Ngobrol Santai Tentang Istighfar

 

Di bawah ini adalah bahan pengajian yang saya sampaikan di hadapan teman-teman di Jakarta Selatan tahun 2006:

… Ya, ini masih ada hubungan dengan (kajian) Al-Muzzammil… Salah satu yang belum saya jelaskan kemarin itu … istilah istighfar ya?

Selama ini kita memahami istilah istighfar sebagai ungkapan minta ampun. Kita selalu memahami beristighfar itu minta ampun. Astaghfirullah(a), (diartikan) saya minta ampun kepada Allah. Rabbighfirli… Ya Allah, ampunilah aku. Ya Rabb, ya Tuhan, ampuni aku.

Sampai sekarang, terus terang aja saya belum menemukan dari kamus-kamus yang saya pelajari… dari mana kata ghafara itu berarti mengampuni ya? Karena seperti yang saya ungkapkan berkali-kali, ghafara itu, kalau menurut kamus, kalau tidak ghathã, artinya menutup, ashlaha.  Ya kalau tidak  ghathã (غطا), ashlaha (أصلح). Ghathã = menutup, ashlaha = memperbaiki.

Jadi, kalau ghafara (artinya) menutup atau memperbaiki, maka istaghfara adalah mengharapkan penutupan, meminta penutupan, menginginkan penutupan, atau mengharapkan perbaikan, menginginkan perbaikan…

Kalau kita hubungkan dengan surat Al-Muzammil, proses untum melakukan perbaikan itu adalah dengan rattil  itu. Dengan rattil Al-Qurãn itu. Jadi, rattilil-qurãna tartîlan itu adalah satu tindakan, satu usaha yang real, usaha yang nyata untuk melakukan perbaikan. Jadi mempelajari Al-Qurãn, mempelajari ilmu itu, adalah usaha untuk memperbaiki diri.

Tapi kemarin (seminggu sebelumnya) kan saya bilang kalau bicara diri itu kan terlalu kecil. Kalau kita lihat gambarnya ya… diri kita itu hanya satu titik di tengah lingkaran. Kalau gambarnya begini (segitiga piramida terbalik), maka diri kita itu cuma satu titik. Setelah itu, keluarga, dan seterusnya negara, dunia… Begitu kan?

Jadi, istighfar adalah satu pengharapan, satu keinginan… Kalau kita baca kamus, thalaba lil-ghufran. Jadi, mengharapkan, menuntut… Menuntut apa? Menuntut ghufran. Dengan catatan yang dimaksud adalah ghufrãnaka rabbanã… Yaitu ghufran dari Anda, wahai Pembimbing kami, wahai Tuhan kami.

Ghufran di sini, apa tadi? Penutupan atau perbaikan.

Perombakan (kata seorang peserta).

Ya. Kalau bicara penutupan, apa yang ditutup? Bicara perbaikan, apa yang diperbaiki? Bicara perombakan, apa yang dirombak?

Jadi, kembali pada unsur (aspek) iman itu ya?

Iman terbagi menjadi dua unsur. Kalau yang sering kita terima selama ini adalah sami’nã wa atha’nã ya? Sebenarnya, secara sharaf ini salah ya? Yang benar itu sam’an wa tha’atan, seperti yang digunakan orang-orang NU ya? Itu benar, secara bahasa. Atau sima’an wa tha’atan. Ini (sami’nã wa atha’nã) salah, dari tinjauan bahasa. Tapi ini kita ambil dari Al-Qurãn. Jadi, kalau selama ini kita menggunakan sami’nã wa atha’nã, itu karena ada ayatnya kan? Jadi, para rasul dan para mu’min itu, ketika mendengar perintah Allah, jawaban mereka adalah sami’nã wa atha’nã.  Itu kan cerita masa lalu. Cerita orang-orang dulu. Bagaimana bunyi ayatnya? Masih ingat kan? Al-Baqarah ayat berapa itu? (Ayat 285).

Ãmanar-rasulu… Rasul telah beriman. Itu zaman dulu kan? Artinya rasul dan para mu’min zaman dulu telah terbukti beriman dengan … yang diturunkan kepada mereka. Ãmanar-rasulu bima unzila ilaihi min rabbihi wal-mu’minun… Para rasul telah beriman, begitu juga para mu’min. Mu’min yang mana? Yang atha’nã, yang sami’nã dulu (sebelum athanã).

Di situ jamak engga rasulnya? Tunggal? Berarti Nabi Muhammad ya? Rasulullah, Muhammad, telah beriman. Kita memandangnya dari sekarang ya? Kita memandang Nabi Muhammad sedang beriman atau sudah beriman? Telah. Rasulullah telah terbukti beriman! Dengan apa? Bimã unzila ilaihi min rabbihi. Dengan apa yang diturunkan kepadanya oleh Tuhannya, oleh Allah. Dengan Al-Qurãn. Begitu pula halnya para mu’min, yang sezaman dengan Rasulullah.

Selanjutnya (bunyi ayatnya) bagaimana? Kullun ãmana billahi wa malã’ikatihi wa kutubihi, wa rusuilihi. Lã nufarriqu baina ahadin min rusulihi wa qãlû sami’nã wa atha’nã… Jadi, ayat itu yang kita ambil. Selanjutnya kita menggunakan istilah sami’nã wa atha’nã.

Dari segi bahasa, iman itu terdiri dari sima’an wa tha’atan. Jadi kita ambil bentuk masdarnya, dari apa itu? Sami’a dan thã’a. Sima’an atau sam’an itu sebenarnya lebih mengena, karena itu menyatakan proses. Masdar itu menyatakan proses ya? Jadi, kalau kita ambil bentuk masdarnya, ini lebih tepat untuk kita gunakan sekarang, karena masdar itu mempunyai makna proses. Sesuatu tindakan yang berjalan, tidak kenal waktu. Terus menerus. Masdar itu sebenarnya kata kerja yang tidak terikat waktu. Kalau dalam bahasa Inggris sama dengan infinitive verb. Kata kerja infinitif. Yang pengertiannya itu, makan, misalnya, bukan makan zaman dulu, bukan sekarang, bukan nanti, tapi tindakan makan itu bisa dilakukan dari dulu, sekarang, dan seterusnya. Menandakan sesuatu yang berproses, berjalan.

Kalau iman kita bagi menjadi sam’an wa tha’atan, ini sesuatu yang berhubungan satu sama lain, dan merupakan sesuatu yang berjalan.

Satu segi, kita harus memahami bahwa sami’nã wa atha’nã, atau sam’an wa tha’atan  itu ibarat dua sisi mata uang. Bisa dipisahin engga? Engga bisa. Jadi, sami’nã wa atha’nã itu, sam’an wa tha’atan itu seperti dua sisi mata uang. Tidak bisa dipisahkan. Uang seratus ribu, misalnya, satu sisi ada gambarnya, satu sisi kosong, dibelanjain, ada yang mau engga? Engga ada yang mau nerima. Kita sendiri engga mau menerima kalau, misalnya, dari bank dikasih uang kayak gitu.

Jadi, kalau bicara  sami’nã wa atha’nã itu terpisah apa engga? Ya sepeti dua sisi mata uang. Engga bisa dipisah, cuma harus dibedakan dari segi nilai. Kenapa saya kasih contoh mata uang? Karena uang itu nilainya berbeda-beda kan? Mulai dari yang recehan sampai dengan yang bernilai besar. Begitu juga halnya kita. Sami’nã wa atha’nã kita bisa disamakan seperti nilai uang. Misalnya, hari ini sami’nã wa atha’nã gua, iman gua baru recahan. Misalnya baru, gocapan, baru cepean, atau baru lima perakan! Jadi, harus ditingkatkan toh? Inilah yang saya maksud sami’nã wa atha’nã ibarat dua sisi mata uang. Tidak bisa dipisahkan memang. Karena sami’na atau sima’an itu sendiri pada hakikatnya sudah merupakan atha’na, karena ada perintahnya.

Mendengar atau menanggapi, ada perintahnya engga? Pernah menemukan perintah isma’u engga di Al-Qurãn? Atau fastami’u wa anshitu? Atau fastami’ lima yuhã? Jadi kalau ditinjau dari logika bahasa, dan ayatnya juga memang ada, maka  sam’an atau sima’an itu adalah jawaban dari perintah fastami’u lima yuha, maka ketika kita melakukan sami’na itu sudah bentuk taat.

Tapi ingat! Yang kita bicarakan ini iman dalam kerangka besar ya? Bukan iman dalam kerangka kecil. Bukan iman dalam skop kecil.

Seperti yang saya katakan (seminggu) kemarin, iman dalam skop kecil itu seperti iman dalam tempurung (batok kelapa). Iman yang kuper. Iman yang kerdil. Iman yang sempit.

Jadi, membesarnya iman itu harus lepas dari kungkungan diri; walaupun mulanya harus ada di diri. Ibda’ bi-nafsika. Tapi jangan puas di situ. Harus berkembang. Harus meningkat. Coba kalau kita lihat di sini (gambar piramida terbalik, kemudian dikembangkan jadi lingkaran-lingkaran). Diri itu sangat kecil. Tapi, walaupun kecil, diri ini merupakan inti.

Setiap kita adalah inti dari, katakanlah, sebuah keluarga. Engga usah dibedakan jenis kelaminnya, misalnya lelaki atau perempuan. Inti yang saya maksud, kalau kita mempelajari Al-Qurãn, maka kita menjadi inti yang berpotensi, berkemungkinan, berkewajiban bahkan, untuk mengembangkan (da’wah) Al-Qurãn. Ke mana? (Lihat gambar). Ke kiri, kanan, depan, belakang.

Kalau dilihat dari teori sel, misalnya, sel itu selalu memecah diri kan? Dari satu jadi dua. Nanti ini pecah lagi, dan seterusnya. Coba, jadi berapa dari diri kita yang satu ini? Terus! Bisa dibatasi engga perkembangannya? Yang bisa membatasi hanya virus.

Perkembangan sel berhenti, karena sel itu dirusak oleh virus. Kalau kita bicara tubuh, misalnya, biasanya sel yang cepat berkembang itu tumor atau kanker. Kanker itu adalah tumor yang ganas. Jadi, tumor itu ada yang ganas, ada yang jinak. Mana yang jinak? Tahi lalat, kutil. Tapi kutil agak ganas tuh. Perkembangannya cepat. Kalau tahi lalat, lambat. Tapi tahi lalat itu, kalau dikutik-kutik bisa jadi tumor ganas. Ibarat macan tidur itu! Coba deh kutik-kutik, bisa berkembang itu.

Yaa kalau bicara tumor itu, tumor itu belum tentu merusak ya, karena ada tumor yang jinak. Dalam istilah kedokteran itu namanya benign tumor. Benign (baca: binain) itu – untuk tumor – berarti jinak. Kanker (cancer) adalah tumor yang ganas.

Bagaimana pun, yang ingin saya katakan adalah sel itu berkembang. Diri kita, misalnya, terdiri dari milyaran sel. Ada yang berkembang ada yang terhambat oleh (sel) virus. Oleh kanker. Artinya kanker itu memang sejenis tumor yang ganas (yang merusak sel-sel tubuh kita). Ini kalau kita bawa ke dalam kehidupan, itu ajaran yang bathil, ajaran yang tidak haqq itu adalah sejenis kanker, yang dia bisa lebih cepat berkembang dibandingkan dengan ajaran yang haqq.

Karena dia berkembang lebih cepat, maka yang haqq itu bisa terhambat oleh dia. Satu contoh, sinetron, televisi secara umum… Secara fisik saja, siapa sekarang yang di rumahnya tidak ada televisi? Kita bisa periksa, setiap orang di rumahnya pasti ada televisi. Katakanlah di Jakarta ya? Kalau di kampung barangkali masih ada yang tidak punya TV. Di Jakarta ada engga? Pasti ada juga ya? Cuma jarang sekali.

Kalau misalnya pertanyaannya, “Di setiap rumah orang Islam, ada Al-Qurãn engga?”

Pasti ada engga? Pasti ada ya? Masa’ sih? Dibandingkan dengan TV?  Tetap kalah ya?

Jadi, apa tadi? Secara pasti-alam, kanker itu berkembang lebih cepat dari sel lain. Begitu pula halnya dalam kehidupan sosial-budaya. Ajaran bathil itu lebih cepat berkembang dibandingkan dengan ajaran  yang haqq. Lebih-lebih dalam proses berkembangnya dari satu diri menjadi dua, menjadi keluarga dan seterusnya, sampai menjadi negara, misalnya, itu seperti mustahil ya? Engga bisa deh, engga bisa. Kalau televisi bisa mendunia. Tetapi kalau Al-Qurãn, bisa mendunia engga? Engga bisa! Artinya, seluruh dunia orang mau ikut dengan Al-Qurãn, itu engga mungkin. Kenapa? Itu tadi. Ada kanker. Ada virus-virus ganas yang justru ingin menghambat, atau menyaingi tumbuhnya Al-Qurãn.

Diri sendiri aja susah (kata peserta).

Ya. Tapi kembali, bicara iman itu bukan bicara masalah diri saja. Iman itu… ya harus disadarilah. Berbuat benar itu engga bisa sendirian. Misalnya, katakanlah, ini yang punya rumah menyediakan pisang goreng, untuk siapa?

Untuk orang (kata peserta).

Kalau untuk diri sendiri?

Kekenyangan (kata peserta).

Ya. Kekenyangan! Dia mau ngasih, misalnya, engga ada yang mau. Tapi, kalau pisang goreng sih, insyaAllah ada aja yang mau. Tapi, yang repot itu kalau kita ngaji… Misalnya, kita ngaji ini waduh enak banget. Tapi, kalau kita jajakan, misalnya, seperti menjajakan pisang goreng, pasti diketawain. Kalau engga ditimpuk, untung deh.

Tapi, bagaimana pun, nah ini, di situlah letak seninya. Karena memang Al-Qurãn harus diperjuangkan. Satu segi, juga beratnya di situ kan? Kalau kita bicara diri, misalnya, apa iya kita yang ngumpul di sini ini, di tempat ngaji, apa iya kita ini betul-betul orang yang mau hidup dengan Al-Qurãn? Kenapa? Karena diri ini, satu segi bisa mendukung Al-Qurãn, satu segi lainnya bisa menentang Al-Qurãn juga kan? Iya engga? Kita sudah bahas, misalnya, diri itu apa? Anfus. Nafsun. Hawã. Nah, hawa kita ini kadang-kadang mau ngaji. Iya kan? Tapi kadang-kadang, hawanya malas. Hawa semua kan? Wah, hawanya (rasanya, inginnya) mau ngaji, tapi gerimis nih. Apa yang dimaksud hawã  di situ? Diri kan?

Jadi, bicara diri itu, bisa positif, bisa negatif, terhadap Al-Qurãn.

(Bersambung)

Comments
One Response to “Ngobrol Santai Tentang Istighfar”
  1. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Siapa yang tahu alamat tempat tinggal pak Isa Bugis (bapak Mohammad Isa) ? Saya sedang belajar Alqur’qan. Yang disampaikan pak Isa objektive ilmiah. Alam Alqur’an Alamahu bayan ! Bravo AMSR ! Terimakasih. Salam Nasional !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: