Latah-Latahan Bikin Buku Lã Tahzan

cover la tahzan2Frasa (tepatnya fi’lun-nahyi – kata kerja larangan) lã tahzan (لا نحزن) mulai populer di Indonesia sejak Qisthi Press menerbitkan buku berjudul Lã Tahzan – Jangan Bersedih,  yang merupakan terjemahan dari karya DR. ‘Aidhul-Qarni, dengan judul yang sama, Lã Tahzan, yang konon merupakan buku best seller (laris) di Timur Tengah.

Ternyata versi terjemahannya (juga) laris di Indonesia, bahkan sampai menyebabkan sejumlah penulis dan penerbit Indonesia yang lain menulis/menerbitkan sequel atau versi Lã Tahzan yang lain, yang juga laris di pasaran. Dengan kata lain, Lã Tahzan di Indonesia bukan lagi judul sebuah buku, tapi sudah menjadi satu genre (jenis) buku tertentu, yang sebenarnya masuk golongan buku motivasi. Lucunya, ‘merk’ Lã Tahzan pun digabungkan dengan objek-objek (pangsa pasar) yang ditulis dalam bahasa Inggris. Maka terlihatlah di toko buku judul-judul seperti: Lã Tahzan for Students, Lã Tahzan for Mothers, dan yang terbaru, Lã Tahzan for Hijabers.

Bagi para pembaca Al-Qurãn, frasa lã tahzan bukanlah sesuatu yang asing. Mereka bisa menemukanya pertama-tama dalam surat A-Taubah ayat 40, yaitu dalam rangkaian kalimat yang dalam asbabu-nuzul dicatat sebagai kalimat hiburan Rasulullah kepada sahabat terbaiknya, Abu Bakar. Selengkapnya, kalimat tersebut berbunyi: lã tahzan! Innallaha ma’anã! (Jangan khawatir! Sungguh Allah bersama kita!). Sedangkan bentuk jamaknya, lã tahzanû (لا تحزنوا) – jangan kalian khawatir – ditemukan dalam surat Ali ‘Imran ayat 139.

Kesalahan bahasa

Latah-latahan membuat buku berjudul Lã Tahzandengan tambahan objek-objek yang berbeda-beda, sebenarnya cukup menggelitik bagi yang mengerti bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, pengertian kata kerja yang berobjek sangat ditentukan oleh objeknya. Kata kerja dharaba (ضرب), misalnya, pengertian awalnya dalah memukul. Tapi bila objeknya matsalan, perumpamaan, maka dharaba matsalan berarti memberikan atau menghidangkan perumpamaan.

Dalam konteks kata kerja larangan, objeknya adalah orang kedua (lawan bicara) tunggal dengan jenis kelamin lelaki, yaitu anta (kamu, anda). Dengan la tahzan fo mothersdemikian, lã tahzan berarti: jangalah (kamu – seorang lelaki) khawatir/bersedih… Bila objeknya dua orang, maka lã tahzan berubah menjadi lã tahzanã ( لاتحزنا : Janganlah kalian berdua – lelaki – khawatir). Bila objeknya jamak (lebih dari dua orang), maka lã tahzanbberubah menjadi lã tahzanû ( لاتحزنوا: Janganlah kalian – lelaki –  khawatir…).

Dan bila objeknya adalah seorang wanita, maka lã tahzan berubah menjadi lã tahzani (لا تحزنى : Janganlah kamu – seorang wanita – khawatir…). Bila objeknya dua orang wanita, lã tahzan berubah menjadi lã tahzanã ( لاتحزنا – sama dengan bentuk ganda untuk lelaki, tapi pengertiannya : Janganlah kalian berdua –  wanita – khawatir). Dan bila objeknya adalah wanita berjumlah lebih dari dua, maka lã tahzan berubah menjadi lã tahzanna (لا تحزنّ).

Dengan demikian, bila judul-judul seperti Lã Tahzan for Mothers, dan Lã Tahzan for Hijabers kita tinjau secara  kaidah ilmu sharaf (morfologi), maka jelaslah judul-judul ini menyalahi kaidah ilmu sharaf. Tapi, karena judul-judul tersebut, agaknya, memang dibuat dengan tidak mengindahkah ilmu sharaf, atau karena frasa lã tahzan dianggap sebagai istilah untuk menyebut jenis buku, maka kesalahan itu bisa dianggap tidak ada.

Dengan kata lain, itulah salah satu kasus salah kaprah yang dianggap lumrah!

Apa boleh buat… ∆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: