9 Keistimewaan Ajaran Islam

Islam is your birthright

Allah telah membuat ajaran Islam mudah dipahami dan dilaksanakan. Ajaran Islam cocok untuk semua keadaan spiritual, psikologis, dan sosial semua orang, di semua zaman.

Ajaran Islam mempunya keunikan sebagai berikut:

  1. Rasional: Para pencari kebenaran akan menemukan bahwa ajaran Islam sangat logis  dan masuk akal.
  2. Sempurna:  Karena Allah sempurna, ajaranNya juga tentu sempurna, bebas dari kontradiksi dan kekacauan.
  3. Jelas:  Allah mahapenyayang. Dia membimbing kita melalui wahyu yang jelas, bebas dari mitos (dongeng), khayalan dan misteri.
  4. Ilmiah:  Tidak mengherankan bila Al-Qurãn dan perkataan Nabi Muhammad mengandung informasi yang hanya bisa terungkap oleh para ilmuwan modern. Ini menegaskan bahwa Al-Qurãn adalah firman (perkataan) Allah dan Nabi Muhammad adalah rasulNya.
  5. Ramalan: Banyak kejadian yang diramalkan dalam Al-Qurãn dan hadis telah terbukti kebenarannya.
  6. Moderat: Dalam Islam, tak ada benturan antara kehidupan ruhani dan duniawi. Manusia bertanggung-jawab atas segala tindakan dan perilakunya sehari-hari. Setiap perbuatan yang diawali niat baik akan mendapat ganjaran dari Allah. Maka, sekularisme, materialisme, pengasingan diri yang ekstrem (berlebihan), ditolak dalam Islam.  Islam menghidangkan cara untuk mencapai harmoni dan keseimbangan antara kebutuhan ruhani dan badani manusia. Karena itulah Allah menyebut para Muslim sebagai ummatan wasathan, umat yang moderat.[1]
  7. Lengkap:  Ajaran Islam menghidangkan jalan hidup yang pasti bisa dilalui: secara spiritual, perseorangan, masyarakat, moral, politik, ekonomi, dan lain-lain.
  8. Tak bisa direkayasa: Ajaran Islam merupakan mu’jizat kehidupan, yang tidak bisa ditiru atau direkayasa oleh manusia.
  9. Kesetaraan:  Ajaran Islam tidak membedakan manusia berdasar warna kulis, kesukuan, kebangsaan, nasionalisme, dan sebagainya, karena semua manusia berasal dari satu ayah dan satu ibu, yaitu Adam dan Hawa. Islam mengajarkan bahwa ukuran keburukan dan kebaikan adalah takwa. (Al-Hujurat: 13).

***Dari buku Islam Is Your Birthright, hal. 51-52, karya Majed S. Al-Rassi, terbitan Perpustakaan Nasional Raja Fahd, Saudi Arabia, 2003.


[1] Para penerjemah Indonesia biasa menerjemahkan istilah ummatan wasathan sebagai ummat pertengahan. Padhal, bila mengacu pada ayatnya, surat Al-Baqarah ayat 143, istilah ummatan wasathan tidak bisa dilepaskan dari penjelasan berikutnya, yang menyebut peran ummatan wasathan sebagai syuhadã’ ‘alan-nãs(i), yaitu sebagai  para pembukti nyata, atau representatiff (representative) dari ajaran Allah. Pengertian ini tersirat dari kata syuhadã’u, jamak dari syahîd(un), selain berarti saksi – yang sering digunakan para penerjemah Indonesia, juga berarti pembukti atau pewujud. Bila kata wasathan dirujukkan kepada isim fa’ilnya, wasith(un), maka ummatan wasathan, adalah umat yang menjadi wasit, yaitu penengah, pengawal tegaknya rule of the game, sekaligus pemimpin! (AH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: