Hari Kita Masih Kelabu (10)

Sepuluh

 

“Saya belum selesai bicara, Pak!” kata Adi yang tiba-tiba menjadi marah. Matanya menatap galak ke arah sang wakil kepala sekolah. “Saya tahu bahwa Bapak memang sudah berbuat baik pada saya. Tapi apakah karena itu Bapak lantas bisa berbuat sewenang-wenang terhadap saya? Apakah karena itu Bapak lantas merasa berhak memperlakukan saya seperti seorang narapidana?…”

***

            Adi berwajah ganteng dan berambut lebat. Sayang, rambutnya beruban. Karena itu di sekolahnya dia dipanggil Adi uban, untuk membedakannya dengan Adi yang lain. Kadang-kadang nama Adi pun dipelesetkan jadi “Aki” alias kakek.

Orangtua beruban mungkin keren dan berwibawa. Tapi anak kecil beruban? Adi sering menderita karena jadi bahan ejekan.

“Rambut elu tuh kurang vitamin tau?” kata seorang temannya.

“Yaa badannya aja kurang vitamin, gimana rambutnya engga kurang vita-min?” tambah yang lain.

“Bukan, bukan kurang vitamin. Yang gua denger sih katanya dia banyak mikir?”

“Iya, dia banyak mikir, tapi mikirnya yang ngeres-ngeres!”

Mereka tertawa, merasa geli dengan lelucon sendiri, sementara Adi hanya bisa tersenyum kecut.

Suatu hari, Adi main di rumah salah seorang temannya. Entah bagaimana caranya, sang teman mampu meyakinkan Adi bahwa kepalanya harus dicukur gundul, supaya nanti bisa tumbuh rambut hitam tanpa uban.

Setelah rambutnya gundul plotos, mereka baru sadar bahwa di sekolah ada peraturan yang melarang mereka berkepala gundul. Adi mendadak panik dan bingung. Begitu juga temannya yang telah membabat rambut Adi dengan silet.

“Tenang, tenang!” kata temannya kemudian, yang dirinya sendiri merasa tidak tenang. Ia merasa baru melakukan kesalahan besar. Apa yang akan dilakukannya?

Sang teman mencuri wig (rambut palsu) kakak perempuannya, yang kemudian diberikannya kepada Adi.

Walau merasa ganjil, Adi membawa pulang wig itu.

“Elu bego apa gila?” kata Heru setelah mengetahui keadaan Adi.

“Gua pengen ngilangin uban gua, Her.”

“Tapi jangan digundulin sekarang doong. Elu tunggu waktu libur panjang kek!”

“Gua khilaf,” kata Adi lemas.

“Khilaf, khilaf… Orang tuh kalo mau berbuat apa-apa harus mikir, jangan ngasal!”

“Udah doong, jangan ngomel melulu. Sekarang mendingan elu bantuin gua ngerapiin wig ini.”

“Gimana caranya?”

“Elu kan suka belajar motong rambut sama bokaplu…”

Heru segera mengerti maksud Adi. Ia segera meminjam alat cukur ayahnya untuk membentuk wig itu sedemikian rupa, supaya besok bisa dipakai Adi ke sekolah.

Tapi rupanya itulah awal bencana bagi Adi.

Kedatangannnya ke sekolah dengan rambut palsu segera disambut teman-teman sekelas dan tidak sekelas dengan kegemparan. Adi pun digiring gurunya meng-hadap kepala sekolah.

Ternyata yang ada di ruang kepala sekolah adalah wakil kepala sekolah, orang yang selama ini kurang disukai Adi dan banyak anak-anak, walau sebenarnya orang ini pernah berbuat baik pada Adi.

Begitu mendapat laporan tentang Adi, wakil kepala sekolah segera menyuruh guru Adi keluar. Setelah itu, tanpa ba-bi-bu lagi orang itu lantas saja melayangkan tangannya ke wajah Adi. Adi merasakan pandangan padanya menjadi gelap dan ia terhuyung-huyung, hampir jatuh, kalau tidak segera terpegang olehnya sebuah lemari.

“Dasar tidak tahu diri! Banyak tingkah. Sok pintar. Sok kaya. Kamu itu kan anak orang miskin. Anak orang kaya saja tidak ada yang berlagak seperti kamu.”

Adi tertunduk, dengan telinga yang panas dan perasaan terkoyak.

“Jangan menunduk. Lihat saya!” bentak wakil kepala sekolah kemudian, tanpa menyuruh Adi duduk.

Adi menegakkan kepalanya.

“Kenapa kamu menggunduli kepalamu?”

Adi menjelaskan segalanya, dengan kalimat terputus-putus.

“Dasar goblok! Engga punya otak! Terus setelah gundul, kenapa kamu pakai rambut palsu?”

“Karena saya sadar bahwa sekolah tidak mengijinkan murid-murid mencukur rambut sampai botak,” kata Adi.

“Dasar goblok! Apa kamu engga tahu bahwa kamu jadi melakukan dua kesalahan?”

Adi tidak menjawab.

“Kamu tahu apa hukuman untuk menggunduli kepala?”

“Tidak tahu, Pak.”

“Kamu diskors, tidak boleh masuk sekolah selama seminggu.”

“Saya terima hukuman itu, Pak…”

“Dan kamu tahu apa hukuman memakai rambut palsu?”

“Tidak tahu, Pak…”

“Kamu dikeluarkan dari sekolah ini!”

Adi tersentak, lalu memandang sang wakil kepala sekolah beberapa saat tanpa berkedip, sehingga orang itu jadi agak gugup.

“Kenapa… kenapa saya harus dikeluarkan, Pak?”

“Kamu tidak boleh jadi preseden! Tahu preseden?”

Adi menggeleng.

“Dasar goblok. Sudah goblok bertingkah lagi. Saya tidak mau kamu jadi preseden, yang nanti akan diikuti anak-anak lain. Kelakuanmu tidak boleh dicontoh orang lain. Mengerti?”

Adi mengangguk.

“Nah, sekarang kamu pergi…”

“Tapi… Pak, … benarkah saya dikeluarkan?”

“Kamu pikir saya main-main? Lagi pula, seharusnya kamu dikeluarkan sejak dulu. Kamu tahu kan, bahwa kamu bisa bertahan sekolah di sini karena bantuan saya?”

Kata-kata yang terakhir itu terasa lebih menyakitkan dari tamparan.

Adi ingat. Orang ini memang pernah berjasa kepadanya. Sebagai anak orang miskin, Adi sering terlambat membayar uang SPP. Ia sering menunggak selama ber-bulan-bulan, dan karena itu ia dan orangtuanya sering harus menghadap kepala seko-lah untuk membuat berbagai macam perjanjian, yang intinya adalah keharusan untuk membayar uang SPP tepat pada waktunya. Tapi perjanjian itu selalu saja dilanggar. Bapak Adi sering menggunakan uang SPP Adi untuk membeli obat. Akhirnya orang ini tampil sebagai pahlawan, mengusahakan agar Adi dibebaskan dari kewajiban membayar SPP. Tentu saja Adi sangat berterimakasih. Tapi masalahnya, sejak saat itu Adi masuk sekolah seperti masuk rumah tahanan, dan orang ini adalah sipirnya. Angka-angka Adi selalu disorot, dan begitu juga perilakunya sehari-hari. Bila Adi melakukan sedikit saja kesalahan, tepatnya apa yang dianggap orang ini sebagai kesalahan, maka Adi segera dipanggil dan diceramahi. Kadang-kadang ia langsung saja mencaci-maki, menjewer kuping, atau mejambak rambut Adi.

“Saya sangat berterimakasih atas kebaikan Bapak…” kata Adi.

“Saya sama sekali tidak melihat bahwa kamu berterimakasih. Saya melihat justru …”

“Saya belum selesai bicara, Pak!” kata Adi yang tiba-tiba menjadi marah. Matanya menatap galak ke arah sang wakil kepala sekolah. “Saya tahu bahwa Bapak memang sudah berbuat baik pada saya. Tapi apakah karena itu Bapak lantas bisa berbuat sewenang-wenang terhadap saya? Apakah karena itu Bapak lantas merasa berhak memperlakukan saya seperti seorang narapidana? Saya tahu bahwa Bapak telah berbuat baik kepada saya, tapi apakah setiap saat Bapak boleh mengungkit-ungkitnya, seolah-olah saya telah mencuri uang Bapak? Kenapa Bapak selalu menyebut-nyebut sebuah kebaikan yang sebenarnya memang layak dilakukan kepada orang miskin seperti saya?”

“Diam kamu, anak brengsek!” orang itu tidak mau terpukau terlalu lama. Ia menggebrak meja dan berdiri. Sikapnya garang seperti mau menerkam. Tapi kini Adi tidak merasa gentar. Ia pun telah bersikap seperti macan yang siap tempur pula.

“Tamparlah kalau Bapak mau menampar saya lagi. Ayo!”

“Pergi kamu, Brengsek. Pergi!” orang itu berteriak sambil menunjuk pintu.

Adi menatapnya sejenak, lalu memutar badan, dan berjalan keluar.

Setelah mengambil tas sekolahnya di kelas, Adi pun langsung pulang.

Sampai di rumah, Heru terheran-heran melihat temannya pulang cepat dengan wajah yang begitu muram.

“Gua dipecat dari sekolah, Her,” kata Adi setelah melepas sepatu dan kemu-dian membaringkan badan. Setelah itu, sebelum Heru bertanya, ia segera menceri-takan sebab-sebabnya secara panjang lebar.

“Brengsek. Bener-bener brengsek!  Kenapa sih di sekolahan kok ada orang seperti itu?” Pikiran Heru terpusat pada wakil kepala sekolah Adi.

“Gua adalah korban dia yang kedua,” kata Adi.

“Maksud elu?”

“Elu inget Jenal engga?” Adi balik bertanya.

“Jenal?”

Heru teringat seorang pemuda berbadan kurus dengan rambut panjang tidak beraturan dan suka bergaul dengan anak-anak gelandangan. Banyak orang menge-nalnya sebagai anak berandalan yang perlu diwaspadai, agar anak-anak mereka tidak bergaul dengannya.

“Jenal anak nakal itu?” tanya Heru setelah beberapa menit terdiam. “Kenapa dia?”

“Dia dulu sekolah di sekolah gua, dan juga dikeluarin sama orang yang itu juga …”

“Tapi dia memang nakal kan?”

“Jenal memang nakal. Tapi siapa yang peduli kenapa dia jadi nakal? Dia punya ayah tiri yang jahat, dan ibu yang engga peduli masalah-masalah dia. Itu sebabnya dia nakal di rumah dan di sekolah. Suatu hari dia lempar kaca jendela sekolah pake batu. Lalu dia dikeluarin.”

“Kenapa dia lempar kaca jendela?”

“Karena dia ditampar sama orang itu, wakili kepala sekolah itu, yang di zaman Jenal masih jadi guru biasa.”

“Elu tahu cerita itu dari siapa?”

“Dari Jenal sendiri. Waktu gua masih kelas 5 SD.”

Heru mendesah.

“Kadang gua bingung,” kata Heru kemudian. “Kenapa ada guru seperti itu?”

“Sejak di SD, gua udah ketemu guru-guru brengsek!” kata Adi. “Ada guru yang suka marah-marah, ringan tangan, suka memaki-maki…”

“Ada juga yang cengeng,” kata Heru.

“Cengeng gimana?”

“Dulu waktu kelas lima SD, gua punya guru agama yang masih muda. Guru baru. Setiap ngajar dia selalu bilang kalo dia itu penerus perjauangan para rasul yang menyampaikan ajaran Allah kepada manusia. Tapi, engga lama kemudian dia me-ngundurkan diri, karena katanya anak-anak yang mau dididiknya menjadi manusia beriman itu terlalu nakal, engga mau peduli apa yang dia ajarkan. Gua sering ketawa sendiri kalo lagi inget dia.”

“Tadi elu bilang orangnya masih muda.”

“Iya. Sekitar dua limaan. Tapi dia kan guru. Guru agama lagi. Masa dia mengundurkan diri dengan alasan seperti itu.”

“Tapi, Her, gua liat di sekolah anak-anak emang engga peduli sama ajaran agama.”

“Gua pikir sih karena cara ngajarnya yang salah. Engga menarik. Elu perhatiin aja. Guru-guru agama itu kan kebanyakan cuma ngumbar nasihat, atau ngedongeng. Anak TK sih seneng aja kali didongengin. Tapi anak SMP…”

“Iya juga sih. Tapi, gua pikir orangtua mereka juga kayaknya engga peduli sama agama deh…”

“Mungkin pada sibuk nyari duit…”

“Mungkin juga ada yang selalu kesulitan duit seperti kita?”

“Mungkin…”

Akhirnya mereka berdua tertawa.

“Tapi, eh, ngomong-ngomong, apa hubungannya agama sama duit? Atau, tepatnya, apa hubungannya agama sama kemiskinan?”

“Wah, pertanyaan berat tuh! Gua harus tanya Bokap!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: