Hari Kita Masih Kelabu (5)

Lima

 

Sekarang… kenapa Mbak engga coba baca buku agama?”

Mbak Mi mendesah.

“Aku ngeri, Her.”

“Ngeri?” Heru terlonjak.

“Aku rasa… Aku takut, karena aku selama ini mungkin banyak berbuat kesalahan.”

 ***

            Heru sering meninggalkan kamarnya seenaknya, tanpa dikunci. Padahal kamar itu begitu berdekatan dengan jalan yang tak pernah sepi dari orang-orang yang berlalu lalang. Kalau Heru sudah pergi, ibunyalah yang dibuatnya cemas, takut kalau-kalau mesin ketiknya – satu-stunya barang ‘mewah’ di rumah itu – dicuri orang.

Sebelum ada mesin ketik, ibunya tak pernah mengkhawatirkan kamar Heru, karena di kamar itu tak pernah ada sepotong baju, celana, sepasang sepatu, atau barang lain yang berharga, yang kira-kira menarik minat pencuri kelas kampung.

Di kamar yang berpintu satu dan menghadap ke jalan kecil itu, yang hanya dilaluli pejalan kaki dan pengendara sepeda motor, hanya ada sebuah dipan kayu reyot, sebuah kursi kayu butut, dua buah meja buatan Heru sendiri, yang berlaci besar-besar dan penuh bermuatan buku. Buku, ditambah koran dan majalah, itulah kekayaan Heru. Selain di laci meja, Heru juga menaruh buku-bukunya dalam beberapa kardus dan peti sabun. Semua tak akan menarik selera pencuri. Tapi, seandainya orang lewat yang iseng melemparkan puntung rokok yang masih berapi ke dalam, dalam sekejap kamar Heru akan terbakar, yang tentunya akan merembet ke seluruh ‘kompleks’ pergubukan di situ.

Mungkin karena merasa tak punya barang berharga itulah Heru selalu meninggalkan kamarnya seenaknya. Tapi soalnya, dalam pikiran ibunya, sekarang Heru memiliki mesin ketik. Itu yang membuat ibunya tidak tenang setiap Heru pergi.

“Heru, sebaiknya kamu bikin jalan ke dalam rumah, supaya kalau kamu pergi Ibu bisa mengunci atau mengawasi kamarmu,” kata ibunya suatu hari.

“Engga! Aku kan butuh ketenangan di sini, Bu. Kalau aku bikin jalan ke dalam, nanti kamarku jadi tempat lalu lintas. Aku jadi engga tenang bekerja,” jawab Heru.

“Terus, kalau kamu pergi dan mesin ketikmu dicuri orang, bagaimana?”

“Ibu, mesin ketik ini beratnya satu ton!” kata Heru asal-asalan.

“Ibu kira, semakin berat semakin bagus untuk dijual kiloan kan?” balas ibunya.

“Wah, ibu lucu juga. Tapi, sudahlah Bu, jangan berpikiran buruk. Agama kan mengajarkan supaya kita selalu bersangka baik sama orang!”

“Kamu itu harus bisa membedakan antara sangka baik dan teledor!” kata ibunya.

“Ah sudahlah, Bu. Kalau misalnya mesin ketik itu dicuri orang, biarin aja. Nanti aku beli lagi yang lebih bagus.”

“Dasar sombong. Seperti kebanyakan duit saja!”

Heru tertawa. Ia menganggap ibunya berlebihan. Dan ibunya mengeluh. Heru memang keras kepala dan paling sukar dinasihati. Semakin dinasihati kadang semakin muncul ulahnya yang suka menggoda.

Sejujurnya, Heru sama sekali tak sudi mesin ketiknya dicuri orang. Karena itulah ia merasa senang dengan kehadiran Adi di kamarnya. Sebaliknya, Adi pun merasa gembira bisa tingggal sekamar dengan Heru, karena bila Heru pergi ia bisa bebas menggunakan mesin ketiknya. Belajar mengetik dan belajar mengarang seka-lian. Mau jadi pengarang seperti Heru?

“Mengarang itu sebuah ketrampilan yang berharga, khususnya untuk melatih kepedulian pada sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling kita, memikirkannya, dan akhirnya mengungkapkan dalam bentuk tulisan. Engga dimanfaatkan untuk jadi pengarang juga engga apa-apa; dia tetap akan berguna, sebagai sarana mencari dan menyimpan kekayan intelektual,” kata Heru suatu ketika.

“Atau sekadar untuk melestarikan sebuah kecengengan?” tanggap Adi.

“Maksud elu?”

“Misalnya buat ngerekam pengalaman sedih karena ditinggal pacar, atau karena cinta yang ditolak.”

“Yaa, bisa banget! Lagian itu kan cara penyaluran yang baik; daripada elu ngamuk-ngamuk atau bunuh diri…”

“He-he, benar juga.”

Dan ternyata yang suka memanfaatkan mesin ketik Heru bukan hanya Adi, tapi juga beberapa temannya yang lain. Hampir setiap hari kamar Heru yang cuma seluas empat kali tiga meter itu penuh sesak oleh anak-anak remaja yang belajar mengetik dan bersenda gurau. Sikap Heru yang terbuka, masa bodoh, dan tidak suka mengomel membuat anak-anak itu kerasan berkumpul di tempatnya.

Semula yang membuat mereka senang main di tempat Heru adalah komik dan majalah. Karena komik, anak-anak yang seusia, yang lebih muda, maupun yang lebih tua berdatangan. Bahkan ada juga bapak-bapak dan ibu-ibu. Tapi setelah komik-komik Heru habis, jumlah pengunjung pun berkurang dan semakin terseleksi menjadi hanya mereka yang dekat dengan Heru saja.

Heru sendiri tak habis pikir – dan kadang malah meratap dalam hati – mengapa komik-komiknya bisa lenyap tanpa bekas? Tentu karena banyak yang meminjam tanpa mengembalikan, tapi Heru tidak tahu siapa saja di antara mereka yang berbuat demikian. Ia memang tak pernah mencatat nama para peminjam itu. Bahkan ia juga tidak tahu mereka yang meminjam melalui adik-adiknya, atau mungkin mengambil begitu saja secara diam-diam, tanpa pengetahuan Heru dan anggota keluarganya. Bukankah kamarnya sering ia tinggalkan tanpa dikunci?

Tapi, pikirnya, penyebab utama kehilangan itu pastilah sikapnya sendiri yang tanpa disadarinya telah berubah. Perubahan yang telah membuatnya tidak lagi tergila-gila pada komik seperti dulu. Salah satu ibu-ibu yang suka meminjam komiknya adalah Mbak Mi (jangan dibaca bakmi!), istri seorang marinir yang cantik dan baik. Suatu hari Mbak Mi datang menemui Heru seperti biasa, mencari komik-komik judul baru. Tapi rupanya komik milik Heru sudah ludes dibacanya semua.

“Wah, engga ada yang baru ya Her?” katanya dengan nada kecewa.

“Engga ada, Mbak. Mungkin Mbak harus menunggu dua-tiga bulan lagi,” kata Heru.

“Maksudnya dua-tiga bulan lagi kamu baru punya duit?”

“Bukan begitu, Mbak. Maksud saya, mungkin dua-tiga bulan lagi akan terbit judul-judul baru, mungkin karangan Ganes, Djair, atau siapa.”

“O, memang terbitnya tiga bulan sekali ya?”

“Engga juga. Biasanya tiap bulan, bahkan dulu tiap minggu ada saja komik-komik baru. Sekarang sih jadual terbitnya engga teratur lagi!”

“O, gitu ya?  Apa penerbitnya sudah pada bangkrut ‘kali ya? Atau penga-rangnya sudah pada kehabisan ide?”

“Atau mungkin pembacanya sudah pada bosen, Mbak.”

“Pada bosen? Aku kok engga bosan-bosan ya?”

“Maksud saya bukan bosen baca, Mbak, tapi bosen beli,” kata Heru sambil tertawa.

“Ah kamu! Jangan bikin aku malu doong. Mentang-mentang aku cuma num-pang baca gratis,” kata Mbak Mi sambil tersipu-sipu.

“Engga usah malu, Mbak. Saya hanya bercanda. Lagian, kalo malu juga udah terlambat kok. Udah keseringan sih!”

“Ah, kamu!” kata Mbak Mi sambil mencubit pinggang Heru.

Mata Mbak Mi terus mencari, seperti ragu bahwa seluruh bagian kamar kecil itu sudah digeledahnya.

“Wah, aku baca apa doong ya kalo engga ada komik,” kata Mbak Mi kemu-dian setelah beberapa kali membolak-balik komik-komik lama.

“Mbak kesepian ya? Masnya lagi dinas di luar kota ya?” Heru menggoda.

“Kamu jangan genit, Her!”

“Lho, siapa yang genit? Idiih, Mbak aja ‘kali yang ge’er.”

“Ngapain aku ge’er sama anak kecil?”

“Anak kecil? Saya delapan belas tahun lho Mbak.”

“Aku tiga puluh!”

“Lho, apa salahnya?”

“Maksud kamu apa?”

“Maksud saya, apa salahnya dengan umur kita?” kata Heru sambil tertawa.

Mbak terbengong sesaat, menatap Heru. Kemudian keduanya sama-sama tertawa. “Kirain kamu mau ngajak aku pacaran!”

“Woo, emangnya saya engga takut sama Mas Diran yang kumisnya baplang itu? Bisa-bisa saya diceburin ke laut!” kata Heru.

“O, jadi kamu takutnya sama dia ya, bukan sama Tuhan?”

“Yang itu sih nomor satu, Mbak,” kata Heru sambil mengeluarkan tiga buah buku dari laci mejanya.

Mbak Mi melotot.

“Dasar pembohong! Katanya engga ada buku baru!”

“Ini bukan buku komik, Mbak.”

“Emang buku apaan?”

“Ini namanya buku sastra,” kata Heru sambil meletakkan ketiga buku itu di atas meja.

Mbak Mi melotot lagi. Kali ini dengan mulut terbuka.

“Gila kamu! Ini sih buku-buku pelajaran sekolah…” kata Mbak Mi.

“Itu buku cerita, Mbak, bukan pelajaran.”

“Maksudku, aku inget, waktu di SMA dulu guru bahasaku menyuruh kita membaca buku-buku ini. Hi-hi, lucu juga; aku kok baru ketemu sekarang.”

Heru terdiam. Merasa agak tersedak, karena dirinya tidak pernah duduk di bangku SMA, SMP pun tidak. Tapi ia tahu bahwa anak-anak SMA memang mengenal judul-judul buku yang baru dikeluarkannya itu: Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang. Beberapa temannya pernah meminta bantuannya untuk mendiktekan ringkasan isi buku-buku itu. Heru bahkan masih punya beberapa judul lain buah tangan para sastrawan ‘kuno’ kita seperti Achdiat Karta Miharja, Mochtar Lubis, Hamka, dan lain-lain.

“Sekarang aku mengerti…” Mbak Mi bergumam sambil memegang buku Siti Nurbaya. Heru mengira bahwa ia berbicara tentang buku itu. Tapi setelah beberapa menit berlalu, Mbak Mi tidak juga melanjutkan kata-katanya.

“Mengerti apa, Mbak?” Heru memancing.

“Bahwa kamu bohong!”

“Bohong apaan?”

“Bohong bahwa komik-komik baru sudah engga terbit lagi.”

“Lho, kenyataannya emang begitu kok.”

“Engga! Engga!  Yang benar adalah… kamu sudah berubah. Sekarang kamu sudah bosan baca komik, dan beralih ke buku-buku sastra. Iya kan?”

Heru tertawa tanpa suara.

“Tapi itu bagus, Her, karena itu berarti kemajuan.”

Heru tidak menanggapi.

“Aku pinjam Siti Nurbaya, ya?” kata Mbak Mi selanjutnya.

“Kenapa engga semua aja?”

“Satu satu dulu lah!  Ini aja belum tentu kelar seminggu.”

Tapi ternyata empat hari kemudian Mbak Mi sudah kembali.

“Wah, luar biasa!” katanya kepada Heru. “Aku hampir engga bisa lepasin buku ini. Kenapa aku engga baca dari dulu ya?”

“Tentu karena bukunya engga ada,” kata Heru.

“Kamu jangan nyindir aku lagi, Her! Mentang-mentang aku cuma pinjam…”

“Lho, kok peka banget sih? Aku bukan nyindir Mbak. Maksudku, waktu guru bahasa di sekolah menyuruh anak-anak baca buku-buku sastra itu, buku-bukunya kan engga ada di perpustakaan sekolah toh?”

“Iya sih. Tapi kan kita disuruh beli.”

“Nah, itu masalahnya. Bangsa kita ini, apalagi anak sekolah, lebih suka beli rokok atau bakso daripada beli buku. Apalagi buku sastra…”

“Tuh, kamu nyindir aku lagi kan?”

“Ah, si Mbak ini ngomongnya begitu terus. Lagian, biar merasa disindir juga Mbak tetap engga mau beli buku sendiri kan?”

Mbak Mi tersipu-sipu.

“Aku bukan engga mau beli, Her. Tapi, kamu pikir berapa sih gaji tentara berpangkat sersan?”

“Nah, buka-buka rahasia dapur deh!”

“Itu perlu kamu tahu, Her. Kamu laki-laki, harus tahu juga rahasia dapur. Dan Mbak juga tahu rahasia kamu bisa beli buku.”

“Apa?”

“Karena kamu engga pernah mikirin kebutuhan dapur. Kamu kan tahunya cuma tingal makan apa yang disediakan ibumu…”

Heru terhenyak. Ia sering melihat ibunya sedih karena tak punya uang untuk membeli sarapan pagi. Tapi Heru, setiap punya uang, selalu digunakan untuk membeli buku secara diam-diam; dan ibunya tidak pernah memprotesnya. Wanita bertubuh kurus itu bahkan selalu tampak senang setiap melihat Heru bertekun membaca. Ia memang ingin anak-anaknya pintar.

Mbak Mi pulang dengan membawa buku Salah Asuhan.

Entah berapa kali Mbak Mi bolak-balik meminjam dan mengembalikan buku-buku sastra milik Heru. Sampai suatu ketika ia dibuat tertegun lagi melihat buku-buku Heru yang baru.

“Wow! Berubah lagih nih seleranya. Dari komik ke buku sastra, lalu sekarang buku agama. Bukan main!” kata Mbak Mi.

“Aku tetap suka komik, Mbak. Mungkin sampai mati aku akan tetap suka komik. Juga sastra. Dan tentu juga buku-buku agama.”

Mbak Mi mendesah.

“Kamu semakin maju, Her. Semakin maju!”

“Aku hanya berusaha menambah pengetahuan, Mbak.”

“Ya. Itulah yang engga aku lihat dilakukan kebanyakan anak-anak muda seumur kamu. Kebanyakan mereka lebih suka main-main, nongkrong-nongkrong sambil merokok dan menggoda cewek-cewek yang lewat. Tapi kamu lain…”

“Mereka memang tidak ada yang membimbing, Mbak. Tidak ada yang meng-arahkan.”

Mbak Mi menatapnya, seperti ingin menyelidiki semua yang ada pada Heru. Heru jadi kikuk dibuatnya.

“Jadi, kamu memang dibimbing sama orangtuamu supaya menjadi seperti ini?”

“Seperti apa, Mbak?”

“Seperti jadi anak muda yang serius, kurang suka nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, lebih suka membaca…”

“Mungkin pengaruh bapakku, Mbak. Bapak suka mendongeng, aku jadi suka baca buku-buku cerita. Bapak suka bicara soal-soal agama, aku jadi suka baca buku-buku agama. Tapi, aku juga merasa ada pengaruh teman yang sangat kuat. Waktu di Bandung dulu, aku punya teman seusia yang sangat akrab denganku. Setiap hari main main ke rumahnya, yang letaknya memang bersebelahan dengan rumahku. Di sanalah pertama kali aku mengenal buku, khususnya komik, dan lebih khusus lagi komik wayang! Melalui komik wayang untuk pertama kali aku belajar membaca. Benar-benar belajar membaca, mengeja huruf demi huruf, dibimbing kakak temanku.”

“Oh! Pantas! Pantas!”

Mbak Mi memegang buku tebal berjudul Ayahku, karangan Hamka.

“Ini cerita apa?”

“Biografi, Mbak. Kisah hidup ayah Hamka, yang diceritakan Hamka dengan sangat menarik. Bacalah, Mbak. Pasti Mbak suka deh.”

“Tebal begini, berapa hari aku membacanya?”

“Hanya sekitar dua kali buku siti Nurbaya, yang Mbak selesaikan empat hari.”

“Aku pinjam sepuluh hari, ya?”

“Silakan, Mbak.”

Entah berapa kali lagi Mbak Mi masih datang ke tempat Heru, sampai akhirnya ia menghilang. Heru sedih karena tak bisa lagi meminjamkan buku-buku cerita baru. Dalam pertemuan terakhir, terjadi percakapan yang tak terlupakan.

“Engga ada buku cerita yang baru ya?”

“Nanti kalau aku sudah ada aku kasih tahu Mbak. Sekarang… kenapa Mbak engga coba baca buku agama?”

Mbak Mi mendesah.

“Aku ngeri, Her.”

“Ngeri?” Heru terlonjak.

“Aku rasa… Aku takut, karena aku selama ini mungkin banyak berbuat kesalahan.”

“Dari mana Mbak tahu kalau Mbak sudah berbuat banyak kesalahan?”

“Perasaanku begitu, Her.”

“Agama bukan hanya perasaan, Mbak; tapi juga pikiran, dan yang terpenting adalah ilmu, pengetahuan tentang ajaran agama itu sendiri. Pengetahuan tentang ajaran agama itulah yang membuat kita bisa mengukur apakah perbuatan kita benar atau salah.”

“Omonganmu sudah semakin tinggi saja.”

“Mbak jangan memujiku terus. Coba baca buku ini. Atau yang ini.”

Heru mengusulkan beberapa judul buku agama.

“Nanti saja, Her. Aku ngeri. Aku takut bercermin dan melihat wajahku bope-ngan.”

Mbak Mi berpamitan. Heru terpana memikirkan kata-katanya yang seperti mengandung rahasia. Setelah itu, Mbak Mi tak pernah datang lagi. Heru sering sedih mengenang persahabatan yang pernah terjadi dan kini hilang.

Entah berapa lama kemudian Heru bertemu lagi dengan Mbak Mi. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan, sendirian. Ia sudah menjadi janda. Di depan Heru ia menangis.

“Kenapa Mas Diran menceraikan Mbak?”

“Dia menuduhku berpacaran dengan Dirgo.”

Berpacaran dengan Dirgo?

Dirgo adalah salah seorang teman dekat Heru. Pemuda seusia Heru. Berbadan tinggi besar, dan jago main gitar.

Heru ingat. Dulu mereka sering main di rumah Mbak Mi, apakah ketika Mbak Mi sendirian atau ketika suaminya di rumah. Sering kali Heru minta pulang duluan, sementara Dirgo terus main gitar, dan Mbak Mi menyanyi.

Suatu hari ia pernah menghampiri Dirgo yang sedang duduk sendirian di bawah pohon, main gitar.

“Gua baru nyiptain lagu, Her. Mau denger?” kata Dirgo.

“Nyiptain sendiri apa njiplak?”

“Elu dengerin aja!”

“Iya deh!”

Selesai memperdengarkan sebuah lagu yang lumayan bagus, Dirgo berkata, “Ini lagu karya berdua, Her. Gua yang bikin melodinya, Mbak Mi syairnya.”

“Wah, Mbak Mi bisa bikin syair juga ya?”

“Mungkin karena dia lagi jantuh cinta!”

“Jatuh cinta? Bukan dia udah punya suami yang gagah dan ganteng?”

“Gantengan siapa suaminya ama gua?”

“Jelas gantenghan dia lah! Lagian badan elu kayak kebo begitu. Badan suaminya kan atletis.”

“Tapi cinta memang aneh, Her.”

“Jadi Mbak Mi jatuh cinta sama elu?”

Dirgo hanya tertawa. Lalu memainkan lagi lagu karangannya itu.

“Kalo elu pacaran sama Mbak Mi, Sumi bisa gua ambil doong,” kata Heru.

“Nih ambil!” kata Dirgo sambil mengacungkan tinjunya ke wajah Heru.

Mungkinkah Dirgo berpacaran dengan Mbak Mi? Bukankah Dirgo tergila-gila pada Sumi yang cantik berambut panjang, penduduk baru kampung Kober? Mung-kinkah suaminya terlalu cemburu, atau …? Ah, Heru tidak mau menyelidik lebih lanjut.

Hanya melalui Dirgo ia kemudian mendengar Mbak Mi sudah pindah pula dari rumah kontrakan tersebut.

O, Mbak Mi yang baik, yang misterius, kapan aku bisa bertemu lagi denganmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: