Mari Belajar Bahasa Arab!

Pelajaran Bahasa Arab
Untuk Pembaca Umum, khususnya pemula

Bab 1
Memahami Tiga Pihak

Dalam ilmu bahasa, manusia (dan makhluk-makhluk lain) dibagi menjadi 3 pihak, yaitu:
Pihak kesatu: saya/aku/hamba
Pihak kedua: kamu/kau/anda
Pihak ketiga: dia/ia/beliau

Apa yang dimaksud dengan pihak kesatu?
Karena bahasa pada dasarnya adalah alat percakapan, maka yang disebut pihak kesatu adalah orang yang sedang berbicara.
Lalu, apa arti pihak kedua?
Pihak kedua adalah orang yang diajak berbicara oleh pihak kesatu; dan kadang disebut juga sebagai pendengar atau lawan bicara.
Terakhir, pihak ketiga, adalah orang yang dibicarakan atau menjadi bahan pembicaraan, tak peduli apakah dia ada di dekat pihak kesatu dan pihak kedua, atau dia ada di tempat yang jauh dan tak terlihat.
Perhatikan gambar berikut ini.

Keterangan:
1. Tanda panah dari pihak kesatu kepada pihak kedua menandai hubungan langsung (berhadapan) antara pihak kesatu dengan pihak kedua.
2. Tanda panah putus-putus dari pihak kesatu kepada pihak ketiga mendakan bahwa pihak ketiga (yang dibicarakan) tidak ada di hadapan pihak kesatu.
3. Tanda panah putus-putus dari pihak kedua kepada pihak ketiga juga menandakan bahwa pihak ketiga tidak ada di hadapan pihak kedua.

 

Bab 2
Kata Ganti Nama

Kata ganti nama (sering disingkat menjadi kata ganti) adalah kata-kata yang digunakan untuk menggantikan nama setiap orang.
Contoh: sebutlah nama Saddam Husein.
Nama Saddam Husein itu, dalam obrolan (atau tulisan) bisa digantikan oleh kata-kata seperti saya (aku), kamu (kau) dan dia (ia).
Bila dikaitkan dengan uraian terdahulu, maka nama Saddam Husein itu bisa berperan manjadi pihak kesatu (saya/aku/hamba), pihak kedua (kamu/kau/anda), atau pihak ketiga (dia/ia/beliau).
Selanjutnya, perlu diingat bahwa pihak kesatu bisa terdiri dari satu orang, dua orang, atau lebih. Dalam keadaan lebih dari satu orang, pihak kesatu bisa diganti sebutannya dengan kami atau kita.
Begitu juga pihak kedua dan pihak ketiga.
Bila pihak kedua terdiri dua orang atau lebih, sebutannya berubah, dari kamu menjadi kalian.
Bila pihak ketiga terdiri dari dua orang atau lebih, sebutannya berubah, dari dia menjadi mereka.

 

Bab 3
Dhamîr(un)

Dalam bahasa Arab, kata ganti disebut dengan istilah dhamîrun (ضَمِيْرٌ) atau dhamîr.
Jumlahnya ada 14, dan terbagi ke dalam jenis lelaki dan jenis wanita.
Penyusunannya dilakukan mulai dari pihak ketiga jenis lelaki, yaitu:
Pihak ketiga lelaki:
هُوَ : dia/ia/beliau
هُمَا : mereka berdua
هُمْ : mereka (lebih dari dua)
Pihak ketiga wanita:
هِيَ : dia/ia/beliau
هُمَا : mereka berdua
هُنَّ : mereka (lebih dari dua)
Pihak kedua lelaki:
أَنْتَ : kamu/kau/anda
أَنْتُمَا : kalian berdua
أَنْتُمْ : kalian semua (lebih dari dua)
Pihak kedua wanita:
أَنْتِ : kamu/kau/anda
أَنْتُمَا : kalian berdua
أَنْتُنَّ : kalian semua (lebih dari dua)
Pihak ketiga lelaki/wanita:
أَنَا : saya/aku/hamba
نَحْنُ : kami/kita

 

Bab 4
Kata Kerja

Kata kerja adalah semua kata yang menggambarkan pekerjaan. Misalnya makan, minum, menanak, menggoreng, memukul, menendang, mencuri, lari, duduk, berdiri, berteriak, berkelana, berkelahi, dan lain-lain.
Namun, harap diingat, dalam bahasa Arab, kata kerja tidak selalu menggam-barkan pekerjaan, tapi banyak juga kata kerja yang menggambarkan sifat atau keadaan, misalnya baik (حَسُنَ), gembira (فَرِحَ), dan lain-lain.
Dalam bahasa Arab, kata kerja disebut fi’lun (فِعْلٌ) atau al-fi’lu (اَلْفِلُ). Para ustadz Indonesia biasa menyebutnya fi’il.

 

Bab 5
Kata Kerja Dan Pembagian Waktu

Dalam bahasa Arab – seperti dalam bahasa Inggris dan lain-lain, kata kerja selalu berkaitan dengan pembagian waktu.
Waktu terbagi menjadi tiga, yaitu dulu, sekarang, nanti (yang akan datang).
Dalam bahasa Arab, pekerjaan yang dilakukan pada waktu dulu disebut fi’il mãdhi (فِعْلُ مَاضٍ). Pekerjaan yang dilakukan pada waktu sekarang dan nanti disebut fi’il mudhãri (فِعْلُ مُضَارِعٍ).
Harap dicamkan! Dalam ilmu bahasa, waktu dulu itu bisa berarti waktu yang sudah lama sekali berlalu, bisa juga berarti waktu yang baru lewat satu detik. Intinya, bila satu pekerjaan sudah dilakukan pada waktu dulu, artinya pekerjaan itu telah selesai dilakukan, apakah setahun yang lalu atau sedetik yang lalu.
Begitu pula dengan waktu nanti; waktunya bisa lama sekali, bisa juga sedetik yang akan datang. Intinya, satu pekerjaan yang akan dilakukan nanti, berarti pekerjaan itu belum dilakukan.
Dan bila waktunya sekarang, berarti satu pekerjaan sedang dilakukan, dan bisa jadi dilakukannya itu terjadi mulai dari dulu sampai sekarang dan nanti. Intinya, bila satu pekerjaan sedang dilakukan, berarti pekerjaan itu masih berlangsung, alias belum selesai. Misalnya Tuan Fulan sedang membangun rumah. Bisa jadi Tuah Fulan sudah mulai membangun sejak setahun yang lalu, tapi rumah itu masih sedang dikerjakan, karena belum selesai. Atau Saya sedang membaca buku. Bisa jadi saya sudah mulai membaca sejak sebulan yang lalu, tapi saya masih sedang membacanya, alias belum selesai. Bisa jadi kalimat Saya sedang membaca buku itu diucapkan pada saat saya bertemu seorang teman di pasar dan tidak membawa, apalagi membaca, buku yang saya sebut.
Jadi, pembagian waktu dalam hubungannya dengan kata kerja tidak dilihat dari lama atau sebentarnya, tapi dilihat seperti melihat sebuah bidang atau ruangan yang dibagi tiga. Tiap ‘rungan’ menjadi wadah terjadinya sebuah pekerjaan. Dan terjadinya sebuah pekerjaan itu diceritakan pihak kesatu kepada pihak kedua.
Perhatikan percakapan berikut ini! Cermati pemilihan kata kerja dan waktunyanya, yang dicetak miring.
Perhatikan juga bahwa yang menjadi pihak ketiga dalam percakapan di bawah ini bukanlah manusia tapi benda, yaitu rumah.
Percakapan 1 (menggambarkan pekerjaan sudah selesai dilakukan):
“Saya sudah membangun rumah.”
“O, berarti rumahmu sudah selesai?”
“Ya, sudah selesai.”
“Kapan selesainya?”
“Kemarin. Baru kemarin!”
Percakapan 2 (menggambarkan pekerjaan masih berlangsung):
“Saya sedang membangun rumah.”
“O, berarti rumahmu belum selesai?”
“Ya, belum selesai.”
“Kapan mulai membangun?”
“Setahun yang lalu.”
“Sudah cukup lama ya? Kapan selesainya?”
“Entah. Masih cari uangnya nih. Mungkin baru selesai setahun lagi.”
Percakapan 3 (menggambarkan pekerjaan belum dilakukan):
“Saya akan membangun rumah.”
“O, berarti belum dimulai pembangunannya?”
“Ya, belum!”
“Kapan akan dimulai?”
“Tergantung persiapannya. Mungkin besok. Mungkin tahun depan!”
Percakapan 4 (Menggambarkan pekerjaan yang terus-menerus berlangsung, dari dulu sampai sekarang, dan seterusnya):
“Katanya matahari itu berputar pada porosnya ya?”
“Ya.”
“Sejak kapan?”
“Entah. Yang jelas, sejak dahulu, sampai sekarang, dan entah sampai kapan, matahari itu terus-menerus berputar.”

Perhatikan!
Dalam bahasa Arab, kata kerja yang digunakan dalam percakapan 1 adalah fi’il mãdhi (kata kerja lampau).
Dalam Percakapan 2, percakapan 3, dan percakapan 4, kata kerja yang digunakan semua terdiri dari fi’il mudhãri.
Contoh:
1. كَتَبَ اللهُ الصِّيَامَ Allah telah mewajibkan puasa. (perhatikan bahwa كَتَبَ adalah fi’il mãdhi).
2. هُوَ اَلْآنَ يَجْلِسُ عَلَى الْكُرْسِى Dia sekarang sedang duduk di kursi. (Kata يَجْلِسُ adalah fi’il mudhãri).
3. مُسَى يَذْهَبُ إِلَى فِرْعَوْنَ Musa akan pergi menemui Fir’aun. (Kata يَذْهَبُ adalah fi’il mudhãri).
4. اَلشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا Matahari terus (selalu) beredar (berputar) pada porosnya. (kata تَجْرِي adalah fi’il mudhãri).

Melalui contoh-contoh kalimat di atas, kita tahu bahwa fi’il mãdhi berguna untuk mengungkapkan pekerjaan yang telah selesai (di masa lalu). Dan fi’il mudhãri berguna untuk (1) mengungkapkan pekerjaan yang sedang dilakukan sekarang, (2) mengungkapkan pekerjaan yang akan dilakukan nanti, (3) mengungkapkan pekerjaan yang selalu berlangsung, atau berlangsung terus-menerus).

Bab 6
Dhamîr Dan Fi’il

Setiap dhamîr (kata ganti), yang berjumlah 14 itu, selalu berkaitan dengan fi’il (kata kerja).
Tegasnya, setiap kata kerja bahasa Arab selalu mengandung dhamîr.
Dengan kata lain, dhamîr adalah bagian dalam (internal) dari fi’il, dan keduanya tidak bisa terpisahkan, alias selalu menyatu.
Perhatikan contoh di bawah ini!

Pihak ketiga lelaki
هُوَ tak terpisahkan dari kata kerja (kk) fa’ala/ فَعَلَ
هُمَا tak terpisahkan dari kk fa’alã/ فَعَلاَ
هُمْ tak terpisahkan dari kk fa’alû/ فَعَلُوْا
Pihak ketiga wanita:
هِيَ tak terpisahkan dari kk fa’alat/ فَعَلَتْ
هُمَا tak terpisahkan dari kk fa’alatã/ فَعَلْتَا
هُنَّ tak terpisahkan dari kk fa’alna/ فَعَلْنَ
Pihak kedua lelaki:
أَنْتَ tak terpisahkan dari kk fa’alta/ فَعَلْتَ
أَنْتُمَا tak terpisahkan dari kk fa’altumã/ فَعَلْتُمَا
أَنْتُمْ tak terpisahkan dari kk fa’altum/ فَعَلْتُمْ
Pihak kedua wanita:
أَنْتِ tak terpisahkan dari kk fa’alti/ فَعَلْتِ
أَنْتُمَا tak terpisahkan dari kk fa’altumã/ فَعَلْتُمَا
أَنْتُنَّ tak terpisahkan dari kk fa’altunna/ فَعَلْتُنَّ
Pihak ketiga lelaki/wanita:
أَنَا tak terpisahkan dari kk fa’altu/ فَعَلْتُ
نَحْنُ tak terpisahkan dari kk fa’alnã/ فَعَلْنَا

Perhatikan tabel ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: