Sigmund Freud Pemuja Narkoba

Freud4

Sejak merumuskan teori Psikoanalisa hingga kini, Sigmund Freud adalah orang yang paling berpengaruh di bidangnya. Dalam buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Michael H. Hart, menempatkannya di urutan ke-69.  Lantas, pernahkah Anda menduga bahwa ia menemui ajalnya karena karena kanker, dan itu adalah akibat kecanduanya yang hebat pada cerutu (rokok)? Kisahnya dimulai seperti berikut ini:

Tahun 1883, seorang dokter tentara Jerman meresepkan kokain, yang belum lama diisolasi, kepada para tentara Bavaria untuk membantu mereka menghadapi tuntutan berbagai manuver militer. Ketika Freud membaca tentang itu, ia memutuskan untuk mendapatkan obat itu.

Selain memakai kokain untuk dirinya sendiri, Freud mendesak teman-teman dan teman-teman sejawatnya untuk memakainya, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk para pasien mereka. Ia Bahkan mengirimkan sebagian kepada tunangannya. Pendek kata, menurut standar hari ini, Freud adalam ancaman bagi publik.

Esai Freud yang termasyhur, Song of Praise, adalah tentang kokain dan dipublikasikan pada Juli 1884.  Freud menuliskannya denga istilah-istilah yang penuh semangat tentang pengalaman pribadinya sendiri dengan kokain sehingga ia menciptakan gelombang minat terhadap obat itu. Ketika semakin banyak bukti yang terakumulasi bahwa kokain sangat adiktif dan mengahasilkan keadaan mirip-psikosis pada dosis tinggi, begitu juga publikasi kritik terhadap Freud.

Freud terus memuja kokain sampai musim panas 1877, tetapi tidak lama kemudian ia sama sekali berhenti memakai kokain – baik secara pribadi maupun profesional. Terlepas dari kenyataan bahwa ia sudah memakai kokain selama 3 tahun, ia tampak tidak mengalami kesulitan untuk berhenti.

Sekitar 7 tahun kemudian, pada 1884, ketika Freud berumur 38 tahun, dokter dan sahabatnya memerintahkannya untuk berhenti merokok karena kebiasaannya itu menyebabkan aritmia jantung pada dirinya. Freud adalah seorang perokoki berat; ia mengisap lebih kurang 20 batang cerutu setiap hari.

Freud benar-benar berhenti merokok, tetapi 7 minggu kemudian ia mulai merokok lagi. Pada kesempatan lain, Freud berhenti selama 14 bulan, tetapi, pada usia 58 tahun, ia masih mengisap 20 batang cerutu per hari – dan masih berjuang melawan kecanduannya. Ia menulis kepada teman-temannya bahwa merokok memengaruhi jatungnya secara adversif dan menyulitkannya bekerja… tetapi ia tetap merokok.

Selain kanker, Freud mulai mengalami nyeri jantung (angina tembakau) berat kapan pun ia merokok… tetapi ia tetap merokok.

Pada usia 73 tahun, Freud dirawat di rumah sakit karena kondisi jantungnya dan berhenti merokok. Ia sembuh dalam waktu singkat. Akan tetapi, 23 hari kemudian, ia mulai merokok lagi.

Pada 1936, pada usia 79 tahun, Freud mengalami lebih banyak masalah jantung, dan ia sudah menjalani 33 operasi untuk menangani kanker mulutnya yang berulang kali muncul. Rahangnya sudah diambil semua dan digantikan dengan rahang tiruan. Ia mengalami kesakitan konstan, dan ia hanya dapat menelan, mengunyah, dan berbicara dengan susah payah… tetapi ia tetap merokok.

Freud meninggal akibat kanker pada 1939 (Lihat Sheth, Bhagwate, & Sharma, 2005).∆

 

***Dari buku: Biopsikologi edisi ketujuh, John P.J. Pinel, hal. 499-500,cetakan I, Pustaka Pelajar, 2009.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: