Al-Qurãn Seperti Skenario Film (2)

Skenario

 Anda bilang, Al-Qurãn adalah skenario hidup yang berlaku secara otomatis?

Ya!

Bisa anda uraikan secara jelas?

Semampu saya! Mulai dari mana?

Apa yang anda maksud dengan “skenario hidup”?

Saya maksud dengan “skenario” adalah Al-Qurãn, dan “hidup” adalah kehidupan seluruh makhluk, seluruh alam, terutama manusia.

Apa perbedaan makhluk dengan alam?

Secar keseluruhan, tidak ada perbedaan. Selain dari Allah adalah (disebut) makhluk atau alam. Tapi alam (‘ãlam) bisa berarti dunia dalam arti bumi, bisa berarti jagat raya, atau kosmos. Bila dihubungkan dengan kumpulan makhluk tertentu, alam bisa berarti dunia dalam arti kerajaan (kingdom) atau lingkungan hidup. Misalnya ‘ãlamul-hayawãn berarti dunia hewan, ‘ãlamul-ma’ãdin berarti dunia tambang (pertambangan), ‘ãlamun-nabãt berarti dunia tumbuhan, ‘ãlamul-wujûd berarti dunia ini, kehidupan ini. Manusia sendiri, kadang disebut dengan ‘ãlamûn(a) atau ‘ãlamîn(a), dan karena itu Allah pun disebut rabbil-‘ãlamîn(a) (Surat Al-Fatihah), atau rabbin-nãs(i) (Surat An-Nãs), yang keduanya berarti pengatur, pembimbing dan atau pendidik manusia.

Pengatur, pembimbing dan atau pendidik manusia?

Bukan hanya bagi manusia, tapi bagi seluruh makhlukNya.

Jelasnya?

Al-Qurãn menegaskan bahwa seluruh makhluk diciptakan dan diatur oleh Allah.

Diciptakan, dan diatur? Bagaimana Dia mengatur semuanya?

Dengan ilmuNya, yang berlaku pada seluruh makhluk, dengan hukumnya yang berlaku pada seluruh alam.

Apa perbedaan antara ilmuNya dan hukumNya?

Bila kaitannya dengan makhluk non-budaya, ilmuNya, hukumNya, atau qudrah (kekuasan)Nya, adalah sama. Tak ada makhluk yang luput dari tilikan atau pengawasanNya, tak ada yang mampu mengingkari hukumNya, tak ada yang bisa lolos dari kekuasanNya.

Makhluk non-budaya? Apa itu?

Makhluk-makhluk yang tidak diberi kemampuan memahami ilmu.

Contohnya?

Semesta alam, kecuali malaikat, jin, dan manusia.

Jadi, malaikat, jin, dan manusia adalah makhluk-makhluk budaya?

Ya.

Karena mereka, termasuk kita, mampu memahami ilmu?

Ya.

Apa hubungan ilmu dengan budaya?

Budaya, atau kebudayaan, dan anda juga boleh menyebutnya peradaban, adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari benih ilmu, dalam arti luas maupun sempit. Seperti kata Rasulullah saw, ilmu bahkan merupakan imam (pemandu) setiap perbuatan. Artinya, setiap makhluk budaya, apa pun yang dilakukannya, semua pasti didasari ilmu, yang dalam arti sempit berarti pengetahuan.

Kembali ke pernyataan anda bahwa Al-Qurãn adalah skenario hidup yang berlaku secara otomatis (?).

Al-Qurãn adalah sebuah ilmu…

Tunggu! Tadi anda bilang skenario, sekarang anda bilang sebuah ilmu?

Menurut anda, skenario itu ilmu atau bukan?

Waduh, saya jadi bingung nih!

Jangan bingung! Kita sederhanakan saja. Ketika anda, sebagai aktor misalnya, menerima sebuah skenario, apa yang anda lakukan pertama kali?

Saya mempelajarinya.

Bila anda mempelajarinya, apakah skenario itu bukan sebuah ‘pelajaran’?

Hmh, ya… tentu bisa disebut sebagai pelajaran, tepatnya mungkin bahan untuk dipelajari.

Apakah “bahan untuk dipelajari” itu bukan ilmu?

Wuih, okelah, itu ilmu!

Jadi, sekarang anda mengerti bahwa Al-Qurãn itu adalah skenario, dan juga ilmu?

Agak mengerti, tapi belum begitu jelas!

Jelasnya, coba, untuk sementara, kita lihat dengan cara begini.  Dari segi bahwa Al-Qurãn berisi kumpulan informasi, pengetahuan, petunjuk, dan lain-lain, ia adalah ilmu. Tepatnya gudang ilmu. Tapi, dari segi lain, bahwa ia mengharuskan anda memilih peran, menjadi mu’min, kafir, atau manafik, maka ia adalah skenario. Jelas?

Cukup jelas. Tapi, mengapa anda katakan itu “untuk sementara”?

Karena, bila sempat, nanti kita akan membahas secara khusus tema Al-Qurãn sebagai ilmu, dari sudut pandang teori-teori tentang ilmu.

Okelah kalau begitu. Terus, kembali ke soal Al-Qurãn sebagai skenario hidup yang berlaku secara otomatis (?).

Baik. Tapi pertama-tama harus anda camkan bahwa yang saya maksud  dengan “hidup” atau “kehidupan” di sini adalah hidup dalam konteks budaya. Yaitu hidup yang mengacu atau berpangkal pada ilmu. Dengan kata lain, hidup yang kita bicarakan ini adalah hidup atau kehidupan makhluk budaya. …

Yang terdiri dari malaikat, jin, dan manusia itu?

Ya!

Jadi, bila dikaitkan dengan malaikat?

Mereka adalah participant. Yaitu pihak yang ambil bagian dalam pembangunan budaya Al-Qurãn, tapi tidak ikut manggung.

Semacam pemain di balik layar?

Ya.

Tepatnya, apa yang mereka lakukan?

Bila kita sebut salah satu di antara mereka, Jibril, misalnya, perannya yang populer adalah sebagai penyampai wahyu. Bila analoginya skenario, maka dialah yang membawa skenario itu ke hadapan Nabi Muhammad.

Bila itu peran Jibril yang populer, peran lainnya apa?

Belum saya pelajari secara khusus. Tapi, dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Jibril pernah menawari Nabi Muhammad untuk membalas perlakuan jahat orang-orang Tha’if, dengan cara menghimpit mereka dengan dua bukit.

Bila dikaitkan dengan jin?

Hampir sama dengan malaikat. Mereka juga bermain di balik layar.

Apa yang mereka lakukan?

Bila mengacu pada surat Al-A’raf ayat 16-17, iblis mengatakan bahwa dia akan menghadang manusia di tengah shirathal-mustaqim (jalan hidup berdasar ajaran Allah). Dia akan muncul di depan, di belakang, di kiri, di kanan, sehingga kebanyakan manusia menjadi kafir.

Anda menyebut iblis. Padahal yang saya tanyakan adalah jin!

Dalam surat Al-Kahfi ayat 50, disebutkan bahwa iblis berasal dari golongan jin.

Jadi, manusia menjadi kafir karena pengaruh iblis, yang berasal dari jin itu?

Bila merujuk surat An-Nas, peran jin, sebagai iblis, itu juga dilakukan manusia.

Bagaimana manusia bisa melakukan peran jin?

Jin, iblis, setan, juga malaikat, adalah makhluk-makhluk ruhani, yang berkemampuan ‘mengangkut’ ruh budaya.

Apa pula itu ruh budaya?

Ilmu!

Ilmu?

Ya, di dalam Al-Qurãn, ilmu juga disebut sebagai ruh (surat Asy-Syura ayat 52), tepatnya ruh budaya.

Jadi, manusia memainkan peran jin, berarti…

Memainkan, atau mempraktikkan, ilmu yang ‘dibisikkan’ oleh jin. Dan ilmu yang dibisikkan itu tentu bukan ilmu yang benar.

Maksudnya bukan Al-Qurãn?

Bisa jadi yang dibisikkan itu adalah Al-Qurãn, tapi dipahami secara jin. Maksudnya secara bertentangan dengan yang diajarkan Allah melalui malaikat.

Contohnya?

Contoh sederhana: ayat-ayat Al-Qurãn diramu dengan ilmu perdukunan. Dijadikan bacaan-bacaan pelet, misalnya. Atau digunakan untuk mengunggulkan dan atau merendahkan partai politik tertentu dalam kampanye pemilu.

Jadi, untuk memainkan salah satu peran dari Al-Qurãn sebagai skenario, rupanya ada pihak-pihak lain, pihak luar,  yang mempengaruhi?

Ya. Sama saja dengan pilihan peran dalam sebuah skenario film kan? Ketika anda memutuskan untuk memainkan sebuah peran, di sana kan ada pengaruh sutradara, juga teman-teman dan atau lawan-lawan main anda, yang mempengaruhi permainan anda. Itu hanya sebuah gambaran bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian. Tidak bisa eksis sendirian.

Ya, ya. Ada peran-peran pihak lain. Lalu, dalam konteks Al-Qurãn sebagai skenario, Allah berperan sebagai apa?

(Bersambung)

Comments
2 Responses to “Al-Qurãn Seperti Skenario Film (2)”
  1. peneliti aliran islam says:

    menarik

  2. URIKSS says:

    BERSAMBUNG LAGI…SAYA TUNGGU TERUS TULISANNYA.TRIMS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: