Lailatul-Qadr(i)

camel

Seperti biasa, mulai tanggal selikur (21) Ramadhan, mereka yang berpuasa banyak yang menunggu dan mengharapkan dapat Lailatul-qadr(i).Ada juga orang-orang yang merasa sudah mendapatkannya dengan ciri-ciri, antara lain, badannya selalu segar, matanya tak tersentuh kantuk, hatinya selalu riang, dan selalu semangat untuk beribadah. Apa pendapat anda?

Seperti tahun-tahun yang lalu, saya juga selalu mendapat pertanyaan seperti itu. Haha!

Kenapa tertawa?

Karena ada yang lucu!

Apa yang lucu?

Anda tahu tidak bahwa Lailatul-qadr(i) adalah satu waktu, adalah suatu momentum, yang tidak berulang?

Tidak berulang? Bukankah ada hadis-hadis yang menganjurkan kita ‘menjemput’-nya?

Maksud saya, tidak berulang secara harfiah!

Jelasnya?

Bila anda cermati surat Al-Qadr(u), kan di situ jelas sekali disebutkan bahwa Lailatul-qadr(i) adalah momentum (malam hari) penurunan Al-Qurãn, untuk pertama kali. Dan itu, secara nilai, dikatakan lebih baik dari seribu bulan (khairun min alfi syahrin).

Apanya yang dinilai lebih baik dari seribu bulan itu?

Tentu momentumnya dong. Waktunya. Yaitu waktu penurunan Al-Qurãn itu.

Waktunya? Jadi, bukan Al-Qurãnnya yang bernilai demikian?

Yaa, waktunya! Tapi justru karena Al-Qurãn diturunkan pada waktu itu.

Jadi, kalau tidak ada penurunan Al-Qurãn, malam itu tidak lebih baik…

Ya, tidak. Nilainya sama saja dengan malam-malam yang lain. Tak ada istimewanya.

Dengan kata lain, yang membuat malam itu menjadi istimewa adalah Al-Qurãn?

Ya! Ambil saja perumpamaan begini: Suatu hari anda datang ke rumah saya, dengan membawa sebuah bingkisan yang berisi, misalnya, sebongkah emas. Otomatis hari itu menjadi hari istimewa bagi saya, dan yang membuatnya istimewa, jelas, adalah emas itu! Bukan harinya kan?

Ya, ya, saya mengerti. Jadi, bila saya datang tidak membawa apa-apa, harinya tidak menjadi hari istimewa ya?

Ya. Apalagi bila anda datang hanya untuk ngobrol dan saya harus mengeluarkan teh, hehe!

O, begitu ya? Wah, saya jagi engga enak nih.

Haha! Itu hanya bercanda. Jangan diambil hati!

Ya, ya. Terus, kenapa malam penurunan Al-Qurãn itu dikatakan lebih baik dari seribu bulan?

Kembali ke perumpamaan tadi!  Misalnya, anda datang ke rumah saya seribu kali, tidak membawa apa-apa! Tapi di hari yang ke-1001, anda membawa sebongkah emas untuk saya. Dengan begitu, tidakkah saya bisa mengatakan bahwa kedatangan anda yang terakhir itu lebih baik dari kedatangan-kedatangan yang sebelumnya, yang seribu kali tapi datang dengan tangan hampa?

Hm, ya, ya! Benar juga! Tapi kenapa istilahnya kok seribu bulan, bukan seribu tahun, atau seribu abad?

Saya kira, pertama, bilangan seribu sering digunakan untuk menyebut jumlah yang sangat banyak. Kedua, malam penurunan Al-Qurãn adalah salah satu malam di bulan Ramadhan, sehingga bulan Ramadhan menjadi identik dengan bulan Al-Qurãn (syahru Ramadhanal-ladzi unzila fihil-Qurãna). Jadi jelas kan, Al-Qurãn turun bukan di tahun atau abad Ramadhan? Ketiga, bila anda memahami sastra Al-Qurãn, itulah konsistensi Allah dalam menjaga kecermatan dan keserasian bahasa Al-Qurãn.

Jadi, intinya, frasa “seribu bulan” itu mengacu pada apa?

Pada waktu-waktu lampau, sebut saja sekian lama sejak wafatnya Nabi Isa, pada saat ratusan tahun berlalu tanpa kehadiran ilmu Allah di bumi ini. …

Ooo, begitu ya? Terus, kembali ke soal orang-orang yang menunggu lailatul-qadr di masa sekarang itu… Apakah itu bisa dibenarkan?

Haha! Tentu saja bisa dibenarkan, bila mengingat mereka berbuat demikian berdasar keterangan yang mereka ketahui. Tapi, apakah penantian mereka berhasil atau sia-sia, itu soal lain.

Terus-terang saja, menurut anda, mereka berhasil atau sia-sia?

Sejauh pengamatan saya – bisa jadi saya keliru! –  tak ada orang yang tegas mengaku pernah mendapatkan lailatul-qadr! Paling banter, mereka cuma berharap dan bersangka baik bahwa mereka mungkin (!) mendapatkannya.

Bila demikian, kenapa para mubaligh selalu menganjurkan agar orang menunggu dan berusaha mendapatkannya?

Ada banyak faktor. Pertama, mungkin karena mereka hanya mengulang apa yang mereka dengar dari guru-guru mereka. Kedua, bila hadis menjadi acuan mereka, mereka tidak mau berusaha membandingkan hadis-hadis tentang pencarian lailatul-qadr itu dengan Al-Qurãn; yaitu dengan surat Al-Qadr itu sendiri, dan dengan surat lain yang redaksinya sangat mirip, yaitu surat Ad-Dukhan ayat 1-6.

Maksud anda, hadis-hadis itu bertentangan dengan kedua surat tersebut?

Saya kira, iya!

Di mana letak pertentangannya?

Di satu sisi, Al-Qurãn, menegaskan bahwa lailatul-qadr adalah momentum penurunan Al-Qurãn, yang tidak berulang, yang hanya terjadi sekali. Di sisi lain, hadis-hadis itu mengesankan bahwa lailatul-qadr adalah sesuatu yang berulang setiap tahun. Selain itu, bila Al-Qurãn memberitakan bahwa yang ‘diturunkan’ pada malam itu adalah sesuatu yang jelas, yakni Al-Qurãn itu sendiri, hadis-hadis itu justru mengesankan bahwa yang turun setiap tahun itu adalah sesuatu yang misterius!

Nah! Kata “misterius” itu sering dipakai oleh para mubaligh. Kata mereka, karena lailatul-qadr itu sesuatu yang misterius, maka kita akan menjadi penasaran dan bersemangat untuk berusaha mendapatkannya!

Haha! Saya heran bila Allah atau Rasulullah memprovokasi kita untuk memburu sesuatu yang misterius! Bukankah Al-Qurãn adalah kitãbun mubîn (kitab yang gamblang)? Bukankah Islam adalah suatu konsep hidup yang jelas?

Waduh, saya jadi bingung nih!

Kenapa harus bingung? Bukankah Rasulullah juga mengajarkan kepada kita agar kita meninggalkan sesuatu yang meragukan?

Dengan kata lain, anda menyuruh saya mengabaikan hadis-hadis tentang lailatul-qadr itu?

Paling tidak untuk sementara, anda abaikan hadis-hadis itu, demi berpegang teguh pada Al-Qurãn!

Untuk sementara? Sampai kapan?

Sampai kita menemukan bahwa hadis-hadis itu tidak bertentangan dengan Al-Qurãn!

Hm, begitu ya? Tapi… Bukankah tadi anda mengatakan bahwa lailatul-qadr memang tidak berulang secara harfiah… Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa ia berulang secara tidak harfiah?

Betul, betul, betul.

Nah! Kalau begitu, anda harus menjelaskannya!

Baik! Dan anda harus camkan bahwa penjelasan mengenai hal itu akan berkisar pada pemahaman kita tentang istilah nuzûlul-qurãn.

Oke. Bagaimana?

Istilah nuzûlul-qurãn mempunyai beberapa lapis pengertian. Pertama, bila mengacu pada sebuah hadis riwayat Hakim dan Ibnu Abi Syaibah, nuzûlul-qurãn adalah penurunan (= pengajaran) Al-Qurãn secara bertahap oleh Jibril, dari As-Samã’ud-Dunya (langit terdekat dengan bumi) kepada Nabi Muhammad. Nah, peristiwa pertama dari proses inilah yang terjadi pada lailatul-qadr. Bila kita mengharap ini berulang pada masa sekarang, berarti kita mengharapkan Jibril datang menemui kita, untuk mengajarkan Al-Qurãn!

Dan itu adalah sesuatu yang mustahil?

Pikir saja sendiri!

Itu berarti saya harus berkhayal menjadi nabi ya?

Bukan hanya anda. Saya juga harus jadi nabi bila mengharap dapat wahyu dari Jibril.

Terus, lapis berikutnya?

Lapis kedua dari pengertian nuzûlul-qurãn adalah proses pengajaran Al-Qurãn yang dilakukan Nabi Muhammad kepada umat beliau; yang juga tidak bisa berulang kepada kita, karena beliau tidak ada di tengah kita.

Lapis berikutnya?

Lapis ketiga, khususnya pada masa setelah Nabi Muhammad tiada, dan Al-Qurãn sudah dibukukan, nuzûlul-qurãn adalah proses yang kita lakukan dalam mempelajari Al-Qurãn, untuk membangun iman kita! Proses inilah, yaitu mempelajari Al-Qurãn, yang bisa kita lakukan secara berulang-ulang.

Terus, kaitannya dengan lailatul-qadr?

Lailatul-qadr adalah sebuah momentum sejarah. Sebuah momentum yang menjadi latar belakang hadirnya Al-Qurãn di tengah kita. Momentum itu sudah berlalu, tapi Al-Qurãnnya masih ada!

Artinya?

Momentum turunnya Al-Qurãn adalah titik awal dari sebuah revolusi peradaban yang dilakoni Nabi Muhammad dan umat yang sezaman dengan beliau. Kini, berabad-abad telah masa beliau berlalu, peradaban yang dibangun beliau itu sudah ambruk. Tapi Al-Qurãn sebagai konsepnya masih ada! Masih menunggu dan menantang untuk dipelajari ulang, untuk dimainkan ulang!

Ya, Allah! Mati aku!

Kenapa?

Sedih saja!

Kenapa?

Kalau saya terus-menerus memburu lailatul-qadr yang misterius itu, dan mengabaikan Al-Qurãn, berarti saya ini… Saya ini… adalah manusia tak tahu diuntung! Astaghfirulah…!

Bekasi, Rabu dini hari  15 Agustus 2012

Comments
4 Responses to “Lailatul-Qadr(i)”
  1. Kasihan, teman-teman kita masih sibuk bermain tebak-tebakan tanggal ganjil setelah tanggal 20 Ramadhan.

    Payahnya lagi tanggalnya ada 2 versi, sementara hasil tebakan tahun lalu belum disimpulkan.

    Mari kita mencoba tidak mencemooh persepsi yang berbeda, dengan niat menjaga sebuah pantangan ikrar kalam: “Ana khoiru minhu”.

  2. Ahmad Haes says:

    Betul sekali. Yuk, mari…!

  3. joko ringgo says:

    merugilah orang yg terkunci hati akan konsep islam,yaitu agama yg paling sesuai dgn otak manusia

  4. jateng says:

    berarti lailatul qadr sama dgn nuzulul qur’an ………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: