Kisah Di Balik Sebuah Buku Lama

Montgomery Watt2

Buku lama (terbitan tahun 1974) yang jadi rujukan para cendekiawan ini saya temukan di penjual buku bekas tahun 2006 di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Kini kiosnya sudah tutup. Menurut pemiliknya, kios buku bekas itu ditutup karena Gramedia sering membuka pameran buku murah! “Kita kalah bersaing!”

Islam - Montgomery wattPemilik kios itu bicara dengan wajah biasa-biasa saja (tanpa ekspresi). Sebaliknya, saya malah merasakan sesuatu yang sulit dikatakan. Soalnya, pada satu sisi, di kiosnya saya membeli banyak buku yang saya anggap penting dengan harga murah. Di sisi lain, kalau Gramedia mengadakan pameran buku murah, saya juga suka tak mau ketinggal. Dalam pameran mereka dua bulan lalu, misalnya, saya membeli sampai 30an buku. Dan ketika ada teman datang dari Yogya, saya pun mengajaknya ke pameran itu. Jadi, intinya, saya agaknya lebih berpihak pada buku daripada penjualnya! Duh.

Lantas, apa isi buku yang dianggap klasik ini?

Menurut yang tertulis pada front flap (sampul depan yang dibiarkan lepas, tidak dilem), buku THE MAJESTY THAT WAS ISLAM karya William Montgomery Watt (WMW) ini menggambarkan Dunia Islam mulai tahun 661 sampai 1100 M.

Profesor WMW dianggap sebagai salah seorang yang punya otoritas untuk bicara tentang peradaban Islam. Bukunya ini berisi hasil surveynya atas lima setengah abad sejarah yang berlangsung di kawasan Bulan Sabit Subur  (the Fertile Cresent) dan sekitarnya.

Ia menggambarkan perkembangan salah satu kebudayaan agung dunia, menelusuri bangkit dan jatuhnya dinasti-dinasti, serta menghidangkan gambaran prestasi besar manusia, juga deritanya yang tak terukur!

Beberapa dari peristiwa dan proses tersebut telah memberikan sumbangan bagi pembentukan peradaban Barat.

Minat WMW, terutama, terpusat pada hasrat untuk menjelaskan hubungan antara agama dan politik, dan untuk memperlihatkan bagaimana kebudayaan Kristen Mesir, Siria, dan Irak dialih-bentukkan (transformed) menjadi kebudayaan Islam. Ia melihat transformasi ini sebagai salah satu kegagalan Kristen, yang hanya mendapat sedikit perhatian dari para ahli sejarah.

WMW memulai bukunya dari peristiwa kematian Ali bin Abu Thalib pada tahun 661 M, dan munculnya kekuatan sebuah dinasti baru, yaitu Dinasti Umayah, terus membentang melalui dinasti-dinasti Seljuk pada abad kesebelas.  Drama kebangkitan Islam ini membentuk sebuah babak yang unik dalam rangkaian sejarah umat manusia.

THE MAJESTY THAT WAS ISLAM (harfiah: Keagungan Islam di masa lalu) adalah buku yang penting bagi para sarjana, tapi juga akan menarik bagi para pembaca umum.

Demikian dari front flap.

Lalu, siapa gerangan WMW?

Pada back flap kita dapati keterangan bahwa WMW empat tahun bekerja sebagai dosen filsafat. Selanjutnya, ia mengalihkan perhatian pada bidang kajian Islam, dan menulis tesis doctoral tentang Free Will and Predestination in Early Islam (Kehendak Bebas dan Takdir dalam pemikiran Islam Terdahulu). Tahun 1947, setelah satu periode menetap di Palestina, sebagai salah satu staf keuskupan Jerusalem, terus melakukan berbagi riset, ia kemudian menjabat ketua Department of Arabic and Islamic Studies (jurusan studi Bahasa Arab dan Islam) di Universitas Edinburgh.

Selain  buku yang satu ini, WMW juga menulis What is Islam, Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, Islam and the Integration of Society, Islamic Spain, The Influence of Islam on Medieval Europe, dan The Formative Periode of Islamic Thought.

Untuk apa ia melakukan kerja super keras itu?

Untuk menghidangkan pandangannya tentang Islam kepada bangsanya, bangsa Barat?

Hal yang sudah pasti dan jelas, banyak cendekiawan kita, Muslim mapun non-Muslim, terutama yang tak menguasai bahasa Arab, mengambil manfaat besar dari buku-bukunya tersebut.

Sebagai orang yang tetap beragama Kristen,  entah karena pengaruh kegiatannya mempelajari Islam, WMW mempunyai pandangan kontroversial tentang trinitas (tritunggal). Baginya, trinitas bukanlah istilah yang mengacu pada tiga tuhan tapi, katanya,  “Trinity represents three different “faces” of the one and the same God.” (Trinitias mengacu pada “wajah-wajah” yang berbeda dari satu Tuhan yang sama). Demikian seperti terulis dalam Wikipedia.∆

Comments
4 Responses to “Kisah Di Balik Sebuah Buku Lama”
  1. nuhungusti says:

    Toko buku tua yg abang maksud apakah toko buku guru bangsa yg dekat halte busway pondok pinang?

  2. Sidratil_muntaha says:

    Semoga selamat Iman selama hayat masih dikandung badan,
    Syukran atas informasinya bang,

    Trinitas yg tidak logis ini bukankah akan selesai bila dijelaskan dengan ABC, AB1C juga AB2C?, Grand design, Risalah Malaikat dan Risalah Rasul? mohon advis

  3. Ahmad Haes says:

    Setahu saya, ga ada namanya. Letaknya di samping gedung Fedex.

  4. Ahmad Haes says:

    Ya, buat kita memang selesai banget dg itu. Tapi buat mereka kan trinitas itu bukan masalah.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: