Tiga Filsuf Besar Yunani

Banyak filsafat Barat menemukan dasarnya dalam pemikiran dan ajaran Socrates, Plato (atau Platoon) dan Aristoteles. Tak ada orang yang bisa mempelajari filsafat tanpa berbicara tentang orang-orang ini (yang ditetapkan sebagai): Tiga Besar filsuf Yunani.

Socrates: filsuf sudut jalan Athena

Socrates adalah filsuf kota besar Athena kuno. Dituduh dan divonis sebagai penyesat kaum muda, satu-satunya kejahatan yang dia lakukan adalah mempermalukan dan menghina sejumlah orang penting. Hukumannya adalah mati.

Untuk itu ada kutipan termashur:  “Kehidupan yang tidak teruji tidak layak hidup.”

Socrates tidak menulis buku. Di hanya suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis dan kadang-kadang melecehkan, yang kemudian melahirkan Metode Mengajar Socrates yang terkenal. Filsuf sudut jalan ini berkaris sebagai ‘pengempis’ manusia-manusia sombong.

Plato: Filsuf calon raja

Sebagai bangsawan yang banyak uang dan berbadan perkasa, Plato suatu hari menjadi juara gulat. Sebenarnya, nama aslinya (yang kurang dikenal) adalah Aristocles; Plato hanyalah julukan dari teman-temannya, yang mengacu pada bahunya yang lebar.

Plato adalah murid Socrates yang bersemangat dan pintar. Dialah yang menuliskan pertarungan verbal (debat) gurunya dengan lawan-lawannya. Sang pegulat ini percaya bahwa ruh hadir lebih dulu dan tidak bisa mati, seraya menekankan bahwa kehidupan ini tak lain hanyalan pemenjaraan ruh (jiwa) dalam badan. Selain dunia fisik, nun di sana ada kerajaan langit yang lebih besar dan dihuni oleh Bentuk-bentuk, Ideal-ideal, atau Ide-ide (seperti Kesetaraan, Keadilan, Kemanusiaan, dan lain-lain).

Sebagai mahkota prestasinya: Ia menulis buku The Republic, yang membahas tentang masyarakat ideal, yang di dalamnya ia menegaskan bahwa filsuf adalah orang yang paling pantas menejadi raja. (Gagasan yang sangat mengejutkan waktu itu!).

Aristoteles: Jalan panjang menuju Golden Mean

Aristoteles murid terbaik Plato. Ia menjadi guru Alexander the Great yang dibayar mahal, yang mungkin menjadikannya filsuf termahal sepanjang sejarah. Ia merintis aliran filsafatnya sendiri ketika berusia 50 tahun. Kendati ia hanya hidup sampai sepuluh tahun setelah itu, ia menulis hampir seribu buku dan selebaran-selebaran, yang kini hanya sedikit yang bisa ditemukan.

Pemikir besar ini mendapat julukan  peripatetic philosopher (peripateo = “berkeliling”) karena ia suka mengajar murid-muridnya sambil berjalan. Kelompok filsuf lainnya disebut kaum stoic karena mereka lebih suka duduk melingkar di serambi (stoa) smbil menikmati angin sepoi-sepoi.

Inti pemikiran Aristoteles adalah bahwa kebahagiaan adalah tujuan hidup. Menurut Aristoteles, jiwa bisa mati sebagaimana tubuh. Ia mengasingkan diri dari Athena ketika situasi politik di situ membahayakan dirinya. Menurutnya waktu itu Athena melakukan dosa dua kali terhadap filsafat.

Sebagai pendiri teori berpikir logis, Aristoteles percaya bahwa usaha terbesar manusia adalah penggunaan akal dalam kegiatan teoritis. Salah satu pemikirannya yang terkenal adalah konsep tentang The Golden Mean – avoid extremes, sebuah ajaran untuk bersikap moderat (kebalikan dari ekstrem; lunak) dalam segala urusan.∆

Sumber: Dummies.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: