Wanita Arab Sekarang Boleh Menunggang Kuda

Wanita Arab boleh naik kita skr

Kita membaca dalam sejarah bahwa Aisyah, istri termuda Rasulullah, menjadi panglima dalam Perang Jamal (perang unta). Kemudian, entah sejak kapan, para wanita Arab dilarang berkuda. Tapi sekarang keadaan sudah berubah.

***

Obaid Ghidyar Al Dhaheri, pelatih menunggang kuda di Baniyas Equestrian Centre, mengatakan bahwa menunggang kuda bagi lelaki maupun wanita bermanfaat bagi kesehatan maupun menumbuhkan rasa percaya diri.

 

Ketika ia masih gadis remaja, para anggota keluarga Salama Al Saadi menertawakan impiannya untuk menjadi penunggang kuda.

Dan dia sering merengek pada ibunya, namun selalu gagal.

“Saya ingin mencoba, tapi mereka selalu menakuti-nakuti”, kata Al-Saadi (baca: as-sa’adi), yang kini berusia 22 tahun.

Sementara semua lelaki dalam keluarganya diijinkan naik kuda, ibu Al-Saadi percaya bahwa menunggang kuda tidak aman bagi para gadis, apalagi bila mereka melakukannya untuk berolah raga.

“Itu masalah kebudayaan,” kata Al Saadi.

“Tapi keinginan itu masih ada dalam otak saya,” katanya, yang percaya bahwa naik kuda dapat menumbuhkan rasa tanggung-jawab dan percaya diri. “Saya tak pernah putus asa. Saya tetap ingin menjadi penunggang kuda suatu hari.”

Bagi Dana Al Mutawa yang berusia 21 tahun, tidak sulit meyakinkan orangtuanya untuk mengijinkannya naik kuda. “Meski pada mulanya ayah saya tak mengijinkan, ia akhirnya membolehkan setelah tahu betapa besarnya keinginan saya,” katanya.

Al Mutawa, yang telah menunggang kuda selama tujuh tahun, menambahkah bahwa karena ia mempunyai saudara sepupu dan teman yang berolah-raga kuda, maka “hal itu membuat keluarga saya lebih mudah memberi ijin.”

Sementara ibunya senang melihatnya sebagai wanita aktif, ayahnya memberi melarangnya mengikuti pertandingan, karena terlalu makan waktu. Al Mutawa mengatakan bahwa pembatasan itu terjadi karena ia sering meninggalkan keluarganya. “Tapi saya tahu mereka akan mempertimbangkan hal itu, dan suatu hari mereka tak akan memaksa saya untuk berhenti (ikut pertandingan).”

Teman-temannya yang semula menentang hobinya, akhirnya ikut mendukung juga.

“Selama bertahun-tahun banyak gadis lokal terlibat dengan urusan perkudaan. Hal itu adalah sesuatu yang biasa dalam masyarakat kami,” katanya.

Merujuk pada tradisi agamanya, Al Mutawa berdalih bahwa kapan pun ia menunggang kuda, ia selalu menutup auratnya secara ketat.

“Dan saudara-saudara lelaki saya menemani saya bila saya ikut lomba berkuda,” tambahnya.

Al Mutawa percaya bahwa usaha keras adalah kunci untuk mewujudkan keinginan. “Saya bersikeras dengan keinginan saya, dan menjaga segala sesuatu dalam kehidupan saya tetap seimbang.”

Fatma Al Marri, 18, telah berkuda hampir selama sepuluh tahun. Ia mengatakan bahwa setiap orang dalam keluarganya pada awalnya menentang, sampai kemudian ibunya meyakinkan agar mereka membuka hati.

“Ibuku mengatakan, ‘Baik. Mengapa tidak?’, dan dia memberiku kesempatan,” katanya.

Al Marri percaya bahwa banyaknya orang menentang wanita berkuda hanyalah karena mereka beranggapan berkuda sebagai olahraga khusus lelaki yang membutuhkan banyak tenaga.

Hal itu tidak menghalangi Al Marri untuk muncul sebagai juara pada Piala Hari Nasional tahun lalu, serta meraih delapan trofi di berbagai kejuaraan lain. “Berkuda membuat anda fit, menghilangkan stres, dan melatih anta untuk menjadi kuat, “ katanya.

Obaid Ghidyar Al Dhaheri, pelatih berkuda berusia 35 tahun, yang melatih di Baniyas Equestrian Centre, telah melatih pria dan wanita selama lebih dari dua dekade. Ia mengatakan bahwa berkuda bermanfaat baik untuk pria maupun wanita, melatih mereka bukan hanya untuk menjadi fit, tapi juga membuat mereka percaya diri untuk mencapai apa yang bisa mereka capai.

“Mereka yang merasakan manfaatnya secara fisik dan mental, pasti tak akan berhenti,” kata Al Dhaheri says. Menurutnya, tak ada larangan budaya maupun agama untuk berkuda. “Mereka yang tidak tahu apa itu berkuda, tentu akan bicara macam-macam,” katanya pula. “Kita tidak bisa menyalahkan ketidak-tahuan mereka.”

Al Dhaheri berpesan agar para orangtua yang mengkhawatirkan putri-putri mereka mencari tahu sendiri ke tempat-tempat pelatihan berkuda yang disediakan khusus untuk wanita.”

“Berkuda sama sekali tidak membahayakan wanita,” tegasnya. “Sebaliknya, berkuda membantu mereka dalam banyak hal.”

***

Sumber: The National/Middle East Online/ By Ayesha Al Khoori – ABU DHABI

First Published: 2012-05-29

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: