Ngobrol Tentang Khitãn, Dan Ritus Sebagai Bahasa Istimewa

Khitan2

Tanya

Apa sebenarnya pengertian khitãn?

Jawab

Dari sudut bahasa, khitãn(un) atau khatn(un) adalah kata benda, atau tepatnya isim mashdar. Kata kerjanya adalah khatana – yakhtinu/yakhtunu. Artinya memotong. Dengan demikian, sebagai mashdar (kata benda verbal; kata benda yang berkaitan dengan kata kerja), maka khitãn berarti tindakan memotong, atau proses pemotongan sesuatu. Bila dikaitkan dengan bayi  (khatanash-shabiyya/ خَتَنَ الصَّبِيَّ ) arti khitãn atau al- khitãn menjadi sebuah istilah yang menggambarkan tindakan atau proses pemotongan kulit pada ujung alat kelamin, yaitu kulup untuk anak lelaki ( قَطَعَ قُلْفَتَهُ ) dan ujung klitoris pada anak perempuan.

Itu istilah dalam ilmu fiqih ya?

Ya. Bila mengacu pada sebuah hadis yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Mãjah, dan Ahmad,   ( إذا التقى الختانان فقد وجب الغسل ; bila bertemu dua khitãn maka wajib mandi), khitãn berarti alat kelamin (lelaki dan wanita).

Hukum khitãn

Lalu, tentang hukum khitãn dalam ilmu fiqh?

Konon, jumhur ulama (kebanyakan ulama) mengatakan hukum khitãn bagi anak lelaki adalah wajib. Tapi di antara mereka ada yang mengatakan hukumnya sunnah.

O, begitu ya? Dan mungkin para ulama Indonesia ikut ke dalam kelompok yang menganggap hukumnya sunnah; sehingga khitãn akhirnya dikenal dengan istilah “sunat”?

Ha ha! Itu menarik. Di satu sisi khitãn disebut sunat atau sunatan, yang mengacu pada istilah sunnah dalam ilmu fiqh (“dikerjakan berpahala, tidak dikerjakan tidak apa-apa). Tapi di sisi lain, khitãn bagi para muslim Indonesia (dan juga seluruh dunia) dianggap sebagai kewajiban. Tak ada seorang muslim yang tidak melakukan khitãn. Tampaknya, ini sudah bukan soal fiqh lagi, tapi sudah menjadi kesepakatan umum (masyarakat) bahwa khitãn bagi mereka adalah wajib.

Ya. Tapi itu bagi anak lelaki ya? Bagaimana dengan anak perempuan? Kalau tak salah, ada hadis yang mengatakan bahwa khitãn itu sunnah bagi lelaki dan kehormatan bagi wanita…

Dalam hal ini pendapat ulama juga terpecah dua. Hadis yang anda maksud itu, misalnya, termuat antara lain dalam kitab Majmu Fatawa wa rasa’il karya ustadz Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Bunyinya: Al- khitãn(u) sunnatun fi haqqir-rijãl(i) wa makramatun fi haqqin-nisã ( الختان سنّة بى حقّ الجال و مكرمة فى حقّ النساء ). “Khitãn itu sunnah bagi lelaki sejati dan kehormatan bagi wanita sejati.” Tapi, konon, hadis ini dha’if (lemah), sehingga tidak bisa dijadikan landasan hukum. Tapi sebagian dari mereka ada yang menggunakan teori qiyas atau analogi, dengan mangatakan bahwa kedudukan lelaki dan wanita di depan hukum itu sama. Dalam hal khitãn, wanita juga harus dikhitãn seperti lelaki. Bahkan ada yang menambahkan bahwa khitãn bagi wanita mempunyai keistimewaan, yaitu untuk mengurangi nafsu syahwatnya, dan juga membuat wajahnya menjadi cerah.

Wah, wah! Bila yang belakangan itu benar, memang akan repot bila wanita tidak dikhitãn!  Sudah nafsunya besar, eh wajahnya tidak cerah lagi!

Ha ha! Itu hanya pandangan sebagian ulama kok. Belum ada kajian ilmiahnya.

Manfaatnya bagi kesehatan

Kemudian, bagaimana manfaat khitãn dari segi kesehatan?

Manfaat yang sudah terkenal, dalam segi kesehatan, khitãn itu, khususnya bagi lelaki, jelas menghindarkannya dari kotoran yang berasal dari air kencing. Kulit di ujung penis, yang dalam bahasa Arab disebut kulf(un) atau kulfatun ( kulfah), dan kita ucapkan menjadi kulup, itu kan menahan sebagian air kencing. Artinya kencing menjadi tidak bersih tuntas. Artinya, dia menyimpan najis. Selanjutnya, di dalam kulup itu akan berkembang berbagai kuman dan virus.

Jadi, bila tidak melakukan khitãn memang akan berbahaya ya?

Ya. Bisa timbul berbagai ancaman penyakit kelamin – termasuk kanker rahim dan aids, yang ditularkan lelaki kepada wanita!

Wow! Cukup mengerikan juga ya?

Ya. Karena itulah belakangan orang Eropa dan Amerika yang Kristen juga sudah banyak yang malakukan khitãn.

Menurut anda, itu berarti apa?

Apa ya? Saya kira, satu segi, ajaran Allah itu ilmiah dan universal, sehingga bisa diterima oleh manusia-manusia berakal sehat. Segi lain, meski bisa dan mau mengambil manfaat dari ajaran Allah untuk hal-hal tertentu yang mereka butuhkan, masih saja banyak manusia yang tidak sudi menerima ajaran Allah secara utuh. Dan, yang memprihatinkan, sikap demikian itu juga tidak hanya dipamerkan orang-orang kafir, tapi juga oleh kita yang mengaku mu’min!

Maksud anda?

Ah, anda kok bertanya lagi! Bukankah banyak di antara kita – termasuk saya – yang masih keberatan untuk menerima Islam secara kãffah (utuh)?

Hhhhh, soal itu sih… saya juga masih…

Filosofi di balik upacara

Ada teman mengatakan bahwa khitãn adalah menggaris, bukan memotong. Kalau qitan, katanya, bisa jadi memotong. Menurut dia, khitãn = garis, yang mempunyai makna filosofis garis hidup. Sedangkan bila diartikan memotong, itu adalah penyelewengan istilah dalam kamus bahasa Arab versi Katholik, Al-Munjid. Di situ khitãn hanya mempunyai makna memotong kulup alat kelamin, yang bermakna kebersihan.

Wah, gawat itu!

Apa yang gawat?

Anggapan teman kita itu!

Kenapa gawat?

Karena tidak ada dasarnya. Kamus apa yang menyebutkan bahwa khitãn berarti menggaris? Saya periksa beberapa kamus, tidak ada yang mengartikan demikian. Apalagi dengan menyebut kata qitan, yang katanya bisa jadi berarti memotong. Ini lebih gawat lagi; karena kata qitan itu bahkan tidak saya jumpai dalam kamus-kamus yang saya periksa. Jadi, dia menemukannya di kamus apa? Kalu qathn(un) atau quthun memang ada; tapi itu berarti katun, atau wol.

Katanya itu penyelewengan istilah dalam kamus bahasa Arab versi Katholik, Al-Munjid…

Itu sebuah tuduhan yang berat; karena konsekuensinya anda harus membuktikan tuduhan itu secara ilmiah. Saya sudah sering mendengar dan membaca bahwa di dalam kamus Al-Munjid ada kesalahan, ada penyelewengan, dan sebagainya, tapi mereka yang mengatakan dan menulis tuduhan itu tidak pernah mengajukan pembuktian ilmiah, selain hanya berupa tuduhan dan kecurigaan; hanya karena Loeis Ma’lup, penyusun Al-Munjid, adalah orang Katholik.

Apakah kenyataan bahwa dia Katolik tidak bisa menjadi landasan kecurigaan?

Ya, curiga boleh saja! Tapi, bila kita mau bersikap jujur ilmiah, curiga itu harus diikuti dengan langkah-langkah ilmiah, bukan malah diteguhkan dengan asumsi emosional. Sikap demikian itu tidak akan bisa membantu dalam memunculkan kebenaran.

Jadi, khitãn tidak bisa diartikan menggaris?

Bisa saja, bila memang ada rujukannya; apakah itu berupa kamus, atau hadis, apalagi Al-Qurãn. Kenyataannya tidak ada rujukan itu.

Anda tidak menemukannya, misalnya dalam hadis?

Bila mengacu hadis, seperti sudah saya sebutkan,  khitãn memang punya arti selain dari memotong, yaitu alat kelamin (lelaki dan wanita).

Jadi, memang tidak bisa diartikan menggaris?

Kenyataannya, yang dilakukan adalah memotong kulup, bukan menggarisnya.

Ha ha! Tapi, katanya, menggaris itu adalah makna filosofis dari khitãn

Anda mau bilang makna filosofis, makna sastrais, makna kiasan atau apa pun, itu kan harus ada dasarnya, harus ada landasannya. tidak muncul atau dimunculkan begitu saja. Lagi pula, apakah memotong kulup itu anda pikir tidak punya makna filosofis?

Nah, kalau begitu, apa makna filosofis dari potong kulup?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya ingin ingatkan kepada anda bahwa ajaran agama (agama apa pun!) disampaikan melalui tiga bahasa; yaitu bahasa lisan (ucapan), bahasa tulisan, dan ‘bahasa’ ritus (upacara).

Hubungannya dengan khitãn?

Khitãn adalah salah satu “ibadah ritual”. Sama seperti shalat, shaum, haji, dan lain-lain.

Jelasnya, yang dimaksud ibadah ritual itu apa?

Bentuk-bentuk ibadah yang berupa upacara. Yaitu yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, di tempat-tempat tertentu, dengan gerak-gerik dan bacaan-bacaan tertentu.

Itu definisi ibadah ritual?

Ya.

Lalu, yang anda maksud dengan bahasa ritus?

Perhatikan dulu arti kedua kata ini. Ritus berarti upacara. Ritual artinya bersifat upacara. Ibadah ritual adalah ibadah yang dilakukan dalam bentuk upacara. Para ulama menyebut ibadah ritual ini sebagai ibadah mahdhah ( محضة ), ibadah murni.

Ibadah murni? Maksudnya apa?

Saya juga kurang mengerti mengapa ibadah ritual mereka sebut ibadah murni. Tapi, intinya, yang mereka maksud adalah ibadah yang semata-mata menggambarkan adanya hubungan khusus antara seorang hamba dengan Allah. Dan, saya kira, ciri yang dianggap paling penting dari ibadah ini adalah adalah aspek “kepatuhan mutlak” terhadap perintah Allah, meskipun perintah itu, misalnya, aneh dan tidak masuk akal, atau suprarasional.

Contohnya?

Sebut saja shalat. Dari segi gerak-geriknya, dari segi kaifiyat­-nya, bukankah semua cukup aneh? Mengapa kita harus berdiri menghadap Ka’bah, yang di sana itu ada sebuah batu hitam (hajar aswad)? Lalu, setelah berdiri, kita membungkuk (ruku’), dan kemudian sujud? Bila orang mengatakan shalat adalah menyembah Allah, tidakkah sebenarnya kita justru menyembah batu hitam itu?

Wah, benar juga tuh! Saya kok selama ini tidak berpikir ke sana!?

Itu malah bagus!

Bagus? Apa bagusnya?

Dengan tidak berpikir ke sana, berarti anda sudah memenuhi syarat untuk melakukan ibadah ritual, yaitu patuh secara mutlak. Dalam arti tidak mempertanyakan perintah, walau otak anda kadang merasa heran dan penasaran, ingin tahu sebab-sebab di balik sebuah perintah yang terasa ganjil.

Tapi, sebenarnya saya bukan tidak pernah bertanya. Saya pernah bertanya, tapi jawaban yang saya terima adalah: itu sudah dari sananya. Tidak semua ajaran agama bisa dipahami oleh akal.

Ya! Itu memang jawaban pamungkas mereka. Jawaban yang mereka pegang karena tidak memahami bahwa ritus adalah sebentuk bahasa, sebuah bahasa.

Jelasnya?

Bila anda mempelajari sedikit saja ilmu bahasa (linguistik), anda akan tahu bahwa bahasa itu terbagi ke dalam berbagai jenis. Di antaranya yang terpenting adalah bahasa lisan dan tulisan. Selain itu, ada juga yang disebut bahasa isyarat atau bahasa lambang. Bahasa lisan dan tulisan menggunakan kata. Bahasa isyarat dan lambang menggunakan gerakan-gerakan dan gambar, juga warna. Nah, dalam hal ini, saya memahami ritus (upacara) sebagai bahasa isyarat dan atau bahasa lambang.

Sebagai “bahasa isyarat” seperti halnya bahasa isyarat yang digunakan orang bisu-tuli, ritus dengan segala detailnya itu memang harus dijalankan secara ketat. Tidak boleh ada perubahan, penambahan, atau pengurangan. Dalam hal shalat, misalnya, sebagaimana kata Rasulullah: shalatlah kalian sebagaimana kalian menyaksikan aku shalat. Mengapa? Supaya terjadi keseragaman. Dalam konteks bahasa lisan dan tulisan, yang intinya sebenarnya adalah lambang juga, yaitu lambang verbal, yakni berupa ucapan dan tulisan yang berpangkal pada verb (= word, kata), keseragaman itu amat penting demi menjaga kelancaran berkomunikasi. Bila kita mengucapkan atau menuliskan kata secara salah, pasti terjadi gangguan komunikasi.

Hmh, ya ya ya. Lalu, bila ritus adalah sebentuk bahasa, apakah itu merupakan alat untuk kita berkomunikasi dengan Allah?

Lebih dari itu. Ritus adalah sebuah bahasa istimewa!

Di mana letak keistimewaannya?

Pertama, ia adalah bahasa isyarat atau bahasa lambang. Kedua, ia adalah bahasa yang bersifat reflektif (reflective). Dilihat dari segi lambang, ritus shalat, shaum, haji, dan lain-lain, adalah lambang yang mengesankan keseragaman (kesatuan; persatuan) umat Islam seluruh dunia. Sebagai alat komunikasi dengan Allah, melalui ritus, terutama gerakan-gerakannya, kita mengungkapkan kepatuhan dengan bahasa gerak. Kalau menurut Isa Bugis, dan saya setuju, dengan ritus itu kita melakukan “peragaan”. Tentu maksudnya peragaan kepatuhan. Istilah ini selain sangat bagus dan jitu, juga bersifat reflektif (memantul; mengajak merenung). Ketika ritual shalat kita pahami sebagai peragaan, misalnya, maka tentu harus kita sadari bahwa kita sedang memperagakan kepatuhan terhadap Allah. Peragaan ini, dengan kata lain, adalah semacam simulasi (kepura-puraan), yang nanti jatuhnya bisa menjadi janji, bisa juga menjadi tipuan!

Wow! Kapan bisa menjadi janji, dan kapan menjadi tipuan?

Ambil saja jawaban yang sering diajukan orang. Yaitu bahwa shalat itu berfungi mencegah perbuatan keji dan mungkar. Di mana lapangan tempat terjadinya perbuatan keji dan mungkar? Tentu di luar kegitan ritus kan? Di dalam kehidupan kita sehari-hari!  Bila setelah shalat kita tidak berlaku keji dan mungkar, berarti shalat kita adalah peragaan atau simulasi yang bernilai janji. Bila sebaliknya, berarti nilainya adalah tipuan. Siapa yang kena tipu? Allah? Bukan! Yang kena tipu adalah diri kita sendiri, berikut orang-orang di sekitar kita!

Oh! Ampun ya Allah!  Rasanya, sampai sekarang saya masih menipu diri sendiri…

Ha ha! Anda punya teman. Saya!

Ah! Anda selalu merendah.

Tidak. Pengetahuan kita tentang ajaran Allah memang masih rendah. Masih dangkal. Makanya, jangan berhenti belajar.

Ya ya ya. Anda benar. Terus, saya masih penasaran tentang filosofi khitãn!

He he! Saya mengajak anda melantur jauh ya?

Iya! Eh, engga juga sih.

Soal  khitãn, sebagai salah satu ritus (upacara) yang berkenaan dengan alat kelamin, tentu mengajak kita untuk merenungkan fungsi alat kelamin dalam kehidupan kita, yang sebenarnya amat sangat penting. Ia adalah alat untuk mengeluarkan cairan kotor, yang dalam konteks ibadah ritual bernilai najis. Selain itu, alat kelamin itu adalah juga alat reproduksi, yang tanpa dia keberadaan manusia di alam ini tidak akan bisa berlanjut.

Kalau soal itu, saya kira, Allah bisa menggunakan cara lain!

Ya! Kalau bicara Allah dengan segala kekuasaanNya, tentu apa pun bisa dia lakukan. Tapi mari coba kita pahami rencana Allah bagi manusia yang begitu indah. Kita berangkat dari alat kelamin saja, kita bisa melihat indahnya rencana Allah bagi kehidupan manusia. Manusia bereproduksi melalui alat kelamin. Tapi sebelum alat kelamin berperan, dua orang manusia harus bersepakat untuk hidup bersama melalu jalan cinta dan pernikahan. Dengan pernikahan, cinta menebar di dalam keluarga, dan selanjutnya dalam jalinan hubungan antar keluarga. Dan, seterusnya, saya kira anda tahu sendiri lah…

Ya ya ya!  Tapi, kenapa kita menyebut alat kelamin sebagai kamaluan?

Itu hanya salah satu bukti bahwa pengaruh Islam sudah cukup dalam menancap pada kesadaran bangsa Indonesia.

Jelasnya?

Kemaluan itu adalah terjemahan dari ‘aurat(un)/ عَوْرَةٌ atau al-‘aurah / اَلْعَوْرَةُ , yang salah satu definisinya adalah: kullu amrin yustahyã / كل أمر يستحيا (segala hal yang dianggap memalukan) atau al-‘aib(u) / العيب (aib). Berdasar itu, kita menyebut alat kelamin sebagai kemaluan.

Jadi, tampaknya, pengertian aurat itu lebih luas dari kemaluan ya?

Benar. Tapi kemaluan atau alat kelamin itu sendiri mencakup pengertian (filosofi) yang luas juga. Makanya bila kita membaca Al-Qurãn, lalu menemukan kisah Adam, misalnya, di situ kan ada penyebutan soal aurat itu. Pertanyaan kita adalah: apakah benar bahwa kata aurat dalam konteks kisah Adam dalam Al-Qurãn harus berarti – atau terbatas hanya pada –  kemaluan? Bila kita hubungan dengan teori psikologi, misalnya, manusia itu kan mempunyai sisi baik dan sisi buruk. Dengan sisi baik-(positif)-nya, manusia mau mengikuti ajaran Allah. Dengan sisi buruk-(negatif)-nya, manusia menolak dan atau meninggalkan ajaran Allah. Dalam kaitan dengan Adam, ketika ia ‘digelincirkan’ Iblis, lalu diceritakan telanjang, sampai memperlihatkan auratnya, tidakkan itu berarti bahwa dengan melepas ajaran Allah, Adam memunculkan sisi buruk manusiawinya; yaitu kecenderungan untuk mengikuti nafsu dan menolak ajaran Allah? Hal itu, bila dilihat dari sudut pandang ilmu yang benar, adalah memalukan, adalah aib.

Hm, ya. Kembali ke filosofi khitãn?

Saya pernah membaca sebuah brosur dari produk kesehatan. Kalau tak salah ingat, di situ antara lain dikatakan bahwa manusia, secara fisik, digerakkan oleh proses kimia dan bio-listrik (berkaitan dengan makanan, minuman, dan lain sebagainya). Tapi secara psikologis (kejiwaan), manusia dikendalikan oleh emosi.

Emosi?

Ya. Tapi bukan emosi dalam pengertian kita sehari-hari. Emosi (emotion) yang diamaksud di sini adalah: a natural instinctive state of mind deriving from one’s circumstances, mood, or relationships with others. Yaitu pemikiran naluriah seseorang yang berhubungan dengan keadaan, suasana hati, atau hubungan-hubungannya dengan orang lain. Pendeknya, yang dimaksud dengan “dikendalikan emosi” itu adalah lepas dari – atau tidak ada dalam – kendali ilmu. Itulah kenyataan manusia secara umum; yang disebut sebagai al-hayawãnu-nãthiq(u) (binatang berlogika) itu!  Bila terlepas dari kendali ilmu Allah, maka dia hanya dikendalikan oleh logika-(jalan pikiran)-nya sendiri.

Hubungannya dengan khitãn?

Anda ingat teori Sigmund Freud yang menyatakan bahwa manusia sebenarnya dikendalikan libido (nafsu seks)?

Hm, ya ingat. Tapi, teori itu kan dibantah banyak orang!

Dibantah atau tidak, teori itu mengandung kebenaran; karena, saya kira, si Freud ini juga banyak mencuri dan menyelewengkan ilmu Allah. Salah satu analisisnya, anda bisa membaca tulisan saya di blog ini. (Konsep kepribadian dalam Al-Qurãn dan Hadis). Setidaknya, kita tahu bahwa libido adalah salah satu setan pengendali manusia; sehingga karenanya manusia bisa muncul sebagai setan yang nyata.

Hubungannya dengan khitãn?

Pemotongan kulup, secara denotatif (arti hakiki) kan jelas berarti pemotongan sisi buruk dari alat kelamin itu sendiri. Secara filosofis (arti kiasan), alat kelamin itu kan bisa muncul mewakili sisi buruk manusia. Ia bisa mewakili bentuk nafsu (syahwat) yang tak terkendali, sehingga bisa membuat manusia seradak-seruduk seperti babi buta (membabi buta). Tak mau tahu aturan. Tak mau peduli hukum. Karena itu, ia harus ‘dipotong’. Artinya, secara filosofis, harus dikendalikan. Bila si kulup dipotong dengan pisau atau gunting (atau bahkan dengan hinis, sembilu), sisi buruk manusia – tidak bisa tidak –  tentu harus ‘dipotong’ (dikendalikan) dengan ilmu Allah.

Ooo, begitu ya?

Yaaa geetoo… dech!

Jadi, khitãn adalah lambang pengendalian libido?

He’eh! ∆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: