Allah Mengajar Dengan Tiga Bahasa (?)

Tiga bahasa

Saya selalu ingin mengingatkan bahwa Allah menyampaikan ajaranNya dengan tiga bahasa. Yaitu (1) bahasa lisan (yang kemudian disalin menjadi tulisan), yang akhirnya kita dapati dalam bentuk  mushhaf Al-Qurãn; (2) bahasa kiasan, berupa kenyataan dan peristiwa alam, dan (3) bahasa ritus atau bahasa simbol (lambang), yaitu berupa sejumlah ritus (upacara), atau segala sesuatu yang selama ini disebut ibadah ritual; yang dalam bahasa pesantren disebut ibadah mahdhah (ibadah murni?).

Salah satu bentuk ibadah ritual itu adalah shaum Ramadhan.

Jadi, shaum Ramadhan adalah sebuah ‘bahasa’ simbol.

Setiap bentuk bahasa adalah pengemas pesan dari si empunya pesan.

Setiap bahasa mempunyai daya ungkap (ekspresi) makna yang unik, dan mempunyai dampak yang unik pula.

Dan setiap bentuk bahasa, agaknya, dihadirkan Sang Mahapencipta sesuai dengan keadaan dan kebutuhan manusia sebagai lawan berkomunikasiNya.

Bahasa lisan

Bahasa lisan (dan tulisan – bisa juga disebut ‘ayat qauliyah’!) diciptakan untuk melakukan komunikasi secara kognitif intelektual. Bentuk bahasa yang satu ini adalah bahasa standar dan terpenting, yang memiliki alat ungkap yang sangat kaya, bahkan nyaris sempurna, sehingga menjadi alat utama Allah untuk berkomunikasi dengan makhlukNya. Karena itu mempelajari bahasa lisan, sampai ke tingkat mahir, adalah kewajiban manusia yang utama. Dan kewajiban  utama itu juga pada hakikatnya adalah kebutuhan utama manusia pula; karena dengan bantuan bahasa lisan itu, manusia melakukan pembangunan sisi intelektualnya. Membngun alam pikiran dan perasaannya. Membangun alam kesadarannya sebagai  al-hayawãnun-nãtiq(u), alias hewan yang berlogika.

Bahasa kiasan

Bahasa kiasan, yang berupa kenyataan dan peristiwa alam (sehingga bisa disebut ‘ayat kauniyah!), diciptakan untuk ‘menyentuh’ kebutuhan afektif dan psikomorik manusia. Alam mengajak manusia berkomunikasi lewat ungkapan-ungkapan kemegahan, keindahan, kenyamanan,  bahkan juga kekerasan, kekasaran, keseraman dan misteri! Dalam peristilahan Al-Qurãn, bahasa alam mencakup dua kelompok pesan. Yaitu (1) basyîran (kabar gembira) dan (2)  nadzîran (peringatan). Pada sisi basyîran alam ‘menjnjikan’ pemenuhan segala kebutuhan hidup manusia. Pada sisi nadzîran, alam memperingatkan agar manusia tanggap pada isyarat-isyaratnya, dan jangan pernah mengeksploitasinya secara membabi buta, karena bisa membahayakan si manusia sendiri.

Bahasa simbol

Terakhir, ritus sebagai bahasa simbol yang berupa aneka (ibadah) ritual, adalah bahasa khas kaum beriman, untuk mengungkapkan semangat pengabdian mereka terhadap Allah. Salah satu ciri yang sangat menarik dari ritus adalah terdapatnya penggabungan antara bahasa lisan (yang mewakili sisi intelek), dengan bahasa afektif (yang mewakili sisi perasaan), dan bahasa psikomotorik (yang mewakili sisi fisik). Ya! Ritus dilakukan dengan bacaan-bacaan tertentu, dengan penghayatan atas tujuan-tujuan batiniah tertentu, dan gerakan-gerakan tertentu.

Ritus adalah lambang kepatuhan tanpa syarat!  Karena itu, untuk ritual shalat, misalnya, Rasulullah menegaskan dengan perintah, “Shallû kamã ra’aitumunî ushali.” (Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat). Dengan kata lain, lakukan sebagaimana aku melakukan. Jangan menyimpang. Jangan tawar-menawar. Jangan menambah atau mengurangi. Mulai dari bacaan, penghayatan (sedapat mungkin), dan gerakan-gerakan, yang semua diusahakan untuk relatif sama!

Pikiran kita bisa saja mengatakan bahwa pagi hari adalah saat terbaik untuk berolah raga. Karena itu, tentu menjadi logis bila kita melakukan shalat subuh, misalnya,  sebanyak 23 raka’at (seperti tarawih versi NU). Tidak. Allah hanya menyuruh dua raka’at!

Ritus adalah simbol ‘pembunuhan’ atau ‘pembungkaman’ rasionalitas manusia, yang hakikatnya seringkali sangat dangkal dan miskin!

Ritus adalah simbol pengakuan setulus hati akan kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah. Pengakuan itu diungkapkan secara tegas, lewat bahasa lisan melalui bacaan “doa iftitah”:

“(Dalam shalat ini), dengan kesungguhan (jiwa dan raga) kuhadapkan wajahku (fisik dan mental) kepada Dia (Allah) yang telah menciptakan semesta angkasa dan bumi, dengan setulus-tulusnya kepasrahan diri, dan (kutegaskan bahwa) aku bukanlah seorang pengabdi banyak Tuhan – dengan segala konsepnya – (musyrik). Sesungguhnya shalatku  (yakni harapan hidupku), dan segala rutinitas kegiatanku, sepanjang hidupku sampai matiku, (kulakukan semata-mata) menurut Allah, Sang Penyelenggara semesta alam. Tak ada tandingan bagiNya!  Demikianlah aku diperintah olehNya, dan aku (menyatakan diri sebagai) bagian dari – jama’ah –  orang-orang yang pasrah (Muslimin).”

Comments
One Response to “Allah Mengajar Dengan Tiga Bahasa (?)”
  1. nuhungusti says:

    Kita menghormati bulan Ramadhan dengan menyebutnya bulan suci.Dalam bulan Ramadhan ada malam seribu bulan. Bulan kehusyuan. Dalam bulan ini al-Qur’an diturunkan, dan Allah sendiri begitu membedakan laku puasa dengan mengatakan bahwa ibadah yang satu ini khusus untuk-Nya.Lalu apakah boleh kita menyebut bulan selain Ramadhan itu bulan yang tidak suci?apakah Syawwal bukan bulan yang suci? Apakah bulan dilahirkannya Muhammad itu bulan yang tidak suci? Apakah bulan yang didalamnya terdapat peristiwa Isra’ Mi’raj itu tidak suci? Apakah ada tahun, bulan, minggu, jam, menit, detik atau waktu ciptaan Tuhan yang tidak suci?Apa sesungguhnya konsep dan pengertian tentang kesucian itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: