Hari Kita Masih Kelabu (3)

Tiga

 

“Aku masih belum ngerti, Pak. Apakah kapatuhan manusia terhadap peraturan Allah itu harus seperti kepatuhan benda mati?”

“Ya! Patuh tanpa protes. Tanpa ada kompromi.”

“Artinya, manusia harus menerima nasib, begitu?”

***

 

            Hidup ini memang aneh, dan kadang lucu, pikir Heru. Keluarga Heru dan Adi menempati sebuah rumah gedek, tepatnya gubuk, yang cukup besar. Dulu milik seorang haji kaya. Kini menjadi ‘milik’ mereka.

            Semula rumah itu dikontrak bos kakak Heru yang menjadi mandor bangunan, untuk tempat tinggal anak buahnya yang terdiri dari tukang batu, tukang kayu, tukang besi, dan lain-lain. Karena semua lelaki, puluhan orang ‘ditimbun’ saja di satu rumah yang hanya berlantai tanah. Mereka kemudian membawa potongan-potongan papan, triplek, kertas kantong semen, dan lain-lain, untuk membenahi rumah itu. Papan dan triplek dipadu padan untuk melapisi lantai tempat mereka tidur. Kertas bekas kantong semen digunakan untuk melapisi dinding anyaman bambu yang bolong-bolong, yang membuat angin dingin menyelusup sampai ke tulang pada malam hari. Setelah dinding dilapisi wallpaper dari kertas semen, wallpaper itu kemudian dilaburi sisa-sisa cat aneka warna, yang mereka bawa dari tempat kerja.

            Gubuk itulah istana para kuli bangunan anak buah kakak Heru, yang memimpin mereka mengerjakan sebuah gedung besar tak jauh dari Blok M. Setiap pagi dan sore mereka berduyun-duyun berangkat dan pulang kerja, beriringan seperti serombongan prajurit sewaan. Kenyataannya mereka memang prajurit. Prajurit pem-bangunan yang bekerja di front terdepan. Namun nasib mereka adalah gambaran nyata dari ironi pembangunan itu sendiri.

            Bangunan megah mana di negeri ini, di seluruh negeri di dunia, yang bukan hasil karya mereka? Dan setelah bangunan-bangunan itu tegak, siapa di antara mereka yang pernah mendapat ijin untuk sekadar melihat-lihat hasil karya mereka? Ya, sebatas melihat dari jauh tentu boleh. Tapi jangan menatap terlalu lama; karena mereka bisa dituduh sedang merencanakan pencurian atau perampokan. Bila revolusi konon banyak memakan anak-anaknya sendiri, rupanya pembangunan pun memiliki watak yang sama ganasnya. Mungkinkah karena pembangunan memang bukan untuk mereka, tapi justru merekalah yang untuk (tumbal) pembangunan? Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini? (‘Bapak Pembangunan’ pun mungkin tak bisa menjawa ya? Apalagi sekarang beliau sudah tak ada).

            Mereka hanya tinggal tak lebih dari tiga tahun di gubuk itu. Setelah beberapa bangunan besar yang mereka garap berdiri tegak, tinggi menjulang, indah dan mulus, para pahlawan pembangunan itu pun bubar entah ke mana. Selanjutnya, keluarga Heru yang baru datang dari kampung mengisi gubuk itu. Kakak Heru sendiri bersama istrinya tinggal di rumah kontrakan yang lain, yang bangunannya lebih baik. Beberapa bulan kemudian, kakak Heru malah pulang ke kampung istrinya, dan tidak lagi kembali ke Jakarta, karena kariernya sebagai mandor bangunan sudah berakhir. Soalnya anemer[1] yang selama ini menjadi bosnya telah bangkrut, dan kakak Heru tidak bisa menemukan bos pengganti.

            Sebenarnya sang kakak pernah dianggap cukup berhasil “jadi orang”. Sebagai mandor bangunan, ia sempat membuat para penduduk kampung Kober heran, karena bisa memiliki dua sepeda motor dan televisi. Harta seperti itu sudah cukup untuk membuat mereka iri, karena memang belum banyak orang kampung yang memiliki sepeda motor, bahkan televisi (hitam-putih) pun masih merupakan barang mewah. Di antara mereka ada yang mengira kakak Heru korupsi. “Kerjaan mandor ngapain lagi kalo engga motongin gaji kuli?” Demikian Heru pernah mendengar pergunjingan sejumlah orang tentang kakaknya.

            Pergunjingan yang membuat kupingnya panas.

            “Benar engga omongan mereka?” Heru pun minta penjelasan pada kakaknya.

            “Tergantung orangnya,” jawab sang kakak.

            “Kakak berbuat begitu engga?” desak Heru.

            “Engga!” kata sang kakak mantap.

            “Terus, motor-motor dan televisi itu dibeli pake uang apa?” Heru terus menye-lidik.

            “Uang halal.”

            “Bagaimana kakak bisa mengatakan itu halal?”

            “Kakak menerima pekerjaan secara borongan. Misalnya pasang batu, diborong per meter persegi sekian. Lalu kakak suruh para tukang mengerjakan. Mereka dibayar harian, dengan gaji standar. Kadang malah mereka kakak beri lebih.”

            “Kakak sendiri hanya jadi mandor bagi mereka? Hanya menonton mereka bekerja, lalu mendapat keuntungan besar dari sisa gaji mereka?”

            “Kakak bekerja dengan otot dan otak, Her. Memang kebanyakan mereka yang bekerja, mengeluarkan keringat. Tapi semua tanggung-jawab pekerjaan mereka terletak di pundak kakak. Kakak juga tidak selalu untung. Ada kalanya kerja mereka juga tidak beres. Lantas kakak harus menanggung dua kerugian. Pertama dimarahi bos. Kedua keuntungan uang pun hilang, karena pekerjaan yang tidak beres itu harus diulang. Artinya si tukang membongkar dan memperbaiki pekerjaan yang salah dan mendapat gaji utuh. Gaji itu diambil dari jatah keuntungan kakak. Jadi, kamu jangan salah, mandor itu tidak selalu mendapat untung; kecuali mungkin mandor yang licik.”

            Heru lega mendapat jawaban kakaknya yang memang dikenalnya sebagai orang alim (relijius). Karena itu juga agaknya sang kakak sulit menemukan bos baru. “Kebanyakan mereka menawarkan harga borongan yang murah, dan menyuruh kita mencari untung dengan menindas anak buah,” ungkap sang kakak. “Lucunya, waktu kakak menolak, mereka bilang kakak ketinggalan jaman!”

            “Maksudnya apa?”

            “Sekarang memang banyak mandor yang bisa terima harga borongan lebih murah, karena mereka bisa membawa anak buah langsung dari kampung, yang bisa dibayar murah pula.”

            “O, begitu toh!”

            Kebangkrutan sang kakak membuat orangtua mereka sedih. Jauh-jauh hijrah dari kampung, hanya untuk menghadapi kesulitan hidup yang sama di Jakarta. Sang kakak memang pernah menjadi tumpuan harapan kedua orangtua dan adik-adiknya. “Kau harus berusaha menyekolahkan adik-adikmu,” Heru pernah mendengar ibunya berkata demikian kepada sang kakak.

            Tapi segalanya begitu cepat berubah. Terutama setelah kakaknya menikah. Ada yang menuduh bahwa istri kakaknya rakus dan pelit, sehingga kakaknya menjadi kurang peduli pada orangtua dan adik-adik sendiri.

            Bagi Heru yang cukup dekat dengan kakaknya, keadaan sebenarnya tidak lah begitu. Sang kakak dikenalnya sebagai orang yang mandiri. Ia hanya tamatan SMP. Ilmu tentang bangunan dipelajarinya sendiri dari teman-teman dan buku. Ketika ingin menikah, itu pun dilakukan dengan segala usaha sendiri, tanpa sumbangan sepeser pun dari orangtuanya yang memang melarat.

            Heru mengerti. Kemelaratan itulah sebenarnya yang menjadi biang keladi, yang membuat orangtuanya berharap terlalu banyak kepada kakaknya. Mereka bahkan menyesali kakaknya yang mereka bilang terlalu cepat menikah. Tentu saja, setelah menikah, kakaknya jadi punya beban dan tanggung-jawab sendiri. Jadi, bagaimana ia bisa membantu orangtua dan adik-adiknya, lebih-lebih setelah ia bangkrut?

            “Salah sendiri! Terlalu cepat kawin sih!” kata ibunya suatu ketika.

            “Kakak sudah cukup umur untuk menikah. Hampir tiga puluh!  Yang terlalu cepat kawin itu adalah Ibu. Ibu menikah umur 13 tahun kan?” tembak Heru.

            “Ah, kamu itu memang suka membalik-balikkan omongan orangtua,” kata ibunya sambil tersipu malu.

            “Kakakmu memang tidak salah karena dia menikah,” kata ibunya kemudian, setelah terdiam cukup lama. “Yang salah adalah Bapak, karena dia mengajak kita ke Jakarta dan menjanjikan kehidupan lebih baik. Kenyataannya, keadaan kita di sini tidak lebih baik daripada di kampung. Di sini kita malah lebih susah, karena tak punya rumah dan jauh dari sanak saudara.”

            “Jadi, ibu menyalahkan Bapak? Kata Bapak, justru Ibu yang sering meminta Bapak mengajak kita semua pergi dari Bandung.”

            “Tapi Ibu tidak minta Bapak untuk membawa kita ke Jakarta. Ibu mau Bapak membawa kita semua ke kampungnya, di Tasik.[2]  Katanya, di sana Bapak punya banyak warisan.”

            “Apa Bapak engga pernah cerita sama Ibu bahwa warisannya itu sudah dicaplok oleh saudara-saudaranya yang serakah?  Apa Bapak engga pernah cerita bahwa karena dia senang belajar di pesantren-pesantren maka dia puluhan tahun tidak pernah pulang kampung? Apa Bapak engga pernah cerita bahwa dia sudah dianggap hilang oleh saudara-saudaranya?”

            “Semua itu pernah Ibu dengar. Tapi kenyataannya kan Bapak masih hidup. Mereka tahu bahwa hak Bapak tidak bisa dihapus karena bertahun-tahun Bapak tidak pulang. Bapakmu saja yang lemah; tidak mau meminta haknya sendiri.”

            “Kalau soal itu, bukankah Ibu juga sama lemahnya seperti Bapak?”

            “Maksud kamu apa?”

            “Bukankah warisan Ibu di Bandung juga dicaplok adik tiri Ibu, dan Ibu tidak berbuat apa-apa?”

            “Apa daya Ibu? Cuma wanita lemah! Dan Bapakmu juga tidak mau membantu mengurus masalah itu.”

            “Mungkin Bapak merasa tak enak. Merasa malu mengungkit-ungkit hak waris istri.”

            Ibunya terdiam. Heru juga terdiam.

Pikiran Heru kemudian melayang pada ayahnya. Dia seorang pria tampan, dengan hidung mancung dan kulit kekuningan. Jauh beda dengan Heru yang kulitnya agak hitam dan hidungnya diejek teman-temannya sebagai jambu air. Temannya yang keterlaluan malah menyebut Heru anak haram, karena kulit dan wajah ibunya juga tidak mirip dengannya. Sang Ibu, wanita Priangan yang mungil itu, berkulit kuning langsat, dan bentuk hidungnya kecil lancip. Kakaknya pun konon pernah dikira hasil selingkuhan ibunya dengan orang Belanda, karena hidungnya seperti burung betet dan kulitnya putih. Ah, manusia memang suka mengejek dan menghina sesamanya. Persis seperti monyet yang suka saling mencibir dan menertawakan bangsanya sendiri.

Penilaian ibunya tentang ayahnya dianggap Heru terlalu menyederhanakan masalah. Ibunya memang hanya wanita sederhana, dengan cara berpikir yang sangat sederhana. Karena itu ibunya mungkin tidak memahami trauma yang diderita ayah-nya.

Ayahnya adalah lelaki pendiam. Namun pada saat-saat tertentu ia tampil sebagai orang yang lucu dan pandai mendongeng. Hampir seluruh cerita rakyat Sunda didengar Heru dari ayahnya, ditambah dengan banyak kisah tentang pengalamannya selama belajar di sejumlah pesantren. Tapi satu-satunya yang mencekam Heru adalah pengalaman ayahnya pada saat dia memutuskan untuk mengakhiri petualangannya menyauk ilmu di pesantren, dan pulang ke kampung untuk mendirikan sebuah pesantren.

“Bapak tahu bahwa kakekmu punya tanah sangat luas,” tutur ayahnya suatu hari. “Tapi rupanya Bapak pulang terlambat, yaitu dua tahun setelah kakekmu meninggal. Bapak pulang hanya untuk menerima penghinaan dari saudara-saudara sendiri, yang rupanya tidak ada raya sayang trerhadap bapakmu ini.”

Memang terdengar aneh bagi Heru ketika ayahnya mengatakan bahwa saudara-saudaranya telah menganggap dirinya hilang, sehingga namanya tidak pernah mereka catat sebagai salah satu yang berhak menerima warisan. “Masalahnya, Bapak adalah anak terkecil, dan lahir dari istri muda kakekmu, yang juga menjadi sasaran kebencian,” ungkap ayahnya.

Sejak sang kakek wafat, nenek Heru, ibu dari ayahnya, merantau ke Bandung. Dengan jatah warisan yang sebenarnya jauh lebih kecil dari haknya, ia membeli sebuah kios di sebuah pasar di Bandung. Ke sanalah ayah Heru menuju, setelah gagal membangun impian di tanah kelahirannya sendiri.

“Tapi Bapak tidak menyesal karena kehilangan harta warisan. Bapak cukup puas dengan hanya mendapat warisan agama dari Nabi.”

“Lalu Bapak pergi ke Bandung sendirian?” tanya Heru.

“Waktu itu Bapak pulang dengan seorang sahabat yang sudah Bapak anggap saudara. Tadinya kami berencana untuk menyelenggarakan sebuah pesantren di Tasik. Karena dia orang Bandung, dia menemani Bapak mencari nenekmu.”

Tidak sulit menemukan seorang wanita pemilik kios  Pasar Sukajadi di Ban-dung. Bisa ditebak bahwa ayah Heru kemudian tinggal di rumah ibunya yang cukup bagus di Bandung. Di situlah ayah Heru merancang masa depan bersama sahabatnya. Mereka akan mendirikan sebuah pesantren atau madrasah di Bandung. Sebelum rencana itu dilaksanakan, mereka melakukan praktik mengajar dulu di beberapa pesantren, madrasah, dan majlis ta’lim.

Tapi siapa menduga bahwa rencana indah itu akan hancur berantakan karena suatu persoalan yang tak pernah diperhitungkan?

Sahabat ayah Heru yang berusia 30 tahun, sama seperti ayah Heru, secara perlahan tapi pasti menjalin hubungan cinta dengan nenek Heru, janda kaya berusia 45 tahun yang masih tampak muda dan cantik. Sejak mengetahui keadaan itu, ayah Heru sudah melakukan protes terhadap kedua belah pihak, tapi ia tidak mempunyai alasan kuat yang bisa menggugurkan perasaan saling cinta mereka. Akhirnya ayah Heru mengalah, atau tepatnya mungkin ngambek. Ia pergi meninggalkan ibu dan sahabatnya yang sedang mabuk cinta dan akhirnya menikah itu.

“Kenapa Bapak harus menolak hubungan mereka? Bukankah pernikahan mereka itu halal menurut agama?” tanya Heru.

“Halal di permukaan, tapi haram dalam hakikatnya,” jawab ayahnya sambil mendesah berat.

“Di mana letak haramnya?” usut Heru.

“Pada niat mereka. Bapak melihat nenekmu tergila-gila pada sahabat Bapak. Sebaliknya, sahabat Bapak lebih tampak sebagai orang yang mengincar kekayaan nenekmu.”

“Apakah Bapak tidak bersangka buruk?”

“Rasanya tidak. Justru Bapak menarik satu pelajaran dari pengalaman ini. Yaitu bahwa nilai moral manusia baru tampak nyata bila sudah berhadapan dengan tantangan yang muncul di hadapannya. Tantangan itu di antaranya adalah cinta birahi dan uang! Pelajaran itu teorinya Bapak dapatkan dari pesantren, dan pembuktiannya Bapak dapatkan melalui ibu dan sahabat Bapak sendiri,” kata ayahnya dengan nada pedih.

Pergi dari ibu dan sahabatnya, yang telah berubah menajdi ayah tirinya, ayah Heru kemudian tinggal di tempatnya mengajar di sebuah pesantren. Di situlah ia bertemu dengan santri putri belia, yang kemudian dipilih sebagai istrinya.

Tak lama setelah itu, ayah Heru pun didepak dari pesantren itu. Mengapa?

“Kiainya menganggap Bapak punya pikiran-pikiran aneh, yang ditakutkan bisa menyesatkan para santri di situ.”

Sejak saat itulah sang ayah tidak lagi bisa berkiprah di pesantren, karena kabar keanehan pikirannya begitu cepat menyebar di kalangan para kiai. Untuk mencari penghidupan, sang ayah terpaksa mempraktikkan ilmu-ilmu yang juga didapatnya dari pesantren, yaitu ilmu silat, pijat urut, dan memotong rambut. Tapi istrinya tidak setuju dia jadi guru silat atau tukang pijat. Maka dia hanya punya satu pilihan, yaitu jadi tukang cukur.

“Dua puluh tahun lebih belajar di beberapa pesantren, dengan harapan bisa mendirikan sebuah pesantren, akhirnya terhempas jadi tukang cukur? Itukah yang bernama nasib?” tanya Heru.

“Jangan salah paham tentang nasib,” kata ayahnya. “Jangan sampai kesalah-pahaman kita lantas membuat kita menyalahkan atau memprotes Allah.”

“Maksud Bapak apa?”

“Kamu lihat gelas ini,” kata ayahnya sambil mengacungkan gelas tempat air minumnya. Lalu gelas itu ditahunya di atas meja.

“Banyak orang yang beranggapan bahwa nasib dirinya di tangan Allah seperti nasib gelas ini di tangan Bapak. Gelas ini, apakah ditaruh di atas meja, atau dibanting di atas batu sampai dia hancur berantakan, dia tidak akan memprotes. Dia terima saja apa yang diperbuat orang terhadapnya. Pasrah bongkokan, kata orang.”

“Dan itu, bila menjadi sikap manusia, adalah sikap yang salah kan?”

“Sebenarnya tidak, bila kita memahaminya secara cerdas.”

“Bagaimana memahami yang cerdas itu?”

“Kamu lihat benda-benda angkasa yang kita sebut tatasurya itu? Benda-benda raksasa yang kita anggap sama saja seperti gelas, benda-benda mati yang tidak punya pikiran, tidak memiliki kecerdasan? Karena itu mereka bisa pasrah bongkokan terha-dap ketentuan Allah. Bagaimana pendapatmu tentang mereka?”

“Tadi Bapak sudah bilang bahwa mereka tidak punya pikiran, tidak punya kecerdasan. Jadi, apa yang mereka perbuat, eh mereka kan tidak berbuat ya? Yang benar, keadaan mereka itu – bukan perbuatan – adalah keadaan yang wajar dan pantas. Sebaliknya bagi manusia, bila berbuat seperti mereka, tentu tidak pantas.”

“Salah besar!” kata ayahnya sambil memukul meja, hampir berteriak. Lalu sang ayah tertawa melihat anaknya kaget karena ulahnya.

“Jadi, yang benar gimana, Pak?  Jangan bikin aku bingung doong!”

“Kata kuncinya adalah memahami secara cerdas, Her.”

Heru terdiam. Apakah ayahnya ingin membuatnya sadar bahwa dia belum cukup cerdas, pikirnya. Tapi kecerdasan macam apa yang diamaksud ayahnya? “Apakah kecerdasan yang Bapak maksud adalah kecerdasan orang-orang pesantren yang banyak membaca kitab-kitab berbahasa Arab?” tanya Heru kemudian.

“Kecerdasan dalam memahami ayat-ayat Allah. Dan itu tidak selalu dimiliki lulusan pesantren. Dalam Al-Qurãn mereka disebut sebagai ûlûl-albãb, yaitu ar-rãsikhûna fil-‘ilmi.

“Waduh! Bapak jangan pake istilah-istilah asing begitu doong!”

“Itu istilah-istilah Al-Qurãn, bukan istilah-istilah asing. Bapak marah kalau kamu sebut itu istilah-istilah asing.”

Sorry, Pak. Aku kan engga ngerti.”

“Sudah lama Bapak ajak kamu belajar bahasa Arab, tapi kamu lebih suka bahasa Inggris. Sampai-sampai maaf saja diganti dengan seuri.[3] Huh, boro-boro hayang seuri, teu aya lucuna.” [4]

Heru tertawa.

“Bapak kalo ngajar anak tuh jangan suka bertele-tele. Dan jangan anakmu ini dianggap sama dengan para lulusan pesantren.”

Ayahnya ganti tertawa.

“Bagaimana cara cerdas memahami nasib itu?” Heru mengejar.

“Kembali ke soal benda-benda mati itu,” kata ayahnya. “Mereka memang tidak punya pikiran, tidak punya kecerdasan. Tapi yang menciptakan mereka, yang menata mereka, adalah Dia Yang Mahaberpikir dan Mahacerdas!”

“Jadi?”

“Jadi, seandainya mereka dapat berpikir, kepatuhan mereka terhadap kehendak Sang Pencipta adalah kepatuhan yang cerdas, karena kepatuhan itulah yang mendatangkan keseimbangan dan harmoni. Sebaliknya, bila mereka membangkang, terjadilah kekacauan dan bencana. Inilah yang harus dijadikan pelajaran oleh manusia. Manusia harus patuh pada peraturan Allah, supaya hidup dalam keseimbangan dan harmoni. Dan supaya tidak menjadikan sesamanya sebagai korban atau tumbal bagi kesenangan pribadinya.”

Heru tahu, kalimat yang terakhir diucapkan ayahnya dengan tekanan nada yang bersifat pribadi. Berhubungan dengan pengalaman pribadinya.

“Aku masih belum ngerti, Pak. Apakah kapatuhan manusia terhadap peraturan Allah itu harus seperti kepatuhan benda mati?”

“Ya! Patuh tanpa protes. Tanpa ada kompromi.”

“Artinya, manusia harus menerima nasib, begitu?”

“Peraturan Allah menentukan baik-buruknya nasib manusia.”

“Maksud Bapak nasib manusia di akhirat?”

“Di sini juga. Dalam kehidupan sekarang ini; bukan hanya di akhirat. Bila manusia mematuhi peraturan Allah, nasibnya pasti baik, dan bila membangkang pasti bernasib buruk.”

“Kenyataannya, nasib Bapak menjadi buruk karena ulah orang-orang yang melanggar peraturan Allah.”

“Bapak tidak bicara tentang nasib manusia secara pribadi, tapi secara umum, secara global. Kepatuhan manusia terhadap Allah, secara global, pasti mendatangkan kebaikan secara global, secara umum, di seluruh dunia. Sebaliknya, pembangkanan secara global tentu membawa bencana secara global pula. Jelasnya, Allah tidak menjatah nasib manusia secara seorang-seorang. Sama seperti halnya sebuah bintang di jagat raya, nasibnya ditentukan oleh hukum Allah yang berlaku pada seluruh alam.”

Heru terdiam, sambil mengangguk-anggup perlahan. Mungkin pusing memi-kirkan kata-kata ayahnya yang melambung tinggi. Mungkin pula itulah caranya supaya dianggap cerdas oleh ayahnya.

 


[1] Sekararang developer.

[2] Maksudnya Tasikmalaya.

[3] Sunda: ketawa, tertawa.

[4] Jangan harap ingin ketawa, tak ada lucunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: