Arjumanda

Mumtaz_Mahal3

Arjumanda Banu Begum adalah putri Asif Khan. Ia adalah saudara putri Tur Jihan, istri Jihan Syir, putra Akbar, raja India.

Asif Khan, sang ayah, termasuk orang penting di kerajaan, dan juga termasuk sangat kaya. Ia berandil mengantarkan Syah Jihan ke singgasana, setelah ayatnya – Jihan Syir – wafat pada tahun 1037 H atau 1627 M.

Raja Syah Jihan telah menaruh hati kepada Arjumanda sejak pertemuan pertama kalinya, ketika Arjumanda baru berusia 16 tahun. Mereka menikah pada tahun 1021 H/1613 M.

Semasa gadisnya, Arjumanda adalah wanita yang cerdas dan taat. Ia melaksanakan segala perintah agama, dan hafal hampir seluruh Al-Qurãn. Tidak aneh; karena ketika teman-teman sebayanya asyik bermain, Arjumanda lebih suka menyimak orang membaca Al-Qurãn.

Waktu itu, kebanyakan sulthan Maghul, India, mendapat bencana karena kegemaran mereka pada minuman keras. Karena seolah merupakan tradisi kerajaan, suami Arjumanda – Syah Jihan – pun suka menikmati khamar; tak peduli bahwa ayahnya dan beberpa saudaranya telah wafat karena minuman memabukkan itu.

Arjumanda yang taat beragama, tak ingin suaminya mengalami nasib yang sama. Maka ia selalu berusaha menasihati suaminya agar meninggalkan minuman keras. Karena kecantikannya yang luar biasa, serta perilakunya yang amat baik, sang suami pun akhirnya meninggalkan kebiasaan buruknya. Bahkan, karena kecerdasannya, Arjumanda pun akhirnya mampu menjadi penasihat kenegaraan bagi Syah Jihan. Alhasil, kerajaan yang dipimpinnya bisa memilah dengan Negara-negara mana harus bersahabat, dan dengan Negara-negara mana harus menjaga jarak, atau tidak menjalin hubungan sama sekali. Semua dilakukan beradasarkan nasihat sang istri yang patuh pada ajaran Islam!

Untuk urusan dalam negeri, Arjumanda mendorong suaminya memperhatikan nasib rakyat. Selain mendorong pengentasan kemiskinan, ia juga mengingatkan suaminya agar rakyat lebih mendalami ajaran Islam.

Arjumanda secara pribadi membangun sepuluh masjid, menafkahkan hartanya untuk para ahli agama dan penghafal Al-Qurãn. Di waktu senggangnya, ia pun menekuni hobinya menyalin Al-Qurãn dengan tulisan tangannya yang juga sangat indah. Khusus untuk kaumnya sendiri, Arjumanda sangat memperhatikan para wanita yang fakir. Ia melarang mereka jadi pengemis, dan berusaha membuka kesempatan kerja bagi para suami mereka. Untuk itu, antara lain, ia membangun sepuluh pabrik tenun dan sajadah, sehingga para wanita fakir dan suami mereka bisa bekerja.

Arjumanda adalah perintis gerakan kewanitaan. Ia mendirikan kantor konsultasi dan penampungan para janda. Ia mendirikan sekolah khusus wanita, dan sibuk berkampanye untuk melenyapkan buta huruf di tengah wanita India.

Di dalam rumahtangganya sendiri; selain menjadi penasihat pribadi suami, secara fisik Arjumanda adalah wanita yang teramat sangat subur. Hal itu amat menyenangkan suaminya yang cenderung bangga mempunyai banyak anak. Hampir setiap satu setengah tahun Arjumanda melahirkan. Akibatnya, kesehatannya sendiri menjadi luput dari perhatian. Ketika usianya hampir mencapai 35 tahun, banyak orang, para tabib istana, menganjurkan agar Arjumanda tidak lagi melahirkan anak.

Namun agaknya ia tak begitu peduli dengan nasihat mereka. Tahun 1039H/1629M, ia melahirkan anak keempat belas, dengan fisik yang lemah, sehingga setelah itu ia harus menjalani istirahat penuh di istananya yang terletak di tepi Sungai Jamna. Di situ ia dilayani sejumlah tabib. Namun fisiknya kian lama kian lemah.

Suatu hari, tak lama setelah melahirkan anak terakhirnya, Arjumanda mengalami demam sangat tinggi. Akhirnya, menjelang fajar, Arjumanda pergi menghadap Tuhannya.

Syah Jihan, sang suami, amat sangat terpukul ditinggalkan oleh bidadarinya yang amat cantik dan mulia itu. Selanjutnya, ia pun kehilangan selera untuk menikmati kehidupan. Kerjanya lebih banyak melamun, mengenang segala keindahan bersama sang istri. Setiap memandang sungai dari tempat istrinya, ia bergumam, “Inilah taman surga. Temapat paling menyenangkan dalam kehidupan!”

Sejak saat itu, timbul keinginan sang raja untuk mempersembahkan sesuatu bagi mendiang istrinya. Ia pun mengumpulkan para insinyur dari India dan Persia (Iran), dan meminta mereka merancang sebuah taman. Terpilihlah seorang insinyur yang dikenal sebagai Al-Ustadz Lyas untuk memimpin pembangunan proyek tersebut.

Tahun 1632M, proyek itu mulai dibangun, dan selesai 11 tahun kemudian.

Itulah taman Taj Mahal. Sebuah bangunan indah yang sampai kini masih dikagumi banyak orang.

Itulah perwujudan cinta Syah Jihan, bagi istrinya – Arjumanda, yang lebih dikenal dengan sebutan Mumtaz Mahal atau Putri Taj.∆

***

Digubah dari buku 24 Malam Yang Mengubah Dunia Islam, karya DR. Husain Mu’nis, terjemahan Dr. Ismail Ba’adillah, terbitan Ufuk Press, Jakarta, Maret 2009.

Catatan dari Wikipedia:

Mumtaz Mahal (bahasa Persia dan Urdu: ممتاز محل; dilafalkan [mumtɑːz mɛhɛl]; Agra, April 1593Burhanpur, 17 Juni 1631) adalah nama julukan bagi Arjumand Banu Begum, seorang permaisuri Syah Jehan yang dibangunkan untuknya Taj Mahal.

Arjumand Banu adalah anak dari Abdul Hasan Asaf Khan dan ketika menikah dengan Pangeran Khuram dalam usia 14 tahun, kota Agra bersuka cita atas kisah tentang kecantikannya. Ia sendiri adalah isteri ke-3 dari Pangeran Khuram, yang kemudian menjadi Syah Jehan, dan merupakan isteri terkasih. Arjumand Banu diberi nama Mumtaz Mahal pada tahun 1612 setelah pernikahannya dan sampai kematiannya tak terpisah dari suaminya. Sebagai lambang kepercayaan dan cinta, Mumtaz Mahal melahirkan 14 anak dan meninggal ketika melahirkan anak terakhir. Untuk cinta-kasih yang dipersembahkannya bagi suaminya, Mumtaz Mahal menerima penghormatan tertinggi tanah itu – lambang kerajaan – Mehr Uzaz dari Syah Jehan. Menurut legenda, cerita kebajikannya tersebar ke seantero Kesultanan Mughal.

Sultan dan permaisurinya yang sedang mengandung bergerak ke Dataran Tinggi Dekkan pada tahun 1630 untuk menindas Kekaisaran Lodi yang sedang mendapat kekuatan di masa itu. Inilah perjalanan terakhir Mumtaz Mahal. Ia menghembuskan nafas terakhir setelah melahirkan puteri bungsu mereka. Konon, Mumtaz Mahal meminta suaminya dari atas tempat tidur untuk mendirikan simbol cinta mereka untuk anak cucu mereka dan suaminya yang setia segera menyetujuinya.

Pembangunan lambang itu memakan waktu 22 tahun dan sebagian besar perbendaharaan negara disumbangkan untuk membangun monumen untuk mengenang isteri tercinta. Di Taj Mahal itulah Mumtaz Mahal dimakamkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: