Hari Kita Masih Kelabu (7)

Tujuh

 

“Kebersihan adalah bagian dari iman! Kebalikannya, tentu kejorokan adalah bagian dari kekafiran.”

            “Ah, elu ngarang aja, Her. Mentang-mentang pengarang.”

            “Siapa yang ngarang? Kalo elu udah biasa ngelakuin kejorokan kecil, entar elu coba juga kejorokan yang lebih besar. Begitu seterusnya, sampe akhirnya elu jadi manusia yang hidup serba jorok. Makan jorok, kerja jorok, cari cewek jorok,” kata Heru.

 

***

 

Heru ingin punya mesin ketik yang bunyinya tik tak tik tak ting! Tapi yang ada padanya kini adalah mesin ketik berbunyi jrug jrag jrug jrag der! Bukan main, berisik! Tapi ini adalah modalnya, temannya, harapannya, dan segalanya. Karena itu, walau semula terasa berisik, lama-lama Heru jadi terbiasa. Bahkan selanjutnya setiap ia mengetik yang terdengar hanyalah musik merdu dari segala khayal dan mimpinya untuk menjadi pengarang.

Sejak hari masih gelap, usai shalat subuh, Heru sudah mengetik; sementara Adi masih tidur melingkar seperti kucing. Bahkan setelah udara menjadi semakin terang Adi masih juga ngorok.

Heru jadi jengkel. Ditinggalkannya mesin ketik, lalu diguncangnya badan Adi sambil berseru-seru, “Di! Diiiii! Banguna doong! Udah siang banget tuh.”

Adi tak mendengar, atau pura-pura tak mendengar.

Heru berteriak, “Hoei! Elu mau bangun apa mau gua guyur?”

Adi menggeliat seperti ulat sirsak.

“Dasar pemalas!” dengus Heru.

“Jam berapa ini?” Adi melenguh seperti sapi, lalu berusaha duduk.

“Pake tanya jam segala. Kayak presdir aja. Mentang-mentang sekolah siang.”

“Kenapa elu ngomel sih, Her? Tinggal bilang aja jam berapa gitu!”

“Emang sejak kapan elu tau gua punya jam?”

“Elu kan bisa tanya orang lewat.”

“Gua emang tanya orang lewat tadi. Tapi itu sebelum gua ngetik tiga halaman. Sekarang mungkin udah jam dua belas.”

“Hah?”

Adi bergegas turun tempat tidur, lalu membuka pintu dengan cara hampir menubruknya. Ketika pintu terbuka, ternyata udara masih remang-remang.

“Dasar pembual!” umpatnya sambil balik ke tempat tidur, mengambil kain sarung yang digunakannya untuk mengelap matanya.

“Dasar jorok! Udah dipake ngelap belek, entar dipake solat lagi!”

“Biarin aja! Belek kan bukan najis,” sahut Adi.

“Yang najis itu sikap jorok elu, yang bisa ngerusak iman,” tembak Heru.

“Dalilnya apa?”

“Kebersihan adalah bagian dari iman! Kebalikannya, tentu kejorokan adalah bagian dari kekafiran.”

“Ah, elu ngarang aja, Her. Mentang-mentang pengarang.”

“Siapa yang ngarang? Kalo elu udah biasa ngelakuin kejorokan kecil, entar elu coba juga kejorokan yang lebih besar. Begitu seterusnya, sampe akhirnya elu jadi manusia yang hidup serba jorok. Makan jorok, kerja jorok, cari cewek jorok,” kata Heru.

“Wah, serem juga,” kata Adi sambil bergegas ke kamar mandi.

Sepeninggal Adi, Heru termenung. Ia ingat salah seorang teman yang mulai dikenalnya dalam pertemuan kebetulan di sebuah kantor redaksi majalah. Namanya unik: Hardsayo. Seorang penyair muda, sebaya Heru, yang namanya sering terpan-cang di rubrik-rubrik puisi majalah remaja. Katanya nama itu adalah akronim dari kalimat bahasa Inggris:  It’s hard to say it to you. Entah kalimatnya benar atau salah. Yang jelas, kalimat itu dulu diucapkan ayahnya kepada ibunya, sebelum mereka menikah. Maksudnya, si ayah sulit untuk mengatakan “itu” (cinta!) kepada cewek yang ditaksirnya, yaitu ibu si Hardsayo.

Keluar dari kantor majalah tersebut, mereka setuju untuk sama-sama cari buku di perpustakaan umum. Kebetulan keduanya sama-sama menjadi anggota perpustakaan umum Jakarta Pusat. Hampir sepanjang jalan, Hardsayo berkali-kali menoleh ke arah Heru, menyapu sekujur tubuh Heru dari atas ke bawah.

“Ada apa sih elu ngeliatin gua seperti itu?” tanya Heru.

“Gua heran aja ngeliat penampilan elu. Seniman kok rapi banget. Kayak orang kantoran aja!” kata Hardsayo.

Heru jadi kikuk. Ia merasa pakaiannya biasa-biasa saja. Tidak bagus, karena tak punya yang bagus. Tapi memang bersih dan rapi, karena disetrika oleh ibunya. Sebaliknya, Hardsayo tampak berpakaian seenaknya. Baju dan celananya agak kotor, dan rambutnya seperti jarang disisir, dan mungkin juga jarang dikeramas.

“Apakah seniman harus identik dengan kekumuhan?” tanya Heru ketika mereka sampai di perpustakaan dan mulai mencari-cari buku.

“Engga juga sih,” kata Hardsayo sambil mencari tempat duduk. Di tangannya sudah terpegang tiga buah buku. Heru yang hanya memegang sebuah buku, duduk di hadapan teman barunya itu.

“Terus, menurut elu, penampilan gua ganjil ya?” Heru tampak penasaran.

“Iya lah!”

“Emang kenapa?”

Hardsayo tertawa, semakin membuat Heru penasaran.

“Her!” katanya kemudian. “Seniman itu adalah orang yang berbaur dengan masyarakat, dan terutama masyarakat kecil. Seniman harus menyuarakan penderitaan mereka melalui karya-karyanya. Dan untuk bisa menghasilkan karya-karya yang baik, seniman harus benar-benar menyatu dengan rakyat, menjadi bagian dari mereka. Karena itu, otomatis kan kalo penampilannya harus kayak gua? Kalo kayak elu, tampil seperti orang borju, seperti priyayi, pegawai kantoran, mereka engga mau menerima elu. Atau, elu memang engga pernah terjun ngeliat-liat kehidupan rakyat kecil ya? Elu cuma asyik nulis apa yang elu khayalin, bukan dari hasil observasi, bukan hasil pengamatan.”

Heru merasa ditonjok pada satu sisi. Tapi pada sisi lain ia merasa geli karena tonjokan temannya ini meleset. Dia tidak tahu bahwa Heru sebenarnya merupakan bagian rakyat kecil yang disebutnya; bagian yang sebenarnya, bukan dalam penya-maran.

Ingatan pada Hardsayo membuat otak Heru terus menggelinjang. Akhirnya ia keluar rumah, lalu meliuk-liukkan badannya di jalan yang masih agak sepi, mengulang pelajaran olahraga yang pernah diterimanya di sekolah. Setelah itu ia berjalan, dan berjalan, berusaha menghirup udara pagi yang sebentar lagi berbaur dengan asap kendaraan bermotor dan macam-macam polusi.

Bagaimana pun, pemandangan di luar cukup menyegarkan otaknya. Heru bahkan merasa bisa menemukan sambungan kalimat-kalimat yang tadi terputus. Lalu dengan gembira ia membalikkan badan, berlari kecil menuju rumahnya.

Dari jauh Heru melihat pintu kamarnya terbuka lebar. Ia mengira Adi masih ada di dalam. Ternyata dugaannya salah. Di kamarnya hanya ada mesin ketiknya yang duduk angkuh di atas meja.

“Jangan sombong!” kata Heru sambil memegang kedua ujung gandaran mesin itu dengan kedua tangannya, dengan gaya seperti menjewer telinga anak nakal.

Diputarnya gandaran mesin ketik itu, untuk mengeluarkan kertas yang terjepit dan menjepitkan kertas baru.

Sore hari, ketika Adi pulang sekolah, ia melihat Heru asyik mengetik. Padahal udara sudah remang-remang.

“Solat dulu, Bung!” kata Adi setelah keduanya bertukar salam.

“Udah maghrib ya?” Heru tampak terkejut.

“Masih kurang seperempat jam, kira-kira. Terus aja ngetik. Sayang kan waktu seperempat jam? Bisa buat ngetik satu halaman kan?” ejek Adi.

“Dasar perecok!” umat Heru sambil berdiri dari kursinya, menyambar handuk, lalu berjalan keluar.

Tak lama kemudian suara adzan maghrib pun terdengar mendayu-dayu. Heru dan Adi berjalan berdampingan menuju masjid terdekat.

Usai shalat maghrib, mereka berbaring-baring di masjid sambil ngobrol. Adi bercerita bahwa ia baru menerima hadiah sebagai juara mengarang di sekolah. Heru agak terkejut, tapi kemudian ia mengucapkan selamat kepada sahabat yang sudah seperti saudaranya itu.

“Gua sendiri kaget. Tapi guru bahasa bilang gua berbakat,” kata Adi.

“Gua engga percaya teori bakat,” sergah Heru. “Yang gua tahu, elu senang membaca, sama kayak gua. Kalo elu senang membaca, pasti elu bisa mengarang. Soal karangan elu jelek atau bagus, itu tergantung latihan.”

“Tapi kenapa kebanyakan orang beranggapan bahwa mengarang itu susah?”

“Itu karena sugesti. Juga karena teori bakat itu. Gua sih lebih percaya minat daripada bakat. Kalo kita punya minat kuat buat ngerjain sesuatu, pasti kita juga punya semangat belajar dan berlatih. Itu yang membuat hasil pekerjaan jadi bagus.”

Beberapa menit kemudian, mereka pulang.

“Elu dapet hadiah apa?” tanya Heru setelah mereka sampai di rumah.

“Album foto,” kata Adi dengan nada seperti mengeluh. Dikeluarkannya sebuah album foto besar dari tas sekolahnya. Album foto yang tampak mewah bagi mereka.

Heru pun terdiam. Ia tahu Adi, dan juga dirinya, hampir tak pernah berfoto. Jadi, untuk apa album foto itu?

“Ah, udah lah. Yang penting bukan hadiahnya kan?” kata Heru akhirnya.

“Terus apanya yang penting?”

“Pengakuan bahwa elu bisa mengarang,” kata Heru dengan nada memberi semangat.

“Benar juga. Tapi, gua jadi takut, Her.”

“Takut apaan?”

“Takut ngalahin elu!”

Preeeet!” Heru menirukan bunyi sesuatu yang keluar dari dubur. Adi tertawa.

Sesat kemudian, pikiran jelek melintas di kepala Heru. Adi tidak akan bisa mengalahkannya, setidaknya dalam waktu singkat. Tapi, bahwa Adi akan menggang-gunya, itu sudah pasti. Sekarang di kamar ini ada dua ‘pengarang’. Padahal hanya ada sebuah mesin ketik.

Dan pikiran buruk itu memang menjadi kenyataan.

Heru dan Adi tiba-tiba jadi seperti saling berebutan menggunakan mesin ketik.

Suatu hari, Heru meninggalkan kertas yang baru setengah halaman terisi. Ketika ia kembali ke kamarnya setengah jam kemudian, kertas itu sudah menggeletak di meja, dan Adi tampak sedang sibuk mengetik. Heru kesal. Seharusnya Adi mengerti bahasa isyarat. Bila kertas belum dikeluarkan, berarti Heru belum selesai mengetik. Artinya, Adi belum boleh mengambil alih mesin ketik itu.

Heru benar-benar kesal. Tapi, kalau orang belum mengerti, mau diapakan?

Akhirnya Heru pamitan untuk pergi ke rumah Duloh, meninggalkan Adi yang terus mengetik.

“Hei, engga ada kerjaan nih?” sambut Duloh.

“Otak gua lagi mampet!”

“Kalo gitu, besok elu ikut aja ke sekolahan gua?”

“Ngapain?”

“Di sana ada bor buat ngalirin otak elu!”

“Brengsek!”

Duloh adalah adik Dirgo, yang sama seperti kakaknya, mahir main gitar. Heru pun belajar dari mereka sedikit-sedikit, tapi tak pernah bisa mahir. Entah mengapa, perasaannya tak pernah bisa berpadu dengan alat musik istimewa itu. Tapi kadang ia juga merasa begitu membutuhkan gitar, untuk sekadar memainkan lagu-lagu yang notasinya gampang, dengan petikan dan pukulan jari yang sederhana. Lumayan untuk mengurangi rasa kesal yang tadi dibawanya dari rumah.

“Ada bagusnya juga otak elu mampet,” kata Duloh beberapa saat kemudian.

“Kenapa?”

“Gua mau pake mesin ketik itu. Engga lama. Paling tiga hari.”

“Buat apaan?”

“Nyalin diktat bahasa Inggris.”

Heru tertegun. Ia baru sadar bahwa mesin ketik itu bukan sepenuhnya miliknya. Duloh menanam saham di situ.

Harga mesin ketik itu empat belas ribu. Waktu itu Heru hanya punya uang sepuluh ribu. Ia minta bantuan Duloh untuk meminjaminya uang empat ribu. Tapi Duloh malah mengajaknya berpatungan, sama-sama mengeluarkan uang tujuh ribu, soalnya ia juga butuh mesin ketik, walau tidak akan sering-sering memakainya.

“Tapi gua mau mesin ketik itu jadi milik gua. Elu ngerti kan?” kata Heru waktu itu.

“Jangan kuatir. Gua kan teman elu yang terbaik. Elu taro mesin ketik itu di rumah elu. Kalo gua lagi perlu, baru gua bawa ke rumah gua. Setuju?”

Heru sudah memakainya selama dua bulan. Duloh baru akan memakainya tiga hari. Sungguh picik bila Heru menyesalinya.

Sampai larut malam Heru baru pulang. Rumah Duloh memang selalu membuat anak-anak muda kerasan. Di sana ada gitar, ada krambol, ada catur, ada meja pingpong, dan lain-lain. Mau begadang, silakan. Mau menginap, silakan menggelar tikar dan tidur beramai-ramai di lantai, di dalam atau beranda rumah. Tapi malam itu Heru tak ingin menginap. Ia ingin mengetik di rumah sampai pagi.

Tapi, di kamarnya Adi masih juga mengetik.

Heru langsung membaringkan diri di atas dipan kayunya.

“Elu mau ngetik, Her?” tanya Adi.

Heru tak menjawab. Ia masih kesal.

Adi mengetik lagi, mau menyelesaikan halaman yang mungkin tanggung. Tapi tiba-tiba ia pun merasa tak enak.

“Her, elu mau ngetik engga?” tanya Adi lagi.

“Engga ah! Gua ngantuk.

Adi lega. Diteruskannya mengetik. Mendengar bising mesin ketik, rasa kesal Heru pun perlahan-lahan berkurang. Ia jadi ingat dirinya sendiri. Kalau di kepala ide berdesakan minta keluar, mesin ketik akan terus dihajarnya. Lupa waktu. Lupa segala.

Diam-diam rasa kesal berganti dengan pengertian. Kemudian ia membaca doa sebelum tidur, dalam hati. Perlahan tapi pasti ruhnya pun terbang. Ke mana? Cuma Allah yang tahu.

Cuma Allah pula yang tahu apakah besok pagi Heru masih bisa bangun atau tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: