Hari Kita Masih Kelabu (9)

Sembilan

 

Perasaan yang tidak jelas itukah yang bernama firasat? Tidak jelas? Bukankah ia ‘seperti’ tahu bahwa sepedanya akan hilang? Siapa yang memberi tahu? Allah? Apakah firasat itu merupakan tanda bahwa Allah mengadakan hubungan (komunikasi) dengan manusia? Tapi, mengapa informasi yang diberikanNya tidak berupa isyarat-isyarat yang jelas?

 

***

 

Baru pukul dua siang, Adi sudah pulang dari sekolah.

“Kok udah pulang?” tanya Heru.

“Ada masalah,” keluh Adi.

“Elu yang bikin masalah?”

“Iya ‘kali. Kemaren celana biru gua yang semata wayang ini nyangkut di paku. Sobek! Terus gua tambal pake kaen putih yang gua warnain spidol biru. Guru gua marah, karena dia pikir gua bertingkah, bikin mode yang engga keruan.”

Heru mendesah. Adi duduk di tempat tidur, dan menggantungkan tasnya di punggung. Kakinya ia hentak-hentakkan di lantai tanah. Kemudian ia menggigit-gigit bibir bawahnya, seperti berusaha menahan tangis. Sesaat kemudian ia melempar tasnya ke sudut, melepas sepatunya, dan membaringkan badannya. Belum lima menit, ia sudah bangun lagi. “Gua dapet firasat jelek, Her,” katanya.

“Alaa, ngomong firasat segala. Kayak orang alim aja!” cetus Heru.

“Kejadian ini cuma permulaan, Her,” Adi tak peduli kata-kata Heru.

“Permulaan apa?”

“Permulaan kejelekan yang bakal terjadi sama gua.”

“Ah, elu kalo punya khayalan mendingan tulis aja!”

“Ini firasat, bukan khayalan!”

“Apa sih firasat itu? Kodok buduk apa setan belang?”

“Elu engga percaya firasat?”

Heru terdiam. Heru ingat, dulu ia dibelikan sebuah sepeda mini oleh kakak-nya. Ketika bermain dengan teman-temannya, Heru tiba-tiba berkata, “Heran gua; rasanya gua kok cuma bisa maenin sepeda ini sampe hari ini doang…”

“Kenapa? Emangnya besok mau dijual lagi sama kakak elu?” tanya salah seorang temannya.

Esoknya ternyata Heru masih bisa menggunakan sepeda itu.

Sore itu, sekitar pukul empat, Heru bersepeda sendirian, keluar dari kampung kober, membelah tanah gusuran, bentangan tanah merah seluas puluhan hektar yang bergunung-gunung, yang nanti akan dijadikan kompleks perumahan mewah. Heru memotong Jalan Prapanca, masuk Jalan Brawijaya, melintasi perumahan PERURI (Percetakan Uang Republik Indonesia), terus berkeliling, sampai akhirnya ia berhenti untuk menyaksikan anak-anak SMA Pangudi Luhur bermain voli.

Belum lama ia duduk menonton di atas sepeda mininya, tiba-tiba seorang pemuda tampan bertubuh kurus menghampirinya.

“Saya sedang mencari gedung PTIK,” katanya.

“Di sana!” kata Heru sambil menunjuk ke sebuah arah.

“Jauh ya?”

“Engga!”

“Tapi, saya sudah cape nyari. Bisa tolong antar? Nanti saya upahin deh.”

Heru tidak tertarik dengan tawaran upahnya. Ia hanya kasihan pada orang itu, yang mungkin berasal dari tempat jauh dan sudah mencari alamat PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) cukup lama.

Heru membiarkan orang itu mengendarai sepedanya, sementara ia duduk di belakang, membonceng.

Setelah sampai di gedung PTIK, orang itu tidak mau masuk dari pintu depan. Ia mengayuh sepeda ke arah belakang gedung itu. Begitu sampai di pagar belakang, terbentanglah sebuah hamparan tanah berlapis rumput hijau, cukup luas. Orang itu kemudian mengeluarkan selembar kertas bertulisan sebuah nama. “Tolong kamu masuk, tanyakan nama orang ini,” katanya.

Seperti kerbau dungu, Heru menurut saja perintah orang itu. Ia masuk dari sebuah pintu, terus berjalan membelah lapangan hijau itu. Setelah bertemu seorang wanita, ia menanyakan nama yang tertulis itu. Tapi, sekitar lima orang yang dijumpai di situ, tak seorang pun mengenal nama itu. Heru pun balik badan untuk kembali kepada orang yang ditolongnya.

Begitu keluar dari lingkungan gedung PTIK bagian belakang itu, orang yang ditolongnya sudah lenyap.

Heru baru sadar bahwa orang itu penipu.

Sekarang, di hadapan Adi, yang mempertanyakan firasat, Heru tertegun. Pera-saan yang tidak jelas itukah yang bernama firasat? Tidak jelas? Bukankah ia ‘seperti’ tahu bahwa sepedanya akan hilang? Siapa yang memberi tahu? Allah? Apakah firasat itu merupakan tanda bahwa Allah mengadakan hubungan (komunikasi) dengan manusia? Tapi, mengapa informasi yang diberikanNya tidak berupa isyarat-isyarat yang jelas?

Ah, bodohnya aku, pikir Heru. Bukankah sudah jelas ia merasa akan kehilangan sepedanya? Kenapa ia tidak berhati-hati?

Waktu itu usia Heru 13 atau 14 tahun. Pengalaman pertama kali ditipu itu sulit dilupakan. Kecewa, sebal, kesal, sakit, marah, malu… Ah, biar mampus deh tuh penipu!

Lalu, apa yang akan terjadi pada Adi?

“Gua makan dulu ah,” kata Adi sambil berjalan keluar kamar.

Heru masih duduk melamun, memeluk tangan di atas meja.

Selesai makan, Adi muncul lagi di hadapan Heru.

“Elu udah makan, Her?”

“Baru nanya sekarang! Mestinya dari tadi elu nanya dan ngajakin gua makan,” kata Heru.

Adi nyengir kuda. “Gua aja engga yakin kalo di rumah gua ada makanan; gimana mau ngajakin elu?” katanya.

“Ternyata ada, kan?” kata Heru lagi.

“Iya, tapi sedikit.”

“Lumayan, daripada engga ada.”

“Kalo gua kerja, mungkin keadaannya engga begini kali ya?” kata Adi sambil duduk di tempat tidur dan bersandar di dinding.

“Kerja? Kerja apaan?”

“Temen bokap gua butuh pembantu…”

“Terus sekolah elu?”

“Dia mau bayarin sekolah gua, tapi katanya gua harus sekolah malem.”

“Terus?”

“Bokap gua engga maksa sih. Lagian, gengsi bokap gua kan gede juga.”

Gengsi? Orang miskin masih bicara gengsi? Heru ingat keadan bapak Adi yang mengenaskan. Badannya sudah habis termakan penyakit paru-paru. Untunglah dia pegawai negeri, meski cuma sopir. Entah berapa lama ia hanya bisa tinggal di rumah, tapi setiap bulan ia masih bisa mengambil gaji. Tapi gajinya tak seberapa. Tidak cukup untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya yang banyak. Adi, anaknya terbesar, baru kelas tiga SMP. Adiknya masih ada empat orang, dan yang disekolahkan cuma dua orang yang masih kecil. Dua orang lagi, wanita, dibiarkan saja di rumah karena menyekolahkan mereka dianggap tidak terlalu penting.

Adi adalah harapan kedua orangtuanya. Kedua adiknya yang perempuan juga harapan. Tapi mereka lebih diharapkan untuk cepat besar dan kawin. Lebih bagus kalau bisa dapat suami yang cukup kaya.

Kedua orangtuanya mengharapkan agar Adi bisa sekolah terus, setidaknya sampai lulus SMA.

“Kayaknya sih ini kesempatan baik,” kata Heru kepada temannya. “Elu terima aja tawaran itu, supaya gaji bokaplu bisa digunain buat sekolah ade-ade elu.”

“Iya, gua pikir juga begitu. Tapi, engga tahu deh bokap gua.”

“Terima aja, Di. Ini bukan bukti firasat elu yang jelek itu kan?”

Adi terdiam. Matanya menatap lantai tanah yang pecah-pecah. Seekor semut tampak berjalan memanggul sesuatu, entah apa. Makhluk kecil yang perkasa itu kemudian menghilang di celah lantai yang pecah.

“Elu engga ngetik, Her?” Adi kemudian mengalihkan pembicaraan.

“Ngetik pake apa? Kan mesin ketiknya di rumah si Duloh.”

“Maksud gua nulis, nulis pake tangan.”

“Sebenernya gua pengen nerusin cerpen yang kemaren, tapi agak sulit.”

“Makanya kalo bikin cerpen jangan panjang-panjang doong.”

“Siapa tau jadi novel…”

Karena merasa tak ada yang bisa dikerjakan di rumah, Heru mengajak Adi pergi ke rumah Duloh. Adi tak menolak. “Kebetulan; gua udan kagen maen gitar,” katanya.

Heru mengira Duloh sedang mengetik. Tapi ternyata ia sedang main gitar.

“He, udah berapa halaman elu ngetik diktat bahasa Inggris?” tanya Heru.

“Baru dua!”

“Baru dua?” Heru terperangah. “Dan elu udah senang-senang maen gitar?”

“Cape, Her. Gua kan ngetiknya lama, engga kayak elu.”

“Ya udah, sini gua bentuin deh.”

“Nah, gitu doong. Itu baru temen!”

Heru mengetik, sementara Duloh dan Adi main gitar. Tapi, baru mengetik satu halaman, Heru merasa jemu. Akhirnya ia pun berkumpul dengan kedua temannya, ikut main gitar dan menyanyi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: