Rekaman Pengajian (1)

Tentang  jama’ah

Pada pertemuan malam Jum’at kemarin di rumah Bang Sa’alih/Ika, kita telah membahas tentang struktur jama’ah. Jadi kesimpulannya adalah bahwa tujuan kita ngaji itu untuk membuat jama’ah. Saya ulangi pernyataan teman kita di Malang, Pak Masykur, orang Kendal, bahwa selama ini kegiatan kita hanyalah ngaji x ngaji + ngaji : ngaji = ngaji.  Dengan kata lain, kegiatan kita hanyalah ngoja-ngaji melulu, yang hasilnya hanyalan ngaji dan ngaji. Maka itu adalah sebuah kegagalan. Karena kita cuma berputar-putar di sekitar ngaji. Kalau kata almarhum Bang Dulloh dulu seperti naik komidi putar. Mutarnya kencang, tapi cuma di situ-situ juga. Hasilnya cuma puyeng. Akhirnya nanti umur kita habis cuma karena puyeng.

Kita mulai hari ini, mulai detik ini, kita coba untuk berpikir maju. Kalau di masa lalu, misalnya, usaha kita untuk membuat jama’ah itu gagal, karena memang tidak ada juga kesungguhan untuk itu, mudah-mudahan hari ini kita bisa belajar berjama’ah.  Ya caranya antara lain seperti tadi itu. Beli buku bareng-bareng, yang ga punya kita bantu, yang punya membantu. Itu cuma contoh kecil aja ya?

Struktur jama’ah

Jadi, pertama-tama kita memang harus memahami dulu konsep jama’ah itu apa. Kemarin sudah kita bahas serba sedikit bahwa struktur jama’ah itu, kalau mengacu pada hadis kun ãliman aw mutta’aliman aw mustami’an aw muhibban wa lã takun khãmisan, maka kita bisa menjadi (1) ahli ilmu, (2) pelajar, (3) penyimak, atau (4) simpatisan. Kalau ini kita gambarkan sebagai lingkaran-lingkaran, maka jangan sampai kita keluar dari lingkaran-lingkaran itu, sehingga menjadi kelompok kelima, yaitu menjadi orang-orang yang tidak peduli, atau bahkan menjadi perusak. Kalau sebatas menjadi supporter , simpatisan, itu masih bisa diterima, masib bisa bermanfaat. Tapi seperti saya katakan pengelompokan dalam lingkaran-lingkaran itu kan sifatnya dinamis. Setiap orang dalam setiap lingkaran bisa meningkatkan diri, bisa masuk ke lingkaran sebelah dalam dan terus ke dalam, sehingga masuk ke lingkaran tengah (kelompok  ahli ilmu).

Itu bila dilihat dari segi proses penguasaan ilmu. Tapi kalau dilihat dari segi penyebaran ilmu, dari lingkaran dalam terus menyebar ke lingkaran-lingkaran luar. Dengan kata lain, penguasa ilmu mencari orang-orang di lingkaran-lingkaran luar, merekrut orang-orang yang di luar.

Jadi, dari segi proses belajar, kita harus meningkat; dari tidak tahu menjadi punya kesukaan, kesenangan, simpati, terus sampai menjadi ãlim. Kalau sudah ãlim, ya seperti kata Pak Chudlori, kalau sudah ‘makan’ ya ‘berak’. Dengan kata lain, masuk (ke lingkaran jama’ah) cari ilmu, keluar sebar ilmu.

Kamudian, kalau kita merujuk hadis lain, yang menyatakan bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan pemimpin itu ibarat penggembala (rã’in). Atau dengan kata lain, setiap pemimpin itu mas’ûlun. Orang yang menempati posisi yang membuat dirinya layak dituntut. Yaitu dia bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Itu pembahasan kita seminggu yang lalu.

Jama’ahku jannahku

Sekarang kita masih akan membahas tentang jama’ah, yang dalam istilah sekarang disebut organisasi,  melalui sebuah hadis yang dikenal sebagai Hadis Jibril.  Sebagaimana sebelumnya telah diterangkan, Hadis ini berbentuk obrolan antara Nabi Muhammad dengan Jibril, yang isinya kemudian dirumuskan ulama menjadi Rukun  Islam, Rukun Iman dan seterusnya. Yang menarik bagi saya, dalam hadis ini, setelah terjadi obrolan cukup panjang, Rasulullah kemudian menyimpulkan bahwa poin-poin yang dibahas dalam obrolan itu semua adalah amru-dînikum.

Jelasnya, hadis itu bersumber dari Ibnu ‘Umar, anak ‘Umar bin Khtthab. Jadi Ibnu Umar menceritakan apa yang dialami bapaknya, yaitu menyaksikan obrolan antara Rasulullah dengan seorang lalaki asing. Di akhir obrolan, lelaki asing itu pergi. Lalu Rasulullah bertanya kepada ‘Umar, “Ya ‘Umar, a tadri man-isã’il?” Jawab ‘Umar, “Allahu wa rasuluhu a’lamu.” Kata Rasulullah, “Innahu Jibril, atãkum yu’allimukan amra dînakum.”

Jadi, yang perlu diperhatikan, Nabi menyebut yang lima itu (îslãm, îmãn, ihsãn, sã’ah, ammãtus-sã’ah) sebagai amru dînikum (dalam teks hadis amra dînakum karena posisinya objek).

Coba kita perhatikan. Bila kita cermati kata-kata Rasulullah yang terakhir itu, maka bisa dikatakan bahwa judul percakapan beliau dengan Jibril itu adalah amru dînikum, alias Dînul-Islãm(i). Tapi di dalam Dînul-Islãm ini ada lagi Al-Islãmu). Kenapa? Ini yang perlu kita kritisi. Kok di alam Dînul-Islãm ada Al-Islãm? Kalau begitu, Al-Islãm yang ini (yang dirumuskan menjadi Rukun Islam) adalah sesuatu yang lain. Lain dalam hal apa? Lain dari sisi apa?

Kalau kita bicara tentang Dînul-Islãm itu kan mencakup semua ajaran Islam. Tapi Al-Islãm dalam konteks Hadis Jibril itu kan oleh Nabi hanya dibatasi lima butir saja. Dan kadang-kadang Hadis Jibril ini memang oleh Rasulullah dipecah. Misalnya yang populer itu kan hadis yang dimulai dengan kata buniya ya. Buniyal-islãmu ‘ala khamsin…

Ingat! Kalau kita menyebut kata buniya,  itu adalah kata kerja pasif. Kata kerja aktifnya adalah banã. Dan mashdarnya adalah binã’an dan atau bun-yãn.

Apa itu bun-yãn (bangunan)? Bun-yãn itu sama dengan bait (rumah). Apa rumah? Tempat tinggal. Kalau baitullah memang tempat tinggal Allah? Atau rumahtangga? Terus, kalau Nabi bilang baiti jannati, apa itu rumah tangga pribadi? Bait Nabi dengan baitullah sama engga?

Bait Nabi dengan baitullah sama engga?

Bagaimana saudara-saudara menjawab pertanyaan ini? Bagaimana cara menjawabnya?

Kalau saudara-saudara belajar metode, maka harus menjawab secara metodologis. Kita akan menjawab dengan ayat: Innallaha wa malã’ikatahu yushallûna ‘alan-nabiyy… dan seterusnya. Kita tanya lagi: shalawat Allah dengan shalawat Nabi sama engga? Dengan shalawat Malaikat, sama engga? Dengan shalawat mu’min, sama engga?

Terus, orang shalat di mana? Di masjid. Masjid itu apa? Baitullah. Kalau begitu, baitullah dengan baitun-nabi, sama engga? Sama!

Kalau begitu, dalam bahasa Indonesia, apa terjemahan baitullah itu? Rumah Allah, atau apa? Kita memahaminya sebagai organisasi yang ditegakkan dengan ajaran Allah. Begitu juga halnya dengan baitun-nabi. Jadi, ketika Nabi mengatakan baiti jannati itu jangan dipersempit pengertiannya menjadi rumahku surgaku, atau rumahtanggaku surgaku saja. Dengan Khadijah di dalamnya, dengan Aisyah di dalamnya, dengan istri-istri yang lain di dalamnya.  Lalu bagaimana rumahtangga para sahabat? Rumahtangga para mu’min yang lain?

Jadi, kalau Nabi bicara itu bukan subjektif.  Ingat posisinya sebagai uswatun hasanah.  Dalam hal apa? Dalam segala hal. Dalam pelaksanaan Dînul-Islãm. Jadi, dengan demikian, baiti = jamã’ati. Jama’ahku jannahku. Coba pikir, kalau hanya rumahtangga Nabi yang Jannah tapi rumahtangga umatnya berantakan, berarti Islam itu bukan konsep untuk membangun jannah di dunia ini.

Begitu ya. Kalau kita berpikir metodis, kita akan menemukan jawaban-jawaban yang ‘nyambung’. Yang logis.

Syahadat

Jadi, Dînul-Islãm, jama’ah Islam, organisasi Islam, ditegakkan dengan lima asas atau lima prinsip. Yang pertama apa? Dikatakan dalam hadis… an tasyhada. Anda bersyahadat. Nah, selama ini kan kita tidak pernah memahami syahadat dalam konteks Islam sebagai organisasi itu apa. Sekarang kan kita bersyahadat asal ngomong saja… Asyhadu an lã ilaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasulullhah…  Kalau cuma begitu, itu namanya bukan bersyahadat tapi cuma ngomong dua kalimat syahadat. Kalau syahadat misalnya diartikan sumpah, mengucapkan kata-kata sumpah itu bersumpah bukan? Belum tentu. Karena kalau bersumpah itu biasanya harus ada saksi. Ya memang bisa saja bersumpah sendirian. Tapi kalau bersumpah sendirian sama dengan engga ada organisasi. Iya engga? Kalau kita bersumpah sendirian, kan berarti kita engga punya organisasi!  Bersumpah pada diri sendiri! Iya kan? Lalu, siapa yang akan mengeritik? Siapa yang akan mengoreksi kalau kita menyalahi sumpah kita sendiri? Ya sendiri aja. Memang agama bisa ditegakkan sendirian?

Makanya saya sering ulang berkali-kali bahwa menegakkan iman itu tidak bisa sendirian. Berorganisasi itu tidak bisa sendirian. Termasuklah saya di sini juga, dalam kelompok kecil ini, engga bisa sendirian kan? Ngoceh sendirian. Ngapain? Apa enaknya?

Jadi, sekarang kita memahami syahadat dalam konteks organisasi.  Dalam konteks jama’ah. Nah, kalau dalam konteks organisasi, syahadat itu sama dengan baiat.  Wah, ini Darul Islam nih kalau begini.  Jangan-jangan Bang Husein kayak Moshadeq. Lama-lama ngaku rasul juga!  Haha!

Tapi, saya tegaskan kembali ya. Kita memahami Islam ini baru sebatas ilmu ya. Nanti mau diterapkan atau engga, terserah lah. Tapi, kembali, kalau terserah, kalau tujuannya cuma mengusai ilmu, hasilnya ya akan seperti yang dulu-dulu. Belajar, belajar, belajar. Ngaji x ngaji + ngaji, ngoja-ngaji terus. Ya cuma seputar ngaji. Untuk apa ngaji? Ya untuk ngaji… Sehingga saya mengungkapkan sebuah humor, sebuah karikatur, atau anekdot dari Si Kabayan kan? Kabayan lagi gali tanah, ditanya, “Kabayan, ngapain gali tanah?” Buat tanam pisang. “Untuk apa nanam pisang?” Ya untuk makan. “Untuk apa makan?” Ya untuk gali tanah.

Mau engga kita seperti itu? Misalnya, kita cari duit. Untuk apa cari duit? Untuk beli makanan. Untuk apa makan? Ya supaya hidup. Untuk apa hidup? Ya supaya bisa cari duit. Mau engga seperti itu?

Jadi, saya melihat dalam konteks organisasi, syahadat itu sumpah setia. Sumpah setia mau ngapain? Ya sesuai kalimatnya. Lã ilaha illallahu… Muhammadun rasulullah. Nah, itu pernyataan umum, bahwa kita mau hidup dengan ajaran Allah, mengikuti sunnah rasulNya. Pada masa Rasulullah, syahadat ini diucapkan di depan siapa? Apa diucapkan sendirian? Di depan Rasulullah!  Sehingga kalau sekarang orang mengartikan syahadat itu bersaksi, itu sebuah kesalahan. Karena kalau bersaksi kan kita menyaksikan. Kalau syahadat diterjemahkan sebagai kesaksian atau penyaksian, boleh. Artinya, katakanlah saya seorang Kristen, masuk Islam, saya bersyahadat. Itu artinya saya melakukan penyaksian. Melakukan upacara penyaksian, supaya masuk Islamnya saya itu disaksikan orang. Selain itu, nanti saya juga mendapatkan kesaksian berupa dokumen.

Apa manfaatnya melakukan penyaksian? Ya itu tadi, supaya ada yang mengontrol, supaya ada yang mengoreksi. Kalau mengacu pada surat Al-Ashr, supaya ada yang melakukan tawashau bil-haqqi. Dan untuk itu saya memberi ijin, bahkan mengharapkan, untuk dinasihati. Kalau sekarang, apa anda kasih ijin orang menasihati? Paling-paling, kalau anda buat salah dan orang menasihati, anda akan bilang, “Apa hak elu nasihatin gue? Ini urusan pribadi. Salah atau benar, ini urusan gue sama Allah!  Begitu kan? Apalagi kita sering dengar orang bilang agama itu urusan individu masing-masing dengan Tuhan. Makanya surat Al-Ashr engga laku, engga bisa dipakai untuk memperingatkan orang!

Jadi, kalau saya bersyahadat, bukan saya yang menyaksikan bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad rasulullah, tapi orang-orang di di depan saya, di sekeliling saya, menyaksikan bahwa saya telah berumpah untuk hidup dengan ajaran Allah…

Berikutnya, ada engga, kira-kira, peraturan yang harus saya ikuti?

Kalau kita masuk organisasi bernama Dînul-Islãm, peraturannya ada di mana? Dalam kitabullah. Maka kitabullah itulah yang kemudian harus dipelajari.

Jakarta, 10 Mei 2006

(Ketikan ini belum selesai. Masih akan dilanjutkan)

Comments
2 Responses to “Rekaman Pengajian (1)”
  1. Nurul says:

    Dinanti lanjutannya..😀

  2. Urikss says:

    Kajian yang ILMIAH…..Pak Haes……Tak tunggu tulisannya lagi…..Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: