Doa Pengemis

Setiap bertemu pengemis, atau pengamen, saya selalu takut. Takut kalau-kalau saya sedang diuji. Ada sebuah hadis yang cukup mempengaruhi saya, dan anda tentu boleh percaya atau tidak. Boleh mempertanyakan hadis itu shahih atau tidak. Boleh menyoal apakah hadis itu harus dipahami secara harfiah atau majasi. Pokoknya,  saya terpengaruh olehnya.

Di dalam hadis itu, ada cerita bahwa Allah nanti akan menanyai saya, “Hai, Husein! Aku pernah datang kepadamu dalam keadaan lapar, tapi kamu tidak mau peduli. Kenapa?”

Saya lalu menjawab, “Ya Allah, kapan Anda datang menemui saya dalam keadaan lapar?”

Kata Allah, “Aku datang diwakili seorang pengemis, dan kadang seorang pengamen!”

Pemikiran imajinatif seperti itulah yang membuat saya selalu merasa sedang diuji ketika berhadapan dengan pengemis atau pengamen.

Selain itu, bila bertemu mereka, saya juga selalu berpikir bahwa uang yang saya berikan, misalnya hanya 500 rupiah, itu tak cukup berarti bagi saya. Tapi bagi mereka, uang itu sangat berarti.

Ya, ya tentu sangat berarti. Apalagi bila anda selalu berpikir dengan logika matematis, tanpa  perasaan. Anda akan berpikir bahwa uang 500 rupiah itu bisa menjadi 50 ribu, bila dalam sehari sang pengemis mendapatkan uang logam 500an dari sedikitnya 100 orang. Bila 50 ribu dikalikan dengan 30 hari, maka seorang pengemis bisa mendapatkan ‘gaji’ sebanyak 1,5 juta sebulan, hanya dengan meratap dan menadahkan tangan. Dan, biasanya, bila anda sudah berpikir demikian, rasa kasihan kepada sang pengemis pun hilang. Anda tak mau masuk ke dalam kelompok 100 orang itu! Bahkan anda tak mau membuat pengemis itu menjadi kaya (?) dengan menjadi orang ke-101, apalagi ke-1000 yang menyumbangkan dana sebanyak 500 rupiah.

Tapi itu terserah anda. Anda bahkan bisa menggunakan HAM sebagai dalil untuk memberi atau tidak memberi.

Tapi saya, tanpa harus merasa lebih baik dari anda atau siapa pun, selalu terpengaruh oleh cerita dalam hadis itu. Saya selalu takut bahwa saya sedang diuji Allah dan gagal. Dan bila anggapan tentang ujian itu sama sekali hanya ilusi saya, toh saya hanya kehilangan 500 rupiah. Tapi, dari sisi lain, saya menganggap perasaan ini sebagai hasil dari proses bercocok-tanam nilai-nilai agama selama puluhan tahun, yang hasilnya – pada bidang kognitif otak saya – adalah sebuah bangunan kesadaran ilmiah, dan – pada bidang afektif otak saya – nilai-nilai yang saya pelajari itu telah merasuk ke dalam perasaan. Saya bersyukur bila itu benar, dan berharap itu bukan sebuah khayalan atau sebentuk ge-er. Na’dzu billahi min dzalik(a)!

***

Suatu hari, ketika berjalan pulang dari rumah seorang teman, saya melihat dua orang wanita pengemis sedang berteduh di samping sebuah gedung tinggi, di pinggir jalan. Selagi jarak saya dengan mereka masih sekitar tiga meteran, mereka sudah serentak menadahkan tangan. Saya – dengan rasa malu di hati! – mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celana, dan memilih yang nilainya paling kecil. Dan ternyata nilai yang paling kecil itu adalah 5 ribu rupiah.

“Ini untuk berdua ya!” kata saya sambil menyodorkan uang itu kepada mereka.

Alangkah senangnya mereka menerima uang itu! Sementara hati saya masih merasa malu, karena yang saya berikan adalah uang yang paling kecil. Padahal, bagi saya – al-hamdu lillah – untuk mendapatkan uang 500 ribu, misalnya, bukan soal yang sulit.

Saya terus berjalan, masuk ke sebuah gang. Entah berapa menit kemudian, di sebuah belokan, saya berpapasan lagi dengan kedua wanita pengemis itu! Dan, lagi-lagi, salah seorang di antara mereka menyapa ramah, mengucapkan terimakasih, dan melantunkan doa, “Semoga Bapak banyak rejeki dan panjang umur!”

Saya tertawa. Dan kemudian saya pun berjalan sejajar dengan mereka. Pada saat itu, muncul lah kebiasaan nakal saya. Saya bilang kepadanya, “Buat apa banyak-banyak rejeki? Nanti malah jadi beban di pengadilan akhirat! Terus, kalau Ibu berdoa supaya saya panjang umur, apakah Ibu juga mau diberi panjang umur?”

“Ya tentu maulah, Pak! Siapa sih yang engga mau panjang umur?”

“Benar-benar Ibu mau berumur panjang, walau seumur-umur jadi pengemis?” kata saya. Kali ini saya bukan hanya nakal, tapi sudah keterlaluan. Dan kedua wanita itu tampak gelagapan.

“Yaa kalau sudah nasib, terima aja lah Pak,” kata salah seorang dari mereka.

“Nasib? Atau takdir? Atau kehendak Tuhan? Apakah Tuhan menghendaki Ibu jadi pengemis? Tidak, Bu. Saya kira, menjadi pengemis itu adalah pilihan Ibu. Dan tentu Ibu-ibu juga bisa memilih untuk berhenti jadi pengemis.”

“Jadi apa, Pak? Apakah Bapak bisa menolong saya dan teman saya ini?”

“Hm, sayang sekali, saya tidak bisa menolong! Tapi saya lihat Ibu-ibu ini punya badan yang masih cukup kuat dan sehat. Bila anda berdua menabung, dalam setahun mungkin sudah punya modal untuk berjualan sayur!”

Perbincangan terputus karena saya harus berbelok ke arah kiri, dan mereka ke arah kanan.

Sampai saat ini, setelah beberapa minggu berlalu, saya tidak tahu apa pengaruh percakapan itu bagi mereka.

Tapi saya selalu teringat doa mereka, khususnya doa panjang umur itu. Sebuah doa yang tentu sering mereka ucapkan kepada setiap orang yang memberi mereka uang.

Seperti kata mereka, semua orang (?) pasti ingin berumur panjang. Tapi tentu tidak banyak orang yang nyaman berumur panjang bila harus menjalani kehidupan sebagai pengemis, pengamen, gembel, dan sebagainya. Karena itulah, harapan berumur panjang selalu dipadu dengan harapan banyak rejeki, yang tak lain berupa harta. Padahal, harta juga bisa menjadi penyebab orang pendek umur. Dan, kata Rasulullah, kecintaan manusia terhadap ‘dunia’ (harta benda dengan segala implikasinya) dan ketakutan pada kematian, bisa menimbulkan penyakit pengecut, alias takut berjuang untuk menegakkan ajaran Allah.

Keinginan manusia untuk berumur panjang dan banyak rejeki, pada hakikatnya adalah sebuah ilusi tentang keabadian dan kenikmatan. Seiring dengan kenyataan bahwa tak ada manusia yang berumur lebih panjang dari kura-kura (yang bisa hidup ratusan tahun!), keinginan berumur panjang adalah omong kosong. Dan, otomatis, bila umur kita tidak bisa lebih panjang dari 100 tahun, misalnya, maka kesempatan untuk menikmati rejeki yang banyak pun tak bisa lebih lama dari itu.

Umur adalah ajal (ruang dan waktu) yang membuat jarak antara kita dengan maut. Dan sejauh apa pun jarak itu, maut terus berjalan mendekat, tak kenal lelah dan tanpa jeda. Padahal kita, selain bisa lelah, juga bisa diserang penyakit, yang membuat upaya pelarian dari maut menjadi semakin mustahil. ∆

Comments
One Response to “Doa Pengemis”
  1. jadi inget si Olga,hihiii sekate-kate tuchh..orang !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: