Abad Informasi Sampah

'Lautan buku' (gbr: mupeng).

'Lautan buku' (gbr: mupeng).

Masih segar dalam ingatan ketika banyak orang terpelajar ribut-ribut soal kedatangan abad informasi, yang bakal mengubah ‘peta kekuasaan’ dunia. Diramaikan, waktu itu, bahwa kelak kekuasaan sebuah negara, sebuah kelompok bisnis, sampai pada individu-individu, di bidang apa pun, sangat ditentukan oleh penguasaan mereka atas informasi. Siapa yang ‘memegang’ informasi, dialah yang berkuasa.

Informasilah yang memastikan jalan masuk  (akses) siapa pun pada bidang apa pun. Semakin cepat mendapatkan informasi semakin cepat didapatkan akses informasi, semakin cepat dicapai tujuan, semakin terjamin – siapa pun dan kelompok apa pun – untuk memiliki kekuasaan. Dan, seperti biasanya – siapa pun dan kelompok apa pun – bila sudah berkuasa pasti bakal menjadi pengendali dan memonopoli.

Tapi, sebenarnya, apa sih informasi itu? Dan benarkah bahwa informasi itu mengenal abad; sehingga bila ada abad(-abad) yang disebut abad informasi pasti harus ada abad-abad yang hampa informasi?

Lantas, siapa pula yang memaklumkan kemunculan abad infromasi itu, dan mengapa lagi harus dikaitkan dengan kekuasaan?

Sesungguhnya informasi sangat berkaitan dengan studi dan riset di segala bidang, dan itu  semua juga sebenarnya sangat berkaitan dengan kekayaan ekonomis dan dominasi politis. Jadi, harap dimengerti bahwa maklumat tentang kemunculan abad informasi itu sebenarnya adalah maklumat sang penguasa ekonomi dan politik dunia bahwa mereka akan menjajah pihak lain melalui informasi. Atau, bahasa inteleknya, pihak penguasa informasi akan mengglobalkan kebudayaan atau peradaban mereka dengan cara menggelontorkan informasi keseluruh permukaan bumi. (Belakangan, orang bernama Huntington, orang Amerika, mengakui secara tak langsung melalui tesisnya yang heboh, bahwa yang tersebut di atas itu adalah perang peradaban, clash of civilizations).

Tak lama setelah isyu kemunculan abad informasi itu, internet pun muncul, dan ‘kebetulan’ nongolnya itu justru dari Amerika!

Internet adalah ‘makhluk’ lain yang membuka jendela (perspektif) lain tentang informasi. Bila sebelum ada internet orang atau pihak-pihak tertentu bisa menyembunyikan informasi untuk kepentingan sendiri, supaya relatif berkuasa pada bidang masing-masing (termasuk bidang polik dan ekonomi, tentu), setelah ada internet informasi justru menjelma menjadi seperti air bah yang bisa  mengalir ke mana saja, tanpa dapat dibendung. Dan bila masih ada yang berusaha menahan atau menyembunyikan informasi, maka pasukan perampok dan pencuri pun siap membuktikan kelihaian mereka untuk membobolkan dan membocorkan. Contoh yang masih sangat segar adalah hadirnya situs bernama WikiLeaks, yang mampu ‘merampok’ ratusan ribu dokumen penting dan rahasia dari berbagai negara, untuk dibocorkan ke dunia maya.

Dengan adanya internet, apakah abad informasi itu menjadi berarti abad keadilan sosial dalam bidang informasi, karena informasi dapat mengalir ke mana saja secara merata, sehingga tidak bisa ada pihak-pihak yang boleh menang sendiri karena memonopoli informasi? Dengan kata lain, internet telah menyelamatkan pihak-pihak yang sebelumnya menjadi korban dan pecundang karena selalu tidak mendapat atau ketinggalan informasi? Benarkah demikian?

Suatu ketika, mungkin belasan tahun yang lalu, penulis mengikuti sebuah diskusi tentang manfaat dan mudarat internet. Di tengah arus pandangan yang menyatakan bahwa internet pada hakikatnya adalah “rahmatan lil-ãlamîn” (untuk bidang informasi), ada seorang profesor… Sekali lagi, profesor; dan dia dari Kanada, kalau tak salah, yang mengatakan agar kita jangan terlalu girang dengan sisi baik internet, karena banjir informasi melalui internet juga bisa menjadi bencana!

Lho? Bencana apa?

Terlalu banyak informasi, bisa berarti tidak ada informasi sama sekali. Mengapa? Informasi yang membludak itu bisa  membuat anda bingung! Demikian kata sang profesor.

Sejak pertama kali mendengar sampai sekarang, kata-kata itu terasa masih mengiang-ngiang. Dulu, sebagai penggemar buku, sering kali bila mampir ke toko buku saya tak puas bila hanya membeli sebuah. Bila tak dibatasi isi kantong, saya ingin belanja buku sekali sebulan, dan setiap keluar dari toko, buku yang dibawa pulang harus satu kardus. Tapi, sekarang, saya insaf betul bahwa dari sekian banyak buku yang dibeli tidak seluruhnya sempat terbaca. Dan, dari yang terbaca, tidak seluruh isinya tersimpan di kepala. Tapi, bukan berarti buku-buku yang dibaca tidak bermanfaat. Dengan membaca, ditambah belajar langsung pada sejumlah guru tak resmi, saya merasa otak ini menjadi semakin kritis. Ini ungkapan syukur, bukan sombong. Al­hasil, bila sekarang saya masuk ke toko buku, seringkali tiba-tiba disergap perasaan sedih. Mengapa?

Setiap memperhatikan timbunan buku, yang dipisah berdasar bidang-bidang garapan, terlihat betapa banyaknya buku-buku basi dan mubasir, yang semua dikemas dengan jilid dan judul-judul bombastis dan gombal. Bila diseleksi dengan kaca maka ilmiah, bisa dipastikan lebih dari 90 persen dari buku-buku itu layak dijual kiloan, untuk didaur ulang entah jadi apa.

Baru-baru ini, saya pun sempat menjelajah lagi (setelah lama tak melakukan) lorong-lorong gelap kios-kios buku di pasar Senen. Putarlah badan 360 derajat bolak-balik, di seluruh penjuru terlihat buku, buku, dan buku, ditambah puluhan nama majalah dan tabloid. Dan, tahukah anda buku dan majalah apa yang terbanyak di sana? Ternyata hanya buku-buku picisan dan majalah-majalah kecil berisi teka-teki silang, yang isinya adalah kotak-kotak dan pertanyaan-pertanyaan yang diulang-ulang (kebetulan saya juga pernah suka mengisi teka-teki silang). Jadi, jangan harap menemukan informasi yang bisa membuat anda jadi penguasa dunia.

Saya merinding. Kira-kira, buku-buku dan majalah-majalah tak berguna itulah yang berandil menyebabkan ribuan hektar hutan menjadi gundul, walau di sisi lain juga menggendutkan perut sejumlah orang, dan membuka sedikit lapangan pekerjaan bagi rakyat jelata yang hanya tahu bahwa tujuan hidup adalah makan.

Sekali lagi, saya merinding. Pertama, karena cerita ini masih terjadi justru setelah ada internet, yang katanya dulu bisa meminimalkan penggunaan kertas. Kedua, karena lautan sampah yang ada di Pasar Senen itu juga ditemukan di internet.

Di internet kita bisa menemukan informasi apa saja, kecuali yang benar diperlukan untuk memperbaiki martabat manusia.

Anda boleh iseng-iseng mencari jawaban untuk persoalan di Timur Tengah sekarang, dan saya menjamin bahwa yang anda temukan hanyalah kebingungan.

Bila saya salah, saya mohon agar informasi tentang jawban itu tidak anda sembunyikan. Kalau mau anda jual, boleh lah. ∆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: