Masa Depan Dan Gaya Hidup Kita

Apakah sebenarnya yang dimaksud masa depan itu? Manusia lahir, tumbuh, menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya mati.  Ketika menyebut istilah “masa depan”, kebanyakan kita membayangkan sebuah masa tua yang tenang, karena punya rumah besar, cukup makanan dan pakaian, semua anak-anak telah menjadi “orang”, dan telah melahirkan banyak cucu yang sehat sejahtera,  dan kita duduk beruncang-uncang kaki di atas kursi goyang, menyaksikan keriangan para cucu yang akan menyambung sejarah kita. Itukah yang dimaksud “masa depan”? Itukah “sorga dunia” yang kita idam-idamkan, yang membuat kita semua sekarang tidak berhenti memutar otak, membanting tulang dan memeras keringat?

Demi “masa depan” yang (kira-kira) seperti itulah kita berjuang, “berjibaku mengejar uang”, untuk membeli makanan, pakaian, dan rumah. Demi masa depan seperti itulah kita modali anak-anak bersekolah di sekolah-sekolah yang memang menjanjikan “masa depan”, karena mengajarkan ilmu-ilmu yang menjamin kebahagiaan “masa depan”.

Tapi kepada anda atau mereka yang sudah tua, punya rumah besar, punya tabungan di banyak bank, punya anak-anak yang sudah jadi orang, punya banyak cucu yang sehat dan bersekolah di sekolah-sekolah bergengsi,  baik di dalam maupun di luar negeri, tolong katakan:

“Apakah anda bisa duduk beruncang-uncang kaki, sambil menikmati kopi dan mengisap cangklong, sementara di depan anda televisi menyiarkan berita-berita kerusuhan, perang, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan aneka macam kejahatan?”

“Apakah anda bisa tenteram menyaksikan cucu-cucu yang lincah dan riang karena cukup sandang dan pangan, sementara begitu banyak anak-anak lain yang telanjang, kepanasan, kehujanan, dan kelaparan?”

Barangkali anda bisa mengatakan bahwa itu semua bukan urusan anda. Tapi apa yang akan anda katakan ketika para perusuh membakar rumah anda? Apa yang akan anda katakan bila ada anak, cucu atau cicit anda dijarah, dibunuh, atau diperkosa? Anda bisa lontarkan tuduhan kebiadaban kepada para pelaku langsung segala tindak kejahatan itu, dan para polisi bisa segera memenjarakan atau menghukum mati mereka. Tapi apakah itu cukup untuk membasmi segala penyakit masyarakat kita?

Ya, anda bisa mengatakan bahwa itu bukan urusan anda.

Segala masalah kemanusiaan itu memang bukan urusan anda, bukan urusan saya, bukan urusan si A dan si B. Tapi itu semua adalah urusan kita, sebagai makhluk yang bernama manusia.

Kita sepakat (atau hanya latah?) mengaku bahwa manusia adalah makhluk sosial, tapi ternyata cara berpikir kita, tindak-tanduk keseharian kita, lebih mewakili cara-cara  individualis.  Atau barangkali ‘sosialisme’ yang kita anut adalah sosialisme yang sempit, yakni dalam arti mengelompok dalam lingkungan pergaulan tertentu saja, dan itu pun dilakukan hanya demi kebutuhan fragmatis. Ya, sebut saja mereka yang pada saat-saat tertentu berkumpul di lapangan golf atau tenis, atau bahkan di restoran. Apakah mereka akan ‘rela’ mengadakan pertemuan bila di balik itu tidak mengharapkan sesuatu (keuntungan materi!) yang lain? Dengan kata lain, mereka bertemu bukan untuk bersosialisasi dalam arti bergaul untuk menciptakan persahabatan yang tulus, tapi cuma sekadar untuk saling mengincar kapan sang ‘rekan’ bisa ‘dimakan’!

Itulah hidup model para penjudi. Berkumpul hanya untuk saling mengintip isi kantong.

Gaya hidup yang memandang bumi Allah ini sebagai arena permainan. Gaya hidup yang memubazirkan segala sarana karena hanya digunakan untuk pelampias nafsu.  Gaya hidup yang terus-menerus meminta korban yang sia-sia, karena semua pengorbanan hanya menghasilkan fatamorgana. Kesenangan dan kepuasan semu.

***

Comments
One Response to “Masa Depan Dan Gaya Hidup Kita”
  1. Achmad says:

    Maksunya apasi ? apa yg di tuju oleh manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: