Bahasa, Jalan Tol Menuju Ilmu (Dan Kekuasaan)

Tulisan ini saya buat setelah membaca komik Jepang berjudul Sickness Unto Death terbitan Elexmedia Komputindo tahun 2010. Saya membelinya kemarin di tempat obral seharga lima ribu rupiah. Selain karena saya suka komik, alasan pembeliannya yang nomor satu adalah harganya itu.

Saya sempat dibuat  bingung memahami komik ini, karena rupanya saya melakukan kesalahan dalam cara membacanya. Komik Jepang harus dibaca seperti membaca Al-Qurãn, yaitu dari kanan ke kiri, bukan seperti buku-buku umumnya yang dibaca dari kiri ke kanan. Bisa anda bayangkan bagaimana lucunya (bingungnya) membaca sebuah cerita dengan memulainya dari  bagian akhir, terus ke bagian lebih awal. Dan itu bukan memahami cerita secara flashback tapi membaca sebuah buku secara lugu dari halaman akhir ke halaman-halaman lebih awal.

Syukurlah sebelum kebingungan berlanjut saya segera mengetahui kekeliruan saya.

Setelah membaca dengan teknik yang benar, barulah saya mengerti bahwa komik itu ternyata berisi sebuah tema yang berat, yaitu tentang filsafat Soren Aabye Kierkegaard. Tepatnya filsafat eksistensialisme versi Kierkegaard, seorang filsuf Denmark abad 19 M.

Selanjutnya, saya tidak ingin membahas Kierkegaard maupun filsafatnya. Saya justru lebih tertarik untuk sedikit menyatakan kekaguman kepada orang Jepang, dan selanjutnya saya ingin bicara agak banyak tentang peran bahasa sebagai jalan tol menuju ilmu.

Bagaimana hebatnya orang Jepang, sudah banyak dibicarakan orang. Dan saya ingin menambahkan dengan menyebut kehebatan pembuat komik ini. Di mana letak hebatnya? Pertama, dia membuat komik filsafat, sebuah tema yang menurut kebanyakan orang berat dan karena itu tidak menarik. Kedua, tokoh yang diambil adalah orang Barat, bukan orang Jepang. Ketiga, ternyata ia mampu mengurai sebuah filsafat ke dalam bentuk komik (cerita bergambar; cergam) yang cukup menarik, bahkan jalan ceritanya cukup mengalir, dan cukup menyentuh.

Entah mengapa, setelah membaca komik ini saya kok jadi memikirkan pentingnya peran bahasa sebagai jalan tol menuju ilmu. Tapi, coba anda renungkan, bagaimana mungkin sang penulis komik ini bisa membuat komik Kierkegaard, yang berjudul Sickness Unto Death itu bila sebelumnya dia tidak membaca berulang-ulang tulisan Kierkegaard dengan judul yang sama, dalam bahasa Inggris?

Hanya dengan pemahaman bahasa Inggris yang baiklah ia bisa memahami buku Kierkegaard, dan kemudian menuangkan filsafatnya menjadi story board (semacam skenario film) untuk diubah menjadi sebuah komik.

Intinya adalah penguasaan atau pemahaman bahasa!

Bahasa bisa menjadi jembatan, jalan tol, kendaraan, yang dapat mengantarkan manusia pada ilmu. Dan orang Jepang (tentu tidak semua!) mempelajari bahasa Inggris untuk mencapai ilmu Barat. Kendati mereka dikenal tidak cakap mengucapkan huruf “l”, usaha keras untuk menguasai bahasa Inggris ternyata telah membuat mereka menjadi “ruarrr biasa” dalam banyak bidang! Bahkan dalam urusan komik atau manga (baca: mangha), kita tahulah bahwa komik-komik yang kini membanjiri toko-toko buku kita adalah komik Jepang. Bahkan gaya orang Jepang membuat komik sudah ditiru secara luas oleh para komikus kita sekarang. Dengan kata lain, bisa dikatakan – dalam dunia komik – berkomik ala Jepang adalah trend zaman sekarang.

Kembali ke soal bahasa. Kegandrungan orang Jepang pada bahasa Inggris mempunyai latar belakang sejarah yang kuat. Jepang menyatakan takluk pada Amerika sejak dua kota mereka, Hiroshima dan Nagasaki, diledakkan dengan bom atom. Sejak saat itu, Jepang menerima kehadiran Amerika secara fisik di negeri mereka, sehingga memaksa mereka belajar bahasa Inggris. Selanjutnya, dengan penguasaan bahasa Inggris, otomatis mereka yang konon kuat berpegang pada tradisi itu, menjadi sangat terbuka terhadap budaya Barat, baik budaya populernya – seperti cara berpakaian hampir telanjang  dan lain-lain – maupun budaya klasik mereka (kesukaan pada filsafat dan lain-lain).

Barat dan bahasa Arab

Bila kita baca sejarah, kemajuan bangsa-bangsa Barat tidak bisa dilepaskan dari  pengaruh bangsa dan bahasa Arab. Ekspansi bangsa Arab ke Barat, dengan membawa agama Islam, menyebabkan bangsa-bangsa Barat berkenalan dengan budaya dan bahasa baru. Budaya dan bahasa Arab, yang tidak terpisahkan dari Islam dan literaturnya terpenting, Al-Qurãn.

Bangsa Arab yang sejak awal konon bangga dengan bahasa mereka, digelorakan gairah membaca dan belajarnya oleh Al-Qurãn.  Gairah itu mereka tularkan ketika mereka membawa Islam ke dunia barat yang sedang tercengkam abad kegelapan. Bagai kesurupan ‘setan ilmu’, bangsa Arab muslim mempelajari, antara lain, filsafat  Yunani dan logika Aristotheles, seraya mengajarkan Islam dan berbagai temuan ilmiah yang mereka gali berkat dorongan Al-Qurãn.  Kegiatan mereka itu, dengan cepat melahirkan ribuan buku berbahasa Arab yang membahas berbagai cabang ilmu dan membanjiri perpustakaan mereka di setiap kota yang mereka dirikan. Hal itu, otomatis juga memaksa bangsa-bangsa Barat untuk mempelajari bahasa Arab, yang pada waktu itu adalah bahasa penguasa (penjajah) sekaligus bahasa ilmu pengetahuan. Pendeknya, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa pada waktu itu bangsa-bangsa Barat dicerdaskan, bahkan dibuat melek terhadap kekayaan intelektual mereka sendiri oleh bangsa Arab, yang notabene adalah muslim. Dan memang sudah diakui oleh mereka sendiri bahwa kebangkitan kembali (renaissance) bangsa-bangsa Barat tidak bisa dipisahkan dari pengaruh bangsa Arab, yang masuk ke Barat secara fisik dan budaya.

Belakangan, terutama setelah Perang Salib, yang terjadi adalah serangan balik. Barat menyerbu Timur, dengan membawa missi yang mereka simbolkan dengan 3G (boleh dibaca tri-ji), yaitu kependekan dari gold, glory, Gospel (emas, kemuliaan, ‘Injil’)[1]

Barat, bersama semangat tersebut, yang kemudian dikenal sebagai imperialisme dan kolonialisme, mengembangkan satu cabang ilmu bernama Orientalisme. Yaitu ilmu-ilmu yang berkenaan dengan apa pun yang ada di dunia Timur (orient), yang kemudian terbukti merupakan sarana ampuh untuk menaklukkan dunia Timur, khususnya Asia, dan lebih khusus lagi adalah mantan penjajah mereka, Dunia Arab alias Dunia Islam.

Tahukah anda ilmu apa yang terpenting dan menjadi asas Orientalisme? Bahasa!

Tahukah anda bahasa apa yang dipelajari bangsa-bangsa Barat (Portugis, Belanda, Inggris, dan lain-lain) ketika mereka datang ke wilayah Nusantara? Bahasa Melayu, yang ketika itu menjadi lingua franca (bahasa pergaulan) di kawasan Nusantara dan sekitarnya. Dan manakala mereka hendak masuk ke Dunia Arab, tentu mereka harus lebih dulu menguasai Bahasa Arab.

Dan, yang paling penting utuk digaris-bawahi adalah bahwa bangsa-bangsa Barat tahu betul bahwa Bahasa Arab sampai pada masa awal imperialisme dan kolonialisme itu, masih merupakan bahasa ilmu! (Bukan hanya lingua franca bangsa Arab/muslim). Dan bahasa ilmu, dengan kata lain, adalah juga bahasa budaya,alias bahasa peradaban.

Jadi, untuk mengenal, dan kemudian menaklukkan Dunia Arab alias Dunia Islam, adalah sangat penting dan asasi untuk lebih dulu menguasai Bahasa Arab. …

Sungguh, saya ingin menulis lebih panjang. Tapi mungkin itu akan membosankan. Bila anda sudah memahami apa yang tertulis di atas, saya hanya ingin menambahkan bahwa Orientalisme telah bekarja dengan sangat baik. Salah satu bukti untuk itu, yang berkenaan dengan tema tulisan ini, adalah keberhasilan Barat (antara lain yang  berbahasa Inggris, Jerman, dan Prancis) memegang otoritas atas Bahasa Arab. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?

Ketahuilah, saudaraku. Kamus terbesar (ribuan halaman) dan tentu terlengkap untuk Bahasa Arab saat ini adalah Lane Lexicon, yang disusun oleh orang Jerman. Anda bisa men-download-nya di internet, dan untuk itu anda butuh ruang hard-disk komputer yang sangat banyak.  Kamus Bahasa Arab terpopuler adalah Al-Munjid, karya Louis Ma’lup, orang Prancis (yang mukim di Lebanon). Dan kamus standar yang dianggap terbaik oleh para intelektual Arab saat ini adalah The Dictionary Of Modern Writen Arabic, karya Hanz Wehr, orang Jerman, yang dikenal sebagai Kamus Hanz Wehr (baca: hanswer).  Kamus ini juga bisa anda download secara gratis. Dan banyak lagi. Terlalu banyak untuk disebut di sini. Dan, ini yang terpenting untuk dicamkan, para intelektual dunia saat ini, apalagi orang Indonesia yang tak kenal Bahasa Arab, bahkan para intelektual Arab sendiri, menjadikan kamus-kamus tersebut sebagai rujukan mereka.

Akhir kalam, siapakah gerangan penguasa ilmu dan penguasa dunia sekarang ini? Bangsa-bangsa Barat. Bahasa apa yang mereka gunakan untuk menguasai ilmu dan dunia? Salah satunya, yang tak kurang penting, adalah Bahasa Arab.▲


[1] Gospel adalah sebutan lain untuk kitab Perjanjian Baru, yang secara keliru dianggap sama dengan kitab Injil yang diajarkan kepada Nabi Isa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: