Da’wah Dan Politik

Musa
Musa dalam imajinasi orang Kristen.

Musa dalam imajinasi orang Kristen.

Politik adalah sebuah kenyataan.

Da’wah adalah serbuah cita-cita.

Politikus adalah tuan rumah, yang kadang tidak ramah.

Da’i adalah tamu, orang asing, yang kadang dianggap musuh.

Dan, menurut sejarahnya, da’wah pun bisa menjadi benih revolusi.

Lantas, siapa (tidak) takut?

Bicara politik adalah bicara tentang sejumlah manusia yang hidup di suatu negara dengan sebuah sistem pemerintahan yang sedang berjalan, bukan yang akan atau harus berjalan dengan sistem itu. Dengan kata lain, bicara tentang politik adalah bicara tentang status quo (keadaan yang berlangsung sekarang).

Ibarat mesin, politik adalah sebuah mesin yang sedang bergulir, dan produk-produknya terus mengalir, membanjir. Di antara produk-produknya itu, sebagian memang dibutuhkan masyarakat. Tapi, kadang kala, sebagian atau malah keseluruhan dari produk-produknya itu, adalah sesuatu yang harus ‘dibeli’ rakyat karena ketakutan, atau diterima dengan segala kesakitan (misalnya kenaikan harga). Dengan kata lain, mesin politik itu kadang menderu-deru hanya demi kepentingan beberapa gelintir orang (para elit politik, konglomerat) di belakang mesin itu.

Lalu, siapa hakikatnya orang-orang di balik mesin itu? Enerji apa yang mereka gunakan untuk menghidupkan mesin itu? Dan, mengapa mereka harus menciptakan sebuah mesin yang hanya bermanfaat demi memenuhi kepentingan mereka sendiri?

Menurut Nabi Muhammad, ilmu adalah penentu amal (tindakan, perlilaku). Kata beliau pula, setiap amal adalah perwujudan niat (motivasi). Dan, dalam Al-Qurãn disebutkan tentang adanya segolongan orang yang mempertuhan diri sendiri. Bila dikaitkan dengan mesin politik tadi, para penciptanya tentu mengadakannya berdasar suatu ilmu tertentu, dengan motivasi tertentu, tanpa peduli pada Tuhan pencipta alam!

Da’wah (yang sering kita anggap sama dengan propaganda!), hakikatnya, adalah proses belajar-mengajar, alias proses penyampaian suatu ilmu. Katakanlah bahwa ilmu yang disampaikan itu, dengan cara apa pun, adalah sebuah ilmu yang pada akhirnya bisa menjelama menjadi sebuah sistem pemerintahan. Maka, da’wah (proses penyampaian ilmu) itu, akhirnya (bisa) menjadi sebuah kenyataan politik. Dengan kata lain, kenyataan politik itu sebenarnya adalah sebuah produk da’wah. Sayangnya, yang berda’wah kepada para politikus status quo itu dulu, mungkin, adalah setan.

Mungkin, karena pola pikir seperti itulah si A begitu bersemangat berda’wah secara lisan maupun tulisan, kepada orang-orang penting, termasuk elit politik. Hal itulah juga, agaknya, yang mendorong si B yang sudah tua renta tak henti-hentinya berusaha menemui tokoh-tokoh agama dan negara, untuk menyampaikan pemahaman agama yang dimilikinya, dengan harapan pemahaman itu bisa mereka gunakan untuk memperbaiki keadaan. Agar mereka mengingat lagi tentang AMPERA sebagai tugas mereka, untuk membuat rakyat yang menderita menjadi sejahtera. Keduanya, si A dan si B, adalah para da’i yang bergerak secara diam-diam, di bawah arus, demi membuktikan bahwa yang mereka lakukan semata-mata lillãhi ta’alã (hanya demi memenuhi perintah Allah).

Mereka sama-sama berpegang pada satu ayat yang artinya kira-kira, “Pergilah kamu (Musa) menemui (raja) Fir’aun; karena dia itu amat sangat durhaka.” (Surat Thãhã ayat 24). Atau, mungkin seperti ‘kursus politik’ Ya’qub kepada anak-anaknya ketika mereka akan memasuki istana (lagi-lagi) Fir’aun: Wahai anak-anakku, janganlah kalian masuk melalui satu pintu, tapi masuklah melalui pintu-pintu yang berlainan…

Tapi, mudah-mudahan saya salah, si A dan si B itu hanya ada dalam khayalan saya. Mereka adalah sosok-sosok da’i yang tidak mengejar julukan  kondang, dan tidak cenderung menjadi da’i profesional dalam arti berda’wah demi mencari sesuap nasi dan satu-dua merci.

Mereka, tak ubahnya Nabi Musa yang berani-beraninya menghadap sang maharaja Fir’aun.

Dan, sekali lagi, di sini saya melihat bahwa da’wah dan politik adalah dua hal yang berhubungan.

Simaklah bagaimana Allah mengabarkan tentang Fir’aun!

“Fir’aun itu menempati posisi yang tinggi di bumi (Mesir). Maka ia memecah-belah warga negranya, dengan melumpuhkan sebagian dari mereka; (yaitu dengan cara) ‘menyembelih’ anak-anak lelaki (warga berjiwa satria) dan membiarkan hidup para wanita (warga yang lemah). Demikianlah dia menjadi perusak kehidupan.” (Al-Qasshash ayat 4).

Lalu, untuk apa Allah mengutus Musa kepada Fir’aun?

(Dengan da’wah Taurat) Kami bermaksud memberi anugerah kepada mereka yang tertindas di bumi (Mesir); yakni akan Kami jadikan merekapara imam (pemimpin), dan selanjutnya menjadikan mereka para pewaris (= pengganti Fir’aun dan antek-anteknya). (Al-Qasshash ayat 5).

Jadi, betapa gagahnya tujuan da’wah Musa. Yaitu untuk mengubah sebuah kenyataan politik.

Tapi, kita tahu pula betapa hebatnya perlawanan Fir’aun!

Namun, Musa – dan semua rasul Allah – adalah jiwa-jiwa hanif bentukan ilmu Allah. Mereka berjuang, dengan da’wah dan senjata (!), semata-mata lillãhi ta’alã. Tak ada secuil pun ambisi pribadi.

Para pejuang yang hanya mengusung ambisi pribadi, sering sukses menumbangkan seorang tiran (tyrant). Tapi setelah itu, mereka tampil menjadi tiran (pengusasa zhalim) yang baru.

Mereka menumbangkan Fir’aun untuk menjadi Fir’aun yang lain.∆

Pondok Pinang

Juni 2002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: