Hari Kita Masih Kelabu (4)

Empat

Rumah yang dibangunnya memang bukan rumah kardus seperti yang dikatakannya pada Pak Haji, tapi sebuah rumah aneh yang dibuat dari bahan macam-macam. Mirip kandang kambing yang besar. Tapi menjadi lebih baik karena dihuni manusia.

***

          Dengan pekerjaan sebagai pemangkas rambut alias tukang cukur, ayah Heru berusaha menghidupi enam anak yang masih jadi tanggungan, dan membayar kontrak rumah bulanan. Sering kali Pak haji Makbul, pemilik rumah, datang menemui ayahnya sambil marah-marah, karena ayahnya terlambat menyetor uang kontrakan. Pernah suatu hari ayahya merengek minta dikasihani dengan menyebut-nyebut kesamaan Tuhan dan agama. “Kita sama-sama orang Islam, Pak Haji. Kita saudara seagama. Saya tidak minta numpang gratis. Saya cuma mohon supaya Pak Haji tidak marah kalau saya telat bayar kontrakan. Saya cuma tukang cukur, anak saya banyak…”

“Ini soal bisnis! Ente jangan bawa-bawa agama,” sahut Pak Haji. “Ana bikin kontrakan itu buat nyari duit. Itu usaha ana buat nyari nafkah. Anak ana juga banyak, pada sekolah, pada kuliah. Semua kudu[1] pake duit kan? Kalo ente telat terus bayar kontrakan, mendingan ente cari tempat laen aja…!”

Rengekan dan ‘kuliah agama’ ayah Heru tidak mampu meluluhkan hati Pak Haji. Apalagi Pak Haji ini adalah imam harian dan khatib Jum’at di masjidnya sendiri, juga seorang ustadz di madrasahnya sendiri, yang dikelolanya bersama saudara-saudaranya. Jadi, kalau bicara agama, tentu dia merasa lebih pintar dari si tukang cukur.

Kenyataan bahwa Pak Haji memiliki madrasah, perusahaan angkutan, kebun buah-buahan, rumah-rumah kontrakan, dan entah apa lagi, justru tambah membuat ayah Heru kesal ketika ia mengatakan bahwa kontrakan rumah adalah usahanya untuk mencari nafkah. Gaya bicaranya berlagak seolah-olah tak punya usaha lain!

Beberapa bulan kemudian, ada berita yang membuat ayah Heru tambah men-dongkol. Seorang petugas keluharan yang menjadi langganannya bercukur bercerita bahwa baru-baru ini ia ikut rombongan Pak Haji ke puncak, untuk merayakan kelulusan salah seorang anaknya dari sekolahnya di Mesir. Perayaan itu diadakan besar-besaran, di sebuah vila besar milik Pak Haji sendiri.

Tapi bukan berita itu yang membuat ayah Heru murka. Yang membuat ayah Heru naik darah adalah berita kedua; yaitu bahwa tanah yang ditempati rumah jelek itu sudah lama dijual Pak Haji kepada pemerintah. Katanya pemerintah punya rencana membuka jalan baru, yang pasti membelah kampung Kober, dan melenyapkan rumah itu.

Sore itu juga, menjelang maghrib, ayah Heru menemui Pak Haji Makbul. “Bapak benar-benar keterlaluan! Kalau tanah itu sudah dijual, kenapa Bapak masih minta uang kontrakan sama saya?” dampratnya sambil bertolak pinggang.

Pak Haji pun balas bertolak pinggang dan tak kalah galak. “Tanahnya emang udah gua jual, tapi rumahnya kagak gua jual. Rumah itu gua yang bikin. Di mana salahnya kalo gua kontrakin itu rumah? Kalo ente kagak bayar kontraknya, rumah itu mau gua bongkar!” katanya.

“Kalau begitu, bongkar saja secepatnya. Saya mau bikin gubuk kardus di situ!” kata ayah Heru.

Tapi trernyata rumah itu tidak dibongkar. Soalnya, salah seorang anak Pak Haji yang bekerja di sebuah departemen mempunyai sopir. Sang sopir yang asal Garut itu butuh tempat tinggal. Anak Pak Haji menyuruhnya tinggal di rumah itu, tanpa mengusir keluarga Heru.

Jadi, rumah itu dibagi dua.

Dan sopir asal Garut itu adalah ayah Adi.

Karena merasa senasib, mereka hidup rukun di gubuk itu. Belakangan, karena terasa sempit untuk dua keluarga besar, yang masing-masing mempunyai enam anak, ayah Heru mengalah. Ia membangun gubuk baru, menempel pada gubuk lama, dengan bahan bangunan yang dipungutnya dari berbagai tempat, dan dikumpulkan selama bertahun-tahun. Rumah yang dibangunnya memang bukan rumah kardus seperti yang dikatakannya pada Pak Haji, tapi sebuah rumah aneh yang dibuat dari bahan macam-macam. Mirip kandang kambing yang besar. Tapi menjadi lebih baik karena dihuni manusia.

Jakarta terus membesar. Gubuk itu pun ikut membesar, terutama karena ayah Heru terus menambah jumlah kamar, seiring dengan anak-anaknya yang juga tumbuh makin besar.

Gubuk itu bahkan menjadi lebih besar lagi setelah ayah Heru membuat dua kamar khusus untuk dikontrakkan. Dan menjadi jauh lebih besar lagi setelah ada beberapa keluarga yang merasa sama berhak ikut memanfaatkan tanah milik pemerintah itu. Mereka membangun gubuk-gubuk baru.

Letak gubuk itu memang unik. Ia terpencil sendiri di sebuah tanah lapang di depan kampung Kober yang padat. Konon, dahulu gubuk itu adalah sebuah dangau, tempat petani beristirahat sejenak setelah bekerja di sawah. Gubuk itu bisa menjadi cikal bakal berdirinya sebuah kampung baru bila pembangunan gubuk-gubuk tambahan di sekitarnya tidak segera dihentikan petugas kelurahan. Keluarga Heru dan Adi tidak diusir dari situ, karena rupanya mereka justru dimanfaatkan sebagai para penjaga tanah itu. Penjaga tidak resmi tentu. Hingga mereka tak harus digaji. Bila nanti tanah itu dipakai, mereka tak boleh pula meminta ganti rugi. Kenyataannya, keluarga Heru dan Adi memang bersyukur bisa menempati tanah dan gubuk di situ secara cuma-cuma.


[1] Harus. (Bahasa Sunda/Jawa, yang juga dipakai orang Betawi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: