hanya alam dengan segala keagungannya yang tak tersentuh, kecuali oleh pondok-pondok kecil berwarna putih yang menancap di tepi bukit, dan perahu-perahu nelayan yang yang bentuknya aneh, yang berlayar di laut.

Saya duduk di atas tebing sebuah gunung dan membayangkan apa yang dipikirkan Rasulullah ketika beliau termenung di atas Jabal Nûr – dengan pemandangan hanya padang pasir yang membentang di hadapan beliau. Beliau tentu berpikir bahwa bentangan alam yang luas itu pastilah ada penciptanya, dan tuhan-tuhan ciptaan manusia pastilah tak akan sanggup mengangkat manusia dari kerendahan dan ketertindasannya.

Namun di seberang pemandangan di pulau Skye ini ada sesuatu yang lain yang menarik, yang bisa diungkapkan dengan satu kata: Trust (baca: trast = kepercayaan; keyakinan; amanah). Di sudut-sudut jalan setapak, anda temukan kardus-kardus tempat selai dan telur. Orang-orang berdatangan dan lewat, mengambil apa yang mereka butuhkan dan meninggalkan pembayaran. Pintu-pintu rumah ditinggalkan tanpa dikunci. Seorang seniman lokal, yang punya panggilan kesayangan Grumpy George, mengatakan kepada saya, “Anda bisa meninggalkan mobil di sini dengan jendela terbuka. Satu-satunya yang akan masuk adalah hujan.”

Dan trust itulah yang sangat menyentuh saya. Trust adalah landasan sebuah hubungan. Sebutlah trust  dalam keluarga, sekolah, tempat kerja atau ruang publik pemerintahan. Bila trust mulai rusak, dibutuhkan sebuah usaha yang mahakeras untuk menghentikan keruntuhan. Tapi sifat  trust berpuncak pada iman. Anda harus masuk ke dalamnya tanpa jaminan atau kepastian. Kadang trust anda terhadap seseorang berujung menjadi kesalahan. Orang akan membiarkan anda jatuh. Kita akan membiarkan orang lain jatuh. Trust sulit didapat, tapi mudah punah. Dan bila sudah hilang, sangat sulit untuk diperoleh kembali. Trust membuat anda rapuh, tapi tanpa trust anda tidak bisa benar-benar mencintai.

Gagasan untuk mencintai Tuhan adalah landasan iman dan hubungan kita denganNya. Tapi bila trust terhadap Tuhan mempunyai kerapuhan seperti trust manusia – dengan kemungkinan untuk sakit dan kehilangan – maka hubungan dengan Tuhan menjadi kacau! Lalu, bagaimana kita menggambarkan  trust Ketuhanan? Dan apa yang terjadi bila ujian-ujian datang merintangi jalan kita? Apakah kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan hanya untuk dibalas dengan kesulitan?

Untuk hal ini, Al-Qurãn memberikan jawaban yang tegas, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dianggap cukup (membuktikan iman) dengan hanya mengatakan, ‘Kami beriman’, tanpa mendapat ujian?” (29:2).

Tapi, bila iman dan trust kepada Tuhan menyebabkan kita diuji dan mendapat kesulitan, lalu apakah namanya hubungan seperti itu?

Kita harus berpikir beda tentang hubungan kita dengan Tuhan. Itu bukan semacam hubungan romantik duniawi. Hubungan yang satu ini mempunyai tantangan-tantangan yang lebih besar dan imbalan-imbalan lebih besar pula. Tekanan-tekanan dan tantangan-tantangan kehidupan mendesak iman anda ke ruang terbuka. Berbagai usaha untuk lari secara prematur dari tantangan-tantangan itu, sebelum semua sempat mempengaruhi karakter anda, maka hal itu menjadi seperti kupu-kupu yang bergegas keluar dari kepompongnya. Dia tak akan benar-benar bisa terbang!

Kesulitan disediakan Tuhan bukanlah sebagai perusak trust-Nya; tapi sebaliknya justru merupakan pemenuhan trust-Nya. Trust terhadap Tuhan dengan seluruh keberadaan kita berarti menerima keputusan-keputusan-Nya, meskipun kita tidak mungkin memahami setiap kerumitannya pada saat itu.

Kembali ke Skye. Tegak di sana bukit raksasa Cuillin Hills. Dan tak jauh darinya, tegak berjajar pula pegunungan Glen Coe. Menatap bangunan-bangunan raksasa yang menakjubkan itu, saya teringat ayat Al-Qurãn: “Sungguh, Kami telah menawarkan trust (amanah) kepada langit dan bumi dan gunung-gunung; tapi mereka menolak untuk memikulnya, karena khawatir. Namun manusia memikulnya. Sungguh manusia itu sangat zhalim dan bodoh. (33: 72).

Dengan keindahan pemandangan pulau Skye terpampang di mata batin saya, dan trust dari para penduduknya dalam ingatan, saya merenungkan dunia yang lebih luas. (Terpikir) betapa kita menyalah-gunakan trust  yang kita ambil dari Tuhan. Kita menjadi penyebab bahaya dan luka bagi sesama, dan bahkan bagi bumi tempat hidup kita sendiri. Kita beriringan di atasnya tanpa berpikir. Membuta di atasnya pada nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai yang lebih dalam.

Tapi setiap hadir hari baru, kita punya kesempatan untuk mengoreksi diri. Dan dengan kedatangan Ramadhan, kita punya satu bulan penuh kesempatan untuk menata ulang diri, agar bisa meletakkan trust sepenuhnya kepada Tuhan, dan mengijinkanNya menggarap kita dan bekerja melalui kita, sehingga kita bisa menegakkan sesuatu yang indah di bumi ini; karena sudah jelas bahwa bumi ini diamanatkan kepada kita. Dan selanjutnya terserah Tuhan tentang apa yang akan diganjarkanNya kepada kita. ∆

*Emel Media, edisi 71, Agustus 2010

Pulau Skye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: