Paradigma Baru Pembelajaran Bahasa Arab (2)


Ada Solusi

Alhamdu lillah, ada solusi untuk masalah ini.

Solusinya adalah kita harus kembali akar-akar kita, dan mempelajari Bahasa Arab sebagaimana para pakar mempelajarinya.

Dulu, kita memahami sifat dasar Bahasa Arab melalui para pakarnya sendiri, sehingga kita bisa mencomot metode mengajarkannya untuk disesuaikan dengan pelajar KITA, yaitu para Muslim dewasa hasil didikan Barat yang sudah mengembangkan kebiasaan belajar sendiri – yaitu orang-orang yang sudah terikat oleh tanggung-jawab keluarga dan pekerjaan, yang membuat mustahil bagi mereka untuk belajar di luar negeri dalam waktu yang lama.

Sedikit Tentang Saya

Sebelum saya paparkan metode tersebut, mungkin anda bertanya-tanya tentang saya dan latar belakang saya dalam ilmu ini (Bahasa Arab).

Saya memulai pendidikan formal Islami di Islamic Institute di Dewsburi, Inggris, ketika saya berusia 13 tahun. Beberapa tahun kemudian, setelah saya selesaikan penghafalan Al-Qurãn, saya mendapatkan kesempatan langka dan istimewa untuk belajar ilmu sharaf dan nahwu dari sejumlah orang yang benar-benar pakar dalam ilmu-ilmu tersebut.

Hal yang menyebabkan kesempatan demikian itu menjadi langka adalah karena sistem yang berlaku di madrasah. Dalam sebuah madrasah, guru-guru yang berpengalaman cepat dipromosikan dari bidang-bidang ilmu dasar, seperti sharaf dan nahwu, ke bidang-bidang ilmu yang (dianggap) lebih tinggi seperti Fiqh dan Hadits.  Hasil akhirnya, menjadi sedikitlah pelajar yang sempat belajar sharaf dan nahwu dari guru-guru berpengalaman.

Alhamdu lillah, saya mendapatkan kesempatan langka itu karena saya dikeluarkan dari madrasah saya (ini panjang ceritanya), dan harus pindah ke madrasah baru yang dibangun seorang syekh (guru) besar yang memang membutuhkan murid-murid baru. Syekh ini adalah guru dari salah seorang guru saya.

Syekh senior ini terkenal karena kepakarannya dalam Bahasa Arab klasik (fushah). Kenyataannya, ia memang paling ahli dibandingkan mereka semua (guru-guru yang ada waktu itu). Berkat rekomendasi guru saya, saya pun diterima sebagai murid sang guru besar di madrasah baru itu.

Karena madrasah baru, maka segalanya dimulai dari awal. Jumlah murid sangat sedikit.  Di kelas saya sendiri, hanya ada 4 murid. Dan karena syekh senior itu sangat dihormati di seluruh Inggris, dan mempunyai murid-murid yang punya keistimewaan di bidang masing-masing, maka ia pun bisa mendapatkan yang paling cerdas di antara mereka dan mengajak mereka bergabung untuk mengajar di madrasah barunya.

Alhasil, saya pun mempunyai 4 orang guru, dan mereka adalah para pakar di bidang masing-masing. Mereka adalah syuyukh (jamak dari syaikh) yang di mana-mana mereka mengajarkan kitab-kitab besar ilmu Fiqh dan Hadits. Saya beruntung bisa mempelajari Bahasa Arab dan banyak ilmu dasar dari mereka. Mereka juga sangat shalih dan merupakan awliya (jamak dari waly) sejati. MasyaAllah.

Dan karena murid di kelas kami sangat sedikit, setiap hari saya punya kesempatan untuk membaca dan menerjemahkan berbagai naskah.  Seandainya saya menjadi murid salah satu dari dua lembaga pendidikan yang lebih besar, saya tak akan mendapatkan sepersepuluh perhatian dan kesempatan seperti yang saya peroleh di sini.

Setelah lulus dari madrasah tersebut, saya melanjutkan studi beberapa tahun di Pakistan, dan kemudian kembali ke Kanada tahun 2001.

Bagaimana Saya Mulai Mengajar?

Tahun itu (2001), saya mendapatkan empat murid, yang hanya sedikit lebih muda dari saya, dan saya mulai mengajar mereka di lantai dasar (basement) rumah saya. Saya mengajar mereka setahun penuh. Dan dalam setahun itu, saya berhasil mengajarkan 16 buku. Sungguh luar biasa.

Kami belajar 300% lebih cepat dari yang pernah saya jalani sendiri.

Saya merenungkan bagaimana hal itu bisa terjadi, dan saya menyadari bahwa faktor terbesar adalah para murid itu sendiri. Mereka lebih tua dan jauh lebih dewasa dari teman-teman saya sekelas di madrasah dulu, dan kebiasaan belajar mereka sudah terbentuk.

Kembali pada keadaan saya selagi masih pelajar, saya menelitinya berulang-ulang. Para pelajar yang lebih tua, lebih dewasa berdatangan dan mendaftar di madrasah. Mereka ini adalah para lulusan universitas-universitas Barat, punya pekerjaan, dan mereka harus menyisihkan waktu dari kesibukan-kesibukan rutin mereka. Mereka melakukan perjalanan dan mendaftar di madrasah karena mereka mengerti bahwa Bahasa Arab adalah pintu gerbang menuju segala ilmu.

Sayangnya, keadaan mereka akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik.

Mari saya jelaskan apa yang saya maksud. Maksud saya adalah: mereka ditempatkan bersama anak-anak berusia 16 tahun, dan ustadznya mengajar dengan tingkat pelajaran yang paling rendah untuk usia tersebut.

Anda bisa bayangkan frustrasi macam apa yang menyebabkan orang yang serius dan ingin bergerak cepat tapi ia tertahan di belakang karena langkah yang harus dilakukannya terlalu lambat, dan sang guru tidak melayani gaya belajar pelajarnya. Maka kecewalah mereka dan akhirnya mereka pun drop out.

Ketika saya perhatikan ini, saya pun bertekad untuk memunculkan sebuah metode yang bisa digunakan oleh para pekerja profesional dan para lulusan universitas – yaitu orang-orang yang kenyataannya tidak bisa mendaftarkan diri di madrasah. Itulah yang saya lakukan sejak saat itu.

Selama 10 tahun terakhir ini, setiap hari, itulah yang saya lakukan.

Cukup sekitan tentang saya.  Sekarang mari kita masuk ke masalah yang sejak awal saya sebutkan.

Kesalahan Besar Yang Menghambat Pembelajaran Bahasa Arab

Masalahnya, ketika kebanyakan orang mempelajari Bahasa Arab, mereka memulainya dengan sejumlah buku teks (pelajaran). Hal paling umum di antara semua buku teks itu adalah mereka menggunakan sebuah metode yang bergerak dari pelajaran yang paling sederhana ke pelajaran yang rumit. Anda tentu masih ingat dengan pengalaman saya di atas. Bila anda membuka buku teks, bab pertama, kedua dan ketiga akan membahas frasa-frasa, kalimat kata benda yang mengandung subjek dan predikat, bagaimana mengaitkan kata-kata untuk menyusun kalimat yang lebih panjang. Hal seperti ini juga ditemukan dalam kurikulum-kurikulum iniversitas. Bila anda pernah kuliah, anda akan tahu hal itu.

Rasanya metode dari sederhana ke rumit ini merupakan metode yang pas. Maklum, kita telah diajari bahwa untuk mencapai satu tujuan kita tidak boleh memandangnya sebagai sebuah proyek tapi sebagai langkah-langkah. Bila anda memecah pencapaikan tujuan menjadi langkah-langkah, dan kemudian secara bertahap bergerak untuk melampaui langkah-langkah itu, hal itu akan memudahkan untuk  mencapai tujuan. Tapi, yang ingin saya katakan di sini, dalam urusan belajar Bahasa Arab hal itu adalah kesalahan besar.

Ketika anda belajar dari sederhana ke rumit, anda dengan susah-payah menghambat kemajuan anda.

Cara itulah yang telah mengecewakan kebanyakan orang. Cara itu tak akan mujarab karena mengabaikan sifat dasar Bahasa Arab, dan kenyataan bahwa Bahasa Arab adalah sebuah sistem pengangkutan makna yang rumit.

Hasil Dari Pendekatan Ini

Ketika anda bergerak dari sederhana ke rumit, anda merasa terjebak, lalu anda berpikir bahwa Bahasa Arab ini sulit, karena setiap peraturan yang dikemukakan kepada anda tidak benar-benar berkaitan dengan gambar besar atau tema inti, tapi hanya tampak seperti sesuatu yang ngacak dan tak saling berhubungan. Anda merasakan terlalu banyak yang harus dihafal dan tidak terorganisir. Hal itu terjadi karena tiadanya gambar besar yang terhidang.

Saya anjurkan agar sang guru, di hari-hari pertama, memusatkan perhatian pada bagaimana bahasa berjalan dan mengajarkan sistemnya. Ini menjamin cepatnya kemajuan. Kemudian, dengan setiap detail peraturan baru yang diperkenalkan, anda tinggal mengaitkan saja dengan gambar besar tersebut.  Setiap anda mempelajari sesuatu yang baru, maka hal itu menjadi masuk akal dan anda menemukan saat menggembirakan, semacam mendapat wahyu.

Tanpa itu, bila anda bergerak dari sederhana ke rumit, anda tidak menemukan saat menggembirakan tersebut, dan dengan cepat anda kehilangan rasa tertarik, lalu anda pindah dari satu buku ke buku lain, dari satu guru ke guru lain, dan akhirnya anda tidak mendapatkan berkah (manfaat) atau minat lagi.

Apa kesalahan dari langkah sederhana ke rumit itu?

Keslahan mendasarnya adalah karena mengabaikan sistem yang digunkan dalam Bahasa Arab untuk mengangkut makna – yaitu sistem yang digambarkan Ibnu Khaldun berabad-abad lampau sebagai sistem tercanggih di bumi ini untuk mengangkut makna.

Inilah intinya:

Kebanyakan makna-makna (pengertian; konsep) dalam bahasa Arab tidak berasal dari kata-kata.

Namun, hampir semua kursus di luar sana mengajarkan Bahasa Arab mulai dari daftar kata dan struktur sederhana tanpa menghidangkan sebuah kerangka yang menggambarkan bagaimana bahasa itu berjalan. Mereka mengajari anda makna-makna dari kata-kata, seolah-olah mengetahui makna kosa kata secara terpisah bisa menjamin anda untuk mampu menerjemahkan kalimat-kalimat secara utuh.

Sama sekali jauh dari kebenaran.

Bila anda menghadapi satu kalimat yang terdiri dari lima kata, anda akan menemukan lebih dari lima makna. Kelima kata di dalamnya akan memberi lima makna tersendiri, bahkan pada puncaknya anda akan mendapatkan sepuluh,  dua belas, tiga belas makna tambahan. (Sebagai gambaran, dalam beberapa halaman, saya akan perlihatkan kepada anda contoh sesuatu yang tampak seperti sebuah kata Bahasa Arab, tapi sebenarnya mengandung banyak makna).

Metode dari sederhana ke rumit memusatkan segala usaha pada lima makna yang muncul dari lima kata dan hampir mengabaikan yang sepuluh, dua belas, dan tiga belas, yang tanpanya kesempatan anda untuk memahami makna kalimat menjadi sempit bahkan tidak ada.

Pernahkah anda mengalami kejadian ketika anda memahami setiap kata dalam sebuah kalimat, tapi anda tidak bisa menerjemahkannya secara jitu? Mengapa hal itu terjadi?

Hal itu terjadi karena bahkan para pengajar berpengalaman pun merasa bahwa makna-makna “di luar kata” itu terlalu rumit, yang bila diajarkan kepada pemula akan terlalu dini dan akan membingungkan mereka. Maka, sebagai ganti mengajarkan ‘jalan bahasa’, mereka pun menghabiskan waktu yang berharga untuk mengajarkan daftar kosa kata, yang sama sekali tidak akan menghapuskan kebuta-hurufan (kebodohan), dan tetap gagal membawa pelajar pada tingkat kebebasan (dari ketergantungan terhadap guru).

Kebanyakan makna dalam Bahasa Arab muncul dari fokal (harakat), pola-pola, dan susunan gramatikal (secara tata bahasa). Fokal, pola-pola dan susunan gramatikal adalah sistem yang akan saya bahas.

Semakin jauh memasuki catatan ini, anda akan melihat bukan hanya mungkin untuk menghidangkan sistem ini di depan sekali tanpa membingungkan pelajar, tapi justru (merupakan hidangan) mendasar. Dan yang saya maksud dengan itu adalah bahwa momentum[1] harus diciptakan. Tanpa momentum, anda akan cepat kehilangan minat dan selanjutnya segalanya menjadi sia-sia. Anda mungkin duduk bersama guru-guru yang sangat cerdas dan mempunyai kurikulum terbaik, tapi anda akan tetap gagal bila tingkat semangat tidak terjaga dalam keadaan tinggi. Menghidangkan sistem ini sejak awal adalah satu-satunya cara untuk menciptakan momentum bagi anda, dan membawa anda ke tujuan dengan cara yang bisa dipastikan keberhasilannya.

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa Bahasa Arab mempunyai poros dan tema inti. Bahasa Arab adalah sistem tercanggih di dunia untuk mengangkut makna secara jitu, karena kebanyakan makna tidak berasal dari kata-kata, tapi dari fokal.

Maksudnya, bila anda mempunyai sebuah kata kerja dan sejumlah kata benda, ada memerlukan semacam meknisme untuk memastikan kata benda yang mana menjadi pelaku dari kata kerja tadi, dan mana yang menjadi sasaran kerja. Setiap bahasa mempunyai cara sendiri untuk memastikan hal itu.

Bagaimana Bahasa Lain Mengusung Makna?

Bahasa-bahasa tertentu melakukannya dengan menggunakan kata-kata khusus.  Seiring dengan kata kerja dan dua kata benda, anda akan menemukan kata khusus untuk menandai subjek, dan kata khusus lain untuk menandai objek. Dalam Bahasa Urdu, mereka menggunakan kata nay  dan kow. Bila anda gabungkan tiga kata di atas, anda akan mendapatkan sebuah kalimat berisi lima kata, misalnya: Zayd nay Amr kow maara. (Zaid memukul Amr). Zaid adalah subjek, Amr adalah objek. Bila anda mengubahnya menjadi: Zayd kow Amr nay maara, Zaid menjadi objek dan Amr menjadi subjek.

Nay dan kow adalah kata-kata khusus yang digunakan untuk membedakan subjek dan objek. Kata yang diikuti nay adalah subjek, dan kata yang diikuti kow adalah objek. Tak jadi soal kata mana yang muncul duluan. Ini mengijinkan  kelenturan dalam penyusunan kata, tapi anda harus menambahkan kata-kata yang tidak dibutuhkan.

Bahasa-bahasa lain mengusung makna  melalui kata-kata yang berurutan. Mereka tidak membutuhkan lima kata; mereka bisa mengusung makna dengan tiga kata. Susunannya sangat kaku; subjek harus diletakkan di depan, kata kerja di tengah, dan objek di belakang.

Susunan subjek – kata kerja – objek (Inggris: SVO) adalah format dalam Bahasa Inggris. Subjek paling depan, kata kerja di tengah, objek di ujung. Bila susunan kata diubah, makna pun berubah. Kata yang semula objek berubah menjadi subjek, yang semula subjek menjadi objek. Cara penyusunan (berurutan) demikian itu membatasi anda untuk mengungkapkan makna hanya dengan satu cara.

(BERSAMBUNG)


[1] Di sini berarti “saat menggembirakan”. Lihat lagi uraian sebelumnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: