Mengapa NATO Ingin Menjatuhkan Gaddafi ?

Copy paste dari: Adib Susila Siraj 1 (Adibsusilasiraj.blogspot.com):


Ada beberapa fakta menarik bila kita mau menelisik lebih jauh atas situasi yang terjadi di Libya. Dalam pandangan Barat, Gaddafi adalah seorang diktator yang kejam dan konon mereka memiliki buktinya. Tetapi jika Anda belajar sejarah, maka Anda akan tahu bahwa dunia Barat tidak pernah mengusik dan mempermasalahkan para diktator, kecuali bila kepentingan dan agenda Barat mulai terganggu.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa NATO mengerahkan begitu banyak usaha untuk menjatuhkan Gaddafi? Apakah untuk membantu pengunjuk rasa dan kaum pemberontak? Mungkin, ya! NATO membantu pemberontak asalkan mereka sejalan dengan kepentingan Barat. Namun adakah jaminan di kemudian hari, kelak mereka tidak berubah menjadi lebih kejam dibanding Gaddafi?

Inti sebenarnya, Gaddafi telah dipandang sebagai ancaman terhadap kepentingan NATO di Afrika.

Mungkin tidak terlalu menyeramkan kedengarannya. Namun, alasan pokok kenapa sebagian besar Afrika merupakan negara-negara yang paling merana di Dunia Ketiga adalah karena mereka terlilit utang dengan jumlah yang besar kepada negara-negara anggota NATO. Dalam hal ini, Libya berusaha untuk membebaskan diri dari perbudakan siklus utang kepada Eropa yang tak berujung itu. Bukankah ini dapat dipandang sebagai suatu sikap yang tak menghargai Uni Eropa?

Hal itu, kedengarannya seperti contoh yang baik bagi negara-negara Afrika lainnya untuk mengikuti apa yang telah dilakukan Libya. Namun, ketika Afrika menjadi lebih sehat, berarti penyakit dan orang sakit jadi berkurang. Ini berarti, uang yang diperoleh Barat sebagai penyedia layanan kesehatan menjadi lebih sedikit. Dan keuntungan dari monopoli obat di seluruh benua Afrika pun jadi merosot.

Sepertinya aneh bila ada seorang diktator yang mau mendedikasikan dirinya dengan mendidik dan mencerdaskan rakyatnya. Bukankah para diktator pada umumnya tidak menginginkan penduduknya menjadi cerdas dan kritis? Dengan demikian, mudah untuk dikontrol? Bahkan jika pendidikan dalam rezim Gaddafi dianggap bias sekalipun, namun dengan menawarkan pendidikan gratis bagi warganya ke luar negeri ??? Bukankah hal ini bertentangan dengan tuduhan Barat bahwa Gaddafi tidak memungkinkan (tak memberi kesempatan) bagi warganya untuk meninggalkan negaranya ???

pakah ada yang terkejut melihat fakta ini? Sepertinya tidak!

Namun, ibaratnya, “jerami telah mematahkan punggung unta,” dan memaksa NATO untuk bertindak kepada Libya dengan kekerasan militer.

Negara-negara Barat dapat berdiri tegak karena ditopang oleh negara-negara miskin di Afrika dan Amerika Selatan yang terbelakang. Inilah sebabnya mengapa mereka selalu menghalangi upaya pembebasan dari negara-negara miskin itu selama seratus tahun terakhir. Bahkan ketika mereka tidak dapat lagi secara langsung mengontrol bangsa-bangsa lain sebagai koloni, mereka masih tetap mengendalikannya melalui sarana ekonomi. Dan ketika sarana ekonomi itu gagal, berarti militerlah yang bertindak.
Faktanya, NATO telah mendominasi PBB. Mereka memegang kekuasaan yang paling menentukan dalam struktur kekuasaan dunia itu, dan mereka ingin tetap seperti itu selamanya.

Gaddafi berencana untuk hanya mau menjual minyaknya bila dibeli dengan mata uang Dinar (emas) Afrika. Dia juga jadi ujung tombak sebuah gerakan untuk meninggalkan Dolar dan Euro yang rencananya diganti dengan sistem pertukaran mata uang berbasis emas. Suatu hal lain yang jelas-jelas tak akan ditolerir oleh Barat.
Fakta lain yang mencurigakan, China menunjukkan dukungan bagi Uni Afrika. Sebuah langkah yang cerdas, karena Cina kemudian akan dapat menggunakan dukungan suara dari Uni Afrika untuk mendapatkan lebih banyak kekuasaan dalam struktur kekuasaan global. Itu hanyalah alasan yang kasat mata, namun lebih banyak lagi motif yang tersembunyi di balik pintu tertutup Negeri Tirai Bambu itu.

Jika Anda ingat, hanya beberapa tahun lalu, AS berusaha sebagai pemasok untuk menjual hasil industri militer mereka ke Libya. Ketika Libya tidak tertarik untuk membeli karena telah menyiapkan perjanjian perdagangan dengan Rusia dan Cina, maka tiba-tiba NATO menyediakan dirinya sebagai kepanjangan tangan atas kekecewaan AS dengan alasan untuk menghancurkan Gaddafi dengan cap diktator.

Perang di Libya, sebenarnya bukan tentang membantu para pemberontak. Karena para pemberontak sebenarnya adalah geng-geng kepanjangan tangan NATO dan Israel yang sama seperti geng-geng di Tunisia, Mesir, Yaman dan Syria.

Pada akhirnya, ini adalah tentang upaya mengkonsolidasikan kekuasaan di tangan para bankir pemilik NATO yang tak ingin melepaskan cekikannya di seluruh dunia.

 

Thursday, October 27, 2011

Gaddafi Tak Seburuk Seperti yang Dipropagandakan Barat

Gaddafi pertama kali memperoleh kekuasaannya melalui suatu kudeta tak berdarah terhadap penguasa Libya waktu itu, Raja Idris, pada bulan September 1969. Sejak saat itu, Gaddafi telah menjadi seorang pemimpin Arab selama lebih dari 42 tahun. Hingga sejauh itu, tidak ada masyarakat yang berpikir ingin menyingkirkannya. Baru setelah generasi muda yang justru lahir dalam era kekuasaannyalah muncul ide perubahan yang berujung pada pemberontakan. Kita semua tahu, bahwa mayoritas orang-orang yang menentang Gaddafi adalah pemberontak usia muda, yang tidak pernah tahu tentang sejarah negara mereka sendiri! Sungguh ironis!

Gaddafi adalah Orang Besar (The Great Man) yang telah berhasil membuat Sungai besar untuk irigasi di Libya yang mungkin merupakan proyek rekayasa terbesar dan paling kompleks di dunia. Untuk mewujudkan proyek irigasi itu Gaddafi memerlukan waktu lebih dari 20 tahun dengan biaya lebih dari 30 miliar dolar. Dan semua uang yang digunakan untuk membangun proyek ini adalah murni dari Libya. Tak ada uang satu dolar pun yang dipinjam dari dunia luar. Proyek ini merupakan investasi masa depan yang besar dengan sistem irigasi yang kompleks, sehingga ada yang menjuluki sebagai Delapan Keajaiban Dunia.

Proyek ini sangat membantu para petani Libya untuk mengolah tanahnya dan untuk menyediakan air segar yang melimpah, sehingga mampu untuk menumbuhkan tanaman dengan jaminan keberlanjutan dan mampu menghasilkan produksi yang cukup bagi kebutuhan warganya. Bahkan karena dibutuhkan tenaga kerja yang banyak, akhirnya mampu menarik minat para buruh migran dari Mesir yang kelebihan penduduk. Sehingga selain menguntungkan Mesir hasil produksinya diekspor ke negara-negara lain yang selanjutnya akan merangsang tumbuhnya perekonomian Libya lebih lanjut. Sebuah proyek berkelanjutan jangka panjang, yang dikritik dengan rasa iri oleh Barat, karena Libya menjadi sebuah negara yang dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sendiri tanpa perlu mengimpor dan tanpa utang ke negara lain.

Mungkin, Libya-lah negara yang telah memiliki sistem perawatan kesehatan terbaik di seluruh Afrika, dimana kematian per 1000 bayi menurun dari tahun ke tahun, Saat ini angkanya sekitar 18/1000 bayi yang merupakan angka kematian bayi terendah daripada kebanyakan negara-negara di Afrika. Angka dari WHO tahun 2000 menunjukkan bahwa 71% penduduk memiliki akses yang baik kepada air bersih, dan bahkan dari data tahun 2006, 97% penduduk Libya memiliki akses yang baik terhadap sanitasi.

Wajib Belajar dalam sistem pendidikan Jamahiriya Libya adalah gratis untuk semua orang dari sekolah dasar sampai ke universitas dan bahkan hingga pendidikan pasca-sarjana, baik di Libya maupun di luar negeri. Pendidikan pra-universitas dibagi menjadi pendidikan dasar, persiapan, dan sekunder. Sekolah ada di mana-mana. Untuk warga yang masih nomaden (hidup berpindah-pindah), ada fasilitas sekolah dan guru keliling (mobile). Pendidikan adalah wajib bagi semua warga, sejak usia 6 hingga 15 tahun.

Pada tahun 1990 Libya dikenakan sanksi oleh Amerika Serikat. Sanksi tersebut membatasi jumlah minyak Libya yang diizinkan untuk ekspor serta membatasi jumlah impor barang-barang yang diperbolehkan, termasuk barang-barang medis dan kebutuhan untuk industri.

Pada tahun 2001, UU yang memberi sanksi ke Libya ini diubah lebih keras lagi untuk memungkinkan presiden AS bisa menghukum perusahaan-perusahaan non-AS yang berinvestasi lebih dari $ 20 juta per tahun di sektor energi di Libya atau Iran.

Gadaffi pernah mengusulkan dibentuknya Negara Uni Afrika (United States of Africa). Dia menyatakan ini pada bulan Juni 2007 di Guinea dan sekali lagi pada bulan Februari 2009 di Ethiopia.

Dia berkata “Saya akan terus berupaya keras agar kita sebagai negara-negara berdaulat mau bekerja sama demi terwujudnya Negara Uni Afrika (United States of Africa).” BBC melaporkan bahwa Gaddafi juga telah mengusulkan “kekuatan militer tunggal Afrika, mata uang tunggal dan paspor tunggal untuk semua warganya sehingga mereka bisa bebas bergerak dan berkeliling tanpa hambatan di seluruh benua Afrika.

Jika terjadi, hal ini akan membuat negara tersebut menjadi negara dengan jumlah penduduk paling banyak nomor 3 di dunia setelah China dan India. Bila mereka bersatu, maka mereka akan memiliki kekuatan lebih besar dalam mempengaruhi dunia, dan risiko ancaman pun menjadi jauh berkurang. Jangan lupa, bahwa kebanyakan negara-negara di Afrika, dahulunya satu tubuh, akan tetapi mereka kemudian dipecah oleh Inggris dan Prancis.

Ingatlah pepatah ini: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh (United we stand, divided we fall).”

Tokoh yang jadi idola Gaddafi adalah Omar Mukhtar yang berjuang melawan invasi Italia di Libya antara tahun 1911 – 1931. Mereka berperang selama 20 tahun di padang gurun melawan kekuatan militer Italia yang modern. Dapatkah Anda percaya akan hal itu? 20 tahun berperang di padang gurun? 20 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk berperang, dan fakta itu benar adanya.

Dia berjuang untuk kemerdekaan, harkat dan martabat tanah airnya dan melindunginya dari serangan barbar oleh bangsa asing.

Dia tidak akan pernah menyerah, padahal dia mulai berjuang ketika usianya sudah menginjak 50 tahun dan tertangkap ketika usianya sudah 70 tahun. Tapi diusia tersebut (ketika Omar Mukhtar tertangkap), dia masih sebagai seorang pejuang.

Dia kemudian dihukum gantung di depan rakyatnya sendiri, tapi kata-kata terakhirnya (tanpa rasa takut sedikit pun), adalah: “Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun”.

Comments
3 Responses to “Mengapa NATO Ingin Menjatuhkan Gaddafi ?”
  1. suparman says:

    masyah Allah, kenapa sich negara afrika yang dahulunya memiliki kekuatan luar biasa tidak bisa bersatu, is there a question mark, why?

  2. aghson says:

    Gaddafi bukan kalah dengan nato tapi kalah dari dalam sendiri yg di dukung nato . andai orang dalam bersatu melawan luar,pasti akan lain hasilnya.

  3. Javan Nese says:

    oalah ternyata seperti itu to Moammar Gaddafi itu, semoga Alloh mengampuni semua kesalahan2nya, dan semoga afrika bisa bersatu, islam juga bisa bersatu sehingga menjadi kuat, kokoh dan rohmatan lil ‘alamiin. aamiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: