Identitas Yang Benar

Saya bingung ketika ada seorang Muslim bersikap seperti orang yang tak punya identitas. Seperti kehilangan kepribadian, atau mengalami ‘pecah kepribadian’ (split of personality). Padahal Muslim itu sebuah kepribdian. Sebuah identitas, yang justru menjadi kebanggaan para nabi dan rasul, serta orang-orang shalih; sehingga mereka tidak ragu untuk mendabik dada seraya mengatakan, “Isyhadû bi-annã muslimûn(a)!” (Saksikanlah bahwa kami adalah Muslim!”

Sekarang, banyak orang yang mengaku Muslim malah lari ke primordialisme kesukuan, misalnya, untuk menegaskan (?) identitas mereka. Banyak orang Betawi yang sibuk mencari-cari identitas ke-Betawi-an, seolah kalau tidak dikenal sebagai orang Betawi maka dia menjadi tidak berarti, menjadi kurang berharga, menjadi  tidak ‘eksis’ di hadapan suku-suku lain.

Saya punya teman Muslim bersuku Jawa. Suatu hari, ketika dia menghadapai masalah, dia melakukan seuatu yang berciri khas Jawa, yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ketika saya mengingatkan, dia menjawab, “Bagaimana pun, saya ini adalah orang Jawa.”

Karena dia teman baik, saya pun tak ragu untuk mengatakan, “Mas, apakah ke-Jawa-an anda bisa menyelamatkan anda dari azab neraka? Tahukah anda bahwa perkataan anda itu tak ada bedanya dengan klaim Yahudi, bahwa mereka – kalau pun masuk nereka, mereka hanya akan disiksa sebentar? Tahukah anda bahwa ketika mereka mengatakan demikian, Allah menantang mereka untuk minta segera mati?”

Teman saya tak menjawab.

Saya sendiri, sebagai orang ‘berdarah’ (?) Sunda, pernah disindir sebagai orang yang melupakan sejarah, hanya karena tidak bisa berbahasa Sunda (karena dari kecil tinggal di Jakarta).

Tapi, sebenarnya, apa hebatnya ketika kita menjadi Betawi, Jawa, Sunda, dan lain-lain?

Teman saya ngaji (sudah jadi mendiang) yang berasal dari Sukabumi, suatu hari mengatakan di depan forum, “Ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa di dunia ini hanya ada dua  bangsa; yaitu bangsa mu’min dan bangsa kafir!”

Kata-kata itu benar, tentu dari sudut pandang Muslim. (Dari sudut pandang yang lain, silakan menggunakan teori nilai masing-masing).

Teman senior saya itu, mengatakan demikian dengan tujuan agar seorang Muslim menegaskan jati dirinya sebagai Muslim, bukan sebagai bagian dari latar belakang apa pun. Kenyataannya, saya (orang Sunda!) adalah ketua dari sebuah kelompok pengajian. Wakil saya, sekretaris, ketua bidang pendidikan dan lain-lain, adalah anak-anak Betawi; orang-orang yang mengurus keuangan adalah orang Jawa; para anggota secara keseluruhan, terdiri dari berbagai suku. Dalam jama’ah pengajian, kami mengusung amanah (missi) yang sama seperti para Muslim yang lain. Yaitu ingin menegakkan peradaban Islami.

Jadi, hakikatnya, ketika kita telah menyatakan diri sebagai Muslim, bukankah kita ini hanya hamba-hamba Allah? Bukankah – sebagai hamba-hamba Allah – yang paling mulia adalah yang paling takwa?

Tentu karena itulah, Rasulullah dengan tegas mengatakan, “Bukan umatku, siapa pun yang mengkampanyekan ashabiyah (primordialisme). Bukan umatku, siapa pun yang berperang karena ashabiyah. Bukan umatku, siapa pun yang mati karena (membela) ashabiyah!” (Laisa minni man da’a ila ashabiyyah. Laisa minni man qatala ‘ala ashabiyyah. Laisa minni man mãta ‘ala ashabiyyah). ∆

Comments
2 Responses to “Identitas Yang Benar”
  1. didi says:

    makasih bang artikelnya, blh ga saya cetak di Brosur untuk dibagikan langsung? makasih

  2. Ahmad Haes says:

    Silakan.
    O ya, minta maaf blm bisa bikin tulisan yg kamu pesan. Soalnya banyak yg harus saya kerjakan, dan pikiran saya blm bisa konsen ke tema yg kamu sebutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: