Amerika Setelah Tewasnya Osama

Pembunuhan Osama, untuk sesaat ini, membangkitkan rasa keunggulan bagi orang-orang Amerika. Tapi, hal itu harus diikuti dengan pemikiran ulang secara luas atas kebijakan-kebijakan Amerika. Hanya dengan cara itu orang Amerika akan menjadi lebih aman, tulis Patrick Seale.


Amerika telah merayakan pembunuhan (killing) Osama Bin Laden. Dan banyak orang di dunia Barat menyatakan simpati. Tapi pembantaian maut yang dilakukan American Special Forces  atas pemimpin Al-Qaidah di p tempat peresembunyiannya di Pakistan bukanlah semata-mata aksi balas dendam, kendati pembunuhan tersebut sudah dirindukan dan dirancang selama satu dekade (sepuluh tahun).  Hal itu tidak boleh dipandang hanya sebagai tuntutan tanggung-jawab terhadap seseorang, tapi seperti dikatakan Presiden Barack Obama, ini demi “serangan terburuk (terhadap Amerika) dalam sejarah Amerika.”

Osama ditakuti dan dibenci karena ia ‘menghantam’ harga diri bangsa Amerika. Dengan serangan 9/11-nya yang dahsyat, ia telah berani melancarkan perang ke jantung negeri Amerika, menikam kehormatannya sebagai bangsa yang unggul. Pembunuhannya adalah persembahan untuk mencuci bersih penghinaan yang sangat mendalam itu.

Permusuhan maut sudah berakhir. Dengan dicampakkan ke laut, bangkainya yang berlumuran darah tidak dimakan cacing (tapi) menjadi makanan ikan. (Dengan demikian) Bangsa Amerika akan memiliki rasa bangkit dari sebuah ketakutan. Mereka akan mampu memperbaharui ‘iman’ (faith) mereka atas keagungan negera mereka.

Di belantara kekuasaan politik internasional, tidak ada kenikmatan yang sanggup melebihi nikmat karena matinya musuh simbolis. Amerika akan bangkit karena kematiannya (Osama). Tapi apakah ini akan menjadi akhir sejarah? Masih harus ditunggu.

Hanya ada sedikit keraguan bahwa sosok Obama bakal terdongkrak oleh kematian Osama. Ia (Obama) akhirnya akan dipandang rakyat jelata Amerika sebagai panglima tertinggi yang kuat dan berpengaruh, yang bisa menjamin keamanan Amerika. Kesempatannya untuk terpilih lagi dalam pilpres nanti, tahun 2012, akan semakin terbuka. Dengan demikian, kubu Republik (partai lawannya) bakal mengertakkan gigi lagi (tanda kesal dan kecewa).

Namun, dalam maklumatnyha kepada Amerika dan dunia, Obama berhati-hati untuk tidak tampak kemaruk (atas kemenangan), seperti yang mungkin akan dilakukan pendahulunya, Bush, bila operasi pembunuhan itu dilakukan di bawah kendalinya. Sebaliknya, Obama tampak kalem. Tak ada orang yang lebih sadar mendalam (dari Obama?) bahwa perang melawan militansi Islam tidak bisa dimenangi hanya dengan kekuatan militer.

Amerika, Obama dengan hati-hati menekankan, tidak sedang berperang melawan Islam. Ini adalah sentiment (ungkapan perasaan) yang sudah dikatakannya berulang-ulang, terutama dalam pidato keramatnya di Kairo pada bulan Juni 2009. Namun, masalahnya, Obama tidak lagi dipercaya. Ia telah gagal menyandingkan kata-katanya dengan tindakan-tindakannya. Harapan-harapan besar yang yang digelembungkannya dahulu telah menjadi lahan bagi tumbuhnya kekecewaan besar. Janjinya tentang langkah baru bagi politik luar negeri AS telah usang. Obama tampaknya telah terjebak di antara keyakinan-keyakinan pribadinya dan kebutuhan-kebutuhan electoral (syarat-syarat untuk terpilih dalam) politik Amerika.

Dalam tahun pertama pemerintahannya, alih-alih bertindak tegas untuk memadamkan kemarahan Arab dan Muslim terhadap kebijakan-kebijakan Amerika, ia malah tunduk pada tekanan Kongres AS, dari kaum konservatif baru era-Bush, yang pengaruhnya masih menancap dalam di tubuh Administrasi AS, dari lobi-lobi pro-Israel berikut semua think-tank yang berafiliasi kepada mereka, dan dari dari sayap kanan yang kian melebar, serta dari masyarakat yang menderita ketakutan terhadap Islam (Islamophobic). Bila ada hasil yang bisa disebut, Amerika di bawah pemerintahan Obama justru melancarkan perang yang lebih kejam terhadap kelompok-kelompok Islam radikal.

Apakah pelenyapan Osama Bin Laden bisa mengakhiri militansi Islam?  Itu mustahil.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, Osama kurang tampil sebagai komandan operasi, yang mengirik kaum militan untuk menyerang sasaran-sasaran Amerika di berbagai penjuru dunia, dan lebih dipandang sebagai simbol perlawanan Islam, yang kadang menyampaikan pidato-pidato yang mirip pesan pengunduran diri. (Namun) pesan-pesannya telah di-franchise, menjangkau luas kepada kelompok-kelompok militan di Afghanistan, Pakistan, Yaman, Irak, di perbatasan-perbatasan gurun Sahara di Afrika Utara dan di mana-mana.

Karena mereka telah mengadopsi pemikiran Al-Qaidah, beberapa dari kelompok-kelompok tersebut kini mungkin sedang merencanakan untuk membalas dendam.

Balas dendam mereka terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya adalah sebuah kemungkinan yang jauh, (namun tetap) menuntut adanya ukuran-ukuran tambahan bagi para petugas keamanan. Tak diragukan lagi, para pengguna jasa penerbangan bakal merasakan ketidaknyamanan.

Namun kematian Osama bisa membuka peluang unik bagi Obama untuk merevisi dan mengoreksi beberapa segi politik luar negeri AS. Maklumat Bush tentang Perang Global Melawan Teror (Global War on Terror GWOT), bisa diakhiri secara formal. Obama bisa memaklumkan kemanangan atas Al-Qaidah, mengumumkan gencatan perang di Afghanistan, yang diikuti dengan penarikan secepatnya pasukan AS dan sekutu-sekutunya dari negeri biang perang itu.

Thaliban dan kelompok-kelompok militan lain, yang telah diperangi AS dan para sekutunya selama sepuluh tahun, dengan biaya dan korban jiwa yang besar, pernah menjadi tuan rumah dan pelindung Al-Qaidah. Tapi mereka bukan Al-Qaidah, dan jangan dicampur-aduk dengan itu. Thaliban bukan teroris internasional. Mereka pada hakikatnya adalah gerakan perlawanan suku Pashtun yang memerangi penjajahan bangsa asing.

Amerika Serikat harus memperlakukan kematian Osama sebagai sarana untuk mengajukan negosiasi-negosiasi darurat dengan para pemimpin Thaliban. Seiring dengan itu, markas penyerangan terhadap kaum militan di Pakistan, yang telah membuat  negara itu tidak stabil dan membangkitkan kebencian terhadap Amerika, harus ditutup.

Pembunuhan Osama adalah keberhasilan nyata Pasukan Khusus Amerika. Tapi banyak, bahkan mungkin kebanyakan, operasi-operasi kontra teroris adalah kontra-produktif, karena mengobarkan penilaian buruk dan membangkitan kebencian. Alih-alih menjinakkan para teroris lama, (operasi-operasi tersebut) justru menciptakan teroris-teroris baru.

Masih ada konflik Arab-Israel yang telah lama menjadi penyebab utama permusuhan Muslim dan Arab terhadap AS, dan kepada Barat secara umum. Bisakah sosok dan otoritas baru Obama, yang diperoleh berkat pelenyapan Osama, memberinya otot politik yang dibutuhkannya melakukan kesepakatan dengan pemerintah Israel? Bisa jadi.

Alih-alih menyambut baik perdamaian Al-Fatah dan Hammas sebagai langkah besar untuk bernegosiasi dengan Israel, AS malah ikut-ikutan mengutuk seperti Israel. Israel ingin memecah-belah bangsa Palestina untuk menghindari berbagai negosiasi. Di Washington, teman-teman Israel di Kongres menekan AS agar tidak memberikan bantuan apa pun terhadap pemerintah Palestina, termasuk Hammas.

Gelombang demokrasi yang menyapu dunia Arab tidak akan membiarkan terus keterlibatan AS dalam penindasan keji Israel terhadap Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun. Pemerintah baru Mesir telah mendesak AS untuk mengakui negara Palestina, dan telah memaklumkan akan mendobrak benteng jahat Gaza dengan membuka lintasan Rafah untuk selama-lamanya.

Bila AS ingin menyelamatkan citranya yang terpuruk di dunia Arab dan Muslim, maka AS harus memperhatikan kecenderungan baru di kawasan itu.

Pembunuhan Osama, untuk sesaat ini, membangkitkan raya keunggulan bagi orang-orang Amerika. Tapi, hal itu harus diikuti dengan pemikiran ulang secara luas atas kebijakan-kebijakan Amerika. Hanya dengan cara itu orang Amerika akan menjadi lebih aman.

Sumber: Middle East Online

Penulis: Patrick Seale (penulis Inggris terkemuka soal Timur Tengah. Buku terbarunya adalah The Struggle for Arab Independence: Riad el-Solh and the Makers of the Modern Middle East (Cambridge University Press).

First Published: 2011-05-03

Copyright © 2011 Patrick Seale – distributed by Agence Global

Comments
2 Responses to “Amerika Setelah Tewasnya Osama”
  1. edrin says:

    blog yang anda miliki bagus!!!
    dan saya hanya blog walking
    jika berniat liat blog saya kunjungin balik ya??

  2. Ahmad Haes says:

    Oke!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: