Al-Qurãn Seperti Skenario Film

Saya ingin mempelajari Al-Qurãn; tapi bingung dari mana harus memulainya.

Anda sudah memulainya! Tinggal melanjutkan saja.

Maksud anda?

Anda sudah punya keinginan. Berarti anda sudah memulai langkah pertama.

O, begitu. Lalu, langkah selanjutnya?

Hadapi Al-Qurãn, dan baca!

Tapi, … Saya tidak bisa membacanya!

Mengapa?

Saya tidak mengenal huruf-hurufnya!

Kalau begitu, mulailah berusaha mengenal huruf-hurufnya!

Setelah itu?

Itu saja belum dimulai, kok tanya setelah itu?

Maksud saya, saya akan memulainya nanti.

Jangan nanti. Harus segera!

Ya, maksudnya segera setelah nanti saya berpisah dengan anda.

Baguslah kalau begitu.

Setelah itu? Maksud saya, setelah mengenal huruf-hurufnya…

Mulailah mengeja. Kata demi kata, sampai lancar.

Berapa lama untuk bisa lancar?

Tergantung kesungguhan anda. Makin serius, makin bersemangat, makin baik.

Setelah saya bisa membacanya dengan lancar?

Mulailah belajar maknanya, kata demi kata.

Setelah itu?

Hafalkan, ayat demi ayat.

Hafalkan? Mengapa harus dihafalkan?

Supaya dia menyatu dengan anda; menjadi bagian dari diri anda.

Mengapa harus begitu?

Karena Al-Qurãn seperti sebuah skenario film, atau seperti naskah sandiwara. Dan kita disiapkan untuk menjadi pelaku-pelakunya. Menjadi aktor-aktornya.

Jelasnya?

Masib belum jelas ya? Begini! Bila anda seorang aktor film, sebelum memainkan peran anda, anda harus membaca skenarionya, bukan?

Hm, ya, tentu saja!

Untuk apa?

Supaya saya tahu ceritanya, dan tahu apa peran saya.

Dari mana anda bisa tahu apa peran anda?

Dari sutradara yang memilih saya untuk memainkan sebuah peran.

Setelah membaca skenarionya, dan anda tahu peran anda, selanjutnya apa yang akan anda lakukan?

Saya akan berbicara dengan sutradara, untuk memastikan saya mau atau tidak menerima peran itu.

Apa yang membuat anda menerima atau menolak sebuah peran?

Saya akan menerima bila peran itu saya sukai. Bila saya tidak suka, saya akan menolaknya.

Bukan karena uangnya?

Sebagai aktor sejati, uang adalah nomor sekian.

Mengapa begitu?

Aktor sejati mencari kepuasan batin dari peran yang dimainkan?

Apa yang membuat aktor sejati merasakan kepuasan batin?

Peran yang menantang, karena sulitnya, karena anehnya, atau karena uniknya.

Bila anda suka dan menerima, apa yang akan anda lakukan?

Saya akan membaca skenarionya  berulang-ulang, sampai saya paham betul jalan ceritanya, sehingga saya bisa menghayati peran saya.

Setelah menghayati peran anda?

Saya akan berusaha menghafalkan dialognya…

Setelah itu?

Bisa jadi saya akan melakukan studi pustaka. Baca-baca buku dan lain-lain, untuk lebih memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan peran saya. Mungkin juga saya akan melakukan riset ke lapangan, seperti meninjau tempat-tempat tertentu yang disebut dalam skenario, dan… pokoknya banyaklah yang harus saya lakukan, supaya nanti saya bisa bermain dengan relatif sempurna. Dan… Eh, apakah Al-Qurãn seperti itu?

Seperti apa?

Seperti sebuah skenario film?

Ya. Kurang lebih seperti itu. Gambaran sederhananya seperti itu.

Gambaran sederhananya? Lalu, gambaran rumitnya seperti apa?

Anda akan mengetahuinya, dalam proses belajar dan memainkan peran.

Dan saya bisa memilih salah satu peran di dalamnya?

Ya.

Peran apa saja yang bisa saya pilih?

Secara umum, secara garis besar, hanya ada tiga peran. Mu’min, kafir, munafik.

Peran apa yang paling menarik?

Haha! Bila dilihat dari sudut cerita secara keseluruhan, semua menarik.

Yang paling sulit?

Peran sebagai mu’min.

Yang paling mudah?

Menjadi kafir?

Bagaimana mudahnya?

Ibarat anda menghadapi tawaran sebuah skenario, anda tinggal mengatakan “tidak mau”, lalu balik badan, dan pergi.

Kalau sebagai munafik?

Cukup sulit!

Bagaimana sulitnya?

Anda harus mempunyai dua muka. Atau harus selalu menyediakan topeng yang tepat.

Mengapa?

Karena anda akan selalu berhadapan dengan dua pihak yang bertentangan!

Dua pihak yang bertentangan?

Ya. Mu’min dan kafir.

Mengapa harus berhadapan dengan mereka?

Karena anda harus hidup di tengah mereka.

Bila saya pergi, menjauh dari mereka?

Jatuhnya, otomatis, jadi kafir!

Kok bisa?

Ya. Sama seperti anda mengacuhkan tawaran sebuah skenario kan?

Bila saya tolak sebuah skenario film, kan saya tidak memainkan apa pun dalam skenario itu!

Nah! Di situlah letak perbedaan Al-Qurãn dengan sebuah skenario film. Skenario film adalah produk sebuah khayalan, Al-Qurãn adalah skenario yang real.

Jelasnya?

Al-Qurãn adalah skenario hidup yang berlaku secara otomatis.

(Bersambung)

 

 

 

Comments
4 Responses to “Al-Qurãn Seperti Skenario Film”
  1. Thygort says:

    Bagus sekali ulasannya bung. Sy jadi lebih paham skarang.

  2. URIKSS says:

    LUAR BIASA….SEDERHANA….EDUKATIF DAN KOMUNIKATIF. TERIMA KASIH

  3. Ahmad Haes says:

    Sama-sama Sobat! Saya juga sangat berterimakasih kepada Anda dan saudara2 lain yang tak bosan mengunjungi blog ini.

  4. nurul huda says:

    Kereeeenn…. Kereeennnn…. Dinanti sambungannya… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: