Terimakasih Remy Sylado

Diponegoro

Tempat favorit saya untuk mengajak istri jalan-jalan adalah toko buku.

Kebetulan kami sama-sama suka membaca, walau belasan tahun belakangan ini saya sudah sangat sangat jarang membaca dibandingkan dulu. Lebih sangat jarang lagi membaca buku-buku fiksi. Entah mengapa, belakangan saya jadi agak muak terhadap buku-buku fiksi (maaf). Tapi bila di toko buku saya temukan karya-karya dari nama-nama besar, saya sering tergoda lagi untuk membeli.

Sore tadi, di sebuah toko buku di Pondok Gede, istri saya – seperti biasa – tertarik pada sebuah buku humor. “Aku beli ini ya, Bang?” katanya. “Oke, silakan!” jawab saya.

Ketika kami berdiri di depan rak yang berisi buku-buku sastra, seperti biasa, kami selalu tertarik pada buku-buku Pramudya Ananta toer. Istri saya mengambil salah satu buku Pramudya yang (rata-rata memang) tebal. “Ini juga ya, Bang?” katanya. “Oke!” sahut saya.

Saya memang selalu bilang “oke” untuk buku apa pun yang dia pilih. Malah, saya suka cemberut  dan menggerutu kalau dia batal membeli. Dan, seperti biasa pula, istri saya selalu mengingatkan tentang kebutuhan yang lain. Dan saya selalu membantah dengan mengatakan, “Yang kamu maksud kebutuhan lain itu apa? Isi perut? Makanan? Minuman? Atau apa lagi? Semua hanya untuk kebutuhan jasmani!  Terus, kamu tahu engga bahwa ruhani kita, otak kita, juga butuh santapan untuk membuatnya tidak kelaparan?”

“Ah, Abang ngaco aja!  Ruhaniku ga pernah merasa lapar tuh!” istri saya biasa menggoda seperti itu. Dan saya selalu menanggapi godaannya itu dengan sikap yang kebangetan serius, bahkan jadi marah segala. Saya bilang, “Ruhani yang tidak merasa lapar adalah ruhani yang mati!”

“O ya? Tandanya?”

“Tandanya ya itu tadi, ga merasa lapar! Ga nyadar bahwa dirinya butuh pengetahuan!” kata saya ketus.

Kalau saya sudah begitu, biasanya istri saya menyerah. Apalagi kalau baru gajian!

Sore itu kami  membeli tiga buku, dibayar patungan.

Buku pilihan saya adalah sebuah buku tipis (93 halaman) karya Remy Sylado, salah satu penulis favorit saya. Judulnya pun singkat:  “1832”.

Ini buku berupa naskah drama. Sejenis buku yang hanya disukai sedikit orang; khususnya para sutradara dan pemain drama atau teater. Dan saya sudah mengenal buku jenis begini sejak usia belasan. Bahkan memulainya dengan membaca buku Shakespeare (terjemahan): Hamlet.

“1832” berisi kisah Pangeran Diponegoro ketika beliau diasingkan dari Jawa Tengah ke Menado, sebelum dibuang ke Makasar, sampai wafat di sana (tahun 1855).

Sejak membaca lembar-lembar pertama, saya sudah disergap perasaan sesak, gemas, geram, dan pilu. Juga sudah segera menyadari bahwa saya sedang membaca buku kecil bernilai besar. Sebuah buku yang pasti bisa memperkaya ruhani.

Alangkah sesak (ikut) merasakan nasib seorang pejuang yang terbuang dari tempat kelahiran. Alangkah gemas dan geram mengetahui kekejaman dan kelicikan Belanda. Alangkah pilu menyimak ‘curhat’ Sang Pangeran terhadap istrinya, Ratnaningsih…

Saya masih ingin bercerita banyak tentang buku ini. Tapi mungkin lebih baik kalau Anda beli dan baca sendiri. Ya, ini iklan! Dan saya rela tidak dibayar untuk itu, hehe.

Akhir kalam, melalui buku ini – demi Allah – saya baru tahu bahwa Pangeran Diponegoro itu pernah menulis sastragending (puisi untuk ditembangkan – dilagukan), seperti yang pernah dilakukan Sultan Agung. Dan saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa Sultan Agung pernah mengatakan, “Jika ada di antara keturunan beta yang tidak menguasai sastra dan musik, beta anggap mereka  bukan bagian dari bangsa beradab Mataram.” (1832, hal. 85).  Hayo, yang merasa ‘anak Mataram’, apa komentarmu? ∆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: