Allah Bagaikan Cahaya…

Perahu dan bulan2

Rasulullah mengatakan bahwa Allah menciptakan malaikat dari cahaya. Cahaya (nûr) juga merupakan salah satu nama Allah, dan Al-Qurãn menegaskan bahwa Allah adalah “cahaya langit dan bumi” (24: 35). Untuk memahami apa itu malaikat, kita harus memahami apa itu cahaya. Untuk itu, memahami cahaya sebagai istilah ilmu fisika tidaklah akan membantu. Akan lebih baik bila kita memahami tanda-tanda yang diungkapkan kepada kita ketika mengamati cahaya.

Biasanya kita memahami cahaya sebagai sesuatu yang terlihat, padahal kenyataannya caha itu tak terlihat. Kita hanya bisa melihat cahaya bila ia berbaur dengan kegelapan. Bila hanya ada cahaya tanpa kegelapan, kita akan buta karena pancarannya. Perhatikan apa yang terjadi ketika anda melihat matahari, yang jaraknya 93 juta mil dan ia melalui atmosfir bumi. Bila kita keluar dari atmosfir bumi, hanya beberapa mil lebih dekat ke matahari, kita tidak akan bisa melihat matahari kecuali sebentar dan langsung menjadi buta. Apa yang kita sebut sebagai cahaya yang terlihat sebenarnya hanya ‘benda’ yang sangat ‘pucat’ (tak berwarna). Benda ini sulit untuk dipersamakan dengan cahaya matahari yang tidak tersaring (dengan atmosfir); lebih-lebih bila yang kita maksud adalah cahaya Tuhan, yang menerangi seluruh alam. Karena itu dikatakan dalam Islam bahwa cahaya Tuhan itu mahaterang, sehingga sehingga semua manusia menjadi buta (tak mampu melihat).

Tuhan itu tidak terlihat, malaikat tidak terlihat, semua cahaya tidak terlihat. Karena itu tidak heran bila Tuhan dan malaikat adalah cahaya.

Anda mungkin akan membantah dengan mengatakan bahwa kita melihat cahaya berkilau di mana-mana, tapi kita tidak melihat malaikat atau tuhan.

Ilmu tauhid mengatakan itu semua tak lain dari pancaran Tuhan, dan semua makhluk adalah pembuktian dari dayacipta Tuhan. “Tuhan adalah cahaya langit dan bumi (24: 35), dan langit serta bumi adalah pancaran atau pantulan cahaya itu.

Cahaya tidak bisa dilihat, tapi tanpa cahaya kita tak dapat melihat apa pun. Karena itu, cahaya bisa didefinisikan sebagai sesuatu yang tak dapat dilihat namun menyebabkan banyak hal dapat dilihat. Begitu juga Tuhan dan malaikat, tidak terlihat, tapi tanpa mereka tak ada semesta alam ini. Dengan demikian, Tuhan dan malaikat dapat digambarkan sebagai sesuatu yang tak terlihat yang membuat semesta alam terlihat.

Kegelapan

Lawan dari cahaya adalah kegelapan, dan kegelapan terjadi karena tiadanya cahaya. Dengan kata lain,  cahaya adalah sesuatu, tapi kegelapan bukanlah apa-apa. Kita melihat segala sesuatu karena sebuah ketiadaan berbaur dengan sesuatu. Kita tak akan bisa melihat apa-apa bila yang ada hanya cahaya, atau hanya kegelapan. Cahaya dan kegelapan harus hadir bersama untuk memunculkan penglihatan.

Tuhan adalah cahaya. Lawan dari cahaya adalah kegelapan, yang hakikatnya adalah ketiadaan. Dengan kata lain, tidak mempunyai lawan yang benar-benar ada, karena ketiadaan hakikatnya bukanlah sesuatu. Bila ketiadaan adalah sesuatu, bagaimana kita bisa menyebutkan lawannya? Tentu saya kita bisa mengatakan bahwa ketiadaan adalah lawan (kebalikan) dari sesuatu (keberadaan), tapi ketiadaan itu tidak hadir kecuali sebagai lambang dalam pembicaraan atau sebagai sebuah pengandaian dalam diskusi.

Lantas, makhluk itu cahaya atau kegelapan? Jawabannya, tentu, bahwa makhluk bukanlah keduanya, atau kedua-duanya. Bila makhluk adalah cahaya dan tidak lain dari cahaya, maka makhluk adalah Tuhan. Dan bila makhluk adalah kegelapan dan tidak lain dari kegelapan, berarti makhluk itu tak ada. Maka, bila demikian, makhluk tinggal di tempat yang bukan cahaya dan bukan pula kegelapan.

Dalam konteks tasybih (perumpamaan; penyerupaan), makhluk adalah cahaya, tapi dalam konteks tanzih (peniadaan unsur makhluk dari pemikiran tentang Tuhan), makhluk adalah kegelapan. Dengan kata lain, dalam taraf bahwa makhluk itu sama dengan Tuhan, makhluk itu bercahaya. Tapi dalam taraf bahwa makhluk itu tidak bisa disamakan dengan Tuhan, maka makhluk itu gelap. Makhluk harus memiliki unsur cahaya. Bila tidak, makhluk tidak bisa hadir.

Tinggal dalam kegelapan (yaitu dalam kegelapan yang relatif, karena kegelapan mutlak hakikatnya tak ada) berarti tinggal berjarak dari Tuhan. Itu berarti dikuasai oleh kualitas kemuliaan dan kutukan Tuhan, yang menyebabkan makhluk tetap jauh dari Tuhan. Tinggal dalam cahaya berarti tinggal dalam kedekatan dengan Tuhan; yang berarti didominasi oleh nilai-nilai keindahan dan kasing-sayang, yang menyebabkan makhluk dekat dengan Tuhan.

Ada satu cahaya, dan cahaya itu adalah Tuhan. Ada banyak kegelapan, karena setiap makhluk mewakili kegelapan dalam kaitan dengan Tuhan. Semakin kelam kegelapan, samkin jauh jaraknya dari Tuhan. Kegelapan mutlak tidak ada, karena berarti akan terputus dari Tuhan dalam segala hal. Bagaimana sesuatu bisa hadir bila tidak memiliki hubungan apa pun dengan Yang Mahanyata, yang tak lain merupakan sumber dari segala nilai?

Makhluk hadir berjarak dari Tuhan, dalam keberbedaan, dalam kelainan. Ini berarti bahwa makhluk tinggal di kegelapan yang relatif.

Kegelapan relatif memiliki banyak model dan bentuk, karena terdapat bilangan tanpa akhir yang menyebabkan makhluk berbeda dari Tuhan. “Tak ada apa pun yang seperti Dia”, tapi segala sesuatu tidak seperti Dia dalam keunikannya masing-masing.

Menempati keberbedaan berarti memahami Tuhan secara tanzîh (تنزيه),[1] dan karena itu didominasi oleh keburukan, kemuliaan, dan kutukan. Tujuan agama adalah membawa perubahan dari tanzîh kepada tasybîh; dari keberjarakan kepada kedekatan; dari keberbedaan kepada kesamaan; dari kemajemukan kepada ketunggalan; dari kutukan kepada anugerah; dari kegelapan kepada cahaya.

Al-Qurãn begitu sering menjelaskan tujuan Allah dalam penciptaan makhluk untuk meghasilkan kesatuan, dan di dalamnya sering digunakan istilah cahaya dan kegelapan untuk menjelaskan tujuan tersebut.

Juga perhatikanlah bahwa di dalam banyak ayat cahaya selalu muncul dalam bentuk tunggal, karena cahaya adalah sifat Allah. Tapi kegelapan itu banyak (majemuk), karena kegelapan adalah sifat dari banyak bentuk makhluk.∆  

*Disarikan dari buku “The Vision of Islam” by Sachiko Murata and William C. Chttick

IslamCity, 4/15/2013

 


[1] Yaitu menghilangkan sifat-sifat kemakhlukan dari pemikiran tentang Tuhan.

Comments
4 Responses to “Allah Bagaikan Cahaya…”
  1. Suryamin says:

    Dengan kerendahan hati saya punya sebuah kegelisahan….Bagaimana kita sebaiknya pada saat takbir..atau menyebut nama tuhan apa yang seharusnya ada dalam benak fikiran dan hati kita…agar terhindar dari bayangan ..sosok …ataupun sesuatu…terimakasih.

  2. Ahmad Haes says:

    Saya sendiri, ketika mengucap takbir, hanya menatap tempat sujud, dan berusaha untuk pasrah. Saya bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa, tak tahu apa-apa, hanya ingin berusaha menjalankan perintah dari Allah yang tidak bisa saya bayangkan wujudNya, tapi firmannya bisa saya pelajari, bisa saya ikuti.

  3. Suryamin says:

    Trimakasih Balasannya…Semoag Pa Ahmad Haes selalu diberikan kesehatan..Amiiin

  4. Ahmad Haes says:

    Sama-sama… Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: