Apa Maumu, Hanung?

Film Tanda Tanya

Semua terjadi di sebuah tempat di Semarang. Tepatnya di sebuah kawasan urban yang padat bernama Pasar Baru.

Ada seorang ibu muda, pemilik toko buku, yang bercerai dengan suaminya karena ia pindah agama, dari Islam ke Kristen. Kepada teman prianya, ia mengatakan bahwa perceraiannya bukanlah pengkhianatan atas ikatan perkawinan, dan perubahan imannya bukanlah pengkhianatan terhadap Tuhan. Tapi, karena hal-hal menyakitkan yang diterimanya setelah pindah agama, ia jadi begitu sensitif. Setiap bertemu teman-teman, ia merasa disorot dan takut disebut murtad. Seorang teman, yang kemudian jadi pacarnya, belakangan mengatakan bahwa yang dilakukan ibu muda itu adalah sebuah langkah besar, dibandingkan dengan dirinya yang selama sepuluh tahun tak bisa beranjak dari status sebagai aktor figuran.

Dari hasil pernikahannya, ibu muda itu mempunyai seorang anak lelaki kira-kira berumur 7 tahun yang ikut dengannya. Anak yang rajin mengaji ini sering ngambek karena tahu ibunya pindah agama, tapi kemudian bisa memaafkan sang ibu setelah ibunya berjanji akan menjadi semakin baik terhadapnya. Kebaikan sang ibu ditandai antara lain dengan menemaninya makan sahur dan membantunya melantunkan doa sahur yang masih diingat sang ibu.

Untuk sang pacar yang yang selalu mendapat peran antagois (jahat) dengan honor yang murah, ibu muda itu pun memberikan bantuan pula; yaitu dengan mengusahakan agar ia diterima menjadi pemain dalam pementasan drama penyaliban Yesus di gereja. Tak tanggung-tanggung, sang pacar akhirnya bahkan diterima untuk memainkan peran utama, sebagai Yesus.

Semula sang pacar menolak. “Apa kata orang nanti?” kilahnya. Tapi setelah berkonsultasi dengan ustadznya, dan sang ustadz membolehkan dengan fatwanya, sang pacar pun mau.

Dua jam menjelang pertunjukan, ada seorang pemuda gereja meminta drama dibatalkan, karena tokoh Yesus dimainkan orang Islam. Kemudian muncul pendeta yang mengajukan pertanyaan retorik, “Pernahkah ada iman yang rusak karena sebuah adegan drama?” Dengan sabda pendeta itu, drama pun dilangsungkan secara benar-benar dramatis. Di dalam gereja, di antara barisan banku-bangku panjang, serombongan orang menghela Yesus yang memanggul salib besar sambil berkali-kali menderanya dengan cambuk yang ditingkahi kutukan-kutukan. Yesus pun berjalan jatuh-bangun, mengeluh dan menjerit kesakitan. Keringat dan darah bercucuran dari tubuhnya yang hampir telanjang bulat. Kemudian, setelah sampai di depan, terjadi adegan pemakuan tangan dan kaki Yesus di palang salib, diiringi teriakan dan keluhan sang anak Tuhan. Setelah itu, salib ditegakkan, Yesus menempel di kayu salib. Tak lama kemudian, Yesus pun berseru, “Allah, Allah! Kenapa kautinggalkan aku?” (Elli, Elli! Lamma sabaktani?).

Aktor figuran yang muslim itu, sukses menjadi pemain utama dalam drama penyaliban Yesus di dalam gereja.

Di lain pihak, ada ibu muda lain, yang berjilbab tapi bekerja di sebuah restoran Cina, yang menghidangkan menu daging babi juga daging lain yang halal menurut orang Islam. Diajarkan pemilik restoran kepada putra tunggalnya bahwa memasak daging babi tak perlu banyak bumbu, karena daging babi sudah sangat gurih. Sedangkan daging-daging lain harus dimasak dengan banyak bumbu.

Putra pemilik restoran itu rupanya mantan kekasih ibu muda berjilbab itu. Mereka putus hubungan karena beda agama. Entah karena patah hati, anak pemilik restoran itu menjadi agak berandalan, suka mabuk dan berkelahi, terutama dengan sejumlah santri yang selalu menyebutnya Cina dan sipit.

Ibu muda berjilbab itu, bersama dengan suami, anak, dan adik iparnya, tinggal di kompleks yang sama dengan pemilik restoran. Demikian juga kedua tokoh yang lebih dulu disebut di atas.

Suami ibu muda berjilbab itu adalah tokoh utama cerita ini. Ia seorang pemuda taat (relijius), gagah, tapi selalu murung, gelisah, dan agak pemarah. Maklum, ia seorang suami dan ayah yang tak punya pekerjaan. Suatu ketika, ia malah pernah minta dicerai oleh istrinya. Namun sang istri selalu sabar, antara lain karena dinasihati oleh istri pemilik restoran. Sang suami baru berubah ceria setelah ia mendapat ‘pekerjaan’ sebagai Banser NU. Pekerjaan yang selalu ia dambakan, karena mengabdi pada agama.

Banser baru itu, Soleh, memang bukan hanya pemuda taat; ia bahkan boleh dikatakan fanatik buta. Sebuah sikap yang kemudian menimbulkan bencana bagi pemilik restoran sekeluarga.

Suatu ketika, pemilik restoran jatuh sakit. Putra tunggalnya mengambil alih kendali restoran, dan menerapkan kebijakan baru. Di bulan Ramadhan, misalnya, ia ingin restoran buka seperti biasa, tanpa menyingkirkan menu babi seperti nasihat ayahnya, dan juga tak mau menggunakan tirai untuk menghormati orang yang berpuasa. Lebih jauh lagi, ketika lebaran tiba, ia tak mau memberi libur selama 5 hari seperti yang selalu dilakukan ayahnya. Pada hari kedua ‘Idul Fithri, ia sudah meminta para karyawannya masuk kerja, tentu tak terkecuali istri Soleh, yang mantan pacar putra pemilik restoran itu.

Itulah yang membuat Soleh naik pitam. Entah karena fanatik pada agama, atau karena cemburu, Soleh pun memimpin teman-temannya melabrak restoran. Puluhan orang menyerbu restoran Cina itu. Restoran porak poranda. Pemiliknya yang sedang sakit, menemui ajal. Sementara putra tunggalnya, dalam kekalutan, menemukan sebuah buku di lantai. Buku yang dipinjam ayahnya dari salah seorang karyawatinya yang berjilbab. Ternyata, buku yang berisi bahasan 99 nama Allah itu, sebenarnya adalah buku yang dulu dihadiahkan si putra pemilik restoran kepada kekasihnya, yang kini menjadi istri Soleh.

Hari demi hari berlalu, sampai kemudian tiba hari Natal.

Upacara kebaktian dilakukan di sebuah gereja besar. Soleh dan puluhan pemuda Banser lain, tampil sebagai penjaga gereja dari serangan teroris.

Singkat cerita, Soleh menemukan sebuah kardus berisi bom di dalam gereja. Karena tak ingin mengganggu upacara, bom itu dibawa keluar diam-diam, dan kemudian meledak di luar gereja, menghancurkan tubuh Soleh. Dengan cara itu, Soleh bukan saja telah menebus kesalahan pribadinya karena mengajak teman-temannya menyerbu restoran, tapi juga menebus kesalahan orang-orang Islam yang jadi teroris.

Cerita ditutup dengan masuk Islamnya putra pemilik restoran. Dan tentu bisa diduga bahwa ia kelak akan menikah dengan mantan kekasihnya, janda sang pahlawan bernama Soleh.

Begitulah kira-kira ringkasan cerita film terbaru Hanung Brmantyo, yang berjudul Tanda Tanya (“?”). Romantis, bukan? Lebih romantis lagi, yang tidak digambarkan secara gamblang, adalah hubungan si ibu muda pemilik toko buku dan si pemuda aktor figuran. Pemuda yang juga digambarkan sebagai muslim yang cukup taat ini, bisa disimpulkan, bakal menikah dengan ‘mantan muslimah’ yang sudah menjadi aktifis gereja!

***

Menurut anda, apa yang dikehendaki Hanung dengan filmnya ini?

Comments
3 Responses to “Apa Maumu, Hanung?”
  1. Tanya Nurani says:

    Menurut ana istri saya…. singkat saja, yang dìkehendaki Hanung adalah pujian dan rido dari manusia.

  2. reza says:

    hubbul sensasion

  3. caknan says:

    pingin filmnya meledak dan banyak yang nonton namanya juga usaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: