Kiamat Ilmiah

Matahari

Apa pendapat Anda tentang kiamat?

Sebutkan dulu pendapat Anda!

Pendapat saya pastilah sama dengan pendapat kebanyakan orang. Sebagai muslim, saya biasa mendengar para guru agama mengatakan bahwa kiamat terbagi menjadi dua, yaitu kiamat kubra dan kiamat sugra. Kiamat kubra adalah kiamat besar, yaitu terjadinya kehancuran alam semesta. Keseimbangan tatasurya berantakan.  Matahari meledak. Planet-planet saling berbenturan. Semua hancur lebur, termasuk bumi kita ini. Sedangkan kiamat sugra adalah kiamat kecil. Misalnya kematian seseorang, gunung meletus, sebuah kota dihantam tsunami atau dirontokkan oleh gempa bumi, dan sebagainya.

Anda benar!

Apanya yang benar?

Bahwa… ya memang begitu pandangan kebanyakan orang tentang kiamat.

Terus, Anda punya second opinion? Punya pendapat yang berbeda?

Apa pun namanya, bila saya bicara tentang qiyãmah atau qiyãmatun, yang kita ucap dan tulis menjadi kiamat itu, saya ingin agar pembicaraan itu bersifat produktif…

Dalam arti…?

Yaa… setidaknya, saya ingin agar obrolan kita tentang kiamat itu bisa melahirkan pemahaman yang lebih baik, lebih luas, lebih mengilhami… Atau, setidaknya, bisa membebaskan kita dari segala bentuk pemikiran berbau mitos alias dongeng!

Wow!   Pasti menarik tuh!

Bisa menarik, bagi yang tertarik. Atau malah terasa aneh, bagi yang lain…

Yang aneh juga biasanya menarik!  Ayo, segera kita mulai obrolannya!

Baik. Kita mulai obrolannya… Dan, obrolan ini saya beri judul  Kiamat Ilmiah!

Wow!

Stop!

Apa yang stop?

Teriak-teriak “wow” Anda itu loh!

Kenapa?
Saya khawatir Anda keterusan…!

Keterusan bagaimana?

Keterusan teriak-teriak “wow” sambil jungkir balik atau salto!

Haahhh, ga lucu itu! Ga lucu…!

Haha!  Mari kita mulai…!

Siap!

Kiamat – qiyãmah – secara harfiah berarti berdiri, atau tegak, atau terjadi, atau terlaksana-nya “sesuatu”.  Sesuatunya itulah yang menjadi karinah (qarînah), atau konteks, atau ‘kaitan’ yang menentukan makna kiamat itu.

Jelasnya?

Bila Anda kaitkan kata kiamat, misalnya, dengan alam semesta, maka Anda pikir pengertian kiamat itu apa?

Wah! Kok malah saya yang disuruh mengaitkan?

Yaa dicoba saja, kenapa sih?

Oke … Saya coba ya? Bila kiamat, dalam arti seperti yang Anda sebutkan itu, saya kaitkan dengan alam semesta… Maka… “kiamat alam semesta” berarti: berdirinya alam semesta, atau tegaknya alam semesta, atau terjadinya alam semesta, atau terlaksananya alam semesta… Begitu?

Cerdas!

Tapi…

Apa?

Kok jadi bertolak belakang dengan pengertian selama ini? Bahwa kiamat adalah “kehancuran…”?

Pemahaman itu terjadi karena ada semacam missing link dari ilmu para ustadz yang bercerita tentang kiamat kepada Anda! Kepada kita semua!

Wow!

Ayo, teriak “wow” lagi!

Eh, engga… diganti “wah” aja dech. Boleh?

Ya, sudah. Terserah. Asal jangan pake jungkir balik!

Oke, lanjutken… apa itu tadi? Missing link ya? Kok kayak istilah Darwin… dalam teori evolusi itu loh!

Ya. Bedanya, bila Darwin menyebut missing link (mata rantai yang hilang) itu untuk fosil-fosil yang tidak dia temukan, yang bila ditemukan bakal memperkuat teorinya tentang manusia, yang kemungkinan berasal dari monyet, saya menyebut istilah itu untuk  konteks yang hilang dalam penceritaan tentang kiamat. Dan, ingat baik-baik, kehilangan konteks itulah sebenarnya yang membuat kita memahami istilah kiamat secara keliru banget…

Keliru banget? Keliru saja sudah salah, apalagi ditambah banget!

Makanya, mari kita coba koreksi. Mari kita pasang missing link itu!

Pasang? Memangnya Anda sudah menemukan mata rantai yang hilang itu?

Iyalah!

Wah!

Bukan saya yang menemukannya, tapi guru saya!

Siapa?

Namanya tidak penting, katanya. Yang penting ilmunya.

Oke, oke. Lanjut…!

Sebenarnya, yang saya sebut missing link itu adalah konteks atau kaitan itu tadi. Ketika arti harfiah dari kiamat kita kaitkan dengan konteksnya, misalnya alam semesta, seperti yang Anda sebutkan, maka kiamat itu berarti “tegaknya alam semesta”, atau “terjadinya alam semesta”, dan sebagainya. Dan, pengertian ini… ternyata berbeda, bahkan bertolak belakang dengan pengertian kita selama ini, yang memahami kiamat sebagai “kehancuran…”. Tak peduli kita menyebut kiamat kubra (al-qiyãmatul-kubrã), atau kiamat sugra (al-qiyãmatush-shughrã), intinya adalah kehancuran!

Ya! Terus, kenapa?

Salah kaprah… Karena missing link tadi…

Ya, ya!  Terus apa yang jadi sebabnya banget?

Haha! Saya suka istilah Anda. “Sebabnya banget”, alias the very matter, bahasa sononya, adalah karena kita, bermula dari guru-guru kita, suka belajar dengan metode dari mulut ke mulut, bukan dari naskah ke naskah!

Jelasnya?

Kita dididik untuk terbiasa mendengar dan mendengar pelajaran agama dari ceramah-ceramah, dari monolog-monolog para guru, yang tidak bisa diinterupsi, tidak bisa ditanya! Apalagi kalau mereka bicara di radio atau televisi seperti sekarang. Mereka nyerocos saja, dan kita mendengar saja. Kalau mereka salah atau keliru, kita tidak tahu. Dan mereka juga tidak pernah minta maaf bila sewaktu-waktu keliru!

Terus…!

Kalau kita dididik untuk bergaul dengan naskah, paling tidak, kita bisa menjadi lebih kritis dari sekarang!

Mengapa bisa begitu?

Karena, setidaknya, bila Anda diharuskan membaca naskah Al-Qurãn, misalnya, maka sebelumnya Anda pasti harus mempelajari bahasanya kan?

Hm, ya iyalah. Terus, apa istimewanya?

Gampangnya, saya sebut intinya saja ya? Dengan mempelajari suatu bahasa, bahasa apa pun, pada dasarnya Anda juga – secara tidak langsung – belajar logika.

Belajar logika? Dalam arti…?

Belajar berpikir logis. Yaitu belajar berpikir dengan alur tertentu, dengan memperhatikan susunan permasalahan, dengan memperhatikan hukum sebab dan akibat…

Kembali ke soal kiamat…

Anda perhatikan pengertian istilah kiamat yang saya ajukan dengan yang kita pahami selama ini! Bukankah di situ kita dapati kaitan yang tidak logis? Kaitan yang tidak masuk akal.

Kaitan yang tidak logis? Yang tidak masuk akal? Jelasnya?

Coba Anda kaitkan kata kiamat, yang berarti tegak, dengan alam semesta. Atau kaitkan dengan diri Anda sendiri!

Bagaimana?

Bila saya katakan Anda kiamat, maksudnya apa?

Saya… eh, kalau pengertian yang dulu… ya hancur!

Bila dikaitkan dengan pengertian yang saya ajukan?

Berarti… Berarti… saya tegak?

Ya! Sangat jauh berbeda pengertian hancur dengan tegak, bukan?

Iya. Tapi saya belum mengerti maksud Anda.

Maksud saya, bila kiamat dipahami sebagai kehancuran, itu salah secara bahasa.

Jadi, menurut Anda, para guru kita yang hebat-hebat itu, salah memahami bahasa?

Kalau memang iya, kenapa?

Wow! Berarti Anda lebih pintar dari mereka?

Tidak perlu menjadi orang yang lebih pintar untuk mengetahui suatu kesalahan. Anda tidak perlu  menjadi ayam untuk mengetahui telur busuk!

Wah, kasar banget tuh!

Jangan dianggap kasar, kalau itu benar. Dan kalau salah, saya tidak akan lari dari pengoreksi. Malah, bila perlu, saya cium telapak kakinya!

Jadi, ada kesalahan dalam memahami bahasa?

Tadi saya katakan bila kiamat diartikan hancur, itu salah secara bahasa. Tapi, kita melaju saja dalam kesalahan itu. Terus saja memasarkan pemahaman yang keliru…

Oke, oke! Sekarang, coba Anda langsung saja sebutkan bagaimana duduk perkara sebenarnya!

Anda tidak sabaran…

Salah Anda sendiri, kenapa membikin saya penasaran!

Haha! Baiklah. Bila Anda, setelah obrolan ini, mau belajar lebih lanjut, saya akan langsung ke inti.

Soal belajar lebih lanjut itu, saya ga janji, hehe!

Terserah Andalah! Yang penting, setidaknya, saya berusaha mengajak Anda berpikir. Begini. Ketika kita bicara kiamat, dalam arti tegak dan seterusnya itu, seperti yang saya sebutkan tadi, maka ingatlah kata kiamat itu, kita ambil dari Al-Qurãn dan atau hadis. Isi pokok dari kedua sumber ini adalah perintah untuk mengkiamatkan, untuk menegakkan, Dînul-Islãm(i), mulai dari tingkat diri perseorangan, secara khusus, sampai pada masyarakat secara umum. Penegakan Dînul-Islãm secara demikian itulah, sebenarnya, yang disebut sebagai kiamat sugra.

Di dalam kedua sumber itu, ada penuturan tentang awal-akhir kehidupan manusia, ada penyebutan tentang dunia dan akhirat. Ada penegasan bahwa dunia itu fana alias mortal, yaitu bakal hancur. Sebaliknya, akhirat itu kekal alias immortal, yaitu tak akan hancur. Di dalam kedua sumber itu, juga dikatakan bahwa manusia pasti meninggalkan alam dunia ini, untuk ‘pulang’ ke alam akhirat, mulai dari seorang demi seorang, sampai akhirnya secara keseluruhan.

Nah! Pulang (mati) secara perseorangan itu dikatakan kepada kita sebagai kiamat kiamat sugra (kecil). Sedangkan pulang secara keseluruhan disebut kiamat kubra (besar).

Coba Anda perhatikan hal ini: Ketika kita bicara tentang kiamat besar, yang dimaksud kiamat (tegak dsb.) sebenarnya adalah alam akhirat! Dan tegaknya (terjadinya dsb.) alam akhirat itu adalah setelah alam dunia hancur!

Lho, jadi cuma itu?

Maksud Anda?

Eh, maksud saya, kesalahannya selama ini hanya pada penyebutan antara dunia dan akhirat?

Tepatnya pengaitan! Kiamat itu kaitannya dengan akhirat, bukan dunia. Jadi, dalam bahasa Indonesia, misalnya, istilah “dunia bakal kiamat” itu salah. Yang benar adalah “akhirat pasti kiamat”. Dunia adalah sesuatu yang sudah dan sedang ‘tegak’ (= eksis). Tapi ia bakal hancur. Sedangkan akhirat adalah sesuatu yang, bagi kita, belum tegak (= belum eksis). Tapi dia bakal tegak, nanti. Entah kapan.

Wahhh, saya jadi pusing nih!

Benarkah?

Ga pusing benar sih. Hanya butuh berpikir keras untuk memahami penuturan Anda. Mungkin butuh beberapa kali membahas soal ini…

Tepat! Kita memang harus membahasnya berkali-kali.

Tapi, coba tolong beri saya rangkuman.

Baik. Begini. Seperti saya katakan sejak awal, saya ingin mengajak Anda bebas dari pemahaman berbau mitos tentang kiamat.

Satu hal yang harus Anda pahami sekarang adalah bahwa ketika kita bicara kiamat, konteksnya adalah penegakan Dînul-Islãm, yang menjadi tugas kita, secara pribadi maupun jama’ah. Inilah konteks kiamat sugra. Dan kiamat sugra ini bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, tapi harus dilakukan oleh kita, secepatnya. Sebelum kita mati. Kiamatkan (tegakkan) Islam dalam diri kita, tak perlu menunggu orang lain!

Sedangkan dalam konteks kiamat kubra, tegaknya atau eksisnya alam akhirat, itu sama sekali bukan urusan kita.

Begitu ya?

Ya.

Saya masih pusing…

Semoga lekas sembuh!

Eh, maaf! Saya merasa masih ada yang kurang dari rangkuman Anda…!

O, ya? Apa?

Anda belum menyimpulkan pengertian “Kiamat Ilmiah” itu?

Hm, ya, ya…! Begini. Kiamat Ilmiah yang saya maksud, harfiahnya adalah tegaknya atau penegakan sesuatu yang bersifat ilmu. Jadi, istilah itu bila diterjemahkan secara bebas, berarti “pelaksanaan teori”. Dan, teori yang saya maksud di sini adalah ajaran Allah, yaitu Al-Quran…

Ooo, begitu…  Jadi, kalau begitu, Kiamat Ilmiah itu berarti penegakan atau tegaknya Al-Quran?

Iya.

Ya, Allah…! Sekarang agak buyar pusing saya. Tapi sekarang muncul pertanyaan-pertanyaan lain.

Simpanlah dulu pertanyaan-pertanyaan itu, untuk bahan obrolan kita di lain waktu. ∆

Comments
2 Responses to “Kiamat Ilmiah”
  1. Tanti says:

    Pak saya minta penjelasan apa itu ibadah yg benar yg tdk berbau dongeng. Saya pernah baca dari akun twitter ibadah adalah penghambaan diri pd alam tp tanpa keterangan

  2. Ahmad Haes says:

    Secara harfiah, ibadah berarti “pengabdian”. Pengabdian ini boleh dilakukan oleh siapa saja, kepada siapa saja. Bila yg dimaksud adalah ibadah terhadap Allah, misalnya, maka ibadahnya harus dilakukan sesuai perintah Allah dalam Al-Quran, dan sesuai dengan contoh2 yang diberikan oleh Rasulullah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: