Jakarta Dan Ali Sadikin (Kesaksian Kris Biantoro)

Ali Sadikin tua2

Bagi para calon gubernur Jakarta, mudah-mudahan penuturan di bawah ini memberi inspirasi.

Sesudah peristiwa G/30S yang sangat menyengsarakan rakyat, datanglah zaman baru yang mengubah total seluruh kehidupan saat itu. Jakarta menjadi kota metropolitan. Dengan kata lain, Jakarta harus berkompetisi dengan kota-kota lain sepeti: Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, Tokyo, dll.

Jakarta saat itu dipimpin seorang gubernur muda yang bervisi sangat tinggi. Sejarah telah memberikan tempat terhormat bagi nama Bang Ali. Dalam waktu singkat, Jakarta yang dulu remang-remang dengan jalan berlubang-lubang mulai berubah menjadi terang dengan jalan-jalan yang mulus. Bersamaan dengan itu merebaklah kehidupan malam, karena Pak Ali Sadikin mengizinkan dibukanya night club. Dan seperti yang sudah saya paparkan di atas, tontonan kelas dunia pun dapat dinikmati di Jakarta. Di sisi lain, para musisi yang sudah menggantungkan alat-alat musik mereka mendapat kesibukan baru. Sebab setiap night club memerlukan adanya home band home band yang tetap. Kegiatan para penari, pelawak, teknisi sound system serta lighting, dan bartender menjadi marak.

Hal menarik yang tak boleh dilupakan adalah cara Pak Ali Sadikin merengkuh masyarakat Betawi yang sebelumnya terlupakan. Kesenian Betawi, seperti Tanjidor, Ondel-Ondel, Ketimpring, dan Lenong yang dulu dipandang rendah menjadi budaya yang sangat terhormat. Kita jadi terbiasa melihat Ondel-Ondel ditempatkan di kantor yang megah. Perhatian Pak Ali terhadap kebudayaan lokal sungguh mengagumkan sekali. Kemudian lahirlah pemilihan “Abang dan None Jakarte”. Selanjutnya pemilihan semacam ini ditiru di banyak propinsi di Indonesia.

Karena hangatnya bungungan Pak Ali Sadikin dengan masyarakat Jakarta, beliau lebih sering disebut Bang Ali. Kalau ada yang menyebut nama itu, pastilah yang dimaksud adalah Ali Sadikin yang gubernur Jakarta, bukan yang lain. Pada masa pemerintahannya, lagu Jali-Jali tak hentinya terdengar di radio dari pagi sampai malam. Pendekatan budaya untuk merengkuh orang Betawi ini sampai pada puncaknya ketika kemudian busana Betawi dikenakan secara resmi saat peristiwa-peristiwa besar atau resmi. Dan yang tak boleh dilupakan, Kampung Condet dijadikan Cagar Budaya Betawi.

Tetapi lebih dari itu, Bang Ali berangan-angan, melalui pendekatan budaya, Jakarta tidak boleh menjadi kota dengan budaya Betawi semata, melainkan harus menjadi kota bernuansa nasional. Dalam perjalanan dinas ke berbagai negara, Bang Ali rajin mengunjungi berbagai kota Metropolitan dan saling membandingkannya. Beliau terkesan dengan taman miniatur di Bangkok, Manila, Taipei, Amsterdam, dan di kota-kota lain, lalu berangan-angan menciptakan taman serupa di Jakarta.

Kebetulan Ibu Negara Tien Soeharto mempunyai gagasan serupa. Dan gayung pun bersambut. Bang Ali berhasil meyakinkan DPRD, dan dengan keputusan resmi, Gubernur DKI menyiapkan dan membebaskan lahannya – seluas ratusan hektar – untuk membuat jalan ke arah kompleks, sedangkan Ibu Tien selaku Ibu Negara menyelenggarakan pembangunannya. Kerja sama manis dari sepasang putra-putri Indonesia terbaik saat itu kemudian menghasilkan Taman Mini Indonesia Indah. Sekarang, selain menjadi yang termegah, taman ini juga menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, dan setiap wisatawan biasanya menyempatkan diri mengunjunginya.

Dalam suatu bincang-bincang santai, Bang Ali pernah mengomentari para seniman yang menurutnya sulit diatur dan sering tidak rukun karena masing-masing merasa paling hebat. Meski begitu, beliau tak pernah selangkah pun mundur dalam upayanya merengkuh para seniman. Harus diakui, hubungan para seniman dengan Bang Ali sangat hangat. Ketika para seniman sepuh mengungkapkan keprihatinan karen tak adanya tempat berkumpul yang layak bagi para seniman, beliau pun cepat tanggap. Maka lahirlah Taman Ismail Marzuki. Lalu dibentuklah lembaga dan badan-badan harian untuk mengatur kesibukan para seniman.

Pertama-tama didirikan Dewan Kesenian Jakarta, menyusul Institut Kesenian Jakarta, kemudian dibentuk Badan Kesenian, dan lalu lahirlah Akademi Jakarta. Pada masa itu, pertunjukan teater, pameran lukisan dan seni rupa, pembacaan puisi, pementasan balet dan tari trdisional maupun modern menjadi sangat marak. Seniman besar sekelas W.S. Rendra, Sardono W. Kusumo, Sentot Maruti, Farida Feisol, dll. Sering membuat pagelaran di sini. Sekarang Taman Ismail Marzuki menjadi sebuah tempat yang bergengsi bersama Gedung Kesenian di Pasar Baru. Seniman belum merasa hebat sebelum manggung di TIM.

Satu hal lain yang juga menjadi perhatian Bang Ali adalah betapa pentingnya Jakarta sejajar dengan kota-kota lain. Menyadari pentingnya musik yang dapat berperan besar dalam memperkenalkan  Indonesia kepada orang asing yang tinggal di, maupun berkunjung ke, Jakarta, maka dibentuklah Orkes Simfoni Jakarta dengan seluruh peralatan musiknya. Pengamatan Bang Ali dalam hal kebudayaan tidak terbatas sampai di sini, karena beliau juga memperhatikan maslah perfilman Indonesia. Dialog bersama Bapak Misbach Yusa Biran menghasilkan terbentuknya Pusat Perfilman Usmar Ismail di Kuningan. Pada periode itu, film Indonesia mengali Zaman Keemasan. Dalam satu tahun bisa diproduksi delapan puluh judul film.

Sungguh sulit mencari tandingan berbagai gebrakan Bang Ali yang menganggap penting kebudayaan dan para senimannya dalam membangun negara. Di zamannya, DKI sangat aktif memperkenalkan Indonesia dalam even-even internasional dengan mengirimkan rombongan keseniannya, di mana saya juga pernah mendapat kehormatan untuk berpartisipasi. Amat disayangkan, pendekatan budaya untuk memacu kejayaan bangsa dan negara yang dulu dirintis Bang Ali tidak diteruskan oleh para penggantinya, sehingga wujud kebudayaan kita menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. Sungguh memprihatinkan. Dulu para seniman menyebut diri merek sebagai  pekerja seni yang turut ambil bagian dalam mengharumkan Bangsa dan Negara-nya. Jangan lupakan sejarah! Kepada generasi artis dan seniman yang pernah mengalami era keemasan yang saya tuturkan di atas, jangan pernah melupakan Mantan Gubernur Jakarta Raya: Bang Ali.

***Dari biografi Kris Biantoro, Manisnya Ditolak, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, hal. 161-164, cetakan kedua, Jakarta, Oktober 2006.

Comments
2 Responses to “Jakarta Dan Ali Sadikin (Kesaksian Kris Biantoro)”
  1. peneliti aliran islam says:

    apakah abang setuju dengan pelestarian kesenian zhulumad tsb ?

  2. Ahmad Haes says:

    Ya engga lah. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengungkapkan apa yg telah diperbuat Ali Sadikin di Jakarta. Tentu kita bisa menilainya berdasar ilmu yg kita pelajari.
    Tulisan di atas itu dibuat oleh Kris Biantoro, seorang seniman pertunjukan (entertainer: penyanyi, pelawak, MC) termashur pada zamannya, yang merasa diuntungkan oleh kebijakan Ali Sadikin. Di lain pihak, sejumlah kiai, misalnya, menentang keras didirikannya klab-klab malam dlsb., yang membuat kehidupan malam dengan segala dampak negatifnya menjadi sangat marak. Tapi Ali Sadikin pantang mundur. Ketika mereka mengeritik pembuatan jalan raya dengan dana dari pelacuran, misalnya, Ali Sadikin enak saja menjawab,”Ya sudah. Kalau tak setuju, jangan lewat di jalan itu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: