Hari Kita Masih Kelabu (1)

Si Buta Dari Gua Hantu dalam majalah komik Eres. (Gambar dari komikindonesia.com).

Satu

Kisah ini terjadi pada tahun 1970an, ketika Jakarta masih belum terlalu ramai dan padat. Gedung-gedung utama yang terkenal di Jakarta – selain Istana Merdeka dan Gedung Bappenas – baru Hotel Indonesia dan Sarinah. Terminal bus kota yang terbesar di Jakarta Pusat adalah Lapangan Banteng. Sementara di Jakarta Selatan, wilayah tempat tokoh kita tinggal, terminal terbesarnya adalah Blok M.

Waktu itu ongkos bus masih lima puluh rupiah, dan gagasan untuk membuat bus PATAS (cepat dan penumpangnya terbatas) mungkin belum lagi terlintas.

Tokoh kita punya kenangan manis tentang terminal bus Blok M yang terletak di Kebayoran Baru itu. Pada waktu itu pemerintah DKI agaknya masih punya kepe-dulian terhadap rakyat kecil yang butuh hiburan gratis. Setiap ulang tahun kota Jakarta, tokoh kita dan orang-orang sekampungnya selalu mempunyai dua pilihan untuk menikmati hiburan yang dihidangkan pemerintah DKI di berbagai tempat strategis. Pilihan bagi tokoh kita adalah Pasar Blok A atau Terminal Bus Blok M. Tapi tokoh kita lebih suka memilih Blok M, walau Blok A letaknya lebih dekat. Di terminal dan pasar (tradisional) Blok M, setiap malam tanggal 22 Juni, selalu didiri-kan panggung-panggung rakyat di berbagai penjuru. Ada pertunjukan wayang kulit dan wayang golek, lenong, band, orkes Melayu (dangdut), dan banyak lagi. Tapi yang paling disukai tokoh kita adalah pertunjukan film layar tancap, yang selalu diadakah di terminal Blok M.

Alangkah senangnya menonton film di ‘teater terbuka’ terminal Blok M itu. Tempatnya lebar, terdiri dari hamparan pasir dan batu yang dilapisi aspal, yang terasa hangat ketika diduduki dan ditiduri beramai-ramai. Ya! Alangkah indahnya menonton film sambil tiduran di atas aspal hangat, yang pada siang harinya dilindasi bus kota, yang jumlahnya belum terlalu banyak. Nonton mulai pukul delapan malam sampai pukul empat subuh. Beberapa judul film sekaligus ditonton dalam semalam. Gratis!

Itulah salah satu kenangan tokoh kita tentang terminal Blok M. Hidangan keramahan pemerintah terhadap warga kota metropolitan yang miskin, yang ternyata semakin lenyap seiring dengan bertambahnya usia tokoh kita, dan semakin hebatnya kemajuan kota Jakarta.

Kenangan lainnya tentang Blok M dalam kepala tokoh kita adalah buku komik. Entah berapa minggu sekali ia pergi ke Pasar Blok M, yang berhadapan dengan terminal, untuk membeli atau melihat-lihat komik-komik di sebuah toko, atau yang dipajang para pedagang kalilima (tak sampai sepuluh orang) di bawah sebuah tangga. Belum ada sebuah pun komik Jepang. Komik-komik yang dijual seluruhnya karya orang Indonesia. Mulai dari komik wayang, roman (kisah percintaan), cerita silat (yang selalu ada romannya), cerita anak-anak, cerita fantasi modern, semua  karya orang Indonesia.

Pengarang komik wayang kesayangan tokoh kita adalah R.A. Kosasih, Ardisoma, dan Oerip. Pengarang komik roman adalah Jan Mintaraga dan Zaldy. Sedangkan pengarang komik silat, siapa yang lebih hebat dari Ganes Th yang melahirkan tokoh Si Buta Dari Gua Hantu itu? Selainnya adalah Djair Warnipona-kanda yang melalui salah satu tokoh ciptaannya, Jaka Sembung, melahirkan sebuah ‘pepatah’ baru: Jaka Sembung bawa golok. (Nggak nyambung, goblok!). Selainnya lagi adalah Hans Jaladara, yang menciptakan tokoh antihero[1] Panji Tengkorak. Selain mereka, masih banyak nama-nama komikus silat yang sudah tidak diingatnya.

Komik silat rupanya merupakan genre (jenis) komik paling digemari waktu itu, setelah komik wayang dan roman. Ganes Th, pelukis komik keturunan Cina yang lahir di Tangerang 10 Juli 1935, konon merupakan pelopor penciptaan komik silat dan jelas merupakan maestronya. Saking larisnya komik silat, para pelukis komik roman pun akhirnya banyak yang ikut-ikutan membuat komik tersebut. Yan Mintaraga, misalnya, yang nomor wahid di komik roman, akhirnya ikut juga membuat komik silat dengan tokoh Pendekar Kelelawar, yang ternyata tidak mampu menyaingi Si Buta Dari Gua Hantu, Jaka Sembung, dan Panji Tengkorak dalam hal ketenaran.

Kendati komik impor hampir tidak pernah terselip di pasar komik Indonesia waktu itu, khayalan para komikus Barat rupanya sudah masuk juga melalui beberapa komikus kita. Maka munculah komik-komik dengan tokoh-tokoh tiruan seperti Godam (Superman), Gundala Putra Petir (Flash Gordon), Labah-labah Merah (Spiderman) dan lain-lain. Selain itu, ada juga satu-dua komikus yang membuat komik cowboy, dengan mutu gambar yang lumayan jelek.

Dalam ingatan tokoh kita, masa keemasan komik Indonesia ditutup dengan munculnya komik-komik Hans Andersen. Yaitu komik cerita anak-anak yang semula diambil dari kumpulang dongeng-dongeng karangan Hans Christian Andersen, tapi selanjutnya sembarang cerita dibuat dengan menjual nama pengarang Denmark itu. Bahkan, yang menyakitkan, sejumlah cerita rakyat daerah Indonesia pun dibikin komik dan ditulis sebagai dongeng Andersen!

Selanjutnya, seiring dengan semakin pesatnya pembangunan Jakarta, Blok M dengan pasar dan terminalnya pun berubah dan berubah. Di pasar dan terminal Blok M,  tidak ada lagi peringatan kelahiran Jakarta dengan hidangan hiburan gratis bagi rakyat jelata. Begitu juga di tempat-tempat lain.

Para pedagang kaki lima yang menjual komik juga hilang entah ke mana.

Hilangnya komik Indonesia, yang kini digantikan dengan melimpah-ruahnya komik Jepang, menumbuhkan kepedihan tersendiri di hati tokoh kita.

Komik adalah sarana yang membawa tokoh kita berkenalan dengan dunia baca-tulis, dan sekaligus corat-coret alias menggambar. Melalui komiklah tokoh kita belajar membaca untuk pertama kali, dan senang menggambar juga untuk pertama kali. Selanjutnya, kesukaannya pada komik yang luar biasa, meski komik disebut sebagai bacaan tak berguna, telah sempat membuat tokoh kita berkhayal untuk jadi pembuat komik. Sayang, ia terlambat lahir. Hasrat menjadi pembuat komik tidak bisa tumbuh pada saat perkomikan Indonesia justru sudah hancur.

Namun tokoh kita tidak kehilangan akal. Kesukaannya menulis disalurkannya melalui beberapa majalah anak-anak yang mulai bermunculan. Tapi, jalan untuk menjadi penulis baginya rupanya terlalu terjal. Maka jangan heran bila nama tokoh kita ini tak pernah anda kenal sebagai seorang penulis ternama.

Siapakah tokoh kita ini?


[1] Yaitu tokoh berpenampilan buruk. Disebut antihero karena biasanya para jagoan (hero) dalam cerita-cerita selalu manusia berpenampilan fisik baik (ganteng, cantik). Panji Tengkorak sendiri sebenarnya berwajah tampan, tapi selalu mengenakan topeng berbentuk tengkorak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: