Hari Kelahiran Adalah ‘Utang’

Apakah hari ulang tahun (HUT) haris diperingati?

Dari segi istilah, “ulang tahun” itu istilah yang salah kaprah. Tahun kan tidak berulang, tapi terus bertambah. Yang berulang itu hari, tanggal, bulan. Itu pun karena ada nama dan angka, yang mengesankan seolah-olah ada siklus, ada perulangan. Sebenarnya, waktu terus berjalan, tidak berulang. Ia melaju ke depan seperti kendaraan yang melaju di atas perputaran roda.

Jadi, istilah yang benar sebagai pengganti ulang tahun?

Ulang tanggal kelahiran. Bisa disingkat jadi “utang”, hehe!

Oke, cukup lucu!

Tidak hanya lucu. Itu bisa mengingatkan bahwa sebagai manusia kita selalu mempunyai utang yang belum ditunaikan. Terutama utang kepada Allah.

Wah, benar juga ya. Terus, boleh diperingati?

Diperingati dalam arti dirayakan, apaladi dipestakan, tentu tidak perlu. Tidak ada konsepnya dalam Islam. Tidak ada contoh dari Rasulullah. Tapi, bila diperingati dalam arti diingat bahwa kita punya ‘utang’ tadi, atau dalam hubungan dengan ajal kita, saya kira itu sangat perlu.

Dengan ajal? Maksudnya dengan kematian?

Ajal tidak hanya berarti kematian. Secara generic (umum; dasar) ajal berarti “ruang dan waktu” yang ditentukan Allah bagi semua ciptaanNya. Lihat, misalnya, surat Ar-Rûm ayat 8. …mã khalaqa-llãhus-samãwãti wal-ardha wa mã bainahumã illa bil-haqqi wa ajalin musammã… Allah menciptakan jagat raya dan bumi, serta segala yang ada di antara keduanya – termasuk kehidupan sosial-budaya, dengan (tatanan dan tujuan yang) benar, serta dengan ajal yang ditentukan.

Jadi, memperingati “utang” dalam kaitan dengan ajal berarti…?

Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa manusia diberi ruang dan waktu (kesempatan; peluang) untuk hidup hanya selama 60-an tahun…

O ya? Tapi kok ada yang hidup sampai 70-an, 80-an, 90-an, bahkan 100-an tahun?

Hidup yang dimaksud hadis itu bukan hidup biologis (lahiriah; fisik), tapi hidup psikologis dan budaya.

Jelasnya?

Secara psikologis – konon – manusia mencapai kematangan (kedewasaan) penuh pada saat berusia 40 tahun. Karena itu – mungkin – ada pepatah Inggris (Barat) yang mengatakan: life begin at forty. Kehidupan manusia dimulai pada usia 40.

Itu secara psikologis…

Ya! Dan tentu ada hubungan dengan segi-segi lain. Misalnya segi karier, keluarga, ekonomi, dan lain-lain.

Kalau dalam kaitan dengan budaya?

Kalau saya tak salah, ada penelitian yang menyatakan bahwa Allah mengutus para rasulNya pada saat mereka berusia sekitar 40.

Pada saat secara psikologis, mereka sudah siap?

Benar!

Lantas, kaitannya dengan kebudayaan?

Kebudayaan itu kan tumbuh dan berkembang dari sebuah konsep. Dengan kata lain, benih sebuah kebudayaan adalah sebuah konsep.

Dan, kebudayaan Islam, benihnya adalah konsep Islam, begitu?

Iya! Dan yang anda sebut konsep Islam itu pada mulanya adalah wahyu, yang diajarkan Allah kepada para rasulNya, mulai dari Adam sampai Muhammad.

Hm, ya ya ya. Bisa saya pahami. Terus, kembali ke hadis tadi, bahwa manusia diberi kesempatan hidup selama 60-an tahun?

Maksudnya hidup di sini adalah berbudaya. Dan karena yang berbicara adalah Rasulullah, tentu yang dimaksud berbudaya itu adalah berbudaya dengan konsep Allah, bukan dengan yang lain.

Dan untuk itu, manusia hanya diberi waktu sampai usia 60-an?

Ya.

Mengapa?

Karena, setelah berusia 60 tahun, secara psikologis manusia itu sudah mapan!  Bahkan sudah statis (beku). Tidak bisa berubah lagi.

O, ya?

Saya sendiri belum meyakini hal itu, karena belum berusia 60. Tapi, saya selalu ingat kata-kata Habibie ketika beliau baru jadi presiden dan menerima sejumlah wartawan di istana. Waktu ada wartawan yang bertanya,“Pak, Habibie! Kenapa Bapak tampaknya sulit menerima pendapat atau pemikiran orang lain?” Saya ingat betul jawaban beliau yang begitu ringkas dan jelas. Katanya: “Anda tidak akan bisa mengubah pemikiran orang yang sudah berusia 60 tahun!”

Wow! Berarti, itu fakta psikologis yang beliau rasakan ya?

Begitulah, kira-kira.

Wahhh, saya jadi ngeri nih.

Kenapa?

Takut belum jadi “orang yang benar” di saat usia sudah mendekati 60 tahun.

Berapa usia anda sekarang?

30 tahun!

Masih banyak waktu, bila Allah menentukan ajal anda 60-an tahun. Bila tidak, saya tidak tahu! Tapi, saya lebih gawat  lagi, karena sudah 50-an. Artinya, saya hanya punya waktu 10-an tahun, tapi anda punya 30-an, untuk memastikan diri jadi “orang yang benar” itu.

Al-hamdu lillah! Tapi bisa saja saya mati lebih dulu dari anda kan?

Ya! Karena itulah, hari “utang” harus dijadikan sarana untuk membangun sense of crises tentang waktu. Kesadaran tentang gawatnya posisi kita bila dikaitkan dengan waktu, dengan ajal kita. Ini sebuah teka-teki dari Allah, yang jawabannya harus kita pastikan!

Teka-teki dari Allah?

Ya!

Dan jawabannya kita yang memastikan?

Ya, tentu saja. Teka-tekinya kan untuk kita. Tentu kita yang harus menjawab.

Tapi, bagaimana caranya?

Di surat Wal-Ashri kan ada petunjuknya yang begitu jelas.

O ya? Bagimana?

Soal ajal itu, soal ruang dan waktu hidup itu adalah misteri bagi kita. Tapi ada satu hal yang jelas. Yaitu bahwa hidup ini – betapa pun anda menikmatinya, enjoy  dengannya – ini adalah sebuah kerugian. Kalau menurut Khairil Anwar, (hidup ini sebuah) kekalahan. Semakin lama kita hidup, semakin panjang umur kita,  itu hanya berarti menunda-nunda kekalahan.

Kalau tak salah, Khairil Anwar wafat pada usia ke-27…

Ya. Itu seolah-olah membuktikan bahwa ia tidak mau menunda-nunda kekalahan!

Lho? Apakah dia termasuk orang yang kalah?

Saya tidak tahu! Saya hanya membaca tentang gaya hidupnya yang – maaf – jauh dari agama! Ya, walaupun sejumlah puisinya tampak sangat relijius. Rendra, misalnya, bahkan menganggap nilai relijius Khairil Anwar lebih dari sufi termashur seperti Jalaluddin Rumy.

Wah, saya tidak mengerti soal itu.

Tidak apa-apa.

Tapi, saya ingin tahu jawaban dari teka-teki Allah yang anda sebutkan itu!

Kan sudah saya sebut surat Wal-Ashri, yang selalu dibaca orang dalam shalat. Surat itu menegaskan bahwa orang yang tidak rugi adalah yang beriman, dalam arti tawãshau bil-haqqi. Berpegang pada ‘wasiat’ (ajaran) yang benar. Dan menjalankan wasiat (ajaran) untuk teguh bertahan dalam kebenaran itu.

Hmh, ya ya ya!

 

*Naskah ini ditulis sesaat setelah menerima undangan makan siang dari Cahyo Aribowo, salah satu sobat saya, yang kemarin (4 Januari 2012) memperingati hari kelahirannya.

Comments
6 Responses to “Hari Kelahiran Adalah ‘Utang’”
  1. aghson says:

    masalah utang kita jadi ingat…
    saya pernah mendengar dan melihat di tv dari ustad YUSUF M kalau sya ga salah denger ,bahwa kita disarankan memberi utangan (pinjaman )yg baik kpd Allah.)kok aneh kedengeranya apa sy yg ga ngerti ?

  2. Ahmad Haes says:

    Itu diambil dari surat Al-Muzzammil ayat 20. Silakan anda periksa ulang tulisan ttg itu di blog ini.

  3. bambang says:

    tolong kirim lg post ke sy pa sy senang sekali mempelajarinya trmksh wslm

  4. bambang says:

    aslmkm pa saya sukasekali mempelajari diskusi ini tolong kirimkan terus pa trmksh wslm

  5. Urikss says:

    Saya juga Pak……Obyektif Ilmiah sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: