Hari Kita Masih Kelabu (11)

Sebelas

“Dan kenyataanya, kebanyakan manusia memang lebih suka mewarisi sifat Iblis. Salah satu hasilnya, yang paling menonjol, adalah sifat merasa lebih baik dari orang lain, yang hasilnnya, antara lain… yaa diskriminasi kelas itu.”

“Yang menghasilkan kemiskinan struktural itu?”

“Ya!”

***

Hari sudah sore. Di atas pukul lima. Jalan setapak yang licin mengkilat di waktu kemarau dan lengket di musim hujan itu telah ramai dilalui orang-orang yang pulang bekerja. Di depan gubuk, jalan itu membentang dan sedikit berkelok-kelok, memisahkan sebuah empang dan beberapa petak tanah bekas sawah, terus agak menanjak sedikit, kemudian membelah dua sebidang tanah luas yang disebut orang tanah gusuran, karena tanah itu dulu merupakan lokasi sebuah perkampungan. Di tepi seberang sana, jalan itu menanjak sepanjang sekitar sepuluh meter, mencapai ketinggian sekitar lima meter. Nun di ujungnya, terbentanglah Jalan Prapanca Raya yang tak begitu panjang, dipagari rumah-rumah permanen yang memisahkan perumahan elit Kebayoran Baru bagian Selatan dengan perkampungan rakyat jelata, yang sebagian besar tanahnya masih dimiliki orang-orang Jakarta asli. Tapi, tanah gusuran tadi jelas mengisyaratkan bahwa dominasi penduduk asli itu hanya akan bertahan beberapa puluh tahun saja.

Heru membuka pintu kamarnya, keluar, lalu mengaitkan cantelan pintu yang terbuat dari kawat ke sebuah paku yang ditancapkan setengah pada kayu kasar kusen pintu.

Jalan setapak itu, dari tanah gusuran, membentuk tusukan sate ke arah kumpulan gubuk keluarga Heru dan Adi, nyaris menusuk tembus bila tidak dipatahkan ke arah kiri (Barat), terus ke ujung gubuk, dan kemudian dipatahkan lagi ke arah kiri (Selatan), terus berliku-liku sepanjang sekitar 150 meter menuju Kampung Kober yang makin lama makin padat dan kumuh.

Kampung itu dinamai Kober karena di sebelah Baratnya ada sebidang tanah kuburan (pemakaman) yang agak membukit. Dan di saat senja begini, bila tidak hujan, tanah kuburan itu selalu ramai oleh pengunjung dari semua usia, yang semua berdatangan ke situ untuk duduk-duduk, berjalan-jalan hilir-mudik, main kejer-kejaran, main layangan, main gitar, dan lain-lain. Tanah kuburan ini memang menjadi mirip sebuah taman.

Dari atas tanah kuburan itu, yang membukit kira-kira setinggi tujuh meter di sebelah Selatan, gubuk keluarga Heru dan Adi tampak seperti onggokan sampah di tengah bentangan puluhan hektar tanah, yang di sana-sini tampak berwarna hijau dan coklat. Sekumuh-kumuhnya Kampung Kober, gubuk mereka itu masih jauh lebih kumuh.

Begitu keluar dari kamarnya, Heru langsung berjalan ke arah kiri, mengikuti jalan setapak itu sampai ke sudut gubuk, kemudian membelok lagi ke kiri, terus berjalan ke arah Selatan, melewati sebuah empang lain di belakang gubuk, terus menuju sebuah gubuk lain yang berukuran jauh lebih kecil, nun di sudut empang sebelah kanan, menghadap ke jalan setapak (Barat).

Gubuk mungil itu adalah tempat ayah Heru mangkal, berpraktik sebagai tukang pangkas rambut, alis tukang cukur.

Sang ayah, pria berusia enam puluhan itu, sedang sibuk membenahi perlatan kerjanya yang terdiri dari beberapa jenis gunting, pisau, botol kecil, dan lain-lain.

“Udah mau tutup ya Pak?”, kata Heru yang begitu sampai lantas duduk di sebuah bangku panjang hasil karyanya bersama sang ayah.

“Ya, sudah sore begini. Biar ada yang datang juga, Bapak udah engga bisa liat!” sahut ayahnya.

“Ada apa? Kamu butuh uang buat beli kertas?” tanya ayahnya kemudian sambil melihat ke arah Heru yang tampak duduk tidak tenang.

“Aku butuh ilmu, bukan uang!” cetus Heru sambil menggeser badan, mencari sandaran punggung.

“Kalau begitu, kamu harus tunggu Bapak mandi dulu!” sahut ayahnya sambil berjalan keluar. Di belakang gubuk mungil itu ada sebuah sumur dan kamar mandi buatan ayahnya. Sementara ayahnya mandi, Heru pindah duduk ke sebuah kursi yang biasa digunakan ayahnya untuk berpraktik. Di depannya ada sebuah kaca cermin cukup besar…

Heru berkaca.

“Kenapa aku tidak mirip ayahku?” katanya dalam hati.

“Ah, kalau mirip, bisa-bisa aku jadi tukang cukur juga!” kata hatinya pula.

“Tidak! Aku harus jadi sesuatu yang lain!” tanpa sadar Heru mengelurkan suara hatinya sambil bangkit dari kursi dan berbalik.

“Jadi apa?” tanya ayahnya yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian.

Agar tersipu, Heru berjalan ke bangku panjang tadi lagi, sementara ayahnya duduk di kursi yang kini diputar menghadap Heru. Beberapa saat ayah dan anak itu saling berpandangan.

“Kenapa hidung Bapak mancung dan aku tidak?” kata Heru tiba-tiba.

“Memangnya hidung kamu harus sama dengan punya Bapak ya?” jawab ayahnya sambil mengusap muka dan kemudian memencet hidungnya sendiri.

“Dengan hidung Ibu aja beda!” kata Heru.

“Siapa yang sedang kamu salahkan?” tanya ayahnya.

“Engga menyalahkan sih, cuma … Apakah Allah menetapkan nasib kita sama seperti menetapkan bentuk hidung kita?”

“Yang kamu maksud dengan nasib itu apa?”

“Yaa keadaan manusia secara umum! Apakah manusia, misalnya, menjadi kaya atau miskin karena memang ketetapan Allah seperti itu?”

“Ya! Kaya atau miskin, kedua-duanya kehendak Allah!”

“Jadi, maksud Bapak, kita menjadi miskin sekarang ini karena Allah yang menghendaki demikian?”

“Kaya atau miskin itu, kedua-duanya adalah konsep, Her! Dan konsep itu Allah yang bikin!”

“Jelasnya?”

“Karena kedua-duanya adalah Allah yang bikin, maka kedua-duanya harus ada, pasti ada, bila semua persyaratannya terpenuhi.”

“Maksud Bapak?”

“Untuk menjadi kaya, ada persyaratannya. Untuk menjadi miskin, juga ada persyaratannya.”

“Aduh, Bapak! Kalau untuk jadi kaya ada syaratnya, aku ngerti. Tapi, kalau untuk miskin…”

“Lho, memangnya untuk jadi miskin engga ada syaratnya?” kata ayah Heru sambil tertawa karena melihat wajah anaknya kebingungan.

“Pak, kalau untuk menjadi miskin pake harus ada syaratnya segala, aku lebih suka tidak memenuhi syarat itu!” kata Heru sambil memukul-mukulkan ujung telunjuknya ke dinding anyaman bambu.

“Terus, apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku…” Heru gelagapan. “Aku… pokoknya, aku engga mau jadi miskin!”

“Kalau engga mau jadi miskin, berarti kamu harus kaya!”

“Ya iya laaah!”

“Tapi, kenyataannya, sekarang kamu… miskin!”

“Itu bukan pilihanku!”

“Lalu, pilihan siapa?”

“Karena aku anak Bapak, tentunya itu… pilihan Bapak.”

Ayahnya terdiam. Dan Heru merasa bersalah. Tapi…

“Mungkin kamu benar, Her!” kata ayahnya kemudian. “Kita menjadi miskin karena pilihan Bapak. Tapi… sebenarnya, Bapak ini menjadi miskin karena kejahatan orang lain… yang tidak memberikan hak-hak Bapak.”

Heru mengerti maksud ayahnya. Ayahnya sebenarnya mempunyai banyak harta warisan, tapi semua ditahan atau dirampas oleh sudara-saudaranya yang tidak bersikap adil terhadapnya.

“Seharusnya Bapak menuntut semua hak Bapak!” kata Heru.

“Kalau mau, Bapak sudah melakukannya sejak dulu.” Kata ayahnya dengan suara lirih.

“Lalu, kenapa engga mau?”

“Waktu itu, Bapak engga tahu caranya, dan engga ada yang memberi tahu. Selain itu, kekecewaan Bapak karena kehilangan warisan, tertutup oleh kekecewaan karena kehilangan teman seperjuangan dan… ibu. Tapi, itu masa lalu, Her. Bukan sesuatu yang harus kamu pikirkan, apalagi kamu ratapi.”

“Bapak benar. Aku juga engga mikirin itu kok. Yang aku pikirin sekarang adalah pertanyaan si Adi…”

“Pertanyaan tentang apa?”

“Apa hubungan agama dengan kemiskinan?”

“Maksudmu agama kita, kan? Agama Islam kan?”

“Ya iya lah, Pak! Buat apa mikirin agama lain?”

Ayahnya berdehem. Kemudian terdiam agak lama.

“Kalau saja orang tahu…” kata ayah Heru kemudian.

Heru menunggu.

“Sebenarnya Islam itu, Al-Qurãn itu, … diturunkan justru untuk melenyapkan kemiskinan.”

Ayah Heru terdiam sebentar. Kemudian katanya, “Bukan kemiskinan hakiki, tapi kemiskinan struktural.”

“Apa itu kemiskinan hakiki, dan kemiskinan struktural?” kejar Heru.

“Kalau kamu lahir dalam keadaan cacat fisik dan atau mental, di tengah keluarga yang miskin, sehingga kamu tidak bisa berbuat apa-apa, dan keluargamu tidak bisa membantu apa pun, maka kamu adalah orang miskin hakiki. Orang yang benar-benar miskin. Sebaliknya, bila kamu lahir sebagai manusia normal secara fisik dan mental, di tengah keluarga miskin, sehingga kamu tidak bisa bersekolah, tidak punya akses ke dunia ilmu, padahal negaramu secara sumber daya alam adalah kaya raya, maka kamu adalah orang yang miskin secara struktural. Artinya, kamu dibuat miskin oleh negara, atau – tepatnya – dibuat miskin oleh sistem yang berlaku dalam negaramu!”

“Ooo, begitu… Terus bila dihubungkan dengan agama kita? Tadi kan Bapak bilang agama kita diturunkan justru untuk melenyapkan kemiskinan struktural?”

“Ya! Kemiskinan struktural itu, dengan kata lain, adalah terjadinya diskriminasi kelas. Terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Orang menjadi kaya atau miskin, karena memang mereka sudah dikelas-kelaskan untuk menjadi kaya dan miskin. Pengkelasan itu berlaku secara sosial, politik, ekonomi, dan hukum.”

“Siapa yang membuat diskriminasi itu?”

“Siapa ya? Bapak engga tahu! Tapi, kalau mau diusut ke pangkal sekali, … mungkin yang pertama kali melakukan diskriminasi kelas itu adalah Iblis!”

“Iblis? Bagaimana ceritanya?”

“Kamu bisa lihat di surat Al-Baqarah ayat 30-39, dan surat Al-A’raf ayat 11-25, antara lain.”

“Inti ceritanya?”

“Intinya, yang berhubungan langsung dengan diskriminasi kelas itu, adalah ketika Iblis menolak bersujud kepada Adam, karena dia merasa lebih baik dari Adam. Katanya, dia terbuat dari api, sedangkan Adam dari tanah! Dengan kata lain, Iblis berpandangan bahwa api lebih baik dari tanah.”

“Tapi, kenapa pula Allah menyuruh Iblis bersujud kepada Adam? Bukankah itu berarti menempatkan Iblis lebih rendah dari Adam?”

“Haha! Kamu harus mengkaji Al-Qurãnnya secara langsung untuk mendapatkan jawaban yang tepat! Dan untuk itu, kamu harus memiliki seperangkat ilmu yang dikenal sebagai ilmu alat.

“Kalau Bapak sudah mempelajarinya, kenapa tidak Bapak hidangkan saja hasilnya?”

“Haha! Dasar instant minded! Kecenderungan seperti itulah yang membuat pemahamanmu tentang agama menjadi dangkal, Her!”

“Oke dech, Pak. Nanti Bapak ajarin aku ilmu alat itu. Sekarang Bapak jelaskan aja dulu kenapa Allah menyuruh Iblis sujud kepada Adam?”

“Gampangnya, karena kamu minta gampanya saja, perintah sujud itu adalah semacam trick untuk menguji mental Iblis!”

“Jelasnya?”

“Kalau Iblis rendah hati, punya rasa hormat dan kepatuhan terhadap Tuhannya, tanpa reserve, tanpa batas dan tanpa syarat, maka ia akan bersujud…”

“Tapi, Pak…”

“Nah, sikap seperti itulah yang ada pada Iblis waktu itu! Kalau diperintah, selalu mendahulukan bantahan, bukan kepatuhan…”

“Ah, Bapak! Mosok anaknya disamakan dengan Iblis…” protes Heru, disusul tertawa ayahnya.

“Sifat Iblis bisa menjadi sifat kita, Her! Jangan lupa itu!”

“Iya sih…”

“Dan kenyataanya, kebanyakan manusia memang lebih suka mewarisi sifat Iblis. Salah satu hasilnya, yang paling menonjol, adalah sifat merasa lebih baik dari orang lain, yang hasilnnya, antara lain… yaa diskriminasi kelas itu.”

“Yang menghasilkan kemiskinan struktural itu?”

“Ya!”

“Terus, Islam diturunkan untuk menghilangkan kemiskinan struktural itu?”

“Iya?”

“Dengan cara?”

“Kamu bisa baca sejarah Nabi!”

“Engga bisa Bapak jelaskan secara lisan?”

“Bisa! Tapi Bapak ingin kamu menjadi teman diskusi, bukan hanya pendengar. Untuk itu, kamu harus mengisi otakmu dengan bahan yang cukup banyak!”

Heru menganguk-angguk.

Beberapa menit kemudian, suara adzan maghrib pun berkumandang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: