Natal, Saatnya Membangun Jembatan (Sebuah Seruan Dari Muslim Amerika)

Al-Anam108

 *** Tulisan di bawah ini saya temukan dalam sebuah website yang berlokasi di Amerika. Anda boleh setuju atau tidak dengan isinya. Tapi setidaknya kita perlu mengetahui pemikiran kaum Muslim yang hidup di tengah masyarakat Kristen di Amerika ini.

Menyikapi Natal Dengan Penghormatan

Natal adalah perayaan keagamaan tahunan umat Kristen dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Isa. Bagi banyak Muslim yang bahkan tidak merayakan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad, hari Natal adalah sebuah perkara yang yang mengharuskan mereka untuk menegaskan sikap.

Telah banyak kritik sahih tentang hari raya tersebut dari kaum Muslim maupun non-Muslim berdasar  tinjauan teologi maupun budaya. Namun hal itu tidak bisa dijadikan landasan untuk menganggap Natal semata-mata sebagai praktik pemuja berhala di zaman kuno, misalnya, atau sebagai bentuk pemborosan dan komsumersime yang berlebihan. Kaum Muslim harus ingat bahwa bagi umat Kristen yang taat, Natal adalah tentang Isa.

Nabi Muhammad bersikap sangat terbuka terhadap umat Kristen. Menurut dua pakar sejarah Islam, Ibnu Saad dan Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad bahkan mengijinkan  rombongan 60 orang Kristen Bizantium dari Najran, Yaman, untuk beribadah di dalam masjid  beliau di Madinah. Di bawah pimpinan seorang uskup, mereka datang untuk membahas sejumlah perkara dengan Rasulullah. Ketika tiba waktu beribadah, mereka meminta ijin untuk melaksanakannya di dalam masjid. Rasulullah menjawab, “Lakukanlah kebaktian kalian di dalam masjid. Ini adalah tempat untuk mengagungkan Tuhan .”

Allah mengimbau kita untuk menjauhi kecenderungan mengolok-olok kepercayaan pihak lain, seberapa besar pun ketidak-setujuan kita. Firman Allah dalam Al-Qurãn, “Janganlah kalian menghina orang-orang yang berdoa (menggantungkan harapan; beribadah) kepada selain Allah, sehingga mereka (balik) menghina Allah dengan sikap bermusuhan tanpa ilmu. Begitulah Kami (Allah, dengan sunnahNya) membuat setiap umat mengaggap baik masing-masing perbuatannya, sampai nanti Tuhan (yang sebenarnya, Allah, dengan ajaranNya) menjadi sumber rujukan mereka. Maka (pada saat itulah) Dia (Allah) menjelaskan apa-apa yang sebelumnya mereka kerjakan.” (Surat Al-An’ãm ayat 108).

Kita juga harus ingat bahwa bagi sebagian kecil umat Kristen, perayaan Natal bukanlah semata-mata mengikuti tradisi keagamaan. Bagi mereka, Natal adalah saat untuk berkumpul dengan keluarga. Dalam banyak kasus, Natal adalah satu-satunya kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga, baik karena para anggota keluarga hidup berpencaran di berbagai kota atau negara, karena masalah-masalah komunikasi, atau karena keadaan Amerika pada masa sekarang, yang menyebabkan ikatan kekelurgaan semakin melemah.

Natal adalah kesempatan yang sangat baik untuk menjalin hubungan dengan para tetangga kita. Kita jangan melupakan bahwa ‘berhubungan’ tidak berarti ‘berceramah’. Da’wah tidak bisa dilakukan secara tidak sopan. Allah menegaskan dalam Al-Qurãn, “Berda’wahlah (mengajak) ke jalan tuhanmu secara bijaksana, yaitu dengan memberikan penerangan yang baik serta mengajukan dalil-dalil yang terbaik. Sesunggunya Tuhanmu amat mengetahui siapa yang (sebenarnya) menyimpang dari jalanNya dan siapa yang (benar-benar) pelaksana petunjukNya.” (An-Nahl ayat 125).

Khususnya ketika menghadapi Yahudi dan Kristen, Allah menegaskan, “Janganlah berdebat dengan Ahli Kitab, kecuali dengan (mengajukan dalil-dalil) terbaik; kecuali (bila kalian berhadapan dengan) orang-orang zhalim dari kalangan mereka. Tegaskanlah (kepada mereka), “Kami beriman dengan apa (wahyu) yang diajarkan kepada kami, yakni yang (dulu) diajarkan kepada kalian. Sebenarnya Tuhah kami dan Tuhan kalian (yakni Allah, seharusnya) satu. Dan kepadaNyalah kami memastikan kepatuhan.” (Surat Al-‘Ankabut ayat 46).

Hari Natal bukanlah kesempatan untuk menekankan perbedaan dan persamaan kepercayaan kita, kecuali bila ada orang yang bertanya anda.

Titik tolak diskusi tentang Natal bisa dimulai dengan menyebutkan kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada berbagai Rasul. Dalam diskusi ini, penekanannya adalah pada Nabi Isa. Orang Kristen umumnya kaget mengetahui bahwa kaum Muslim mengakui Isa sebagai Rasul dan Maria (Maryam) sebagai ibunya.

Ingatlah bahwa penghormatan bukan berarti kompromi. Tulisan ini tidak mengajak anda untuk mengkompromikan apa pun. Anda mempunyai kebebasan beragama sesuai pilihan anda. Tapi di dunia yang semakin hari semakin penuh perselisihan, seorang Muslim harus menjadi “pembangun jembatan” dan pendamai. Hanya karena penerapan nilai-nilai Islam yang penuh penghormatan dan toleransilah yang membuat gereja-gereja di Jerusalem, termasuk The Holy Sepulcher, masih bertahan di tengah kaum Muslim, selama lebih dari 1400 tahun.

Nilai-nilai demikian itulah yang harus dipelajari olah kaum garis keras yang menyerang umat Kristen yang sedang beribadah di Nigeria, dan juga kaum keras Kristen yang membakar masjid-masjid di Amerika.∆

Sumber: IslamCity.com, 25-12-2012

Penulis: Abdul Malik Mujahid. Presiden dan direktur dari Sound Vision Foundation Inc. Dia adalah imam di kawasan Chicago, dan merupakan salah satu pendiri dari the Council of Islamic Organizations of Greater Chicago (CIOGC).

Comments
4 Responses to “Natal, Saatnya Membangun Jembatan (Sebuah Seruan Dari Muslim Amerika)”
  1. Herson says:

    assalamu’alaikum, wr, wb
    saya mau tanya pak ahmad, katanya umat Islam dilarang tuh ngucapin selamat hari natal kpd umat kristen, tuh gmna penjelasannya pak ? apa bener bgtu ? trus sdr saya jg ada yg belajar ngaji yang kayak pak ustad ini, cmn kayaknya skrg mandek, gak ada kelanjutannya. Sklian saya mau ikut gabung belajar disini pak ahmad, mohon penjelasannya..terima kasih.

  2. Ahmad Haes says:

    1. Yg mengharamkan mengucapkan “selamat Natal” beralasan bahwa dg itu berarti kita mengakui ketuhanan Yesus, sama spt org Kristen. Biasanya mereka mengutip hadis Abu Daud (Man tasyabaha bi-qaumin fa-huwa min-hum: Siapa yg ikut2an satu kaum maka dia baigan dari mereka). Lalu ada yg beralasan bahwa mengucapkannya hanya untuk basa-basi. Sekadar menjaga pergaulan. Mana yg benar? Pertanyaan ini mengisyaratkan bahwa masalah boleh/tidak boleh mengucapkan selamat Natal adalah masalah khilafiyah (perbedaan pendapat). Bila demikian, tinggal pilih saja mana alasan yang anda anggap kuat dan mana yang lemah.
    2. Banyak teman2 yg ikut ngaji skr mandek, tak ada kelanjutan, dan ada yg kebingungan. Saya dan teman2 sih jalan terus, karena bekal untuk meneruskan sudah ada. Jadi tak harus mandek atau bingung.
    3. Bila anda ingin bergabung, untuk permulaan, coba bergabung dalam Komunitas Pembelajar Al-Quran (KPA).

  3. likin says:

    Bang haes, sy ingin bergabung di KPA, saya di tg.pinang kepri, ada g pengajianya d sn….?

  4. Ahmad Haes says:

    Silakan bergabung. tinggal klik link-nya yg terdaftar di sebelah kiri blog ini. Akan lebih baik bila anda punya akun facebook. *Saya tak punya informasi ttg pengajian di Tg. Pinang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: