Saya Membunuh Orang Di Afghanistan. Benar Atau Salahkah Saya?

 

January 28, 2013 “Washington Post Company” – Ketika saya bergabungdengan Korp Marinir, saya tahu bahwa saya akan membunuh orang. Saya dilatih untuk itu dalam berbagai cara; mulai dari menarik pelatuk untuk melakukan serangan bom, sampai menyerang orang hingga mati dengan menggunakan batu. Menjelang pelaksanaan perang tahun 2009, kemampuan membunuh saya disempurnakan, tapi pemahaman tentang etika pembunuhan tidak bertambah.

Saya, agaknya, menganut dua kepercayaan yang berlawanan: Membunuh selalu salah, tapi dalam perang, membunuh adalah kebutuhan. Bagaimana bisa satu hal bisa bernilai jahat dan sekaligus perlu?

Waktu itu saya tak punya waktu untuk menemukan jawaban sebelum melancarkan perang. Dan, dalam beberapa  bulan pertama, saya merasa sah melakukan pembunuhan tanpa berpikir dua kali. Kami terlalu sibuk untuk hanya sekadar memikirkan nilai moral dari apa yang kami lakukan.

Tapi pada suatu hari di tahun 2010 di Afghanistan, pasukan saya terjebak dalam baku tembak yang berakhir dengan terbunuhnya dua orang bersepeda motor yang kami pikir akan menyerang kami. Mereka mengabaikan atau tak mengerti peringatan-peringatan kami untuk berhenti, dan menurut hukum militer tentang escalation of force (peningkatan serangan), kami berhak untuk menembak mereka demi membela diri. semula kami pikir mereka bersenjata, tapi kemudian kami tahu bahwa mereka hanya orang sipil. Salah seorang di antara mereka tampak berusia tak lebih dari 16 tahun.

Sudah lewat lebih dua tahun setelah pembunuhan dua orang bersepeda motor itu, tapi saya mengingat mereka setiap hari. Kadang, ingatan itu timbul bila saya membaca berita atau menonton film, tapi paling sering adalah ketika saya mandi atau berjalan-jalan di tempat kelahiran saya di Brooklyn.

Korban pembunuhan saya bukan hanya mereka. Saya ingat ketika pertama kali seorang Marinir yang berjarak beberapa mil bertanya lewat radio apakah pasukannya boleh membunuh seseorang yang mengubur sebuah bom. Hak memutuskan jatuh ke saya. Saya menjawab ya. Keputusan-keputusan seperti itu menjadi lumrah dalam rancangan penyerangan saya. Bahkan yang paling mengerikan, keputusan demikian itu menjadi sesutau yang mudah bagi saya. Saya tak pernah menembak orang, tapi saya memerintahkan serangan bom dan menyuruh orang lain untuk menembak.

Banyak pensiunan tentara tak mampu menyocokkan aksi-aksi demikian dengan ajaran bibel yang berbunyi, “Kalian tidak boleh membunuh.” Ketika mereka pulang ke rumah dari tempat yang bukan hanya membolehkan pembunuhan tapi juga menjadikannya sebagai ukuran sukses, larangan membunuh menjadi sesuatu yang tidak mereka pahami.

Keganjilan itu bisa berdampak merusak. Setelah lebih dari 10 tahun masa perang, militer kehilangan lebih banyak anggota aktif karena bunuh diri dibandingkan yang ditembak musuh. Yang lebih mengkhawatirkan, Departemen Urusan Veteran memperkirakan bahwa pelaku bunuh diri kebanyakan adalah veteran, kendati nyatanya veteran hanyalah mencakup 14 persen jumlah penduduk.

Walau saya tak tahu mengapa para teman veteran bunuh diri, saya bisa katakan bahwa ethical damage (bencana moral) akibat perang lebih buruk dari luka-luka fisik yang kami derita. Untuk terjun dengan baik ke dalam perang, anda harus memperbiki kompas moral. Begitu anda kembali dari medan perang, sungguh sulit atau tak mungkin untuk memperbaikinya. Lembaga veteran (AS) telah mulai menyebut masalah ini sebagai moral injury (luka batin), tapi hal itu sama menyesatkannya dengan euphemism tentang collateral damage (bahaya tambahan). Ini bukan luka yang bisa disembuhkan beristirahat, terapi fisik, dan obat penghilang sakit. Perang menyebabkan kami jadi pembunuh. Kami harus menghadapi hantu ini secara langsung, bila kami mau jujur bicara tengang biaya perang yang sesungguhnya.

Saya tidak kembali sebagai orang yang sama (seperti ketika berangkat). Kepribadian saya masih sama, atau setidaknya mendekati sama, tapi saya bukan lagi orang”baik” yang seperti yang saya pikir dulu. Tak ada yang bisa mengubah hal itu; sungguh mustahil melupakan apa yang telah terjadi, dan satu-satunya orang yang bisa memaafkan saya telah mati.

Saya tak akan pernah tahu apakah tindakan saya di Afghanistan itu benar atau salah. Saya pernah percaya bahwa membunuh itu kebutuhan. Tapi kini, saya ingin percaya bahwa pembunuhan itu, bahkan di tempat perang, adalah salah.

Amerika akan terjun ke dalam perang-perang lain di masa hidup saya. Tapi bila keputusan untuk itu adalah tanggung-jawab bersama, kaum sipil harus lebih memahami dampak-dampaknya. Kejahatan perang bukanlah sebuah luka yang bisa kita abaikan – karena jelas itu cukup menyakitkan, sehingga begitu banyak veteran perang yang bunuh diri.

Kaum sipil bisa memahami bencana akibat perang karena kebanyakan orang tahu siapa yang telah mati. Tapi hanya sedikit yang tahu siapa pembunuh mereka. Ketika saya katakan kepada masyarakat bahwa saya seorang Marinir, banyak dari mereka yang bertanya, “Apakah kamu pernah membunuh orang?” Bagi telinga saya, pertanyaan ini seperti berbunyi: “Perbuatan terburuk apa yang pernah kamu lakukan?” Mereka tidak menyadari bahwa mereka telah mengajukan pertanyaan yang sangat dalam.

Banyak veteran yang saya kenal marah oleh pertanyaan tersebut. Itu membuat mereka merasa semakin terasing di tengah masyarakat, yang tak peduli tentang Irak dan Afghanistan. Tapi bagi saya, pertanyaan itu mengungkapkan fakta bahwa ketertarikan kaum sipil terhadap masalah perang tidak sebanding dengan pemahaman mereka. Kebanyakan orang Amerika hanya tahu sedikit tentang perang. Pertempuran kami dilakukan bersama sukarelawan, membuat pengetahuan tentang perang juga hanya didapat oleh sukarelawan – dan karena itu bisa diabaikan.

Para veteran adalah satu-satunya kaum yang bisa menjelaskan dampak etis perang. Bagi saya, ini berarti harus terbuka tentang kematian-kematian yang saya timbulkan, dan bagaimana hal itu telah mengubah saya.

Pertanyaan, “Apakah kamu pernah membunuh orang?” bisa dijawab dengan mudah – dan itu tentu bukan pertanyaan yang ingin dijawab oleh setiap veteran. Tapi ketika kaum sipil bertanya, saya pikir saya punya tugas untuk menjawab.∆

 

***Dari ‘curhat’ Kapten Marinir Timothy Kudo, seorang lulusan New York University, yang diterjunkan ke dalam perang Irak tahun 2009 dan Afghanistan tahun 2010 sampai 2011.

© The Washington Post Company.

Advertisements
Comments
2 Responses to “Saya Membunuh Orang Di Afghanistan. Benar Atau Salahkah Saya?”
  1. soni says:

    pembunuhan dalam peperangan hukumnya bagaimana menurut islam pak ?

  2. Ahmad Haes says:

    Dalam perang, bila tidak membunuh, pasti dibunuh. Bila ada perintah perang, untuk membela agama, tentu membunuh adalah bagian darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: