Antara Pembuluh Dan Pembunuh Rindu

Saya tidak tahu ini masalah serius (berat) atau bukan. Satu hal yang pasti, tulisan ini lahir setelah saya bertemu seorang pengamen di bus kota. Dia seorang ibu. Seperti banyak ibu-ibu yang mengamen, dia juga membawa anak kecil di pangkuannya. Dan melihat sikap anak itu kepadanya, saya percaya itu anak kandungnya, bukan anak sewaan. (Kok bisa-bisanya ya ada orang yang menyewakan anak-anak kecil untuk mengamen?).

Dari raut wajahnya yang khas, saya menduga kuat ibu itu orang Batak. Ketika mulai menyanyi, dugaan saya pun semakin kuat. Suaranya, selain khas juga begitu melengking. Kata para ahli musik sih suaranya powerful. Dan itu rupanya disadarinya betul sebagai andalannya. Sebab, bila mengandalkan musik, ia hanya menggunakan alat botol plastik yang entah diisi apa.

Saya kagum bukan hanya karena suaranya itu, tapi karena tampaknya dia terlatih menyanyi, dan hafal syair dari setiap lagu yang dinyanyikan, yang kebetulan semua saya kenal.

Namun, ternyata saya masih menemukan ‘cacat’ padanya.

Ya, saya tahu itu bukan kesalahan dia pribadi. Itu kesalahan yang terjadi karena kaprah, alias salah kaprah. Kesalahan yang dilakukan secara berjama’ah. Mirip dengan kecenderungan nyontek bareng dalam menghadapi Ujian Nasional, yang juga hasil dari salah kaprah.

Ini masalah bahasa. Mungkin karena soal inilah saya jadi kurang yakin bahwa tulisan saya ini ringan.

Saya suka macam-macam jenis musik, yang seluruhnya tidak saya kenal betul. Maklum, mendengarkan musik saja (secara sengaja) belum tentu tiga bulan sekali. Penyakit saya, ketika mendengarkan lagu, adalah lebih menitikberatkan perhatian kepada syairnya. Walau sebuah lagu, menurut saya melodinya bagus, bila syairnya jelek, saya bisa tiba-tiba jadi kesal. Melodi ibarat kemasan, syair adalah isi dari kemasan itu. Bila kemasannya bagus tapi isinya jelek, bagi saya itu memprihatinkan.

Tapi ibu pengamen yang piawai menyanyi itu justru membawakan lagu-lagu lama yang bersyair bagus. Di antaranya, lagu terakhirnya, adalah lagu yang mengabadikan nama Ernie Johan di dunia musik pop Indonesia: Teluk Bayur. Nah, di sinilah ibu pengamen itu ‘kepergok’ melakukan kesalahan, yaitu ketika dia melantunkan kalimat:

Kunantikan suratmu setiap minggu

Kan kujadikan pembuluh rindu

 

Apa yang salah? Bila anda melihat tak ada yang salah, saya bertanya: apa arti pembuluh rindu?

Setahu saya, pembuluh berarti pipa, saluran, dan sebagainya. Pembuluh darah, misalnya, berarti urat tempat darah mengalir.

Jadi, pembuluh rindu itu artinya apa? Saluran rindu? Urat rindu? Semua bukan. Sekali lagi ini soal salah kaprah, khususnya dalam memahami kosakata Bahasa Indonesia.

Bambu dan seruling

Buluh adalah sebutan lain untuk bambu.

Ada bambu-bambu jenis tertentu yang bisa dijadikan alat musik, antara lain seruling atau suling.

Suling ada kalanya disebut sebagai “buluh perindu”. Mengapa?

Karena suaranya yang khas, dan sering terdengar dimainkan di tempat yang khas, pedesaan, suling pun menjadi alat musik yang suka mengusik perasaan kaum perantau, yang berangkat dari desa ke kota (imigran). Bila di kota mereka mendengar suara seruling, timbullah perasaan rindu untuk pulang. Karena itulah, suling disebut sebagai buluh perindu. Alat musik sangat sederhana, dari bahan buluh (bambu) yang suka mengusik rasa rindu.

Kadang-kadang si perantau sendiri pergi dari kampung halaman dengan membawa suling. Bila datang rindu pulang, ia pun meniup suling. Pada saat itulah suling jadi pembunuh rindu!

Bagi anak-anak sekarang, mungkin istilah “pembunuh rindu” itu aneh. Tapi dalam Bahasa Indonesia tempo dulu (Melayu) istilah itu lazim digunakan, dan kita masih bisa menemukannya dalam dokumen-dokumen berupa tulisan-tulisan lama (buku, majalah, surat).

Jadi, bunyi potongan syair dari lagu tersebut seharusnya adalah begini:

Kunantikan suratmu setiap minggu

Kan kujadikan pembunuh rindu

 

Di situ, kata yang digunakan adalah pembunuh, bukan pembuluh. Istilah “pembunuh rindu” maksudnya penghilang atau penawar rasa rindu.

Namun, meskipun salah (kaprah) ibu pengamen itu tetap saya kagumi. Suaranya yang powerful seharusnya layak membuatnya jadi penyanyi profesional.

Saya ingin menolongnya, tapi tak bisa.

Saya hanya bisa memberinya uang empat ribu rupiah, kembalian ongkos bus patas.

Selamat berjuang, Bu!

Selamat berjuang dengan kekurangberdayaan kalian, wahai rakyat NKRI ,yang sedang dikuasai para koruptor (yang menganggap korupsi sebagai bukan salah kaprah!). ∆

CATATAN:

Saya menemukan rekaman lagu Ernie Johan tersebut di YouTube, dan ternyata Ernie Johan sendiri memang menggunakan kata “pembuluh rindu”, bukan “pembunuh rindu”. Bila lagu ini karya orang lain, tentu yang salah bukan Ernie Johan tapi pencipta lagunya. Tambah repot dech bila kesalahan ternyata bermula dari pangkaaaaal sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: