Ngobrol Tentang Pintu Ijtihad

1. Sebuah Buku Dari Dokter Bedah

            Saya baru dapat kiriman buku dari teman di Yordania. Bahasa Arab. Teman saya ini rupanya lupa bahwa saya lebih lancar berbahasa Inggris daripada berbahasa Arab.

Salah sendiri! Orang Islam kok malah menekuni bahasa Inggris. Bahasa agamanya sendiri dinomorduakan.

            He he!  Malah nomor dua pun bukan; karena bahasa pertama saya adalah bahasa Jawa, bahasa kedua bahasa Betawi, bahasa ketiga bahasa Indonesia, bahasa keempat bahasa Inggris, bahasa Arab … masih untung jadi bahasa kelima. Itu juga belajarnya tak sengaja, hanya karena pernah pacaran dengan gadis Arab!

Dan anda tidak tuntas belajar bahasa Arab karena putus sama dia?

            Begitulah. Orangtuanya tidak mendukung. Arab adalah Arab. Mereka tetap merasa lebih mulia dari kita, walau Al-Qurãn menegaskan bahwa ukuran kemuliaan manusia adalah takwa.

Lho, kok jadi bergunjing tentang Arab. Lagi pula, tidak semua orang Arab begitu kan? Terus, bagaimana tentang buku itu? Bagus tidak  isinya?

Bagus apanya?  Bikin bingung begitu!  Katanya penulisnya orang Islam, tapi kok menulis buku yang menjelek-jelekkan Islam.

O, ya? Siapa sih penulisnya?

            Rasanya namanya tidak populer di sini. Dokter Kãmil An-Najjãr!

Dokter atau doktor?

Dokter! Thabîb jarãh, begitu. Dokter ahli bedah.

Jadi, dia dokter bedah yang melakukan kerja sambilan membedah Al-Qurãn, begitu?

            Rupanya begitu!  Sayangnya, dia seperti melakukan malpraktik. Banyak melakukan kesalahan dalam membedah!

O, ya? Kok anda seperti yakin kalau dia salah membedah?

            Ng… gimana ya? Yang jelas, dia mengguncang keyakinan saya tentang kebenaran agama yang selama ini saya peluk, tentang kitab yang selama ini saya anggap benar. Dan, kalau itu terjadi pada saya, tentu bisa terjadi pada banyak orang lain yang membaca buku itu, kan? Dan akan lebih banyak lagi korbannya bila buku itu diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

Ha ha!  Begitu saja kok repot!  Buku-buku begitu kan sudah dari dulu ditulis orang. Jumlahnya ratusan. Mungkin malah ribuan.

            Tapi, katanya, ini adalah buku pertama untuk jenisnya, yang ditulis dalam bahasa Arab!

Maksudnya untuk “jenis” apa?

            Yaa jenis qirã’ah naqdiyyah, begitu. Jenis studi kritis!

Ah, omong kosong! Buku-buku terdahulu juga kan disebut hasil studi kritis juga!  Tapi, kalau benar-benar dia kritis, boleh juga tuh kita kaji bersama.

Itulah maksud saya datang menemui anda!

2. Siapa Kãmil An-Najjãr

            Nah, ini judul bukunya: Qirã’ah Manhajiyah Lil-Islãm.

Studi Islam metodis, atau ilmiah …Penerbitnya?

            Jami’ Al-Huquq Mahfuzhah. Cetakan pertama, tahun 2005.

Ada keterangan tentang penulisnya?

Ada, di sampul belakang. “Dokter Kãmil An-Najjãr, dokter bedah, yang sekarang bekerja sebagai konsultan di bagian … di salah satu rumah sakit di Britania. Pernah bekerja sebagai dokter di Saudi Arabia selama 10 tahun, juga di Kuwait, sampai kemudian merantau ke Britania bersama keluarganya, dan tidak kembali.

Dia gemar mempelajari agama-agama, pernah mengunjungi banyak kawasan di Timur Tengah, Asia, juga Kanada dan sekitarnya, dalam rangka mempelajari tradisi manusia yang memeluk bermacam-macam agama…

Lahir tahun 1943, menikah, dan punya sejumlah anak.

Ada fotonya tidak?

            Tidak.

3. Mendobrak Pintu Ijtihad

            Di sini, dalam bab muqaddimah (pendahuluan), penulisnya mengaku sering merasa ragu untuk menulis buku ini, karena takut bakal kena vonis ilhãd dan harthaqah. Apa maksudnya ini?

Ilhãd itu artinya penyimpangan. Bentuk kata kerjanya lahada, artinya “menggali kubur”. Arti lainnya “menyimpang dari jalan yang benar”, alias “murtad”.

Kenapa arti lahada yang kedua begitu jauh dari arti yang pertama?

Siapa bilang? Bukankah orang yang menyimpang dari jalan (agama) itu bisa divonis mati, dan itu berarti “menggali kubur”?

Oh, iya. Benar juga.

Itulah, antara lain, menariknya bahasa Arab. Satu kata kadang mempunyai banyak arti, dan kita merasa kok pengertian yang satu dengan yang lain begitu berjauhan. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata ada hubungannya juga.

            O, ya?  Bisa anda kasih contoh lain?

Misalnya “kãfir”, satu segi berarti”orang tidak beriman”, segi lain berarti “petani”.

Wah, apa hubungannya orang tidak beriman dengan petani?

Kedua-duanya sama-sama menanam dan menumbuhkan sesuatu. Yang satu, petani, menanam benih sayuran dan sebagainya, yang nanti bisa dimakan dan menyehatkan orang lain. Yang lainnya, orang tak beriman, juga menanam benih. Benih kebencian pada sesuatu, yang juga bisa dibagikan kepada orang lain.

            Hm, benar juga. Terus satu istilah lagi nih, harthaqah

Itu sih mungkin dari bahasa Inggris, heretic, yaitu orang yang berlaku heresy, memiliki pendapat atau pikiran keagamaan yang sangat bertentangan dengan pendapat yang berlaku dalam masyarakat. Karena berasal dari Barat, istilah ini semula hanya berkaitan dengan orang yang berbeda pandangan dengan Gereja Katolik.

            Jadi, sejak awal rupanya penulis buku ini sudah sadar bahwa dia mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan pandangan ulama dan kaum mislimin pada umumnya.

Ya. Dan tentu ia punya alasan kuat yang mendorongnya terus menulis buku itu.

Dia menyinggung tentang pintu ijtihãd, yang katanya pernah ditutup sejak abad kedua belas, sehingga sejak saat itu tak ada orang yang berani mengkaji Al-Qurãn secara kritis. Saya sering mendengar istilah ini, tapi sampai sekarang belum juga mengerti apa maksudnya.

Itu kan istilah baru. Artinya, baik dalam Al-Qurãn maupun Hadits, tidak ada istilah pintu ijtihãd. Ijtihad itu sendiri, dikatakan para ahli sebagai “bersungguh-sungguh dalam mengkaji agama” (Islam). Itu dilakukan terutama dalam rangka mencari dalil-dalil hukum atas hal-hal yang tidak pernah ada atau terjadi di masa Rasulullah dan para sahabat.

            Hasilnya?

Hasilnya yaa kitab-kitab fiqh yang ditulis para imam mazhab itu; yang ternyata membuat umat Islam terbagi ke dalam kelompok-kelompok, yang kadang-kadang satu sama lain saling berbaku hantam.

Jadi, ijtihãd itu adalah sebuah kesalahan, karena membuat umat Islam terpecah belah?

            Bukan. Ijtihãdnya sendiri bukan sebuah kesalahan, karena ia merupakan tuntutan logis untuk memahami agama secara mendalam, sehingga bisa menjawab tantangan demi tantangan yang terus datang.

            Tapi, seperti anda katakan, ijtihãd membuat umat Islam terpecah belah!

Mungkin karena kurang ada keterbukaan di kalangan para mujtahid itu sendiri; atau mungkin juga karena faktor fanatisme buta di kalangan para pengikut mereka, sehingga sebuah perbedaan pendapat bisa menjadi benih perselisihan, yang terus menajam menjadi permusuhan.

            Nah!  Saya melihat bahwa intinya adalah perbedaan pendapat, dan itu terjadi karena adanya ijtihãd kan? Jadi, benar doong kalau pintu ijtihãd harus ditutup.

Ha ha! Bukan itu masalahnya! Memang anda pikir tanpa ijtihãd tidak akan ada perbedaan pendapat? Perbedaan pendapat tanpa diawali ijtihãd justru akan berakibat lebih parah lagi, karena orang jadi bertengkar tanpa landasan ilmu.

            Tapi, masalahnya, dengan landasan ilmu pun mereka tetap berbeda pendapat dan bertengkar juga!

Ha ha!  Bagi saya hal itu justru menjadi isyarat yang sangat kuat bahwa kegiatan ilmiah, ijtihãd, harus terus dilakukan,  ditingkatkan kualitas ilmiahnya, dan yang terpenting adalah memastikan tujuan akhirnya.

Apa tujuan akhir yang anda maksud?

Kepastian hukum, berdasar dalil-dalil naqli (Al-Qurãn dan Hadits) dan aqli (logika) yang tak terbantah.

Apakah hasil-hasil ijtihãd yang ada belum sampai ke taraf itu?

Kalau sudah, mereka tak akan bertengkar lagi. Tak akan ada mazhab-mazhab lagi.

            Tapi, apakah itu mungkin?

Kenapa tidak? Ini tantangan buat yang disebut dan mengaku ulama semua kan?

            Ya, ya!  Masuk akal. Tapi, kembali ke soal tadi; kenapa ada penutupan pintu ijtihãd?

Mungkin karena ada yang beranggapan bahwa sungai ilmu bisa dan harus dibekukan. Bahwa manusia bisa dan harus berhenti berpikir.

Wah, kalau begitu yang namanya pintu ijtihãd itu rapuh sekali doong!

Memang. Bukan hanya rapuh, tapi sebenarnya memang tidak (harus) ada. Karena tidak logis, tidak ilmiah, dan tidak manusiawi kan?

            Ya, ya!  Tapi ternyata itu pernah ada, dan masih ada yang berpikir bahwa itu harus tetap ada kan?

            Memang.

            Siapa sebenarnya penciptanya, dan apa alasan-alasannya?

Umar Hasyim menulis buku berjudul Membahas Khilafiyah/Memecah Persatuan, Wajib Bermazhab, Dan Pintu Ijtihad Tertutup (?).[1] Di situ ia menyatakan bahwa yang membuat fatwa demikian itu adalah orang-orang bermazhab Syafii. Nara sumber pertamanya adalah Ar-Rafi’I (624 H), seorang alim bermazhab Syafii. Fatwanya itu kemudian berkembang menjadi doktrin bahwa tidak ada mujtahid setelah atau selain Imam Mazhab Empat. Tapi, Imam Zarkasyi mengatakan bahwa hal itu adalah kebohongan besar. Sebab, kata Imam Zarkasyi, setelah Imam Mazhab Empat itu, dalam catatan sejarah, ternyata ada imam-imam yang mahir, bahkan dalam beberapa segi dan masalah lebih mahir daripada imam empat. Atau pengetahuan mereka melebihi imam mazhab yang empat. Dengan demikian, orang yang menyatakan bahwa pintu ijtihãd telah tertutup sejak abad ke-3 atau sejak awal abad ke-4 Hijriyah, adalah orang yang menetapkan sesuatu tanpa dasar. Selain itu, ada Hadits riwayat Abu Daud, Hakim, dan lain-lain, yang menyatakan bahwa dalam setiap seratus tahun selalu muncul orang-orang yang berusaha menyegarkan kembali agama mereka (Islam).

            Apakah ‘ramalan’ Hadits itu terbukti dalam kenyataan?

Belum ada yang melakukan pendataan. Tapi, saya kira, setiap saat, di mana-mana, kita selalu menemukan orang yang berjuang untuk menyegarkan kembali agama Islam, berusaha mengajak masyarakat untuk memperbaiki pemahaman. Hal itu saja sudah menjadi bukti yang jelas bahwa yang namanya  ijtihãd itu memang tidak bisa dilarang-larang, tidak bisa dihentikan.

            Tapi, kalau saya tak salah, katanya untuk berijtihãd itu ada syarat-syarat yang ketat.

Ya, tentu saja. Intinya, seorang mujtahid harus memahami agama dengan segala aspeknya, sehingga dia bisa mengeluarkan fatwa (keputusan hukum) yang kuat. Nah, bila hal ini dikaitkan dengan Imam Syafii, misalnya, ada orang-orang yang beranggapan bahwa apa yang sudah ditulis beliau adalah karya puncak ijtihãd. Nurcholis Madjid, misalnya, mengakui bahwa Imam Syafii berjasa membuat ajaran Islam menjadi sistematis.

            Kalau begitu, pantaslah bila ada para pengikutnya yang membuat fatwa bahwa setelah beliau tidak perlu ada lagi ijtihãd, alias pintu ijtihãd sudah ditutup.

Ya!

            Tapi, apakah benar bahwa dialah yang membuat ajaran agama kita menjadi sistematis?

Saya meragukan hal itu. Maksud saya, bila Imam Syafii yang membuat ajaran Islam sistematis, apakah sebelumnya memang tidak sistematis? Apakah yang diajarkan dan diterapkan Rasulullah itu tidak sistematis? Jangan-jangan kitalah yang salah mengerti tentang sistematika Islam itu sendiri. Buktinya, Rasulullah berhasil mementaskan Islam, sementara para imam itu … anda tahu sendiri kan?

            Ya, ya!  Sekarang kita kembali kepada penulis buku ini, Dokter Kãmil An-Najjãr. Dengan mengatakan bahwa dia pernah dihantui ketakutan sebelum menulis bukunya, dan ketakutan itu dihubungkan dengan ulama, yang mungkin masih berang-gapan bahwa pintu ijtihãd sudah ditutup, berarti dia menempatkan dirinya, dengan menulis buku ini, sebagai seorang mujtahid?

Begitulah, agaknya. Setidaknya, dia merasa lebih memahami Al-Qurãn dibanding para pendahulunya. Buktinya, dia bisa menemukan hal-hal ‘baru’ yang tidak ditemukan orang lain.

            Tapi, bisakah seseorang disebut mujtahid, bila hasil ijtihãdnya ternyata berisi celaan-celaan terhadap Al-Qurãn dan Islam itu sendiri?

Setidaknya, dia layak disebut kritikus!

            Dan, bila kritik-kritiknya salah?

Salah menurut siapa, dan menurut ukuran apa?

            Mana yang lebih penting antara siapa dan apa  itu?

Siapa itu adalah oknum, pribadi manusia. Sedangkan apa itu adalah kriteria atau metodologi dalam melakukan kritik maupun menangkal kritik itu sendiri. Bagi saya, oknum itu bukan yang utama; apalagi bila yang ditonjolkan hanya otoritasnya di mata publik, misalnya karena ia sarjana dan atau menguasai sebuah lembaga. Dalam masalah ilmu, metodologi adalah yang terpenting.*

Saturday, June 09, 2007

[BERSAMBUNG]


[1] Terbitan PT Bina Ilmu, Surabaya, 1984.

Comments
3 Responses to “Ngobrol Tentang Pintu Ijtihad”
  1. Azhar says:

    ditunggu sambungannya…..

  2. Ahmad Haes says:

    Semoga Allah masih memberi saya kesempatan…

  3. peneliti aliran islam says:

    mantap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: